
Hai pembaca setia " Tentang Hati" ! Ini adalah episode spesial loh. Penasaran spesialnya apa? Jangan lupa lanjutkan membaca.
Namun, sebelum itu, author bakalan kasih kalian penyegar mata dulu.
Pak Aryan
Rosa
Mas Rud
Rianti
Key Achilles Sanjaya
*****
"Sa, aku balik dulu, ya," Maya memelukku.
Mas Rendra yang antre di belakang Maya, bergerak maju saat Maya melepaskan pelukannya padaku. "Aku juga mau balik dulu, ya," ucap Mas Rendra sambil membuka lebar kedua tangannya. Tiba-tiba saja, langkahnya terseret mundur oleh sebuah tarikan dari belakang kaosnya.
"Calon kakak sepupumu, mau kamu embat juga."
Dion melangkah mendekatiku setelah menyeret Mas Rendra ke hadapan Maya. "Sayang, aku balik dulu, ya. Ada kerjaan yang harus aku selesaikan hari ini juga. Nanti, kabari aku!" Dion mengecup keningku dan tersenyum. Sebuah cubitan di hidungku dia hadiahkan sebagai kado manis pagi ini. "Jangan main hati, ya! Nanti malam, aku bakal memastikan apakah ada yang tidak beres denganmu."
*****
Suasana rumah jadi sepi. Mereka bertiga sudah pulang, sementara Kristy lagi CFD-an sama temen-temennya. Waktu belum meninggalkan pukul sembilan pagi, masih sisa satu jam, jika Pak Aryan serius dengan ucapannya semalam. Aku mengikuti saran dari Dion, santai saja. Jika dia datang, aku pergi dengannya. Jika dia tidak datang, ya, aku santai aja.
Handphone-ku berdering, menampakkan sebuah nama orang yang baru saja aku pikirkan, Pak Aryan.
"Bukakan pintu gerbangnya dong, temenku yang baik!" pinta Pak Aryan begitu aku mengangkat teleponnya.
Aku pun langsung mematikan teleponnya tanpa menjawab perintahnya. Aku langsung keluar rumah menuju gerbang depan.
"Kok, belum siap-siap?" tanya Pak Aryan yang melongok dari dalam mobilnya saat aku mulai terlihat di matanya.
"Saya pikir, Bapak bercanda," jawabku santai.
"Berarti aku gak salah menjemputmu jam segini. Kita berangkat langsung aja, yuk!" ajak Pak Aryan masih dari dalam mobilnya.
"Acaranya kan masih jam satu, Pak, ini baru jam sembilan," terangku.
Pak Aryan turun dari mobilnya dan berjalan ke arahku. "Emang, kamu mau ke acara lelang amal pakai baju begini?"
Aku melihat pakaianku. Kaos oblong berwarna putih berpadan rok jeans selutut membalut tubuhku. Rambutku ku kuncir kuda. Aku tersenyum melihat penampilanku sendiri. Memang, ini adalah penampilanku ketika di rumah. Tak pantas untuk menghadiri sebuah acara formal, apalagi untuk acara lelang amal keluarga Tuan Kenan Sanjaya. Aku tahu siapa keluarga itu. Tuan Sanjaya adalah pengusaha perakit senjata api, tekstil dan banyak lagi bisnis lainnya. Aku kemudian melihat penampilan Pak Aryan. Ia mengenakan sweat-shirt hitam sebagai atasan. Celana bahan motif atau chino berwarna senada ia pilih untuk bawahannya.
"Bapak, juga cuma berpakaian seperti itu."
"Makanya, ayo, kita berangkat sekarang. Kita make over penampilan kita, siapa tahu bisa cakepan dikit." seloroh Pak Aryan.
"Saya, sudah cantik, Pak, tanpa make over." ucapku sambil masuk kembali ke dalam area rumahku.
Ku biarkan mobil Pak Aryan terparkir di depan gerbang. Aku mengambil tas kecilku untuk menaruh dompet dan handphone-ku. Lima menit kemudian, aku sudah keluar kembali. Ku tutup pintu gerbang rumahku dan meninggalkan Pak Aryan yang duduk bersender di bagian depan mobilnya.
Aku masuk duluan ke mobil Pak Aryan. "Ayo, berangkat, Pak. Biar kita bisa cepet pulang juga."
"Kamu, gak romantis banget, sih, Sa. Harusnya 'kan kamu nungguin aku bukain pintu dulu." tutur Pak Aryan setelah duduk di bangku kemudinya.
"Saya, masih bisa buka pintu mobil sendiri, Pak." ucapku enteng. Aku langsung mengambil benda pipih kesayanganku dan menekan nama pada panggilan teratas.
__ADS_1
"Di, aku berangkat dulu, ya," pamitku setelah Dion mengangkat teleponku.
"Oke, Sayang." aku menutup teleponku.
Pak Aryan melihatku. "Gaya pacaran kalian tuh, asyik, ya. Gak melulu mesra-mesraan di depan orang."
"Malu, Pak, udah tua." jelasku santai.
Aku berusaha bersikap senormal mungkin dengan Pak Aryan. Dion bilang, anggap saja Pak Aryan layaknya teman-teman lelakiku zaman sekolah dulu. Boleh bercanda asal tahu batasnya agar dia gak baper. Dan pantangannya adalah kontak fisik.
Setelah aku mengikuti saran Dion, perasaanku menjadi jauh lebih baik. Aku gak lagi salah tingkah di depannya. Itu gak perlu terjadi karena kenyataannya aku memang tak menaruh rasa istimewa untuknya selain murni rasa pertemanan.
"Bapak 'kan udah tua, gak niat buat nikah, Pak?" tanyaku sambil tersenyum nyengir.
"Niat sih, tapi yang mau aku nikahin, sudah milik orang." tukas Pak Aryan.
Jangan bilang kalau cewek itu, aku, Pak! Jangan membuatku kembali membuncahkan rasa tak enak hati di depanmu.
"Aku masih 28 tahun, ya, gak setua yang kamu pikir." koreksi Pak Aryan.
"Bagi saya, 28 tahun itu tua, Pak." aku tersenyum smirk.
"Usia yang pas untuk menikah itu selisih lima tahun," paparnya kemudian.
"Itu cuma teori, Pak." aku membantah.
"Tapi usiaku pas untuk menikahi gadis yang berusia 23 tahun," Pak Aryan menaikkan kedua alisnya sambil melihatku. "Tapi kamu udah punya pacar, aku gak berkutik." jelasnya kemudian.
Aku mengacungkan dua jempolku padanya. Beruntung karena Pak Aryan masih tahu posisinya dan posisiku.
Tak terasa, Pak Aryan sudah memarkirkan mobilnya. Dan dia mengajakku masuk ke dalam sebuah bangunan.
"Make over dia, ya! Biar cantikan, dikit," pinta Pak Aryan pada seorang perempuan yang seumuran dengannya.
"Siap! Bisa juga kamu bawa cewek," balas perempuan cantik itu sambil mengajakku menuju lokasi perombakan.
Perempuan itu lalu mulai membuat adonan, memulas sana sini, finishing dan akhirnya jadilah wajah dan rambutku bermetamorfosis menjadi makin cantik tentunya.
"Sekarang, kamu ganti baju dulu, ya. Aryan sudah memilihkan sebuah gaun untukmu." ucap perempuan itu selanjutnya.
"Makasih, ya, Sher , kamu berhasil membuat dia sedikit lebih cantik." ucap Pak Aryan pada perempuan yang akhirnya ku ketahui bernama Sheryl itu.
Hei, Pak! Aku memang udah cantik. Gak di make over juga aku tuh tetep cantik, bukanlagi sedikit tapi banyak.
*****
Mobil Pak Aryan sudah memasuki sebuah rumah yang begitu mewah dengan luas yang melebihi alon-alon kota. Ini mengindikasikan jika sang pemilik bukanlah orang kaya biasa. Tentu saja, semua orang juga tau berapa kekayaan yang dimiliki Tuan Sanjaya.
"Gak usah grogi," ucap Pak Aryan setelah melihatku terus mematut diri.
"Gaun ini terlalu terbuka, Pak. Saya kurang nyaman," terangku.
"Acara ini untuk kalangan terbatas, kok. Kamu santai saja, gaun ini nampak cantik kamu pakai." ungkap Pak Aryan dengan senyum termanisnya.
Aku masih saja mematut diriku, lagi dan lagi. "Jangan merayu, saya, Pak! Nanti kalau Bapak baper, repot." ucapku santai.
"Iya, repot. Karena kamu miliknya orang. Sudahlah, ayo!" Pak Aryan mengajakku untuk memasuki rumah tersebut.
Jiwa miskinku langsung meronta-ronta. Rumah ini sangat mewah. Orang-orang yang hadir pun, semuanya terlihat highclass. Aku merasa seperti sedang tersesat dan gak tahu arah jalan pulang, karena sudah hadir di acara lelang amal ini. Ku ikuti ke manapun Pak Aryan melangkah. Hingga seorang lelaki dengan wajah cantik ala boyband Korea menyapa kami.
"Wah, Kak Aryan, datang sama siapa, nih?" tanya pria itu sambil tersenyum ke arahku yang berdiri di samping kiri Pak Aryan.
"Kenalkan, dia Rosa. Dan Rosa, dia adalah Key Achilles Sanjaya. CEO perusahaan tekstil yang terkemuka di Indonesia dan dia adalah putra sulung Tuan Kenan Sanjaya," jelas Pak Aryan.
Aku dan Pak Key pun berjabat tangan.
"Nona manis jangan sampai terjerat cinta dengan pria yang satu ini, dia adalah pembohong, he-he," tukas Pak Key sambil setengah berbisik di telingaku.
Aku pun tersenyum canggung mendengar ucapan Pak Key. "Ya kan, Kak Aryan, putra dari Tuan Najendra Dharma, raja perfilman Indonesia," kata Pak Key sambil memandang Pak Aryan.
Pak Aryan, putra Tuan Najendra Dharma? Aku tahu siapa itu Tuan Najendra Dharma. Kamu berhutang penjelasan padaku, Pak!
__ADS_1
*****
Tepat pukul 13.00 WIB, acara lelang pun dimulai, acara tersebut dibuka langsung oleh Tuan rumah yaitu, Tuan Kenan Sanjaya, ayah kandung dari Pak Key yang baru saja ku temui.
Aku berusaha menikmati acara elit ini, karena mungkin ini adalah acara yang hanya akan ku hadiri sekali seumur hidupku. Apalagi, Pak Aryan tak pernah meninggalkanku. Dia tahu aku tak mengenal siapa pun, makanya dia berusaha membuatku nyaman.
"Pak, saya ke toilet dulu, ya!" izinku pada Pak Aryan.
"Gak perlu aku temani, kan?" sahut Pak Aryan dengan senyum menggodanya.
Aku mengabaikan pertanyaan Pak Aryan. Ku yakinkan langkahku ke arah toilet. Ruang istimewa bagi perempuan itu, di manapun tak pernah sepi pengunjung. Termasuk toilet yang sedang ku masuki ini. Ku lihat beberapa wanita cantik sedang berdiri di depan cermin besar itu untuk sekedar mematut make up-nya lagi.
"Mbak Rosa," sebuah panggilan membuatku mengalihkan pandangan dari cermin besar di depanku.
Ku temukan seorang perempuan cantik sedang tersenyum ke arahku. "Rianti." Aku pun memeluknya saat dia mengangguk dengan nama yang ku sebutkan.
"Mbak Rosa, ke sini sama siapa?" Rianti nampak penasaran.
Aku mengerti mengapa pertanyaan itu yang pertama keluar dari mulutnya. Ini adalah acara yang biasa ia datangi sebagai seorang istri dari Alexander Kemal Malik, pemilik Malik's Corporation, perusahaan properti dan ritel yang memiliki banyak cabang di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Sementara, menemukanku di sini adahal hal ganjil bagi siapapun itu, termasuk bagi Rianti.
"Aku menemani atasanku," jelasku.
Rianti menatapku dengan senyum curiga. "Atasan atau ...?"
"Atasan," jawabku tegas. Aku langsung teringat kejadian tempo hari kala aku duduk di halte dan melihat Rianti dengan seorang pria yang ku kenal. "Rianti, apa kamu mengenal Mas Rud?"
"Mas Rud?" Rianti mengulang nama yang ku pertanyakan.
Rianti nampak berpikir keras. Aku pun ikut menahan nafas karena menunggu ingatannya untuk memberikan jawaban dari pertanyaannku. Entah kenapa, aku berharap Rianti akan memberikan jawaban "iya" .
"Apa yang Mbak maksud, Mas Rud, bodyguard-ku?" jawab Rianti selanjutnya.
"Bodyguard?" tanyaku.
Rianti menatapku. "Dia ada di luar,"
Ya Tuhan, dia ada di sini, di ruangan ini? Aku mulai gelisah. "Aku harus bertemu dengannya!" Tiba-tiba saja pikiran itu menyelimuti seluruh ruang pikirku.
Aku sudah tidak bisa menahan diri lagi. "Rianti, aku keluar duluan, ya."
Aku tak menunggu lagi, jawaban apa yang keluar dari bibir Rianti. Ku percepat langkahku. Dan benar saja, baru lima meter kakiku melangkah, ku melihatnya berdiri tak jauh dari hadapanku. Ia sedang mengobrol dengan seorang lelaki yang berpakaian mirip dengannya.
Mas Rud rupanya melihatku. Langkahku terhenti tanpa aku sadari. Ku tak bisa melepaskan mataku dari bening matanya. Kami terhipnotis sekian waktu. Aku tak bisa mengendalikan sesuatu yang membuncah dari dalam diriku. Ada rasa yang tak bisa ku jabarkan. Melihatnya di sini, membuatku ragu akan perasaanku sendiri.
Kesadaranku kembali, saat ku rasakan tanganku di gandeng untuk melangkah mengikutinya. Mas Rud, dia membawaku ke sebuah sudut ruangan.
Kami terdiam. Hanya saja, mata kami saling beradu pandang, seolah saling bicara tentang hal yang selama ini belum sempat tersampaikan.
"Bagaimana kabarmu?" tanyaku untuk memecah kebisuan yang terjadi.
"Apa kamu bahagia, tanpaku?" tanyanya sambil membelai pipiku yang mulai basah oleh air mata.
Aku menunduk. Memejamkan mata, aku merasa aku sudah menghianati perasaanku pada Dion. Tapi perasaan ini, tiba-tiba saja tak bisa ku kendalikan. Rasaku untuknya yang sepertinya belum tuntas, merajuk untuk kembali merasakan kasihnya.
"Maafkan, aku! ucapnya sambil menarikku ke dalam pelukannya.
Di, maafkan aku. Aku lemah dihadapnya, Aku tak dapat menolak sentuhannya. Aku tak bisa berkata jika aku membencinya. Aku tak bisa marah karena kecemenannya. Aku terjerembab lagi pada rasaku yang dulu ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.
Ku nikmati aroma tubuhnya yang menghangatkan perasaanku. Aah ... aku merasa amat kotor. Begitu mudahnya jatuh ke pelukan lelaki saat hatiku di dera kekalutan cinta.
Kami terhanyut dengan perasaan masing-masing. Sampai tiba-tiba saja terdengar suara tembakan. Keadaan semakin kacau, terjadi baku tembak di mana-mana. Para tamu pun sudah kocar-kacir berlari kesana kemari.
Mas Rud melindungi tubuhku yang masih dalam pelukannya. Aku tak bisa melihat apa yang terjadi. Sampai ku sadari, jika Mas Rud mengeluarkan pistol. Dia melepaskan pelukannya padaku dan menembak seseorang. Aku menutup mataku, tak sanggup melihat kekacauan yang terjadi di depan mata kepalaku. Tiba-tiba saja ku dengar suara tembakan yang begitu keras. Ku buka mataku dan ku lihat Mas Rud roboh bersimbah darah. Peluru itu menembus dada kanannya.
"Mas Rud ...." teriakku sambil mendekap tubuhnya.
*****
Episode ini merupakan gabungan dari tiga novel yang berbeda. Silakan baca novel novel di bawah ini untuk mendapatkan cerita lengkapnya.
__ADS_1