
Terik mentari begitu menyengat siang ini. Perjalanan yang kulalui di atas kendaraan beroda dua ini berteman dengan peluh keringat. Panas yang terpancar dari sang penguasa siang, tak berhasil membakar kulitku. Yang ada justru menghangatkan perasaanku. Berdua seperti ini sangat jarang kami lakukan. Namun bukan berarti aku tak bahagia.
"Sayang, panas banget, ya?" tanya Dion sambil mengelap keringat yang bernaung di dahiku setelah kami sampai di parkiran apartemen.
"Ini peluh cinta, Sayang," ucapku sambil menggandeng lengannya menyusuri sepanjang jalan menuju di mana dua orang yang amat kurindukan berada, Mama dan Kristy.
Dengan semangat kupencet bel apartemen pak Aryan. Senyum yang tak pernah hilang dari bibirku semakin tersungging sempurna saat Abang jombloku membuka pintu. Mengabaikan pertanyaannya yang akhirnya dijawab Dion aku segera merangsek masuk.
Sepi. Ruangan dengan sofa dan televisi itu tanpa penghuni. Hati bertanya di mana mereka berada. Melihat sekeliling tapi tak nampak juga. Mengayun langkah ke dapur, tapi tak ada siapa-siapa. Segera kubalikkan badan dan berdirilah lelaki paruh baya dengan senyum penuhnya. Membuka kedua tangannya dan mendekatiku, menarik ke dalam pelukannya.
"Calon mantu yang gagal tayang, ini," ucapnya seraya melepaskan pelukan.
Tubuhku hanya memaku dengan perlakuannya. Masih kaget karena dibawa dalam pelukan seorang lelaki yang mengingatkanku pada sosok Papa. Terlebih, kalimatnya juga semakin membekukan bibirku untuk berucap.
Calon mantu? Gagal tayang?
"Gak jadi punya mantu tapi Papa bahagia bakalan dapet cucu."
Hah, cucu?
Semua nampak tertawa melihatku disergap keterkejutan bertubi-tubi. Pak Aryan yang menyadari himpitan yang kualami segera berjalan mendekat.
"Jika aku jadi uncle, bukankah Papa adalah opa?" ujar Pak Aryan memberikan pengertian.
Pikiranku yang pelan-pelan bisa mencerna kalimat dari keluarga Najendra Dharma, mulai bisa menguasai diri. Wajahku yang tadi sempat menjadi kaku, kini bisa mengembuskan napas lega.
"Minum dulu," suruh Pak Aryan sambil menyodorkan segelas air putih.
Tanpa menunggu, aku segera meneguknya. Rasanya memang aku seperti baru saja diserang badai pasir di tengah gurun, kering. Sehingga membutuhkan cairan pelepas dahaga. Air itu pun tak lagi tersisa.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya Mama membuka sesi tanya jawab mengenai kehamilanku.
__ADS_1
"Alhamdulillah, semua bagus. Dokter hanya berpesan agar ibunya selalu bahagia," jelas Dion kepada semuanya.
"Apakah menantuku sedang tak bahagia?" selidik Papa Pak Aryan sambil menatapku seraya membaca mimik muka yang kutampilkan.
Mendapatkan tatapan seperti itu membuatku tak nyaman. Segera kutundukkan pandangan untuk menghindari bersatu manik mata dengan raja per-film-an tersebut.
"Rosa sedang kepikiran dengan gadis yang ditolak Aryan, Om," jujur Dion sengaja menggoda Pak Aryan.
Seketika semua tatapan mata mengarah pada Pak Aryan. Dia tetap tenang tak terpengaruh oleh yang mereka semua lakukan. Senyumnya tetap terkembang. Dengan santai dia menggandengku yang masih berdiri di sampingnya untuk segera duduk di sofa.
"Siapa wanita yang bisa naksir jomblo tua begini?" ejek lelaki paruh baya itu pada anak lelakinya.
"Gadis cantik, Om" timpal Dion mewakili Pak Aryan.
"Kenapa gadis cantik ditolak?" selidik sang Papa.
Mata lelaki itu memang tak pernah bisa menepikan pesona wanita good looking. Terbaca dari kalimat yang baru saja kudengar. Lelaki dengan usia lebih dari setengah abad saja tak menampik kehadiran wanita cantik,seharusnya lelaki muda seperti Pak Aryan juga tak akan menyia-nyiakan.
"Yang menarik di matamu sudah sold out," ucap santai sang Papa yang kami semua tahu kalimat itu merujuk pada seorang wanita yang tak lain adalah aku.
Pak Aryan berdehem, sedikit gerah karena dikuliti dihadapan banyak orang. Bukan risih hanya dia tak mau jika semua itu akan berpengaruh pada Dion dan berdampak padaku yang akan diserbu rasa cemburu. Itulah sebenarnya hal yang ingin dia hindari. Namun yang kulihat Dion sedang mengobrol sama Mama dan Kristy, sama sekali tak menggubris guyonan dua lelaki bernama belakang Dharma itu.
"Bakalan jadi perjaka tua dong, Om?" ucapku ikut menggoda Pak Aryan.
"Nggak masalah, aku bangga jadi hot uncle," timpal Pak Aryan dengan senyumnya yang sangat manis.
"Anak Om, aneh banget, sih. Jadi jomblo abadi kok bangga," celetukku seraya menaikturunkan alisku seraya mengarahkan tatapan pada Pak Aryan.
"Dia itu sepertiku, Sa. Kalau udah cinta, mentok perasaannya," aku Papa Pak Aryan.
"Om, lelaki setia. Aku salut. Yang aku tahu, lelaki itu kebanyakan segera menikah lagi kalau ditinggal istri. Namun tidak berlaku buat Om, keren!" pujiku sambil mengacungkan dua ibu jari.
__ADS_1
"Namun aku tidak yakin untuk sekarang ini?" celetuk Pak Aryan yang kembali mengusik pikiranku.
Apakah Pak Aryan juga menangkap kejanggalan kedekatan antara Papanya dan Mamaku? Sama seperti yang kurasakan.
"Om, sedang jatuh ...?" tanyaku ragu.
"Bukankah tak ada salahnya jika itu terjadi?" tanya balik Papa Pak Aryan dengan entengnya.
Cinta tak pernah salah. Bahkan saat cinta hadir pada hati yang telah termiliki pun, cinta tidak berhak untuk disalahkan. Cinta bebas bertahta pada setiap hati. Tanpa memandang usia apalagi status.
"Om, pinjam anaknya dulu, ya?" izinku sambil menggandeng Pak Aryan menjauhi sang Papa. Bahkan meninggalkan Mama, Dion dan Kristy yang sedang asyik mengobrol. Tak acuh melihatku menyingkir dari ruangan dengan menyeret Pak Aryan.
Lelaki itu kubawa ke meja dapur. Duduk saling berhadapan dengan tatapan minta penjelasan. Lagi-lagi aku hanya disuguhi oleh ulasan senyum. Dengan santai dia menyilangkan kaki dan melipat tangan di dada.
"Ada hubungan apa antara Om dan Mama?" tanyaku to the point.
"Tanya langsung aja! Kenapa mengintrogasiku?"
"Bang!"
"Apa kamu tidak suka jika kita benar-benar menjadi saudara? Aku menjadi kakakmu. Bukankah dari kecil impianmu adalah memiliki kakak lelaki yang bisa menjagamu? Mungkin Tuhan menjawab doamu itu sekarang."
"Jangan bercanda! Yang seharusnya menikah dulu itu adalah Abang, bukan Om."
"Pernikahan bukan Balapan, Sa. Tak ada istilah curi start, apalagi siapa yang pantas atau tidak pantas. Garis finish itu milik umum."
Pertanyaanku yang dibalas dengan ceramahan hanya bisa kusambut dengan desahan napas kasar. Kupilih beringsut dari kursi dan mengambil segelas air putih. Entah kenapa, ruangan ber-AC ini membuatku gerah tak berakhir.
"Kalau kamu tak bisa kumiliki, mungkin Papa yang mewakili," seru Pak Aryan dengan terkekeh menahan geli.
Tak kupedulikan ucapan Pak Aryan. Segera kutinggalkan dia menemui empat orang yang tadi kuabaikan begitu saja. Ikut bergabung dengan Dion untuk mengobrol dengan Mama dan Kristy. Sayangnya, orang yang ingin kuberondong pertanyaan tak ada di tempat. Ya ... Mama tidak ada. Dan ... Om Najendra juga.
__ADS_1
Kemana mereka?