Tentang Hati

Tentang Hati
Calon Pengantin


__ADS_3

Sepuluh pagi, waktu yang bisa disebut plin-plan. Mau ikut pagi tapi matahari sudah meninggi. Masuk kategori siang pun belum juga karena sinar Ultra Violetnya masih bagus untuk kulit. Gabut, aku dan Dion bingung karena tak ada sesuatu yang bisa dikerjakan. Terpaksa kami duduk bersantai di teras. Memandang hijaunya dedaunan dan warna-warni bunga yang sedang bermekaran.


"Cieee ... calon pengantin! Berduaan terus," seru Mas Rendra yang baru aja masuk halaman kediaman keluarga besar Eyang.


"Lengket banget tuh, Mas. Kayak lem lalat," goda Maya dengan tawa renyahnya.


Benar kata mereka, kami sedang berduaan, berdekatan, berdempetan dan berhimpitan. "Dari mana? Kok, gak ngajak-ngajak, sih."


"Mereka mana mau kita ganggu, Sayang," celetuk Dion dengan santainya.


"Kami yang gak mau ganggu kalian," alasan Mas Rendra setelah ikut kami bersantai di teras.


"Sekarang, kalian ngapain kalau gak ganggu?" seloroh Dion.


"Pulang aja, yuk! Calon pengantinnya udah kebelet pengen DP," goda Mas Rendra seraya mengambil cemilan dan memakannya.


"Udah DP, kali," ungkap Dion yang kuhadiahi sebuah sikutan di perutnya.


"Gimana, Sa? memuaskan, gak?" goda Mas Rendra tanpa rasa canggung.


"Bikin nagihlah, pastinya," jawab Dion mewakiliku.


Apa? Mewakiliku?


Ish ... Ish!


Tentu saja itu bukan jawaban yang ingin kukatakan. Itu adalah pernyataan Dion untuk menunjukkan keperkasaannya.


Apalagi ini?


"Mas, aku bisa skip dulu gak dengerin obrolan kalian? Belum cukup umur, nih," akuku karena malu mendengarkan obrolan dengan topik yang mereka pilih.


"Alamat bakal dapat masalah kamu, Bro. Pelec*han anak dibawah umur," seloroh Mas Rendra dengan tawa ngakaknya.


Hmmm ... sukses banget mereka bikin aku malu pagi-pagi begini. Lagian, obrolan dewasa begini kok diobral. Untungnya di sini gak ada anak kecil. Bukankah akan menjadi contoh yang tidak terpuji jika itu didengar oleh mereka yang belum cukup umur.


"Dia malah menggoda untuk dilecehkan, Adik Bro!" Dion terkekeh seraya melirikku nakal.


"Kakak Bro, udah siapin yang kuat-kuat, belum?" tanya Mas Rendra dengan gaya berbisik tapi tetep kenceng suaranya.


Dion tersenyum smirk. "Tenang aja, Adik Bro! Kakak Bro udah siapin jamu kuat, obat kuat dan bahkan Jarwo Kuwat."


"Ha-ha-ha ... ngapain siapin Jarwo Kuwat segala?" Maya yang sedari tadi hanya menyimak tiba-tiba ikutan ngakak mendengar Dion melawak.


Hanya kugeleng-gelengkan kepalaku. Tak kusangka Maya pun ikutan g*la. Akhirnya, aku memilih untuk berselancar di dunia Maya. Media sosial yang beberapa hari ini kuabaikan, aku cek satu per satu. Ada ribuan chat yang menunggu aku balas. Namun aku tertarik untuk mendahulukan membalas pesan dari Pak Aryan.

__ADS_1


Kenapa, dia? Apakah karena dia orang spesial? Benar sekali, dia sangat spesial. Dia adalah atasanku. Kelangsungan pekerjaanku ada di tangannya. Oleh karena itu, membalas pesannya adalah yang utama.


Baru mau mengetikkan beberapa kata, tiba-tiba teleponku berdering atas namanya. Keraguan terselip dalam pikiranku. Mengangkatnya di hadapan mereka atau menolak panggilannya? Dalam kebingungan, aku biarkan telepon pertamanya lolos begitu saja.


"Kenapa gak diangkat, sih, Sayang?" tanya Dion setelah teleponku berdering untuk kali kedua.


Dion melongokkan kepalanya untuk dapat membaca nama yang membuatku tak berniat berbicara dengannya. Dia mengambil HP di tanganku, setelah ku rasa berhasil menemukan nama yang mengganggu pikirannya. "Ngapain telepon, Rosa?" angkatnya dengan nada datar.


"Maaf, Tuan Dion Wijaya, saya hanya menanyakan keberadaan karyawati saya yang sudah gak masuk berhari-hari tanpa izin," terang Pak Aryan yang bisa kudengar.


"Dia resign, nanti surat pengunduran dirinya akan dikirim ke kantor. Maaf, Pak Manajer Aryan yang terhormat, jangan telepon-telepon istri saya lagi," tandas Dion tanpa minta persetujuanku.


Segera kurebut HPku darinya. "Maaf, Pak, saya ngambil cuti seminggu, ya! Ada acara mendadak," jelasku kemudian.


"Kamu kapan nikah, Sa? Suamimu, melarangku menelponmu," adu Pak Aryan dengan sangat tenang.


"Dia suami yang posesif Pak Manajer, jauhi karyawati anda yang cantik ini!" ingat Mas Rendra dengan meninggikan suaranya.


"Kamu menikah kok aku gak diundang, Sa?" tanya Pak Aryan terus bicara masalah pernikahanku.


"Bapak gak usah tanggepin omongan mereka," pintaku yang mendapatkan pelototan dari Dion.


"Rosa cuti seminggu, jangan ditelepon! Mau bulan madu," cerocos Dion kemudian menutup teleponnya tanpa mengucapkan salam.


"Mas Dion, Rosa kalau diposesifin gitu, dia makin menjadi, loh," Maya malah memanaskan situasi.


"Aku kangen lihat kalian berantem kayak kemarin," goda Maya dengan senyum nakalnya.


"Begini, maksudmu?" Dion mengecup pipi kananku tanpa rasa sungkan.


"Sabar, Mas Bro! Nanti malam lahap habis tuh, istrimu! Sekarang selow dong," sindir Mas Rendra.


Maya beranjak dari duduknya dan menghampiri Mas Rendra. "Pulang aja, yuk!"


"Aku pulang dulu, ya! Istriku mau minta jatah siang, nih," papar Mas Rendra seraya berdiri dan mengerling manja kepadaku dan Dion.


*****


Seperti yang Mami bilang, selepas zuhur, sekitar jam satu siang, ada seorang wanita berusia tiga puluhan dan seorang Bapak berusia lima puluhan datang ke kediaman Dion. Rupanya dia sudah mengenal mereka dengan baik. Mbak Intan dan Pak Agus, itulah nama yang Dion kenalkan padaku. Tanpa mengulur waktu, kami segera menuju kamar masing-masing dan memulai perawatan.


Aku akan menikmati massage plus luluran spesial untuk catin (calon pengantin). Sementara Dion hanya pijit, katanya badannya remuk redam setelah pertengkaran kami beberapa hari kemarin itu. Terdengar agak mengada-ada memang, apa hubungan antara hati yang tersakiti dan raga yang minta dimanja.


"Mbak, sudah kenal lama sama Mas Dion?" tanya Mbak Intan ditengah kegiatan massage.


"Sepuluh tahun lebih, Mbak," jawabku menikmati sentuhan yang membuat badanku merasakan kenyamanan.

__ADS_1


"Mas Dion itu baik, Mbak. Ramah lagi orangnya, walaupun keluarga orang berada tapi tidak suka berlebihan dalan hal apapun," puji Mbak Intan yang kuakui kebenarannya.


"Iya, Mbak," jawabku mulai kehilangan kesadaran karena diserang rasa kantuk.


"Banyak loh Mbak yang suka sama Mas Dion. Kalau lagi pulang kampung, pasti pada main ke sini tuh," cerita Mbak Intan membuat mataku yang tinggal lima watt kembali bersinar terang bak lampu baru seratus watt.


"Emang, Mas Dion semenarik itu, Mbak?" ku coba menelisik hati wanita lain untuk menilai calon suamiku itu.


Bukannya menjawab, Mbak Intan malah balik bertanya. "Kalau gak menarik, kenapa Mbak Rosa, mau?"


Ah ... iya juga, masuk akal itu. Pertanyaan Mbak Intan itu membuatku jadi berpikir. Apakah alasanku menerima Dion menjadi pacarku setelah aku abaikan selama sepuluh tahun?


Kalau baik, itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Kesetiaan, itu pun sudah terbukti selama sepuluh tahun terakhir ini.


Tampan?


Bertanggung jawab?


Perhatian?


Cerdas?


Pekerja keras?


Ah ... semua ada padanya. Mungkinkah aku mencintai karena kesempurnaannya?


Kurasa bukan itu. Aku mencintainya karena ia mencintaiku dengan sederhana. Bukan memanjakanku dengan kemewahan, karena aku memang suka sesuatu yang sederhana. Dia mencintaiku dengan membuatku nyaman. Ya ... itulah mengapa pada akhirnya aku bisa mencintainya.


"Mbak, kok malah melamun?" Mbak Intan membuyarkan pikiranku.


Ceklek!


Tanpa mengetuk, Dion sudah membuka pintu kamarku.


"Main selonong boy, aja, Mas. Tahan dulu kangennya, nanti malam juga akan jadi malam yang panjang buat kalian berdua," tutur Mbak Intan yang membuat Dion menggaruk kepalanya untuk memanipulasi kecanggungannya.


"Ngecek aja, Mbak. Biasanya dia tertidur kalau lagi massage," alasan Dion yang tertebak hanya sekedar mencari-cari alasan.


"Mas Dion, silakan keluar dulu. Malu tau, aku lagi massage," usirku halus yang kemudian dia turuti.


"Bikin calon pengantinku jadi paling menggemaskan nanti malam, ya , Mbak," pinta Dion dengan senyum termanisnya sebelum menutup kembali pintu kamarku.


Lega, akhirnya lelaki bucinku itu keluar juga.


"Tuh kan, Mas Dion manis banget, Mbak?" goda Mbak Intan padaku

__ADS_1


Aku tersenyum manis. "Saking manisnya, sampai aku takut dikerubutin para pejuang cinta lain, Mbak." gurauku yang disambut tawa oleh Mbak Intan.


Jadilah massage kali ini aku tetap terjaga, bahkan sampai proses luluran selesai. Aku tampil fresh n berkilau. Siap menyambut malam istimewa yang panjang, pernikahan.


__ADS_2