
Marisa melangkah dari toilet dengan menahan segala rasa kesalnya. Bagaimana wanita itu tidak kesal? Saat ini di tempat duduknya, tidak hanya Rafi yang ada di sana, tapi ada juga dua wanita yang salah satunya adalah wanita yang tadi mengajak Marisa berdebat di todlet.
"Kok lama?" tanya Rafi begitu melihat Marisa mendekat. Sedangkan dua wanita yang entah punya rasa malu atau tidak, menatap sinis ke arah Marisa.
"Kita pulang yuk, Sayang?" bukannya menjawab, Marisa malah memberi kejutan kepada tiga orang yang ada disana.
"Pulang?" tanya Rafi agak gugup karena mendengar kata sayang keluar dari mulut Marisa.
"Iya lah. Ngapaian sih lama lama disini? Ada hama," balas Marisa sambil melirik ke arah dua wanita yang saat ini matanya sedang melotot kepadanya.
"Eh, Marisa, jadi orang itu yang sopan dong. Orang kita sama Tuan Rafi baru mau membicarakan masalah kerja sama, kamu seenaknya main ngajak pulang," Tania langsung bersuara karena merasa tidak terima dan juga kesal dengan sikap Marisa.
Mendengar ucapan tania, Marisa langsung menatap tajam ke arah Rafi menuntut penjelasan. "Siapa yang akan ngajak kerja sama dengan anda?" Rafi yang mengerti tatapan kekesalan Marisa langsung membantah ucapan Tania.
"Loh, kan mumpung kita bertemu disini, Tuan. Bukankah kemarin kita sudah membicarakannya?" Tania terus mencari segala cara untuk menahan Rafi agar tidak pergi. Sekarang dia memanfaatkan keadaan dengan cara berbohong agar Marisa dan Rafi berselisih paham.
Kening Raafi sontak berkerut mendengar kebohongan Tania. Karena terlalu malas meladeni dua wanita yang ada di sana, Tafi memilih bangkit dari duduknya. "Yok pulang."
__ADS_1
"Loh, Tuan! Kita kan belum selesai bicara?" Tania kembali bersandiwara.
Rafi memilih cuek. Dengan santainya dia menarik tangan Marisa meinggalkan meja itu bersama dua wanita yang melongo karena ditinggal begitu saja tanpa sepatah kata. Beruntung, makanan yang tadi Rafi dan Marisa nikmati sudah dibayar, jadi mereka tinggal melenggang saja dari tempat tersebut.
"Sialan! benar benar kurang ajar itu dua orang!" maki Tania. "Baru kali ini, aku dikayak giniin oleh cowok."
"Udah biarian aja," Lupita yang sedari tadi diam langsung buka suara. "Biarkan saja saat ini mereka merasa menang. Kita lihat saja jika Om Sergio sudah bertindak, bakalan ngemis pertolongan mereka sama kita."
"Bener, tuh Tan. Om Sergio harus segera ambil tindakan. kasih pelajaran sama mereka," balas Tania penuh dengan rasa kesal.
Sedangkan Rafi dan Marisa, justru malah terkekeh mengiringi perjalanan pulang mereka. Tentu saja mereka tertawa saat membahas dua wanita yang sepertinya tidak memiliki rasa malu.
"Ya gimana lagi. Daripada menghindari, mending dihadapi kan? Lagian ada kamu ini, aku merasa dilindungi."
Rafi langsung tersenyum manis dan dia mengalihkan pandangannya ke arah sisi jalanan. dalam pikiran Rafi saat ini, sebenarnya dia memikirkan misi yang dia terima. Sampai detik ini dia sedang dilanda dilema antara ingin berhenti menjalankan misi atau melanjutkannya. Rafi merasa, apa yang dia dapat dari misi yang dia jalani sudah lebih dari cukup.
Sedangkan di malam yang sama, Wildan nampak sedang duduk menyendiri di depan post jaga. Sejak adiknya mengenal dengan penghuni salah satu kamar yang ada disana, Alisa malah betah bersama wanita bernama Kalina. Ada perasaan lega dalam hati Wildan, karena paling tidak, ada orang yang turut membantu menjaga Alisa.
__ADS_1
Karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Wildan beranjak menuju kamar wanita itu, untuk mengambil sang adik agar segera tidur. Namun saat Wildan dipersilakan masuk oleh si pemilik kamar, dia terkejut melihat adiknya sudah terlelap dalam pelukan Kalina.
"Wahh, maaf, Kal, aku jadi ngerepotin," ucap Wildan merasa tidak enak hati. "Sini biar aku pindahin ke kamarku."
"Nggak usah," tolak Kalina. "Biar dia tidur disini saja, buat teman aku, Wil."
"Duh , lebih baik jangan deh. Nanti kamu kerepotan lagi. Kamu kan belum sembuh benar. Alisa kalau malam sering kebangun loh minta ke toilet."
Kalina malah tersenyum. "Udah nggak apa apa. Lagian dengan adanya adik kamu, aku jadi bisa merasakan gimana rasanya jadi kakak."
Seketika wildan tertegun mendengarnya. "Yakin nggak apa apa?" tanya Wildan memastikan. Fengan sangat yakin, kalina mengangguk. "Ya sudah kalau gitu."
"Kamu pasti sayang banget ya sama adik kamu ya, Wil?"
Wildan tersenyum kecut. "Kalau bukan aku yang menyayangi dia, siapa lagi? setidaknya aku masih memiliki keluarga."
Kalina nampak manggut manggut dan dia juga tersenyum tipis. "Kamu bruntung, Wil. Kamu masih ada seseorang yang dianggap keluarga. Sedangkan aku, orang yang aku anggap keluarga malah mau menjualku."
__ADS_1
"Hah!"
...@@@@@@...