
"Ah,sial! Kenapa hal seperti itu harus diceritakan segala sih," sungut seorang wanita yang wajahnya menunjukan kalau saat ini dia sedang kesal setelah mendengar cerita tentang perbuataan yang dia lakukan ke anak pungutnya puluhan tahun yang lalu. Wanita itu semakin geram saat mendengar cibiran dari orang orang sekitar yang mengutuki perbuatannya dulu.
"Tenang saja, Bu. Bukankah ini kesempatan yang bagus buat kita," seorang pria yang merupakan suami dari wanita itu malah mencoba bersikap tenang dan mengambil celah dari cerita yang sedang dikumandangkan oleh Moreno tentang keluarga anak muda yang berdiri di sisi pemimpin perusahaan bessar itu.
"Kesempatan? Kesempatan untuk apa?" wanita yang tetap bergaya modis meski usianya sudah tua itu merasa bingung dengan apa yang dikatakan suaminya barusan.
Sang suami tersenyum simpul. "Ini akan memudahkan kita untuk bersandiwara kalau kita itu sangat menyesal atas perbuatan perbuatan kita dulu kepada Mail. Tenang aja," ucapan sang suami yang terlihat begitu percaya diri, membuat wanita tua di sebelahanya langsung berpikir. Namun itu tak berlangsung lama, karena setelahnya, wanita itu langsung tersenyum begitu dirinya mengerti dengan maksud ucapan yang keluar dari mulut suaminya.
Sementara itu di atas panggung, Moreno masih menceritakan beberapa kisah hidupnya yang membuat para pendengar terlihat takjub. Hingga sampailah saatnya Moreno memasuki ke acara yang paling penting padamalam ini. "Maka dari itulah, malam ini, saya, Moreno Anderson Fox, selaku pendiri dan pemimpin Falcano grup, akan menyerahkan jabatan saya di perusahaan yang berdiri di negara ini, kepada putra angkat saya, Rafidian Syahputra!"
Gemuruh tepuk tangan langsung membuat riuh ruangan pesta. Para anggota keluarga Moreno juga seketika berbaur dengan Moreno dan juga Rafi untuk memberi selamat kepada pemuda yang sangat beruntung tersebut. Selepas itu, Rafi pun dipersilahkan untuk menyampaikan beberapa kata untuk mewakili kalau dia menerima jabatan baru tersebut.
__ADS_1
Rafi membuka pidatonya dengan ungkapan rasa syukur yang amat dalam karena dipertemukan dengan orang orang yang baik. Dari keluarga Alexnder dan juga keluarga Moreno. Berkali kali Rafi mengucapkan kata terima kasih. Banyak hati yang tersentuh dengan ucapan Rafi yang terlihat begitu tulus. Namun saat Rafi akan mengakhiri pidatonya, dirinya dan orang orang yang di sana dejutkan oleh suara yang cukup lantang.
"Tunggu!" semua mata sontak mengalihkan pandangan ke si pemilik suara itu berasal. Terlihat wanita dan pria yang sangat Rafi benci sedang menaiki panggung dan melangkah menuju ke arah Rafi berada. Mereka dengan sengaja memasang wajah yang terlihat sangat sedih. "Tunggu cucuku, ini nenek."
Seketika semua terperangah mendengar ucapan wanita tua yang menyebut kata cucuku kepada Rafi. Mereka tentu saja langsung teringat dengan cerita yang disampaikan Moreno tadi. Sedangkan di sisi lain, ada wajah wajah tersenyum dengan aksi wanita tua dan suaminya itu. Siapa lagi kalau bukan Sergio dan anggota keluarganya, yang memang sangat menantikan momen seperti ini.
"Cucu?" seru istri Moreno.
Lagi lagi wajah terkejut kembali ditunjukkan oleh orang orang yang ada disana. Banyak yang tidak menyangka kalau salah satu tamu yang ada di pesta itu adalah keluarga dari anak yang baaru saja nemerima jabatan sebagai presiden direktur.
"Apa anda yakin?" dengan segala amarah yang ditahan, Rafi mencoba menghadapi dua orang tua tersebut dengan tenang. "Kenapa aku kurang yakin yah?"
__ADS_1
"Tentu saja aku sangat yakin, cucuku," wanita tua itu langsung membuka tas yang dia bawa dan dia mengambil beberapa lembar foto yang memang telah dipersiapkan sebelumnya untuk memuluskan rencana mereka. "Lihat! Ini adalah foto foto kebersamaan ayah kamu dengan kami. Lihat! Di sana dengan jelas kalau kami sebenarnya sangat menyayangi ayah kamu, Cucuku."
Rafi menerima foto tersebut dengan perasaan yang campur aduk. Memang benar ayahnya terlihat sangat bahagia dalam foto yang saat ini sedang dia lihat. Rafi mati matian menahan rasa sedihnya agar tidak mengeluarkan airmata.
"Jujur, sebenarnya kami beberapa tahun ini, telah mencari kalian kemana mana," wanita itu mulai melancancarkan dustanya. "Kami sangat menyesal karena telah mengusir ayah kamu. Tolong, maaafkan nenek, cucuku."
"Benar, Nak, kami sangat menyesal," sang suami dari wanita itu juga mulai menunjukkan aktingnya. "Kami sangat terpukul tadi saat mendengar cerita dari Tuan Moreno. Gara gara kesalahan kami, hidup kamu sangat menderita. Tolong maafka kami dan kembalilah kepada keluarga kami. Nak. Kami pasti akan sangat menyayangi kamu dan tidak akan menyia nyiakan."
Mendengar bujukan yang terlontar dari sang kakek, Rafi sontak menyeringai dengan penuh kelicikan.
...@@@@@@...
__ADS_1