Tentang Hati

Tentang Hati
Pukulan


__ADS_3

Aku pun segera menuju sofa untuk menunggu Dion memperlihatkan setelan jasnya. Bermain dengan HPku untuk mengusir sepi. Mengambil fotoku sendiri, mengabadikan sebagai kenangan. Setelah beberapa foto kudapatkan, aku dikagetkan oleh terbukanya pintu fitting room. Dua lelaki keluar bersamaan seolah sudah diskenario.


"Tampan."


"Kalian berdua sama-sama tampan," ungkap Mbak Sharika yang baru saja datang.


Menyelamatkan diriku yang baru saja memuji entah untuk siapa. Hanya pada suamiku ataukah juga untuk sang mantan. Mbak Sharika yang berjalan ke arah Mas Rud, membuatku yakin untuk segera menghambur ke hadapan Dion. Menyambut senyumannya yang nampak begitu bahagia.


"Bagaimana?" Dion meminta penilaian atas tampilan jas hitam yang pas di tubuhnya.


Berjalan memutar, melihat dari sudut-sudut yang berbeda, kembali berdiri di hadapannya. "Perfect."


"Kamu juga, Sayang," nilai Dion untuk penampilanku dengan gaun putih yang ia pilihkan.


"Kalian berdua, ke sini! Aku mau lihat sekalian," panggil Mbak Sharika yang sedang mengecek setelan jas Mas Rud.


Tanpa ragu, Dion membantuku berpindah ke tempat yang dimaksud Mbak Sharika. Juntaian ekor dari gaunku, diangkat olehnya agar mempermudah gerak kakiku. Menghindari injakan dari bahan yang berlebihan tersebut.


"Rud, mana calon istrimu? Biar sekalian nyobain gaunnya," tanya Mbak Sharika karena Mas Rud hanya datang sendiri tanpa perempuan yang akan dipersuntingnya.


"Sementara minta tolong Rosa untuk nyobain aja, Shar. Mereka memiliki proporsi tubuh yang sama," jelas Mas Rud yang membuat suasana jadi tak enak.


Mendengar itu, spontan aku melihat Dion.


"Bolehkan, aku meminta tolong istrimu untuk mencoba gaun pengantin calon istriku?" izin Mas Rud yang membuat Dion belum bereaksi.


"Kemana calon istrimu? Wanitaku tidak untuk kamu coba-coba!" tegas Dion yang langsung menyeruakkan hawa dingin di seluruh ruangan hingga menembus kulit tubuhku.


Hening!


"Bawa pengantinmu ke sini secepatnya, gak harus hari ini, kok," tutur Mbak Sharika menengahi.


"Kalian berdua bisa ganti baju, ukurannya udah pas, gak perlu aku rombak," suruh Mbak Sharika untuk menghindari pertikaian yang mungkin akan pecah jika kami terus berada dalam satu ruangan.


"Ayo!" ajakku seraya menggandeng lengannya, menyunggingkan senyum berharap bisa mencairkan butiran amarah yang siap menggelinding.


"Mbak Sita, boleh balik kerja lagi," ucapku agar aku bisa berbicara berdua dengan suamiku yang sedang dilanda cemburu.


Dion melepaskan jasnya, melonggarkan dasi dan meletakkan tangannya di perut bagian sampingnya, berkacak pinggang. "Bisa-bisanya dia menyuruhmu mencoba gaun pengantin calon istrinya," geram Dion yang nampak dari wajahnya yang menahan amarah.


"Sudahlah, jangan ditanggapi. Mungkin ini ujiannya orang mau menikah, Sayang," hiburku dengan mengusap-usap dadanya agar bisa lebih bersabar.


"Kemarin aku diam, karena aku belum menjadi suamimu. Sekarang, semua harus aku perjelas," tegas Dion seraya melangkah keluar dari fitting room.

__ADS_1


Ingin mengejarnya tapi aku ingat dengan gaun yang masih kupakai. Dengan susah payah, aku berusaha membuka resleting di punggungku. Beberapa kali gagal tapi tak membuatku menyerah. Akhirnya terbukalah resleting itu, dengan segera kumelepasnya dan memakai kembali pakaianku, sebuah dress selutut bermotif bunga-bunga kecil.


Melangkah keluar, sepi. Tak ada siapapun di ruangan itu. Aku berusaha mencari keluar ruangan tapi tak ada juga. Kuputuskan untuk menemui Mbak Sharika. Mungkin dia tahu kemana perginya kedua lelaki itu. Mengingat tadi Mas Rud sedang berbincang dengannya saat kami memasuki fitting room.


"Mbak, di mana mereka?" pertanyaanku tak menyebutkan nama tapi kuyakin Mbak Sharika tahu siapa yang kumaksud dengan mereka.


"Tunggu, aja di sini! Biarkan mereka menyelesaikan semuanya. Rud harus tahu jika sekarang dia tak bisa seenaknya. Dion bertindak yang benar kali ini, jangan kamu cegah," terang Mbak Sharika yang membuat pikiranku tercerahkan.


Iya ... aku istrinya sekarang. Sebagai suami, dia harus menunjukkan kuasa bahwa dia adalah pemilikku, segenap jiwa, raga dan seluruh perasaanku. Mas Rud, harus tahu batasannya untuk memperjuangkan perasaannya. Dinding kuat yang bernama pernikahan sebentar lagi akan semakin kokoh jika benar dia juga akan menikah. Membentengi perasaan yang mungkin masih ada di hatinya.


*****


Dion PoV


Aku baru saja melangkah masuk ke ruangan yang tadi kita diami. Melihatmu baru saja keluar dari fitting room dengan gaun putih yang tadi kupilihkan. Mataku tak bisa menampik pesona yang terpancar dari wajahmu. Keindahan yang selalu membuatku jatuh cinta dan semakin kuakui jika parasmu begitu ayu.


"Cantik," kalimat yang ingin kuungkapkan padamu tapi sudah kalah cepat terucap dari bibirnya, lelaki yang duduk di sofa yang tadi aku duduki, Rud.


Raut wajahmu jelas menggambarkan keterkejutan. Aku yang tadi di sana berganti menjadi dia, mantan yang membuatmu terjebak dinamika rasa.


"Kamu cantik, Sayang!" pujiku untuk menghilangkan kecanggungan yang baru saja menyergapmu.


Terus berjalan mendekatimu dan kugamit pinggangmu mesra. "Maaf, tadi aku angkat telepon di luar."


Rasa terkejutmu wajar, Sayang. Bukan hanya karena melihatnya tanpa sengaja tapi juga karena mendengar pujiannya yang kuyakin pasti membuat hatimu meluruh seketika. Telingamu mungkin tak ingin mendengarnya, tak ubahnya telingaku yang terasa gatal seketika. Namun kucoba meredam amarahku, mungkin dia juga tak sengaja mengeluarkan kata itu, meluncur begitu saja dari alam bawah sadarnya.


Kecanggungan yang sudah kucairkan, semakin mencair saat Mbak Sharika datang menyerahkan setelan jas untukku dan untuknya. Napas lega mungkin bisa kamu hirup ketika kami sudah masuk fitting room.


Setelan jas yang diberikan Mbak Sharika sudah melekat di tubuhku. Mematut sekali lagi di depan cermin dan tersenyum. "Bukankah aku tidak kalah tampan dengan Rud?"


Tentu saja! Siapa yang tak terpesona dengan wajah tampanku? Hmmm ... sayangnya aku lupa, bahwasanya istriku sendiri yang tak terjerat pesonaku selama sepuluh tahun lamanya. Itu tak mengapa. Toh sekarang dia sudah kuhalalkan, beriring langkah menggapai bahagia dalam biduk rumah tangga.


Kurasa cukup sudah mengagumi diriku sendiri, kini saatnya kamu yang akan ganti menilai. Dengan penuh rasa percaya diri, kutegakkan badan, melenggang keluar dan bersamaan dengan langkah di pintu sebelah. Seperti diskenario, aku dan Rud berdiri di depan pintu, menatapmu.


"Tampan."


Kata itu menguap begitu saja dari mulutmu. Matamu yang fokus padaku tapi sudut matamu ada lirikan kecil ke sudut lain. Hingga aku ragu, apakah pujian itu murni untukku? Ya ... sudahlah. Emosiku masih bisa kuredam untuk kali kedua.


"Bolehkan, aku meminta tolong istrimu untuk mencoba gaun pengantin calon istriku?" permintaan Rud ini sudah menyulut emosi yang kuredam, kembali dan makin berkobar.


Tak bisa lagi pikirku menerima logikanya. Permintaan apa itu? Kalau mau menikah dengan wanita lain kenapa yang mencoba gaunnya adalah istriku, mantan yang baru kemarin dikejar-kejarnya. Modus apa lagi, dia?


Emosiku sudah hampir meledak saat kamu menggandengku untuk masuk fitting room kembali. Aku tahu, kamu berusaha meredam hati yang terlanjur dibakar bara. Maaf, Sayang. Kali ini aku tak bisa lagi menahannya. Kamu adalah milikku! Mencoba mengusik perasaanmu berarti meremehkan harga diriku.

__ADS_1


Kulangkahkan kaki keluar, meninggalkanmu yang masih berusaha menahanku. Mendekati Rud yang masih mengobrol dengan kakak perempuanku satu-satunya itu.


"Kita harus bicara!" ucapku dengan tatapan tajam menusuk.


Melanjutkan langkah menaiki tangga dan berhenti di atap butik. Rud pun mengikuti, berjalan mendekatiku yang sedang berdiri di tengah luasnya bangunan yang dipenuhi tanaman. Dengan kedinginan yang sama, kami saling menatap dalam rasa yang berbeda.


"Apakah pernikahanmu itu hanya sandiwara?" tanyaku to the point.


Rud menatapku dalam dan mulai membuka bibirnya. "Yang jelas perasaanku bukan sandiwara."


Kuhela napas lebih panjang, mengurangi geram yang sudah ingin kuhantamkan. Berusaha menahan tanganku untuk tak melayangkan pukulan. "Lelaki itu pantang mengambil lagi sesuatu yang sudah dicampakkannya."


"Aku hanya mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku," sebutnya tenang.


"Milikmu adalah wanita yang akan kamu nikahi. Rosa adalah milikku, kamu jangan lupa kalau aku sudah menikahinya," tegasku dengan tatapan menusuk.


"Milikmu? Aku yang pertama memilikinya. Dan kamu ... hanya mendapatkan sisa," ejeknya dengan senyum miring yang langsung ku tambah kemiringannya dengan sebuah luka, darah.


Bug!


Sebuah pukulan kudaratkan tepat di wajahnya. "Ini untuk kekurangajaranmu karena telah menciumnya di kereta."


Tubuhnya sedikit terhuyung mendapatkan serangan tiba-tiba. Kurasa dia tidak menyangka jika aku yang biasanya tenang, kini jadi garang. Dia usap sudut bibirnya yang bernoda merah. Kembali tertawa miring dan kembali mendekatiku. "Dulu aku hanya menciumnya, sekarang aku bisa menjadikannya pengantinku."


Bug!


Kembali kulayangkan pukulan pada wajahnya. Rasanya ingin kubuat bibirnya itu babak belur. Seenak jidat mau merebut hati yang telah memiliki ikatan suci. "Selama nyawaku masih ada, tak akan pernah kurelakan dia untukmu."


"Kutunggu saat itu! Dan akan kubuktikan jika aku akan memilikinya kembali," ucapnya yang makin memantik kobaran amarahku.


"Bermimpilah!" sergapku dengan tatapan mematikan dan segera kutinggalkan tempat yang panas itu. Jika berlama-lama di sana kurasa aku bisa membunuhnya. Kukembalikan kenormalan seorang Dion di sepanjang perjalanan menjemputmu untuk pulang. Wajah yang penuh senyum, ketenangan dan kehangatan, itulah yang sedang kukembalikan.


"Sayang, kau baik-baik, saja?" sambutmu begitu aku masuk ruangan dan segera memelukmu.


"Dia, yang gak baik-baik, saja."


*****


Dion dan Rud saling baku hantam karena memperebutkan hati Rosa. Apakah kisahnya bisa kita sebut sebagai BAD BOY AND MAFIA GIRL?


Mau tahu? Kepoin novel keren punya adik imut aku, ya!


__ADS_1


__ADS_2