SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

"Berhenti!" teriak seorang pembonceng kendaraan bermotor sambil mengacungkan senjata tajam ke arah motor yang dikendarai seorang pria dan wanita yang sedang melakukan perjalanan jarak jauh. Kebetulan jalanan yang mereka lalui saat ini cukup sepi. Bukan hanya satu orang yang memberi perintah dengan sebuah ancaman. Di sebelah kanan motor tersebut juga sama.


Rafi, pengendara motor yang sedang diapit dua motor di sisi kanan dan kirinya berusaha bersikap tenang dalam menghadapi empat pria yang entah darimana datangnya dan mengikuti laju motornya. Dari guru ilmu bela diri yang dulu pernah Rafi ikuti saat di kampung, dalam keadaan seperti ini, dia harus bisa bersikap tenang agar pikirannya bisa berpikir jernih.


"Fi, aku takut," wanita yang duduk dibelakang Rafi kembali merintih sambil mengencangkan pelukannya di pinggang pemuda itu. Alasan lain yang membuat Rafi harus bersikap tenang adalah wanita yang bersamanya saat ini. Rafi juga harus memastikan keselamatan Marisa karena dia tahu wanita itu juga dalam bahaya.


"Cepat berhenti!" lagi lagi seorang pria memberi perintah dengan mengacungkan senjata tajamnya. Pengendara motor yang berada di sisi kanan Rafi melajukan motornya lebih cepat dan menghadang laju motor Rafi agar Rafi menepi dan berhenti. Mau tidak mau Rafi mengikuti perintah itu.


Begitu motor berhenti, Rafi langsung mengajak Marisa turun dan secara bersamaan dua orang yang membonceng dua motor juga ikutan turun kemudian dengan wajah galaknya mereka mendekat. "Serahkan kunci motor dan apapun yang kalian bawa!" ancam pria berperut buncit.


Rafi cukup terkejut saat mendengar apa yang diminta orang itu. Ternyata itu bukan suruhan Sergio, melainkan hanya penjahat lokal yang akan membegalnya. Otak Rafi langsung bekerja keras mencari jalan keluar dari situasi seperti ini. Sedangkan Marisa sudah sangat ketakutan sambil terus berada di belakang Rafi.


"Cepat serahkan barang kalian!" bentak rekan dari pria yang berperut buncit dan tubuhnya lebih kurus.


"Kalau saya tidak mau, gimana, Bang?" jawaban Rafi yang terlihat santai dan tenang sontak saja mengejutkan dua orang tersebut dan juga dua orang yang memilih tetap berada di atas motor.


"Kamu mau cari mati!" bentak si kurus.


"Enggak, Bang, kenapa?" Rafi benar benar terlihat sangat meremehkan mereka hingga dua pria itu naik pitam.

__ADS_1


"Benar benar nantangin kita nih orang," si buncit berkata dengan sinis.


Rafi terus bersikap waspada. Matanya mengedar ke sekitarnya lalu dia berbisik pada Marisa. "Kamu lepasin tanganku sebentar."


"Kamu mau ngapain? Aku takut?" rintih Marisa.


"Sudah, tenang saja. Percaya sama saya."


Di saat tangan Marisa lepas dari tangan Rafi dan mundur beberapa langkah, tepat saat itu juga pria berperut buncit berteriak. "Habisi mereka!"


Si kurus menyerang. Rafi langsung ambil kuda kuda dan dengan sigap salah satu kakinya langsung melayang dan mendarat dengan keras tepat di perut si kurus.


"Akh!" sikurus terpental ke belakang.


"Sialan!' si perut buncit maju dengan segala amarah dan mengcungkan senjata tajam hendak menyabetnya. Tapi gerakan Rafi tak kalah cepat. Rafi langsung menekuk tubuhnya ke belakang menghindari amukan senjata tajam dan dengan gerakan cepat tangan kiri Rafi menangkap pergelangan tangan penjahat yang bersenjata lalu tangan kanan Rafi menghantam dengan penuh tenaga bagian ketiak pria buncit itu.


"Akhh!" si perut buncit berteriak sangat kencang hingga senjata berupa samurai terlepas dari tangannya. Tidak hanya menghantam bagian ketiak, Rafi juga menghantam bagian tubuh lain pria buncit itu dengan sangat keras lalu memberi tendangan di wajahnya saat pria itu berlutut kesakitan.


Si kurus bangkit dan dua rekannya yang sedari tadi di atas motor langsung turun dengan mengeluarkan senjata tajam masing masing. Rafi tak hilang akal, dia mengambil alih pedang milik si buncit. "Non Marisa mundur lebih jauh dikit," bisik Rafi.

__ADS_1


"Tapi aku takut."


"Tenang aja. Nggak akan terjadi apa apa."


"Kurang ajar kamu ya! Aku habisi kamu!" teriak rekan yang baru saja turun dari motor dan langsung menyerang Rafi. Beruntung, Rafi selalu waspada. Dia langsung mengacungkan pedangnya hingga langkah pria itu terhenti.


"Kita serang sama sama," titah si kurus.


"Baik, Siap! Serang!"


Perkelahian tiga lawan satupun tak terelekakan. Marisa sedikit menepi dan matanya berkeliling berusaha mencari bantuan. Sedangkan pria berperut buncit juga berusaha bangkit meski bagian ketiaknya kesakitan dan hidungnya mengeluarkan darah.


Trang!


Trang!


Trang!


Benturan senjata tajam menggema mewarnai pertarungan tiga lawan satu tersebut. Rafi yang memang punya bekal ilmu bela diri, tidak terlihat kewalahan menghadapi lawan yang menyerangnya dengan gerakan asal dan membabi buta. Rafi benar benar mengerahkan semua ilmu bela diri yang dia miliki saat ini.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2