
Namanya Wildan. Remaja yang yang usianya akan menginjak pada angka dua puluh tahun itu, pulang dengan rasa gembira yang tak terkira. Setelah mendengar tawaran dan penjelasan dari Rafi, anak muda itu begitu bahagia karena memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang cukup layak dari pada menjadi pemulung.
Kurang lebih sudah delapan tahun remaja itu berkecimpung di dunia persampahan. Bahkan Wildan dan adiknya juga terpaksa harus hidup bertetangga dengan banyaknya sampah semenjak kepergian sang ayah dan juga ibunya. Tawaran dari Rafi merupakan berkah yang luat biasa atas segala kesabaran yang selama ini Wildan lakukan.
Selain butuh tenaga pengganti di tempatnya sekarang, Rafi memang sengaja menolong anak muda itu karena dia merasa memiliki cukup uang dan belum tahu apa yang akan dia lakukan dengan uang yang tiap waktu bertambah setiap dirinya sukses menjalankan misi. Rafi juga cukup senang saat melihat binar bahagia pada pemuda itu. Biar bagaimanapun Rafi pernah merasakan bagaimana rasanya hidup miskin dan susahnya mencari uang.
Setelah Wildan pergi, Rafi kembali melanjutkan bersih bersihnya. Sekarang gudang lebih terlihat luas karena beberapa barang yang tidak berguna sudah dia keluarkan. Di saat Rafi sedang sibuk dengan tugasnya, matanya menangkap sebuah mobil masuk ke area kost dan Rafi tahu itu mobil siapa. Rafi segera meninggalkan pekerjaannya sejenak dan menghampiri mobil tersebut.
"Selamat pagi, Pak?" sapa Rafi pada pria bermata sipit pemilik kost tersebut.
"Pagi juga, Rafi," jawab sang pemilik kost begitu dia turun dari nmobil. "Kamu masih sopan saja sama saya, Fi? Sebentar lagi kan saya bukan bos kamu?"
Rafi tersenyum lebar. "Bapak kan lebih tua dari saya, nggak salah kan, kalau saya menaruh hormat pada bapak."
Pria bermata sipit itu terkekeh lalu keduanya beranjak menuju ruang tamu. "Saya kesini mau mengantar surat surat bangunan ini. Selamat ya, kamu sudah resmi jadi pemilik tempat ini," ucap sang bos sambil menyerahkan sesuatu yang dia bawa dalam amplop coklat yang lumayan lebar.
Rafi pun menerimanya dengan senang hati dan langsung memeriksanya. "Terima kasih, Pak. urusan sisa pembayaran, nanti saya akan ngasih tahu sama Pak Budi."
__ADS_1
"Santai saja, Fi. Bapak percaya kok sama kamu," ucap pria itu senang lalu mereka terlibat obrolan ringan yang lumayan seru hingga saat menjelang siang, pria bermata sipit itu pamit pulang karena masih banyak yang harus dia kerjakan.
"Siapa itu, Fi?" tanya Marisa yang tiba tiba muncul dari kamar, saat Rafi berdiri di dekat pos jaga memandang keperrgian mantan bosnya.
Rafi menoleh ke arah marisa sejenak. "Pemilik kost, kesini mengantarkan surat surat."
"Wuihh, kamu sudah jadi juragan kost ini? Pasti nanti banyak cewek yang naksir kamu, Fi."
Rafi mencebikkan bibirnya lalu dia duduk di kursi post jaga. "Kalau cinta karena harta ya aku nggak baklan mau."
Marisa sontak tersenyum lebar dan dia mendaratkan pantatnya pada tembok yang biasa dijadikan tempat duduk. "Kenapa nggak mau? Kan kamu bisa memilih wanita manapun yang kamu suka?"
Marisa kembali tersenyum meski sedikit terkejut dengan keputusan pria itu. "Ya terserah kamu aja. Lagian ada untungnya juga kalau kamu tidak punya cewek, aku jadi masih punya kesempatan untuk terus tidur bersama kamu."
Rafi mencebikan bibirnya. "Tidur doang ya percuma, kalau bisa ya aku ingin lebih, biar makin betah tidur sama kamu. Masa cuma peluk peluk doang. Nggak seru!"
"Hahaha ..." Marisa malah terbahak mendengar keluhan Rafi. "Ya biarin, untuk menguji iman kamu., kuat apa nggak?"
__ADS_1
Rafi kembali mendengus. "Mulai malam ini kita pindah kamar, Non."
"Loh, pindah kamar? Kenapa?"
"Mulai besok akan ada anak yang bekerja disini. kamar ini akan digunakan untuk penjaga kost yang baru."
"Loh, kapan kamu buka lowongan kerjanya? Kirain si Nadia yang bakalan kerja disini?"
"Nggak lah. Aku butuhnya tenaga laki laki. Lagian Nadia juga nggak mungkin akan bisa. Kamu tahu sendiri kan alasannya."
Marisa nampak mengangguk beberapa kali. "Ya udah, yang penting kita masih tetap tidur bareng kan?"
"Iya," jawab Rafi jutek.
Marisa kembali terkekeh, keduanya lantas melanjutkan obrolan mereka hingga Rafi teringat sesuatu dan dia langsung mengambil ponsel yang dia dapatkan dari Madi tadi pagi lalu menunjukkan sesuatu kepada Marisa.
"Kamu kenal orang ini nggak, Non?"
__ADS_1
Kening Marisa berkerut saat Rafi menunjukkan sebuah foto keluarga. "Itu kan foto istri kedua Om Sergio dan orang tuanya, Kenapa, Fi?"
...@@@@@...