
Waktu yang terpampang dari layar ponsel sudah menunjukkan pukul enam petang lebih. Mobil yang dikendarai Rafi dan Marisa kini sudah memasuki halaman rumah mewahnya. Begitu mereka turun dari mobil, mereka melihat Mreno nampak sedang berbincang dengan beberapa orang yang bekerja di tempat tersebut. Rafi dan Marisa lantas beribisiatif mendekatinya.
"Malam, Dad," sapa Rafi. "Daddy lagi ngapain disini?"
"Tidak ngapa ngapain, Nak. DAddy hanya ingin ngobrol sama mereka," jawab Moreno dan dia langsung merangkul pundak Rafi. "Bukankah kalian habis belanja? Kenapa barang belanjaannya terlihat sedlkit?" tanya Moreno sembari melangkah mengajak kedua anak muda itu masuk ke dalam rumah.
"Hanya Marisa yang belanja, Dad. Aku tidak membutuhkan barang apapun," jawab Rafi.
"Astaga! lalu uang kamu yang banyak akan kamu gunakan untuk apa?" Moreno nampak terkejut mendengar ucapan Ragi, sedangkan pemuda langsung cengcengsan.
"Iya, ya, Om, Rafi aneh. Padahal dia banyak uang, tapi selalu saja bertingkah kayak orang tidak mampu," Marisa ikut mengeluarkan suaranya.
"Nggak tahu, Dad. Lagian kan baju baju di lemari juga sudah banyak dan masih baru semua. Jadi sayangkan kalau aku beli baju," Rafi membela diri. "Terus, percuma juga kan kalau aku harus memamerkan kekayaan aku. Nanti banyak orang yang berniat jahat pada mendekat, giman?"
__ADS_1
Ya, dugaan Rafi memang benar. Bahkan saat ini ada seseorang yang sedang menunggu waktu untuk menjalankan rencana jahat tersebut. Salah satunya adalah wanita yang baru saja menjadi salah satu penghuni kost milik Rafi. Entah ada rencana apa dengan wanita itu, hingga dia memutuskan untuk tinggal di tempat kost tersebut.
Namanya Sindi. sesuai yang tertera dalam identitas yang Wildan catat, wanita itu saat ini sedang terdiam di dalam kost. Dia sedang berpikir keras bagaimana cara menjerat pria penjaga kost itu.
"Wanita dan anak kecil yang tadi aku lihat siapa ya? Apa itu istri dan anak Rafi?" gumam Sindi dengan mata menatap langit langsit kamar. "Kalau benar, bagaimana caranya aku memaancing Rafi agar mau masuk ke kamar ini dan minum air yang telah aku campur perangsang?"
Sementara itu orang yang disangka Rafi oleh wanita itu, saat ini sedang sedang duduk bersama tiga orang wanita di ruang tamu. Kenapa tiga wanita? Tadi saat Wildan keluar dari kamar penghunia kost baru, dia melihat seorang wanita dan ternyata wanita itu adalah teman Kalina yang bernama Fiza. Wanira itu sengaja datang ke tempat Kalina, selain karena libur kerja, dia juga kangen dengan sahabatnya serta ingin memberikan informasi penting pada Kalina.
"Kamu tahu nggak sih, Kal, aku sempat diinterogasi loh oleh Paman kamu. Diikira aku itu nyembunyiin kamu," ucap Fiza berapi api. "Untung aja mereka percaya dengan alasan yang aku buat."
"Nggak tahu. Aku nggak mau nyari info lebih, takutnya malah Paman kamu nanti curiga lagi," jawab Fiza yang memang ada benarnya. "Tapi, Kal, aku sekarang pulangnya bagaimana? Apa masih ada kendaraan umum jam segini?"
Kalina dan Wildan sontak terkekeh. "Itu ada motor, apa mau aku antar?" tawar Wildan yang memang diwairisi motor baru milik Rafi.
__ADS_1
"Nggak lah, nggak enak aku," tolak Fiza. "Gini aja deh, Kal, gimana kalau kamu yang ngantar aku, terus kamu nginep disana?"
Kalina tidak segera menjawab. Dia langsung menatap Wildan guna meminta persetujuan. Wildan setetika langsung tersenyum. "Kalau Kalina mau ya silakan. Lagian mungkin dia juga suntuk di kost mulu," ucap Wildan.
"Aku ikut," rengek Alisa. Tentu saja Wildan langsung melarangnya, tapi bocah itu malah menangis dan dengan berat hati serta bujukan dari Kalina yang tidak tega meninggalkan Alisa, Wildan pun akhirnya mengijinkan sang adik ikut. Karena takut waktu yang akan semakin malam, ketiga wanita itu bergegas berangkat menuju ke kota dimana Fiza tinggal.
"Yah, malam ini aku tidur sendirian deh," gumam Wildan.
Petang itu satu persatu penghuni kost sudah pada berdatangan. Karena kartu identitas penghuni baru masih ada di tangan Wildan, dia berinisiatif untuk mengantarkan sekalian meminta uang sebagai tanda jadi sebagai penghuni baru. Wildan berbegas melangkah menuju kamar yang di huni wanita bernama sindi.
"Masuk!" teriak Sindi begitu mendengar pintu kamar ada yang mengetuk pintunya dan terdengar suara pria menyapa. Wildan pun segera membuka gagang pintu dan masuk ke dalam kamar itu.
"Mbak, ini kartu idenitasnya dan sekalian saya minta pembayaran pertama masuk kost ini Mbak?"
__ADS_1
"Oh iya, Mas. bentar ya?" Sindi yang sedang memainkan ponselnya langsung meraih tas untuk mengambil duit. Tapi saat itu juga dia jadi teringat akan rencananya.
...@@@@@...