
"Istri pertamanya udah dikasih tahu belum? Biar dan anak anak Sergio juga ikut merawat ayahnya."
"Mau ngasih tahu darimana? Mereka berada dimana saat ini aja aku nggak tahu."
"Emang kamu mau merawat Sergio sendirian? Dia stroke, sebentar lagi juga dia paling lumpuh."
"Ya mau gimana lagi, Yah. Sebelum semua harta Sergio pindah ke tangannku, bukankah aku harus melakukannya? Ayah tenang saja, aku akan menyiapkan pembantu khusus buat dia, yang bisa diajak kerja sama untuk mengalihkan nama semua aset milik Sergio."
Tanpa mereka sadari, ada hati yang terkejut saat mendengar pembicaraan ayah dan anak itu. Pria yang terbaring tak berdaya dengan mata terpejam, begitu tak menyangka kalau mereka lebih mementingkan harta dan daripada keadaan pria itu. Sergio benar benar terkejut dengan apa yang dia dengar.
Sergio sebenarnya tidak buta kalau selama ini keluarga istri keduanya sangat gila harta. Tapi yang membuat Sergio terkejut, kenapa di saat keadaan Sergio seperti itu, dia baru menyadari kalau keluarga Cahaya Gemilang hanya membutuhkan hartanya saja, bukan orangnya. Ingin rasanya dia bangkit dan memaki istri dan mertuanya itu, tapi apa daya, Rafi telah membuat mulut pria itu tidak bisa berkata kata.
__ADS_1
Pikiran Sergio tentu saja langsung tertuju kepada anak dan mantan istrinya. Lima tahun yang lalu, Sergio dengan mantap hati langsung menceraikan istrinya dan lebih memilih Lupita. Bahkan dia juga sudah tidak menafkahi sang anak sejak dua tahun belakang karena perusahaan yang sedang tidak stabil sampai sekarang dan juga atas pengaruh Lupita juga. Menyesal, cuma itu yang bisa Sergio lakukan saat ini.
"Harusnya, dari dulu kamu mengalihkan semua aset yang Sergio miliki atas nama kamu. Sekarang kalau kamu nggak mendapatkan apa apa dari Sergio bagaimana?"
Lupita sontak tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah suaminya yang masih terpejam. "Ayah tidak perlu khawatir, Sergio sangat mencintai aku. Aku yakin jika aku terlihat tulus merawat keadaanya seperti ini, dia akan semakin yakin kalau aku mencintainya."
"Terserah kamu aja deh, kalau begitu ayah lebi baik pulang," pria tua itu langsung bangkit dari duduknya. Mungkin karena mengira Sergio sedang tidur, pria tua itu memilih langsung pergi dengan diantar oleh anaknya. Semantara keluarga yang lain memang sedang duduk di luar ruangan karena bosan.
Hingga beberapa jam berlalu dan saat waktu menunjukkan tengah malam, Sergio yang sedari tadi memang sengaja tidak tidur, langsung bangkit dari berbaringnya. Matanya menatap tajam wanita yang sedang terlelap di atas kasur lainnya yang disediakan pihak rumah sakit untuk pengguna ruang VVIP.
Sergio membuka laci meja yang ada d dekat brangkarrnya. Dia tahu barang barang miliknya dan sang istri berada disitu. Dompet dan kunci mobil dia ambil. Sergio juga dengan tangan sendiri, mencabut selang infus yang tertancap di tangannya. Sergio mengambil pakaian ganti yang Lupita sediakan dan ada di bawah laci meja. Dengan tubuh agak goyah, Sergio perlahan menyelinap keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
"Sergio? Keluar kamar?" orang suruhan Rafi yang diminta mengawasi Sergio nampak terkejut melihat musuh sang bos berjalan tertatih menuju ke arah lain. Orang itu segera saja bergerak dan mengikutinya. Sergio terus melangkah dengan sekuat tenaga dan hati hati. Orang suruhan Rafi juga terus mengikutinya. "Sepertinya aku harus melakukan sesuatu?" orang itu bergumam.
Di saat Sergio sampai ke tempat parkir mobil yang biasa dikendarai Lupita, orang suruhan Rafi mendekat. "Anda Tuan Sergio, kan?"
Pertanyaan orang itu sontak saja membuat Sergio terperanjat. Dia lantas berpaling. "Ah, benar, anda Tuan Sergio. Pemilik GoodFood! Apa yang anda lakukan disini, Tuan?"
Sergio pun tak menjawab, selain takut ketahuan keluarga Lupita, dia juga bingung karena mulutya tidak bisa berkata apa apa. Tapi di saat Sergio sedang kebingungan, pria itu melihat ponsel di saku baju orang yang yang menyapa, SErgio langsung memberi kode kalau dia ingin meminjam ponselnya.
"Anda tidak bisa bicara?" Orang itu pura pura terkejut. "Kenapa bisa? Anda mau meminjam ponsel?" Sergio langsung mengangguk. Orang suruhan Rafi pun mengambil ponselnya dan menyerahkan pada Sergio.
Begitu ponsel ada di tangan, Sergio langsung mengetik sesuatu dan menyerahkan ke pria di hadapannya. Betapa terkejutnya pria itu saat membaca pesan dari Sergio.
__ADS_1
...@@@@@@...