SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Kelakuan Wanita Cantik


__ADS_3

"Enak banget apa?" tanya Rafi pada wanita yang saat ini sedang berdiri dengan lutut dihadapannya dengan posisi tubuh wanita berada diantara kaki Rafi yang memnbentang tanpa menggunakan celana. hanya kaos singlet yang masih menempel pada tubuh Rafi. Sedangkan mata pemuda itu terus memperhatikan wanita yang sedang menikmaI batangnya menggunakan mulut.


"Kalau nggak enak ya, aku nggak bakalan doyan, Fi," jawab Marisa disela sela menikmati batang pria di hadapannya.


"Enakan mana, batang cowok lokal apa cowok bule?" tanya Rafi lagi sambil sesekali merapikan rambut Marisa yang menganggu mata Rafi ketika menatap permainan wanita itu


"Menurutku sih, enakan batang cowok lokal, Fi. Ada bau asem gitu disekitar bulu bulunya. Kalau milik mantanku sama sekali tidak bau."


Rafi nampak takjub dan dia tertawa kecil. "Awal kamu doyan menikmati batang dengan mulut, tuh gimana sih?" tanya Rafi sengan segala rasa penasarannya.


"Ya karena nonton video lah. Tiap aku nonton pas adegan wanita menikmati batang pakai mulut, kayak enak banget. Aku penasaran dong, dan yah aku awalnya juga melakukannya diam diam kayak yang aku lakukan ke kamu," terang Marisa.


Rafi hanya manggut manggut, di saat dia akan melempar pertanyaan kembali, tiba tiba Rafi mendengat dering ponsel yang dia taruh di sisi sofa tempat dia duduk saat ini. Rafi segera meraih ponselnya dan ternyata itu panggilan dari Wildan. Untuk beberapa saat Rafi menerima telfon sambil sesekali mengusap pipi NlMarisa dan merapikan rambutnya yang menggangu.


Telfon dari Wildan?" tanya Marisa begitu Rafi selesai melakukan panggilan telfon. Rafi lantas mengiyakan sembari menaruh ponselnya di tempat semula. "Ngapain?"


"Nanyain kapan mau menyelesaikan masalah Kalina. Ya aku jawab minggu saja karena aku masih ada urusan yang lainnya. APa lagi kita diundang ke sebua pesta."

__ADS_1


"Eh aku beneran di ajak kepesta?" tanya Marisa sembari bangkit dan duduk di sebelah Rafi dengan tangan yang mengambil alih permainan.


"Benaran lah. Kenapa? Kamu nggak mau ikut?" tanya Rafi sembari tangannya bergerak meraih bukit kembar Marisa yang masih tertutup pakaian renang yang sudah agak kering.


"Ya mau, cuma perusahaan yang mengadakan pesta itu dengar dengar masih ada hububngan saudara dengan istri mudanya Om Sergio," jawab Marisa yang sarah saja tangan Rafi memijat mijat bukit kembarnya yang masih kencang.


"Apa! yang benar?" Rafi nampak terkejut. bahkan gerakan tangannya terhenti sejenak. AKarena rasa terkejutnya mendengar informasi dari Marisa."Namanya siapa?"


"Namanya sih aku nggak terlalu inget, tapi kalau nggak salah, itu perusaahan kakaknya istri kedua Sergio. Sebenarnya itu perusahaan yang tidak terlalu besar loh. Berkat dukungan sergio aja perusahaan itu lumayan memiliki nama."


Apa yang dikatakan Marisa memang benar. Bahkan saat ini, Sergio dan keluarga istri keduanya nampak sedang berkumpul di rumah utama keluarga Lupita. Mereka nampak sedang makan bersama sembari membicarakan pesta yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.


"Nek, nenek sudah menyiapkan gaun untuk pesta?" tanya Tania kepada wanita tua yang duduk disebelahnya.


"Tentu dong, sayang, Bukan nenek namanya kalau tidak memakai yang spesial," jawab wanita yang sebenarnya sudah tidak pantas terus bergaya glamor.


"Eh Burhan, kamu nggak lupa ngunang Tuan Moreno, bukan?" kini Sergio yang bertanya kepada pria yang menjadi kakak iparnya.

__ADS_1


"Sudah, sesuai perintah kamu, aku ngirim dua undangan ke Folcano grup," jawab pria yang akrab dipanggil Burhan. "Emang dia dengan anaknya sudah pasti akan datang?"


"Ya kita berharap saja anaknya juga mau datang. Beesok aku datangi kantornya ntuk memastikan kalau anaknya juga ikut."


"Nanti kalau Moreno ngajak Marissa gimana?" tanya Lupita.


"Ya nggak apa apa. Itukan nanti tugas Tania," jawab Sergio ,lalu memandang ke arah Tania. "Kamu sudah tahu kan, apa tugas kamu?"


"Sudah, Om, tenang saja," jawab Tania penuh dengan keyakinan.


"Emang harus yah? Tania yang melakukan itu?" kini pria yang paling tua disana mengelurkan suaranya.


"Ya harus, Pah. Papah nggak usah khawatir, ini cuma penjebakan, Nggak sampai tidur bareng. Papah pasti tahu kan Folcano grup itu perusaahan yang bagaimana."


Oria yang rambuatnya semakin menipis seiring berjalannya usia itu nampak menganggukan kepalanya beberapa kali. Dia sudah pasti tahu perrusahaan tersebut sebesar apa. makanya keluarganya ingin menjadi bagian dari perusahaan kelas dunia itu meski dengan cara yang tidak benar.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2