
Berjalan menyusuri trotoar lebar di sepanjang jalan menuju hotel, tiga nyawa manusia yang menempati raga bernama Rosalia Citra Atmadja, Dion Wijaya dan Aryan Satya Dharma, saling bercerita. Memupus rasa cinta yang tak harus memiliki dan cemburu yang membara. Bercanda dan kadang kala diselingi tawa yang tulus bukan sekedar sandiwara.
"Sampai kapan kalian di sini?" tanya awal Pak Aryan.
"Hari Senin, saya udah masuk kerja, kok, Pak," jelasku sambil memandang Dion yang berada di sebelah kananku.
"Kita, Minggu siang baru sampai Jakarta, emang kamu gak capek kalau langsung kerja?" telisik Dion perhatian.
"Kurasa cukup istirahat semalaman," terangku.
"Itu kalau suamimu membiarkan kamu istirahat semalaman, Sa," sindir Pak Aryan yang berjalan di sebelah kiriku.
"Suamiku Senin juga harus kerja, Pak. Dia juga harus beristirahat," jelasku.
"Olahraga malam itu menyehatkan, mengurangi waktu istirahat satu jam, rasanya tidak masalah," celetuk Dion tanpa rasa sungkan.
"Tuh, apa aku bilang, suamimu mau olahraga," timpal Pak Aryan yang hanya ku jawab dengan senyuman getir.
Perjalanan panjang kami yang sudah memakan waktu lebih dari dua puluh menit akhirnya sampai juga di tujuan akhir, hotel. Kami bertiga terus saja memacu langkah. Melewati lobi, memasuki lift dan berhenti di lantai yang sama. Melewati lorong dan bersama sampai di depan kamar kami.
"Bapak, mau ikut ke kamar, kami?" tanyaku setelah Pak Aryan ikut berhenti.
Pak Aryan melangkah dan berhenti di kamar tepat di sebelah kamar kami. "Ini, kamarku!" tunjuknya membuka pintu dan menghilang dengan senyumnya.
Sementara aku dan Dion yang sedari tadi tak sedetikpun melewatkan kegiatan Pak Aryan, belum sadar juga meski dia sudah menghilang. Terpaku menatapnya hingga lupa untuk masuk ke dalam kamar.
"Kalian, gak masuk kamar?" tanya Pak Aryan yang keluar lagi dari kamarnya.
Kami tersentak dan kembali sadar. Saling melempar pandangan dan mengisyaratkan untuk membuka pintu kamar. Dion paham dan segera memuluskan jalan untuk segera merangsek ke dalam.
"Sayang, pijitin aku, dong! Capek juga jalan kaki," pintaku dengan wajah penuh permohonan.
"Harusnya 'tuh istri yang mijitin suami, ini malah kebalik," protesnya tapi malah mulai memijit kakiku yang sengaja ku letakkan di pahanya.
"Karena kamu mengajakku melewati jalanan panjang yang berliku, berbatu, mendaki, menanjak, berguling, salto, dan mengendap-endap," ucapku tak berhenti.
"Ibarat perjalanan ke barat mencari kitab suci, kita 'tuh masih ketemu biksu Tong. Ini baru permulaan, Sayang. Sebentar lagi kamu harus bersiap menghadapi kenakalan Sun Go Kong," jelas Dion dengan senyum mencurigakan.
Kuketuk-ketukkan jari telunjuk di pipi kananku. Menyipitkan mata ke arahnya. "Sun Go kong?"
__ADS_1
"Berbulu yang lincah," terang Dion dengan ketawanya yang membuatku bergidik ngeri.
Berbulu yang lincah? Mengapa pikiranku menyimpang dari jawaban yang tepat yakni seekor kera yang tak bisa diam dan meloncat kesana kemari. Justru membayangkan sebuah remang-remang benda yang bisa elastis bisa membesar dan mengecil dengan sendirinya. Ah ... apa itu?
"Yah, istriku langsung ngebayangin, aja," goda Dion mendekatkan wajahnya ke wajahku yang sedang rebahan.
"Bulu-bulu itu bikin aku geli," kilahku.
"Kalau buluku?" Dion to the point dengan pertanyaannya.
Menutup kedua mata dengan kedua belah tanganku. Merasa malu mendengar kalimatnya yang menjurus pada sesuatu yang bikin geli-geli enak. "Bulumu dimana-mana, tapi aku suka," akuku malu-malu gak tahu malu.
Mengintip dari celah jari, kudapati sebuah senyuman terlukis di wajah suamiku yang memang banyak bulunya itu. Membuat fantasi liarku mengembara, mengikuti mesin waktu dan berhenti pada malam dimana pengalaman pertama itu kami lewati.
"Yang, masih sakit, gak?" tanya Dion disela-sela aktivitas memijitnya.
"Sakit awalnya tapi enak," jawabku masih terbawa pengalaman pertama.
"Mau, lagi?" tanya Dion kemudian.
"Mau, tapi ....," aku sok menolak sesuatu yang ingin aku ulang.
"Seperti malam kemarin, aja, Yang. Lembut, menghanyutkan, perih sedikit tapi kemudian aku terbuai," jelasku penuh penghayatan.
"Kamu ngomong apa, sih? Aku gak ngerti," tanya Dion seraya mencubit betisku.
"Aww ... kok malah nyubit, sih?" gerutuku sambil menarik kakiku yang dicubitnya.
"Sayang, kalau kamu pengen, minta dong sama aku! Gak usah malu-malu, apalagi piktor," bisik Dion seraya menangkupkan tubuhnya di atas tubuhku yang sedang rebahan di sofa.
Sekuat tenaga, berusaha kudorong tubuh Dion yang mulai menindih tubuhku. Wajahnya yang semakin di dekatkan dengan wajahku, membuatku dapat merasakan napas hangatnya. Kulitnya yang menyentuh kulitku menghasilkan suatu aliran listrik yang menyetrum seluruh tubuhku. Menghasilkan suatu getaran yang menuntut untuk terus dimanjakan dengan sentuhan yang lebih mendalam.
Raga berusaha mendorong tapi hasrat justru menarik kuat. Membuka akses agar diperlakukan lebih hangat dan memanas menjadi sebuah hubungan yang layak sebagai seorang suami istri. Kecupan kecil yang mengawali, semakin lama semakin bermetamorfosis menjadi pagut*an nakal dan lum*tan yang mendamba untuk diselaraskan.
Tak membiarkannya bercinta sendirian, liukan er*tis indra perasa itu kusambut dengan liukan yang tak kalah manjanya. Bergelut dengan mesra dalam ruang sempit yang mampu membangkitkan sejuta gelora. Sesekali mencecap dan sekali lainnya mencubit nakal di dalam sana.
"Kamu semakin pintar, Sayang," puji Dion disela kecupan yang terhenti karena sengalan napas yang makin sekarat.
"Kamu, guru terbaikku," timpalku seraya menundukkan kepala, menahan rasa malu yang masih tersisa.
__ADS_1
Dion mengangkat daguku. Meluruskan pandangan mata yang membuatku terhipnotis. Tangannya beralih dari daguku dan menyibak rambut yang menghalangi sentuhan yang akan ia lancarkan kemudian. Telunjuknya ia mainkan di bibirku, membuat desiran darahku semakin menguat.
Hasratku yang sudah dibangkitkannya, tak mampu lagi menahan untuk tidak disentuhkan. Tanpa malu dan ragu aku mulai bermanja di sana. Ia sedikit terkesiap namun kemudian kulihat senyum yang melengkung dari kedua sudut bibirnya. Sebentar kemudian sudah membalas ciumanku yang menuntut sebuah pembalasan. Ia ikuti alur yang kupilihkan dan membiarkan aku yang menguasai permainan.
"Apakah kali ini, kamu yang akan menjadi tour guide perjalanan kita, Sayang?" goda Dion saat aku melepaskan tautan yang mulai membuatku sesak oleh kenikmatan.
"Tidak, kurasa sudah cukup. Aku mau istirahat, persiapan buat besok ketemu ...," ucapku segera mendorongnya dan beranjak ke dapur untuk mengambil air putih.
Entah kenapa Dion melepaskanku begitu saja. Melonggarkan kungkungannya dan tak bereaksi saat aku beranjak pergi. Dia merebahkan tubuhnya di sofa, menjadikan lengan kirinya sebagai bantal dan tangannya sibuk bermain dengan HPnya.
Mendapati dia yang asyik dengan benda pintarnya, aku memilih memutar arah menjauhinya dan beralih ke ranjang. Merebahkan tubuh yang lelah, merilekskan tulang belakang yang terasa digulung hingga harus diluruskan kembali. Menarik selimut untuk menghangatkan raga yang diserang udara dingin yang meraja. Mulai memejamkan mata dan akhirnya harus diakhiri saat sentuhan lain membuyarkan mimpi yang mulai terakit.
"Menebar umpan, dimakan ikan kemudian engkau sentakkan. Aku tidak akan melepaskanmu, Sayang!" suara lembut menusuk dari Dion menggema di ruang pikirku yang mulai melayang.
Tangannya mulai menjelajah dibalik selimut, menyingkap satin tipis yang menutupi kaki bagian atasku. Memberikan kehangatan dan kegelian yang seiring jalan. Menjalarkan rasa, usapan lembutnya meliar pada perut langsingku dan beranjak menggemuruhkan rasa di dada.
"Aku mau tidur," suaraku manja terjebak rasa seraya menahan tangannya yang semakin bergerak tak terarah.
"Kita tidur bersama, tapi selesaikan dulu sesuatu yang sudah kamu mulai, Sayang," tegas Dion semakin tak bisa mengendalikan kenakalannya.
Napasnya semakin memburu dan gerakannya semakin memacu. Bertubi tubi menempelkan bibirnya di pundakku yang hanya terhalang oleh seutas tali kecil yang menjadi pengait baju tidurku. Jika CEO arogan di novel -novel itu hobi merobek gaun tidur wanitanya, Dion justru dengan lembut menurunkannya dari pundakku. Membuat debaran jantung kembali menggila saat semua kain yang menutupi tubuhku sudah berserakan entah kemana.
Senyum menggoda terlukis di wajahnya dan aku pun tergoda dengan lekukan perutnya yang nampak se*si. Tak kusadari kapan penutup tubuh atasnya itu dilucuti tapi yang pasti hanya tersisa kain segitiga yang menyembunyikan tombak kelelakiannya.
Pandanganku yang tak lepas dari perut sixpack-nya rupanya tak luput dari kejeliannya. Dia meraih tanganku dan meletakkan pada bidang yang menjadi objek penglihatanku. "Sampai kapan kamu malu-malu sama suamimu, ini? Sentuh yang ingin kamu sentuh."
Aku pun menjadi kikuk, berusaha menarik tanganku dari perut ratanya tapi malah dia arahkan pada sesuatu yang mengeras di bawah sana. "Aww!" pekik kagetku seiring menarik tangan tapi terlambat. Dion lebih dulu menguasai sentuhan tanganku, menjadikannya lebih dalam dan menenggelamkan di sana.
"Puaslah bermain di sana!" goda Dion di sela ekspresinya yang menahan rasa tak tergambarkan.
Bukan memainkannya, aku justru terpaku meskipun jemariku masih berdiam lembut di benda kenyal itu. Menatap Dion sendu dan penuh harap untuk diberi sesuatu yang aku mau. Enak bersama, mungkin itulah seutas harap yang ingin kusampaikan padanya.
Tangan Dion secepat kilat sudah menarik tengkukku, semakin dalam, bermain lewat kul*man saling berganti dan penuh hasrat tak ingin berhenti. Meluapkan rasa yang sudah bergemuruh di dada. Menyesap rindu yang tertawan dalam nafsu yang menggetarkan. Menelusupkan cinta dalam bingkai rasa untuk berpadu dalam pertukaran saliva.
"Sayang," panggilku saat bibir indahnya mulai berseluncur manja di leherku. Menawan kulitku dan mencampakkan dengan noda merah yang menjadi saksi sebuah kepemilikan.
Tiada henti ia memantik bara rasa yang semakin menggelora. Menenggelamkanku dalam bahagia saat begitu lihainya ia menempatkan diri dan memperlakukan kesensitifanku dengan istimewa. Saudara kembar itu, ia sama ratakan dalam kenikmatan.
Saat gemuruh rasa sudah sampai puncaknya, pijaran dan lelehan tinggal menunggu satu sentuhan, tenggelamlah sesuatu itu pada peraduannya. Tersampaikanlah cinta pada sang pemilik. Meninggalkan coretan kisah yang akan menjadi sejarah baru dengan lahirnya anak manusia.
__ADS_1
"Aku semakin mencintaimu, Sayang. Hadirmu adalah takdir Tuhan yang terindah dalam hidupku," ungkap Dion seraya mencium keningku dan meraih ke dalam pelukannya. Menghangatkan tubuh polos kami dibalik selimut dan melanjutkan cerita dalam mimpi indah sepanjang malam.