
Pernikahan Mas Rendra dan Maya sangat kental adat Jawa, Yogyakarta. Sesuai adat, sehari menjelang akad nikah maka akan diadakan prosesi siraman untuk pengantin pria dan wanita. Prosesi ini akan mengambil lokasi yang berbeda. Mas Rendra akan mengadakan siraman di kediamannya. Sementara Maya akan mengadakan siraman di rumah Eyang.
"Sa, kamu nanti ikut di prosesinya Rendra, ya. Kamu adalah bagian dari keluarga ini," jelas Mami.
Aku sangat terharu. Begitu mudah mereka menerima kehadiranku. Belum juga sah tapi mereka sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarganya. Masih pantaskah aku meragukan perasaanku? Segala cinta kasih mereka, tak boleh aku gadaikan hanya untuk kisah lama yang kadang timbul tenggelam.
Mami memberiku setelan kebaya dengan warna cokelat muda. "Nanti, kamu pakai kebaya ini, ya! Seragam keluarga."
"Terimakasih, Mi, Rosa coba dulu, ya," ucapku kemudian.
Mami hendak keluar kamar sambil menjewer telinga Dion. "Ngapain masih di sini? Ayo, keluar!"
"Dion mau lihat, Ma. Kebayanya pas atau gak di badan Rosa," alasan Dion sembari memegang telinganya.
"Nanti aku panggil kalau sudah selesai ku pakai," kataku tak tega melihatnya dijewer.
"Tuh denger, jangan macam-macam, belum sah!" ingat Mami melanjutkan niatnya meninggalkan kamarku.
Ku gelengkan kepalaku melihat Dion yang masih sempat menggodaku dengan isyarat kedua alisnya meskipun masih dijewer Mami.
*****
"Kenapa kamu makin cantik, Sayang? Aku semakin mencintaimu," rayu Dion sambil memelukku dari belakang.
"Lepasin, Di! Malu kalau Mami tiba-tiba masuk," terangku.
"Mami ke rumah Rendra, beliau paham anaknya udah ngebet, kok," Dion terkekeh.
Aku cemberut. "Aku nyesel udah memanggilmu buat ngasih penilaian kebaya yang ku pakai."
Dion melayangkan sebuah kecupan di pipi kananku. "Kamu tidak cepat belajar dari pengalaman kemarin, Sayang."
Aku memutar tubuhku menghadapnya. "Kebanyakan pengalaman tanpa percobaan, sama juga bohong," ucapku sambil membalas kecupan di pipinya.
"Jangan memancingku atau kamu akan habis aku sikat," terang Dion seraya mencium keningku.
"Aku mau ganti baju dulu, kamu keluarlah," pintaku melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku.
"Aku bisa bantu," selorohnya.
"Ya sudah, lepaskan resletingku!" aku memutar tubuhku.
__ADS_1
Sengaja menggodanya itu menyenangkan. Ku sibak rambut panjangku yang tergerai dan memberikan dia ruang untuk memudahkan melepas resletingku. Bukannya segera melaksanakan permintaanku, Dion malah memutar tubuhku kembali. "Aku keluar dulu, nanti kalau aku yang buka, aku takut akan membuka yang lainnya."
Hanya senyumku yang mengiringi kepergiannya dari kamarku. Lelaki ini selalu membuatku makin jatuh cinta. Dia adalah kejutan terindah yang Tuhan hadirkan di hidupku.
*****
Prosesi adat siraman sudah mulai dilaksanakan. Memilih pukul 13.00 untuk memberi waktu kepada keluarga besan agar dapat beristirahat sejenak setelah kedatangan mereka tadi pagi. Riuh ramai sangat terasa. Semua keluarga berkumpul dalam suasana bahagia.
Tawa riang anak-anak kecil menambah hari bahagia ini semakin berwarna. "Arrki" bayi cantik berusia delapan bulan yang merupakan anak pertama dari kakaknya Dion, Mbak Sharika, membuatku gemas. Ya ... Dion itu dua bersaudara. Kakak perempuan satu-satunya sudah menikah dan sekarang tinggal di Jakarta ikut suaminya, Mas Dito. Apakah aku tahu semua itu? Tentu saja, tapi aku hanya tahu jika Dion itu punya kakak perempuan bernama Mbak Sharika. Sebatas itu, itu pun aku tahu karena sewaktu SMP dulu ketika Dion tidak masuk sekolah maka tanda tangan Mbak Sharikalah yang nampang di surat izin. Parah banget kan, aku?
"Sa, jagain dulu, ya! Aku mau ke toilet sebentar," pinta Mbak Sharika memindahkan Arrki ke gendonganku.
"Hai, cantik! Ikut tante Rosa, dulu, ya," aku berusaha mengajak ngobrol bayi cantik di gendonganku.
Ku perhatikan makhluk kecil yang sangat lucu ini. Mata beningnya dan senyum yang menggemaskan itu membuatku tak bisa memalingkan wajah dari menatapnya. Sungguh ciptaan Tuhan yang luar biasa. Tak sadar aku tenggelam bermain dengan bayi mungil ini.
"Aku bisa bantu kamu memiliki makhluk kecil lucu seperti ini," suara khas Mas Rud mengganggu konsentrasiku.
"Hai, ikut om ganteng, ya," Mas Rud mengambil Arrki dari gendonganku dan beralih menggendongnya.
Ajaibnya, Arrki begitu anteng di gendongan Mas Rud. Lelaki ini ternyata punya jiwa kebapakan juga. Lucu sekali, bodyguard yang akrab dengan wajah dingin dan timah panas, begitu cekatan momong seorang bayi. Apakah aku mulai baper lagi? Tidak!
"Bukankah kita sudah seperti keluarga kecil, jika begini?" papar Mas Rud seraya mengambil foto kami bertiga.
"Hapus, Mas! Jangan buat masalah lagi," pintaku.
"Aku tidak menyentuhmu," kilahnya. "Atau kamu menginginkan lagi yang semalam? Dengan senang hati aku akan menawarkan diriku plus diskon dan cashback," ucapnya dengan senyum smirk.
"Murah sekali Mas, harga dirimu," sindirku sambil tersenyum pada Arrki yang ada di gendongannya.
"Untukmu, aku bisa menyerahkan segalanya, termasuk harga diriku," ungkapnya seraya tersenyum dengan Arrki juga.
Ya Tuhan ... dia semakin menjadi-jadi. Ini memang Mas Rud yang dulu aku kenal. Suka seenaknya sendiri dan sayangnya itu terasa manis di telinga jika sekali dua kali mendengarnya. Namun tidak denganku yang pernah disakitinya.
"Rud, Arrki anteng banget di gendonganmu. Udah pantes, nih, jadi calon Bapak," Mbak Sharika datang dan ternyata begitu akrab dengan Mas Rud.
"Calon istriku masih lupa jalan pulang, Shar," Mas Rud tersenyum smirk padaku.
Cih ... lupa jalan pulang? Bukankah dia sendiri yang meninggalkanku di tengah jalan. Kenapa dia seolah membelokkan arah? Lupakah kamu Mas, siapa yang menuntunku saat aku tersesat?
"Kirim sharelock dong! Biar bisa pulang," seloroh Mbak Sharika.
__ADS_1
"Aku jemput langsung Shar, tapi rupanya dia sedikit amnesia," ucapnya dengan tenang.
"Ternyata kamu masih Rud yang dulu ku kenal. Kalau udah cinta, suka egois dan seenaknya," papar Mbak Sharika seraya mengambil Arrki dari gendongan Mas Rud.
"Kalian berdua sudah kenal? Aku lihat dari jauh sepertinya sangat akrab," tanya Mbak Sharika.
"Dia mantan manajerku, Mbak" jelasku mendahului sebelum Mas Rud menjawab seenaknya.
"Untung kamu selamat dari jerat pesonanya, Sa," celetuk Mbak Sharika.
Untung gimana sih, Mbak? Aku buntung. Aku sudah tidak selamat dari cintanya yang menyakitkan. Dan sampai sekarang pun aku masih menjadi target operasi hatinya. Bersaing dengan adik kesayangan Mbak, untuk mendapatkan rasaku lagi.
"Tentu saja tidak, Mbak! Pesona Dion lebih besar di mataku," ku lirik Mas Rud.
Mbak Sharika tersenyum. Ya sudah, kalian ngobrol lagi, aja. Aku ke sana dulu, ya."
Sepeninggal Mbak Sharika, aku juga memilih untuk segera pergi. Mas Rud diam saja. Tak menahanku baik ucapannya maupun tarikan tangannya. Bersyukur, aku memilih mencari keberadaan Dion. Ingin bergabung dengan Mami tapi sepertinya beliau sedang sibuk dengan saudaranya yang lain. Mbak Sharika juga tengah ngobrol dengan teman-temannya. Akhirnya aku memilih duduk sambil memainkan HPku.
"Butuh teman ngobrol?" tanya Pak Aryan sambil menyodorkan segelas air putih.
Ku terima minuman itu. "Tidak ada minuman lain, Pak?"
Pak Aryan kemudian duduk di sebelahku. "Kamu butuh air putih untuk menetralkan perasaanmu."
Menoleh ke kanan, mendapati senyum manis Pak Aryan. "Bapak, selama ini hidup tanpa cinta, damaikah, Pak?"
"Hampa, Sa. Lebih baik punya cinta meskipun tak bisa memiliki. Setidaknya hidupmu lebih berwarna meskipun banyak luka," jelasnya.
"Bukankah itu menyakitkan, Pak?" tanyaku lagi.
"Akan ada obat untuk setiap penyakit, Sa. Walaupun waktu sembuhnya berbeda-beda, ada yang cepat tapi ada juga yang lambat," paparnya meyakinkan.
"Dalem ya, Pak?" selorohku.
"Sedalam rasaku padamu. Ah ... ya sudahlah," senyum lagi-lagi menghias bibirnya.
"Mau makan, gak? Aku ambilin," tawar Pak Aryan.
Menggeleng dan tersenyum. " Saya sudah kenyang makan cinta, Pak."
*****
__ADS_1
Kalau Rosa sudah kenyang makan cinta, apa kalian sudah kenyang hanya dengan membaca episode kali ini? Ah, belum ya? Kalau gitu, coba deh baca novel dari temen author ini! Seru loh ceritanya,