Tentang Hati

Tentang Hati
Cinta Yang Bahagia


__ADS_3

London merupakan salah satu kota besar dan terkenal di Inggris yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Kota megah dengan tata kotanya yang rapi serta terdapat berbagai bangunan bersejarah yang unik dan mengagumkan membuat para wisatawan betah untuk berlibur di sini.


Apakah tempat romantis di London merupakan tujuan utama para wisatawan saat berlibur? Bisa jadi iya, karena tempat romantis biasanya menjadi buruan bagi pasangan yang sedang jatuh cinta, atau pun bagi pasangan yang sedang berbulan madu sehingga mencari tempat romantis di London. Dan kami adalah salah satu pasangan yang sedang menikmati bulan madu, itu.


Malam kedua di Negeri Ratu Elizabeth, kami sengaja mengunjungi "London Eye". Ikon keromantisan ini juga sering disebut dengan nama The Eye dan Millennium Wheel, lokasinya berada di pinggir Sungai Thames, London, Britania Raya. Kami sengaja menikmati pemandangan indah kota London dari atas ketinggian 135 meter saat menaiki kapsul London Eye.



Aku tak bisa berhenti dari decakan kagum akan keindahan yang tersaji di depan mataku. Senyumku selalu terukir dan terus diabadikan Dion dengan kameranya. Tak ada protes yang kulayangkan, padahal biasanya kalau mau mengambil fotoku harus curi-curi dulu.


"Bahagia banget kayaknya?" ulik Dion seraya terus mengambil fotoku.


"Aku suka menikmati suasana begini. Malam yang cerah, bintang bertaburan menemani sang rembulan, warna-warni lampu kota ... dan ... dan ada kamu bersamaku," terangku malu-malu pada akhir kalimat.


"Dapat!" seru Dion seraya menunjukkan sebuah foto yang baru saja diambilnya.


"Ngapain sih, difoto terus? Menuh-menuhin, tau," jelasku masih fokus memandang kejauhan.


"Itu tujuanku, Sayang. Memenuhi semua ruang hatiku, ruang di galeriku, ruang di cameraku, ruang di apartemenku dengan dirimu dan segala tentangmu," rayu Dion yang membuatku makin melambung meski sudah berada di atas ketinggian.


"Gombalin aja terus, biar aku kebal," selorohku.


"Masa kebal? Harusnya 'kan makin jatuh cinta, gitu," Dion membenarkan perkataanku.


"Aku takut, kalau aku makin jatuh cinta, kamu semaunya nanti," terangku tanpa menoleh ke arahnya.


"Apa kamu bisa membaca pikiranku?" tanya Dion masih terus mengambil gambarku.


"Tentu saja, sesuatu yang kamu ulur-ulur, sekalinya kamu kasih pasti bakalan lagi dan lagi, bikin nagih," kataku mengiaskan sesuatu yang berhubungan dengan 21+.


"Ha-ha-ha ... kamu pintar, Sayangku!" akunya tanpa menutup-nutupi.


Kukerucutkan bibirku menanggapi pujiannya yang penuh maksud tertentu itu. Bukan sesuatu yang salah sebenarnya jika ia menginginkan itu, karena memang sudah menjadi hak yang harus diterimanya. Tarik ulur yang dia lakukan beberapa waktu lalu pun bisa kumaklumi. Dia ingin meminta restu dulu pada penjagaku sebelumnya, almarhum Papa.


"Pulang sekarang, aja, yuk!" ajaknya kemudian setelah berhenti memotretku.


Kupandang Dion yang tengah memandangku juga. "Kok, pulang?"


"Season dua," jelasnya dengan menampakkan raut muka menggoda.


"Tamatnya berapa season, sih?" selidikku dengan wajah polos.


Dion mencubit hidungku. "Suka-suka, aku."


Jawaban apa itu? Sesuka dia? Apakah itu berarti aku harus standbye 24 jam? Apakah honeymoon itu memang harus seperti itu?


"Aku masih ingin di sini,"


"Kenapa kamu suka sekali naik bianglala, sih, Sayang? Enakan naik Dion Wijaya, loh," ucapnya tak tahu malu.

__ADS_1


Kucubit pahanya dengan gemas. Pikirannya sangat mesum sekali. Memancing pikiran kotorku yang sempat menghilang kembali datang. "Enakan bianglala, bisa naik turun dan muter-muter."


"Kamu belum mencoba semua fasilitas Dion Wijaya, Sayang. Kalau cuma naik turun muter-muter, itu, kecil. Dia bahkan bisa depan-belakang, searah-berkebalikan, berdiri, duduk, terlen ...," kubungkam mulutnya dengan telapak tanganku.


"Ayo, traktir aku makan!" perintahku seraya menariknya segera keluar dari kapsul london eye yang kebetulan berhenti tepat saat aku membungkam mulutnya.


Dengan senyum penuh dia mengikuti langkahku. Tangan kami saling bertaut, berjalan beriringan dengan aku sebagai penunjuk jalannya. Menyusuri jalanan yang ramai lalu-lalang manusia menikmati malam. Tiba-tiba kuhentikan langkahku dan mulai bergelayut manja di lengannya. "Indonesian food, Sayang."


"Kirain mau nyobain bule, eh ... salah. Makanan bule maksudku," kekeh Dion bermaksud menggodaku.


"Jadi pengen nyobain bule, deh. Lebih mantap, kali, ya?" selorohku santai.


Pletak!


Sebuah sentilan mendarat panas di keningku. Kuusap-usap untuk mengurangi sakitnya, tapi tetap saja masih terasa. "Sakit, tau," gerutuku menghempaskan pegangan tanganku di lengannya.


"Aku bisa memuaskanmu, jangan nakal, kamu, Yang!" ucapnya seraya merangkulku dan menyeret langkah pergi.


"Kok, ke sini? Aku pengen makan, lapar," demoku dengan mogok berjalan.


"Aku akan memberimu makan malam spesial," ungkapnya.


Kuhentikan langkahku, mematung. Menunggu Dion menyadari jika aku tak ingin makan spesial tapi aku ingin makan normal. Pakai nasi dan lauk yg biasa aku makan. Bukan melahap sesuatu yang spesial yang akan membuatku makin lapar karena mengeluarkan ekstra tenaga untuk melahapnya.


Dion berhenti dan mendekatiku. Meraih jemariku dan mengulas senyumnya. "Ayo!"


"Kemana?" tanyaku memastikan.


"Aku aja kadang lupa kalau kita sudah menikah," gumamku.


Dion mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik lirih di sana. "Setelah ini, aku akan menajamkan ingatanmu tentang status kita. Penyakit lupamu itu jangan kamu jadikan senjata untuk tebar pesona dengan lelaki lain."


Tak ada kalimat yang kukeluarkan untuk membalas bisikan Dion. Aku sudah memahami dengan jelas apa yang akan dilakukannya. Menajamkan ingatan? Itu semacam padan kata dari season dua. Ah ... aku sudah membayangkan durasi yang lebih panjang dari malam kemarin.


"Pengen makan apa?" tanyanya begitu buku menu ada di meja.


Seorang waitress sudah menunggu makanan dan minuman apa yang akan kami pesan. Membolak-balikkan kertas tebal itu dan aku menemukan sesuatu yang menggugah seleraku. "Soto daging," ujarku penuh keyakinan.


"Jauh-jauh ke sini, makannya soto juga," ejek Dion.


Diapun kemudian memesan makanan yang diinginkannya. Menambah dua jenis minuman dan tak lupa sebotol air mineral untukku.


"Beneran jodoh 'nih, kita. Ketemu lagi di sini," ucap Pak Aryan yang tiba-tiba sudah duduk di kursi kosong meja kami.


Aku dan Dion menatapnya lekat. Namun yang kami tatap hanya tersenyum santai. Bersedekap dan ikut memesan makanan yang sama denganku. Suasana aneh yang tercipta ini cair saat dia berceloteh seolah dialah tuan rumah yang mengundang kami.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanyanya tanpa rasa bersalah.


Dion berdehem sebelum memulai katanya. "Kalau kamu sudah pulang ke Indonesia, temui aku. Nanti aku kenalkan wanita untukmu. Menikahlah!"

__ADS_1


"Menurutmu, aku cocok menikah dengan wanita seperti apa?" Pak Aryan menanggapi ujaran Dion dengan santai.


"Yang agresif, posesif, dan matrealistis," jelas Dion sambil mengutak-atik HPnya.


"Aku ingin yang polos, ceplas-ceplos dan ...," ucap Pak Aryan sambil melirikku sebentar dan kembali mengarahkan pandangnya pada Dion.


"Wanita seperti itu tidak cocok untukmu. Kamu butuh wanita yang penuh semangat agar hidupmu berwarna," terang Dion kemudian menyodorkan fotonya.


Pak Aryan mengambil HP Dion dan melihatnya sebentar kemudian meletakkan kembali di hadapan Dion. "Aku gak suka wanita ganas."


"Dia wanita dewasa yang panas," jelas Dion.


"Aku suka wanita muda yang sederhana," aku Pak Aryan.


"Kamu sudah dewasa, kalau mengencani wanita muda, dikira om-om suka daun muda," ungkap Dion.


Perdebatan mereka itu pertama-tama aku ikuti alurnya. Lama-lama aku gerah juga. Ingin tau apa yang Dion tunjukkan hingga Pak Aryan tak berminat melihatnya berlama-lama. Sedikit mengulurkan badan, aku menjangkau HP Dion. Menyalakan HP dan mendapatkan pemandangan yang membuatku mengernyitkan dahi.


"Siapa dia?" tanyaku pada mereka berdua.


"Tanya suamimu! Dia yang menyimpan fotonya kenapa tanya aku, Sa," tutur Pak Aryan enteng.


Kuarahkan pandanganku pada Dion. Menatapnya tajam dan menelisik sorot matanya. Mencoba mencari jawab tapi tak bisa. Dia tak tersudutkan sama sekali dengan tindakan intimidasiku.


"Dia penulis novel, namanya Tya Gunawan. Novelnya banyak adegan ++ elegannya, makanya aku ingin mengenalkan dia sama Aryan tuh," jelas Dion sebelum aku mencercanya.


"Semakin kudekatkan diriku padanya, menajamkan pandangan dan memasang muka lebih garang. " Kenapa kamu mengenalnya sejauh itu?"


"Aku juga mengenalnya, Sa. Jangan cemburu kayak gitu! Lagian mana mau suamimu itu sama dia," Pak Aryan malah berusaha melegakan kecemburuanmu.


"Tuh, dengerin! Aku hanya ingin mencarikan dia jodoh," ujar Dion santai.


"Kalian tuh kompak banget kalau soal wanita model begini. Laki-laki, sama aja!" gerutuku.


Debat kecil kami terlerai sebentar saat waitress datang menyajikan pesanan kami. Tanpa menunggu, aku langsung menyantap makanan yang ada di hadapanku.


"Sayang, pelan-pelan dong makannya!" ingat Dion padaku.


"Berapa lama gak kamu kasih makan dia, sih?" sindir Pak Aryan.


Terus kulahap soto panas yang masih mengebul itu. Menghangatkan badan yang diterpa suhu dinginnya malam. "Kalian lanjutin aja ajang perjodohan tadi, aku lapar, pengen makan. Jangan ganggu!"


Dion mengelus puncak kepalaku. "Pelan-pelan!"


"Jadi, bagaimana?" Dion kembali bertanya pada Pak aryan.


"Carikan aku kembaran Rosa, kalau ketemu aku nikahin sekarang juga," kekehnya santai.


"Lupakan, istriku! Atau kamu memilih pertemanan kita berakhir," Dion menjawab tak kalah santainya.

__ADS_1


"Aku memilih berteman dengan kalian," ungkap Pak Aryan dengan mengepalkan tangan kemudian mengulurkan pada Dion.


Dion sambut dengan hal yang sama, sebuah fist bump. Senyuman menghias bibir mereka. Aku ikut tersenyum. Beginilah cinta yang indah itu. Bahagia entah bagaimana cara hati memilihnya jalannya.


__ADS_2