SYSTEM PERAWAN

SYSTEM PERAWAN
Titik Terang


__ADS_3

"Nona!" teriak Rafi dari pos jaga. "Nona kenal Sergio Wallinngton nggak?"


"Apa!" pekik seorang wanita dari dalam kamar, lalu tak lama kemudian wanita bernama Marisa itu segera bangkit dari rebahannya dan segera keluar dari kamar itu. "Dia Om ku, Kakaknya Daddy. Kenapa, Fi?"


Rafi terdiam sejenak sembari memikirkan alasan apa yang tepat untuk mengatakan tentang Sergio Wallington. Berdasarkan dari informasi yang Rafi baca, Sergio ada hubungannya dengan musibah yang menimpa Tuan Alexander dan ayah Rafi.


"Nggak. Aku cuma dapat kabar aja dari Pak Budiman, kalau ada orang yang mencari Nona atas nama Sergio Walington, jangan dikasih tahu gitu. Emang ada masalah apa orang tau Nona dengan om itu?" ucap Rafi yang nampak lega karena berhasil menemukan alasan yan tepat, meski harus berbohong sedikit dan membawa nama Pak budi dalam kebohongannya.


Marisa sepertinya mengerti dan dia terduduk di atas tembok setinggi lima puluh centi meter. "Entah apa yang terjadi sama Om ku itu, Fi. sejak dia menikah lagi lima tahun yang lalu, kondisi keuangannya bermasalah. Selalu merasa kurang. Padahal dia mendapat bagian warisan dari opa lebih banyak. Warisan bagian milik Daddy juga terpaksa dikasih ke Om Sergio. Tapi Om Sergio selalu kekurangan uang dengan alasan peerusahaaan selalu merugi."


Kening Rafi sontak berkerut. "Apa mungkin itu ada pengaruhnya dengan istri kedua om kamu?"


"Bisa jadi seperti itu, Fi. Om Sergio menjadi sosok yang berubah. Om Daniel saja pernah dia celakai. Tapi entah kenapa Om Sergio sangat sulit dijerat oleh hukum."


Rafi terdiam, kali ini dia tidak bisa membalas perkataan Marisa selain manggut manggut dan menjadi pendengar yang baik. Hingga beberapa saat kemudian, Marisa bangkit dan kembali masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Sampai waktu terus bergulir maju hingga dua jam kemudian, rasa lapar mulai menghantui perut Rafi. Dia lantas mengajak Marisa untuk membeli makanan. Wanita itu pun setuju.


"Eh, Fi wanita yang tadi kita tolong, nggak dibeliin makan sekalian?" tanya Marisa sambil bergelayut di lengan Rafi seperti biasa. "Kasihan loh dia. kayaknya nggak ada duit buat belo makan."


"Ya udah nanti aku beliin sekalian aku jenguk. Takutnya dia kenapa kenapa."


Marisa langsung tersenyum sebagai tanda setuju. Mereka melangkah menuju salah satu pedagang makanan yang ada di seberang tempat kost. Kali ini mereka memilih menu nasi campur beserta gorrengannya. Dalam makanpun mereka kembali membicarakan tentang Sergio dan yang lainnya.


Hingga beberapa menit kemudian setelah mereka selesai makan. "Kamu yang ngantar makanan ini ke wanita itu ya?" ucap Tafi.


"Loh, kok pintunya terbuka!" gumam Rafi saat langkah kakinya hampir sampai ke kamar yang dia tuju. Mata Rafi melihat kamar yang digunakan oleh wanita yang dia tolong pintunya terbuka sedikit. Rafi pun mempercepat langkahnya.


Tok! ToK! Tok!


Meski pintunya terbuka, Rafi tetap mengetuk pintu kamar tersebut. Tapi aneh, tidak ada suara sahutan dari dalam kamar. Rafi lantas mencoba kembali mengetuk pintu tersebut. tetap nggak ada sahutan. "Ni orang kemana sih? Apa lagi mandi?" gumam Rafi

__ADS_1


Karena merasa sudah menunggu cukup lama, mau tidak mau Rafi terpaksa mendorong pintu yang sudah terbuka itu pelan pelan. pintu terbuka dan Rafi melongok ke dalamnya. Mata Rafi sontak membelalak saat melihat keadaan di dalam kamar tersebut. Dada Rafi tiba triba berdegup sangat kencang.


Rafi pun perlahan masuk mendekat ke arah wanita yang ternyata sedeng tertidur sangat nyenyak. Rafi perlahan jongkok di sebelahnya. Bukan tentang tidurnya yang membuat Rafi sampai membelalakan matanya tadi, tapi sebuah gundukan terbelah dan sangt tebal, di hiasi rumput hitam yang sangat rimbun.


"Tembem banget! Mantap itu! Dan rumputnya gila, lebat banget," gumam Rafi dengan mata terpaku menatap bagian bawah perut wanita itu yang pakaiannya tersingkap ke atas. Karena takut terjadi kesalah pahaman, Rafi sontak membangunkan wanita itu. "Mbak, bangun, Mbak. Makan dulu."


Wanita itu bereaksi dan matanya mengerjap perlahan. Begitu mata si wanita terbuka sempurna, wanita itu langsung bangkit dan duduk dengan mengusap wajahnya."Maaf, Mas. Aku ketiduran," ucap si wanita dengan perasaan yang tidam enak.


Rafi langsung tersenyum. "nggak apa apa, aku cuma mau mengantar makanan," Rafi meletakan kantung plastik yang dia bawa di atas lantai.


"Makasih," ucap wanita itu.


Rafi mengangguk. "Ya udah, aku mau kembali ke post dulu. Lain kali kalau mau tidur, jangan lupa, celana di pakai ya?"


Wanita itu tertegun sejenak kemudian dia teringat sesuatu. "Astaga!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2