
Dion PoV
Setelah Rendra keluar, segera ku kunci apartemenku. Bukan khawatir jika ia akan kembali lagi tapi ini sudah terlalu malam, waktunya ku istirahatkan ragaku. Ruang tamu yang berantakan dengan berbagai macam sampah yang dihasilkan Rendra ku abaikan begitu saja. Padahal aku adalah seorang yang begitu risih dengan sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Langsung ku alamatkan langkahku ke kamar. HPmu yang belum sempat ku obrak-abrik, ku geletakkan begitu saja di nakas. Ingin segera ku tenggelamkan diri di lautan mimpi untuk menghilangkan jejak-jejak keletihan yang mendera ragaku. Namun pikiranku tak bisa ku ajak kompromi. Ingatan tentang HPmu terlalu kuat.
"Ada apa, sih, di HPmu?" Kenapa mengganggu pikiranku," gumamku.
Ku ambil HPmu dan segera ku buka kuncinya. Ada sedikit keraguan di hati tapi rasa penasaranku lebih berkuasa. Whats app! Aplikasi yang paling ingin ku kunjungi. Tak ada jejak-jejak mencurigakan.
Aryan? Bersih! Tak ada jejak nakal dari chattingannya.
Rud?
Apa ini? Sebuah foto tidak senonoh, dasar laki-laki mesum. Bisa-bisanya dia mengirimkan foto begini pada perempuan. Tanganku yang mengepal karena ulahnya ku akhirkan pada sebuah pukulan di ranjangku. Hatiku geram dengan lelaki yang menikung dengan mengandalkan ketidaksopanan.
Aarrgghh!
Ddrrtt-ddrrtt-ddrrtt!
HPmu tiba-tiba saja menerima sebuah video call dari lelaki yang baru saja membuatku geram. Tanpa pikir panjang, langsung ku angkat telepon itu. Aku mau tahu, apa yang diinginkannya.
"Kok, kamu?" wajahnya berubah saat melihatku yang nampak di layar teleponnya.
Ku datarkan ekspresiku, "Mau apa lagi?"
"Apa aku tidak boleh meneleponnya?" jawab Rud dengan senyum smirknya.
"Untuk apa? Kalian sudah tidak ada urusan lagi, jangan mengganggunya!" jelasku.
Senyum smirknya itu membuat darahku perlahan menaikkan titik didihnya. Kepalan tangan yang sempat ku layangkan ke ranjang tadi, rasanya ingin ku layangkan juga ke wajahnya yang menjengkelkan itu. Namun ku tahan, aku tidak ingin kamu menanyakan kondisinya lagi dihadapanku. Jangan sampai kemarahanku menjadi bumerang untuk hubungan kita. Hubungan yang sudah ku perjuangkan selama ini, tak kan ku biarkan hancur hanya karena gejolak amarah.
"Aku ingin bicara denganmu, kapan kamu ada waktu?" tanyaku kemudian.
Segala keruwetan perasaan ini harus segera dituntaskan. Tak ada yang bisa menguasai hati tapi pikiran harus segera dijernihkan. Aku punya satu suntikan keyakinan untuk terus memperjuangkan ini setelah lamaran yang kamu terima. Menurutku itu suatu sinyal kuat bila kamu ingin berjuang untuk rasa yang ku miliki. Rasaku yang begitu kuat dan rasamu yang ku rasa semakin menguat.
"Nanti akan ku hubungi, kirimkan nomormu padaku!" jawabnya.
Ok! Kita akan selesaikan ini. Tak akan ada akhir bila kita tidak pernah mengawalinya.
*****
Jumat pagi ini menampilkan paradoks atas rasa di hatiku. Hati putihku tersenyum dengan status baru yang semalam engkau berikan. Terbangun dengan label tunanganmu adalah sesuatu yang tak pernah ku bayangkan. Aku bahagia! Namun sisi gelap hatiku sedang dilanda rasa duka. Ini adalah hari terakhir kebersamaanku dengan Maya dan Mas Rendra di kantor ini. Dan aku benci situasi seperti ini. Air mataku amat lebay, hujan kesedihan pasti akan melanda. Ah, aku selalu benci perpisahan.
"Sa, nih, HP kamu," Mas Rendra meletakkan benda pipihku di meja.
Ku ulurkan senyumku ke arah Mas Rendra. "Terimakasih, Mas, maaf ya ngerepotin pagi-pagi."
"Iya, aku kerepotan, tapi kalau aku nolak pasti pacarmu itu gak bakal bagi makan gratisan, lagi," seloroh Mas Rendra.
"Dia tunanganku, Mas," celetukku.
Mas Rendra yang sudah melangkahkan kaki kembali ke mejanya langsung putar balik. "Benarkah? Kapan dia melamarmu?"
"Semalam," ucapku dalam balutan senyum termanisku.
__ADS_1
Wajah terkejut Mas Rendra sangat kentara dengan mulutnya yang melongo lebar. Mungkin dia mengingat sikapnya semalam yang sibuk bolak-balik apartemen Dion, seperti satpol PP yang siap menggerebek pasangan mesum.
"Semalam itu? Yang aku bolak-balik? Kalian sedang ...?" dua jari telunjuknya di dekatkan mengisyaratkan keintiman suasana berdua.
Ku naikkan kedua belah alisku. "Santai aja kali, Mas, gak usah syok begitu."
"Dasar sepupuku satu itu, kenapa gak ngasih kode-kode, sih, aku kan dosa besar udah gangguin momen mesra yang harusnya uhuk-uhuk. Maafkan Baim yang yang ganteng ini, Ya Allah," Mas Rendra bergaya seolah jadi Baim yang menggemaskan.
"Kenapa pagi-pagi ada Baim di sini?" tanya Maya yang baru datang.
"Aku semalam dosa, Sayang, gangguin pasangan yang baru lamaran buat bermesraan," aku Mas Rendra pada calon istrinya itu.
Maya terlihat antusias, "kamu dilamar?"
"Ih, jangan lebay deh, Mas," ucapku pada Mas Rendra yang sudah berhasil membuat Maya kepo.
"Mana cincinnya?" tanya Maya yang tak mendapat jawaban dariku.
"Gak ada cincin," jawabku singkat.
"Dikasih apa kamu oleh tunangan bucinmu, itu? Mas Rendra ikut bertanya.
Aku menghela napas. "Jersey."
Maya dan Mas Rendra berucap bersamaan. "jersey?"
"Jersey?" Pak Aryan ikut nimbrung.
Mendapatkan tatapan dari tiga pasang mata membuatku seperti seorang tersangka yang sedang terjebak di meja introgasi. Ini lebih mendebarkan dibanding proses lamaran semalam.
"Owghh ... romantis ...," histeris Maya.
Mas Rendra geleng-geleng kepala. "Dasar sepupu anti-mainstrem."
"Kalau begitu, nanti aku yang bakal kasih cincinnya," ucap Pak Aryan dengan senyumnya yang kemudian melangkah meninggalkan kami. Tiga pasang mata milik kami ganti mengekor kepergiannya.
"Kenapa dia yang mau memberikan cincin?" tanya Mas Rendra yang kami setujui dengan anggukan berjamaah kepalaku dan kepala Maya.
*****
Tut-tut-tut!
Panggilan keduaku pada Dion berhasil membuatku patah hati lagi. Tumben sekali tunanganku itu begitu sibuk siang ini. Ingin ku coba sekali lagi tapi aku urungkan. Nanti kalau dia sudah ada waktu longgar, dia pasti akan meneleponku balik. Nah benarkan pikiranku. Belum genap lima menit, teleponku sudah berdering.
"Hai, Sayang, sibuk sekali hari ini?" sapaku lebih mesra daripada biasanya.
"Aku sibuk memilihkan cincin untukmu, Sayang," jawabnya dari seberang.
Suaranya berbeda, lebih mirip Pak Aryan. "Kok cincin? Ups! Oh My God! aku salah lagi," ucapku sambil memukul pelan kepalaku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku begitu ceroboh. Main angkat telepon tanpa melihat siapa nama yang tertera.
"Sayang," panggil ulang suara dari ujung sana.
"Hentikan, Pak! Tadi ada human error," gerutuku.
"Aku suka human error-mu," ungkapnya yang terdengar menyebalkan di telingaku.
__ADS_1
Tanpa basi-basi ku tutup telepon dari Pak Aryan. Aku masih merutuki kecerobohanku. Omelanku berhenti saat dering telepon kembali terdengar. Tak ingin salah sapa lagi, kali ini ku perhatikan benar-benar nama si penelepon.
D.On
Ah, kenapa aku belum mengganti namanya? Kalau tak ku perhatikan, pasti aku akan melakukan kesalahan untuk kali kedua.
"Iya, Pak," sapaku penuh hormat.
"Sayangnya mana?" goda Pak Aryan padaku.
Helaan napas ku pilih untuk meredam keketusan yang bisa saja ku gelontorkan pada atasanku ini. "Ada yang harus saya lakukan, Pak?"
"Gadis cerdas, segera ke ruanganku, ya!" perintahnya.
Sebenarnya, teleponnya itu sama saja dengan perintah untuk segera ku ruangannya. Itu hasil analisaku selama ini. Dan terbukti tepat sasaran. Tanpa menunggu perintah selanjutnya, langsung ku tutup telepon dan menghambur masuk ke ruangan sang manajer.
"Aura orang yang baru tunangan itu beda, ya?" gurau Pak Aryan dari balik kursinya.
Langsung ku pamerkan senyum manisku. "Ya begitulah, Pak."
"Ini hadiah pertunangan kalian dariku," Pak aryan meletakkan sebuah kotak berlapis beludru berwarna merah di meja.
"Terimakasih untuk niat baik Bapak tapi saya tidak menggelar lamaran seperti orang-orang, Pak. Lamaran saya private, hanya saya dan tunangan saya," jelasku untuk menolak halus pemberiannya.
"Ini wujud rasa bahagiaku karena kalian sudah sampai pada langkah besar ini," ungkap Pak Aryan kemudian.
Dia beranjak dari kursinya dan melangkah mendekatiku. Membuka kotak itu dan memperlihatkan sebuah cincin bermata indah. "Mau aku pakaikan sekalian?" tawarnya yang membuatku tersentak.
"Tidak, Pak," jawabku tegas.
"Mana tanganmu?" pintanya.
Tangan? Benarkah dia akan memakaikan cincin itu seperti perkataannya barusan? Apa dia sudah senekat itu? Tanganku? Tentu saja tak ku ulurkan seperti permintaannya.
"Mengapa tanganmu kamu sembunyikan begitu? Kamu pikir aku akan memakaikan cincin ini? Kamu terlalu PD, teman! Aku tidak sedang melamarmu, jadi aku tak akan melakukan itu," jelasnya dengan senyum ambigunya itu.
Belum ku buka mulut untuk menjawab tuduhannya, dia sudah meraih tangan kananku dan meletakkan kotak itu di telapak tanganku. "Terimalah!"
"Kamu pilih terima hadiahku atau ...?" Pak Aryan menjeda kalimatnya.
Ku tunggu kelanjutan kalimatnya. Namun dia malah memberiku sebuah senyum smirknya. "Dasar," umpatku dalam hati. Apa sebenarnya pilihan yang ia tawarkan. Atau ...?
"Atau ...?" aku berinisiatif mencercanya lebih dulu.
"Kamu pilih terima hadiahku atau terima cintaku?" jelasnya kemudian.
"Saya menolak keduanya, Pak," ucapku seraya berdiri dari kursi dan siap melangkah pergi.
"Kalau begitu, siap-siap terima surat pemecatan!" ucapnya langsung membuka pintu ruangannya dan membuka tangannya seolah mempersilakan aku keluar.
"Ish ...! gerutuku sambil melangkah hendak keluar dari ruangannya. Aku berhenti sejenak dihadapannya. "Saya pastikan setelah ini Bapak tidak akan pernah melihat saya, lagi!"
*****
Hai readers setia "Tentang Hati"! Setelah baca, jangan lupa like dan komen agar author tahu dukungan kalian untuk karya ini. Jika berkenan bantu rate5 dan vote, ya! Terimakasih, Author sayang kalian semua!
__ADS_1