Tentang Hati

Tentang Hati
Bercanda Dalam Keromantisan


__ADS_3

"Makannya pindah ke kamar, aja, Yang!" pinta Dion dengan suara serak menggoda.


"Di ranjang, ya?" Hmmm ... DP dulu," jelasku seraya kembali mengecupnya sekilas. Memainkan telunjukku dengan nakal di bibirnya. Memantik gairahnya yang sudah mulai membara agar semakin menggelora.


Cup!


Satu kecupan lagi menyentuhnya dengan lembut. Menempel tanpa pergerakan, hanya tatapan kami yang saling melekat. Berbicara tanpa harus memutar kata. Ada buncahan rasa, cinta yang semakin dalam mengikat dua hati yang telah mengikrarkan janji suci.


Saat tatapan itu membawa khayal semakin meliar, aku melepaskan tautan bibirku. Membebaskan lehernya dari lenganku dan perlahan beranjak dari pangkuangnya. "Makan dulu, masakanku. Baru makan, aku," godaku dengan mengerlingkan mata.


Sebuah lenguhan lolos dari bibirnya yang sedikit basah karena permainan kecil kami tadi. Seakan tak rela jika kenikmatan itu harus ditunda. Namun aku tak menggubris rengekan manjanya. Sesungguhnya aku juga sukar menahan diri, tapi untuk sesuatu yang istimewa harus ada tantangannya.


Belum sempat aku melangkah, Dion kembali menarikku ke atas pangkuangannya. "Kita colab, yuk?"


"Colab, gimana?" tanyaku dengan dahi membentuk beberapa garis, mengernyit.


"Double makan," ujarnya dengan tersenyum smirk.


Aku tersenyum begitu memahami kemana alur pikirannya. "Maksud kamu, begini?" tanyaku seraya memberikan jawaban sekaligus.


Mengambil setangkai kemangi dari piring lalapan dan memasukkan ujungnya ke rongga yang dibatasi oleh kedua bibirku. Menyodorkan mulutku dengan mata memberi isyarat agar ia menyambutnya. Dion pun ikut memasukkan ujung yang lain dari sayur itu ke indra pengecapnya. Rasanya sangat geli. Hanya bertahan sekian detik dan kami tertawa. Sayuran itu dilahapnya sebelum jatuh dari mulutku.


"Harusnya kan romantis, Yang, ala-ala drakor, gitu. Ini jatuhnya miris, serasa jadi embek," keluhnya sambil terus menguyah kemangi di mulutnya.


"Ini lebih romantis, kali. Kemangi biar wangi," celetukku dengan menahan tawa.


Dion masih berusaha membersihkan makanan dari mulutnya. Matanya tak sedetik pun beralih dari manik hitamku. Tangannya ia gamitkan pada pinggangku dan mengulur hingga memeluk tubuhku bagian belakang. Tanpa kusangka, dia menarik tengkukku hingga indra yang akrab dengan adegan bernama ciuman itu menempel erat pada indraku juga. Melewatkan kata permisi, ia merangsek masuk. Mencuri segala yang ada di dalamnya.


"Wangi, gak?" tanya Dion begitu ciuman itu ia lepaskan.


"Aku kurang bisa merasakannya, bisa sekali lagi?" tawarku dengan senyum nakal.

__ADS_1


Aku memekik saat Dion menanggapi godaanku dengan mencubit hidung. Dengan gemas ia melakukannya untuk kali kedua. Rasa sakitku tak terasa karena aku menikmati senyuman penuh pesonanya. Cinta itu memang luar biasa.


"Modusmu, aku suka," ucapnya dengan sengaja memangkas jarak diantara kami. Melepaskan napas hangat yang berbaur dengan aroma tubuhnya yang selalu membuatku dihanyut gejolak.


"Mau colab lagi, gak?" tawarku dengan mengedarkan mata pada sajian yang ada di meja.


"Suapin, aku, Yang! Kamu bilang sesekali aku harus manja," pintanya dengan senyum smirknya.


"Ternyata suamiku bisa manja juga, ya? Kirain cuma bisa manjain aku, aja," ejekku dengan senyum menggoda.


Kutegakkan badanku, berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Tak ada tangan yang menahanku. Rupanya ia juga ingin segera menyuplai makanan ke dalam perutnya. Sama, aku juga begitu. Jam yang sudah melewati pukul delapan, sudah terlambat untuk waktu makan malam yang biasa kami lakukan.


"Mau pakai ayam goreng atau iwak peyek, Yang?" tawarku untuk lauknya, menemani sayur berkuah bening yang sudah kusiramkan di atas nasi putihnya.


"Mau kamu untuk laukku, menghangatkan tubuh yang membeku karena kecupanmu," rayunya ... eh ... godanya ....eh ...apalah itu namanya.


"Makan, Sayang! Kalau kamu terus-terusan begitu, aku yang akan melahapmu" celetukku tanpa melihatnya dan fokus untuk mengisi piring kedua.


"Makan, Sayangku," perintahku seraya menyuapkan sesendok ke mulutnya.


"Hak ...!" ucapnya memintaku membuka mulut karena ia menyiapkan sesendok makanan di depan bibirku juga.


Tanpa ragu, kumembuka mulut dan menerima suapan penuh cintanya. Lagi-lagi mata kami saling bertautan. Menemukan pantulan diri di manik mata yang ada didirinya. Seolah menjadi suatu cermin yang ingin membuat pengakuan bahwasanya hanya ada aku di matamu dan begitu sebaliknya.


"Masakanmu hari ini pas di lidahku," puji Dion sambil menikmati setiap kunyahannya.


"Emang biasanya gak pas?" selidikku dengan santai.


Aku menyadari jika memasak itu bukan bakatku. Namun aku berusaha terus belajar untuk menaikkan level kebisaanku. Setidaknya kemampuan untuk menjiplak resep dibuku masakan tidaklah mengecewakan. Seperti makanan yang tersaji kali ini, semua hasil copy paste.


"Biasanya pedesnya sedikit di atas levelku, kadang manisnya kebangetan," aku Dion dengan bermuka enak dilihat untuk menutupi pujiannya yang sedikit menggelitik.

__ADS_1


"Pedes di atas levelmu itu karena kamu dibakar cemburu, Sayang. Jadi masakanku yang lezat seolah melaknat," kilahku tak mau dibilang masak kurang sedap.


"Lalu, kalau manisnya kebangetan itu ... karena kamu kebanyakan aku baperin? Ah ... kamu pinter banget sih, ngelesnya. Belajar sama siapa Sayang?" tukas Dion yang membuatku tak bisa menahan tawa.


Selalu saja lelaki tampanku itu bisa menebak isi pikiranku. Membalikkan keadaan dengan begitu lihainya. Maksud hati ingin menggoda tapi malah aku yang tergoda. Niat hati membuatnya baper eh malah aku yang semakin laper, haus dan mendamba untuk dimanja.


"Aku selalu belajar dari guru terbaik. Kamu ...," sebutku sambil menatapnya manja.


"Ayo kita lomba cepet-cepetan makan!" seru Dion dengan senyumnya.


"Hadiahnya, apa?" balasku tenang untuk seruan penuh semangatnya.


"Hukum rimba, Sayang," jelas Dion dengan santai yang justru membuatku tak bisa menahan hati untuk tak mengucap tanya secepatnya.


"Saling makan?" tebakku berharap itu salah meskipun aku pernah membaca di buku dan memang begitulah yang tertulis di sana.


"Saling makan itu fase yang sedang kita dalami. Ini ibarat pemanasan, Sayang. Selanjutnya kita akan saling serang di ranjang. Itu adalah inti dari kegiatan kita malam ini," tutur Dion dengan runtut tentang rangkaian acara yang akan mengisi kegiatan malam nanti.


"Itu bukan hukuman, Sayang. Kurasa itu seperti sebuah kejahatan terselubung," jelasku dengan senyum smirk.


"Kita akan menciptakan hukum baru, Sayang. Hukum tentang pergulatan di ranjang dengan pasal saling serang. Pihak yang merasa dirugikan harus terus menyerang, sementara pihak yang terus diserang harus terus melawan," papar Dion yang membuatku berdecak, antara kagum dengan pikirannya dan kagum dengan siasat melancarkan kemesumannya.


Sempurna.


"Udah siap, Sayang?" tanya Dion setelah berhasil menyelesaikan kunyahan terakhirnya dan segera meneguk air putih di gelasnya.


"Sia ...p!" seruku setelah menaiki podium juara dua dalam lomba makan kali ini.


"Siap, cuci piring. Ayo, bantuin!" perintahku dengan senyum menggoda.


Dion pun mengerucutkan bibirnya. Mendowerkan bibir tebal nan kenyal yang kusuka. Kudekati bibirnya itu dan kumengecupnya sekilas. "DP dulu, baru ...."

__ADS_1


__ADS_2