Tentang Hati

Tentang Hati
Cinta Yang Sempurna


__ADS_3


Berdiri menyender pada pagar yang menjadi pembatas, mataku tak henti menatap air yang terombang-ambing oleh semilir angin yang menerpa. Ada sebuah rasa yang menghujam hatiku. Menimbulkan perih yang entah mengapa datang menyapa hati yang tengah berbahagia. Kumenoleh pada lelaki di sampingku, seseorang yang telah memperjuangkanku tanpa mengenal batas rasa tersakiti.


"Mengapa melihatku seperti itu? Apakah aku lebih indah dari pemandangan di hadapanmu?" Dion bertanya tanpa sedikitpun menoleh ke arahku.


Bukan, Ini bukan tentang suatu keindahan. Walaupun kuakui, jika kamu lebih indah bahkan paling indah diantara kenyataan yang hadir di mataku. Ini tentang perasaanku yang bergulir begitu saja. Melihat air yang berjalan menjauh dan mendekat kembali, aku jadi mengingatmu, suamiku.


Jika air akan tarik ulur, maju mundur diterpa embusan angin, maka tidak denganmu. Kamu, terus di sampingku, meski selalu aku sakiti. Bukan lagi berhari-hari tapi puluhan tahun engkau setia menemani. Bahkan ketika engkau pergi, engkau rela kembali ketika aku tersakiti. Dan jahatnya, aku masih meragukan dan bahkan menduakan rasamu yang sungguh tak bertepi.


"Jika waktu bisa diputar, aku tak ingin di sini, sekarang," terangku setelah lama terdiam mendengar pertanyaan Dion.


Kalimatku langsung disambut Dion dengan memutar badannya. Menemukan penjelasan atas kalimat yang baru aku utarakan. "Apakah kamu menyesal dengan pernikahan kita?"


Masih menatap air di kejauhan, aku menggelengkan kepala. "Aku menyesal karena membiarkanmu berjuang sendirian selama sepuluh tahun," tatapku sekilas pada manik matanya dan kembali memandang kejauhan.


"Kalau kamu tidak menolakku selama itu, mungkin bahagiaku bisa bersamamu tidak akan sebesar sekarang," ungkap Dion meraih jemariku, menggenggamnya dan mendekap ke dalam pelukannya. Sebuah kecupan ia sematkan pada punggung tanganku yang digenggamnya.


"Bisakah aku meminta pada Tuhan, biarkan waktuku berhenti di detik ini. Aku ingin seperti ini selamanya, bersamamu," pintakku dalam isak karena cinta begitu besar yang baru aku sadari sepenuhnya.


Perlahan Dion mendekatkan tubuhnya dan menuntunku ke dalam pelukannya. Membelai mahkota hitamku dengan lembut dan mengecup puncak rambutku kemudian. Merebahkan kepalaku di dekapannya, dan lagi-lagi mengecupnya di tempat yang sama. "Jangan berhenti di detik ini, berjuanglah bersamaku untuk selalu melewati detik yang berganti. Berdua itu tidak akan indah untuk waktu yang lama. Harus ada tawa riang anak-anak yang menyempurnakan perjalanan cinta kita, Sayang."


Kueratkan pelukanku, seakan aku tak ingin lepas sedetikpun dari sisinya. Perjuangan panjang yang kusia-siakan, ternyata menoreh sesal, saat kepergiannya meninggalkanku adalah keputusan yang tidak bisa ditawar. Kehilangan, nyatanya aku merindukan saat-saat bersamanya yang dulu ku benci.


"Aku tidak menyesal telah menghabiskan banyak waktu untuk selalu di sisimu meskipun tak ada balasan perasaan untukku. Bagiku, kamu adalah hati yang selalu ingin kumiliki di sepanjang hidupku. Seharusnya, bukan sesal yang kamu ucapkan melainkan rasa terimakasih yang semestinya kamu dengar. Terimakasih, telah memberiku kesempatan untuk selalu ada meski kau tak merasa. Selalu menjadi tempatmu membuang amarah disaat kamu merasa lelah. Karena tanpa kamu sadar, aku adalah tempatmu bersandar."


Semakin berkecamuklah rasa yang bermain di hatiku. Lukanya selalu bisa ia ubah menjadi bahagia. Tak pernah ada salahku di matanya. Yang ada hanyalah cinta, cinta dan cinta. Tiada kata yang bisa kuungkap, meleleh bersama bahagia bisa dicintai dengan begitu sempurna.


"Sayang, coba lihat bangunan itu!" Dion mengarahkan pandanganku dengan jari telunjuknya.


__ADS_1


"Jembatan?" tanyaku setelah menemukan sesuatu yang ingin ia perlihatkan.


"Itu adalah Tower Bridge, jembatan yang bisa menggantung dan membuka. Seperti kisah kita waktu dulu. Meskipun cintaku selalu kamu gantung nyatanya rasa itu tak pernah bisa mati. Seperti ada rasa kedua, ketiga dan tak pernah ada ujungnya. Hatiku selalu membuka untukmu kembali, tak ada rasa sakit atas penolakanmu padaku. Yang ada justru cinta yang semakin membuncah yang harus kamu rasakan. Aku selalu tertantang untuk membuktikan bahwa aku memiliki cinta luar biasa yang tercipta dan kupasrahkan hanya untukmu. Dan kamu harus menyadari dan merasakan itu," penjelasan panjang lebar yang semakin membuatku merasa kecil di hadapannya.


Cintaku? Seberapa prosentase cintaku terhadap cintanya? Jika diibaratkan seperti luasnya langit malam yang bertaburan dengan milyaran bintang yang bersinar, sebagai perasaan Dion yang ia anugerahkan padaku, maka berapa jumlah bintang yang mewakili rasaku? Satu, dua, atau tiga? Ah ... betapa kecilnya.


"Jangan membandingkan cintaku dengan cintamu. Karena rasaku bukan untuk kamu bandingkan melainkan untuk kamu sandingkan, menjadi satu membentuk sebuah hati yang berpadu, melewati masa dengan bahagia," terang Dion kemudian seolah bisa menerka apa yang ada di benakku.


Beginilah rasanya, ketika berhadapan dengan seseorang yang telah menemanimu melewati waktu. Tak ada satu pun yang bisa kamu sembunyikan, sangat mudah terbaca. Apalagi aku, tak pernah bisa bersandiwara. Apa yang ada di pikiranku, itulah yang dilukiskan pada mimik mukaku. Dan sekarang mungkin wajahku dipenuhi gambaran tanda tanya.


"Di sini kita honeymoon, kenapa wajahmu seperti banyak pikiran begitu?" seloroh Dion sambil menyentil hidungku. Menyadarkanku untuk segera menghentikan barisan pertanyaan yang sedang asyik bergerak jalan.


Sebuah senyum canggung aku pamerkan padanya. "Aku ... aku mencintaimu," selalu itu yang aku jadikan kambing hitam ketika aku sedang dihimpit kebingungan.


"Ha-ha-ha ... aku selalu gemas kalau kamu tersudut dan hanya bisa mengaku cinta padaku, Sayang," lagi-lagi Dion tau sandiwaraku.


"Kenapa kamu selalu bisa membaca pikiranku?" gerutuku.


"Ah, kamu gak seru," gerutuku lagi karena tidak puas dengan jawabannya.


"Nanti aku ajak seru-seruan kamu gak mau," timpalnya dengan senyum nakal yang kuartikan sebagai permintaan season ketiga.


"Habis ini, kita mau kemana?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.


"Maumu kemana, Sayang?" Dion malah memberiku pilihan.


"Aku masih ingin di sini," jelasku tak bersinergi dengan pertanyaan yang kuajukan barusan.


Dion mengernyitkan dahi. Menemukan sesuatu yang terasa janggal di pendengarannya. Tanya kemana tapi jawabannya ingin di sini saja. Begitulah seorang wanita, memahaminya membutuhkan ekstra segala-galanya. Kesabaran, kepintaran dan mungkin kelicikan.


"Gak mau ke taman bunga?" tanya Dion kemudian.

__ADS_1


Kuambil HPku dan kemudian bercermin. Memandang pantulan wajahku dari layar gelapnya. "Untuk apa? Aku gak mau membuat mereka iri."


Dion memandangku dengan matanya yang sedikit ia sipitkan. "Iri?"


"Iya, iri. Bukankah aku adalah bunga terindah yang menguasai taman hati seorang pencinta sejati yang bernama Dion Wijaya?" gombalku untuk memerahkan rona di wajahnya.


"Tentu saja mereka iri, karena kumbang jantan yang penuh pesona ini hanya singgah pada bunga yang bernama Rosalia Citra Atmadja," Dion justru menggombaliku.


Ingin melambungkannya tapi justru aku yang terhempas ke angkasa. Gombalanku ternyata tak bisa mengalahkan kata manisnya. Bagaimanapun pemegang mahkota kebucinan itu tetaplah seorang Dion Wijaya


"Padahal aku pengen gombalin kamu, loh, kenapa jadi aku yang kamu gombalin?" sedihku.


"Jadi begitu? Baiklah, sekarang coba gombalin aku!" tantang Dion seraya menuntunku untuk duduk di sebuah bangku yang tak jauh dari tempat kami berdiri.



Pengen gombalin tapi sekali diberi kesempatan malah bingung mau mengawalinya. "Pancing, deh!" pintaku agar aku bisa meneruskan gombalannya.


Dion memulai dengan senyumnya. "Lihatlah aku dan temukan sesuatu yg ingin kamu puji! tuntun Dion dengan sebuah trik dasar menggombal.


Berusaha menemukan kelebihannya tapi yang kutangkap semuanya berlebih. Wajah tampannya berlebihan, postur tubuhnya berlebihan dan kulitnya pun juga berlebihan. "Kamu terlampau sempurna, Sayang. Kalau begini, bagaimana aku bisa menjadi bucin sepertimu?"


"Cukup aku yang menjadi bucin, kamu jangan! Selalu jadilah cinta yang kukejar, jangan berusaha mengejarku," pintanya dengan senyum yang tersungging sangat sempurna.


"Readersmu ingin melihatku menjadi bucin, Sayang. Mereka gak ikhlas kalau kamu bucin sendirian. Mereka ingin aku juga berjuang," jelasku memberikan alasan dibalik rayuan yang ingin aku persembahkan.


"Ini cinta, Sayang, bukan ajang balas dendam. Aku tidak perlu kebucinanmu, yang kumau kamu menjadi ibu dari anak-anakku," lagi-lagi Dion mendapatkan celah untuk menggombaliku.


"Aku selalu disudutkan, dan itu membuatku seperti seorang penjahat. Aku dibilang egois, plin-plan dan bahkan sekarang dipaksa untuk menjadi bucin," ucapku lirih sambil menundukkan kepala.


"Apakah kamu mengenal Aldekha Depe, author novel "Tentang Hati"? Jadilah seperti dia! Kuat menjadi dirimu sendiri, melangkahlah di jalan yang ingin kamu lalui, karena aku bahagia dengan cintamu yang apa adanya," Dion menanamkan bagaimana cinta yang dia inginkan dariku.

__ADS_1


Terharu, itulah perasaanku. Dicintai dengan begitu besar, tulus dan tanpa tuntutan. Selalu menguatkan disaat aku dilanda ketidakpercayaan diri. Selalu menjadi sandaran disaat aku memerlukan bahu untuk berbagi kisah.


__ADS_2