
Sinar kemerahan di ujung laut itu semakin memudar. Perlahan mengeringkan pakaian kami yang basah karena bermain air sepanjang sore. Keletihan yang mulai muncul mendorong kaki-kaki ini untuk selonjoran di putihnya pasir. Mas Rud menatapku.Aku bisa membaca arti tatapannya. Mencari tahu kegalauan hati yang menggelayutiku semalam. Dia belum berkata sepatah katapun, hanya mengambil tanganku dan menggenggamnya.
"Sayang," awal Mas Rud.
Aku mengalihkan pandanganku dari deru ombak ke arahnya.
"Kamu tau angka 20 dan 19?" tanya Mas Rud.
"19 dan 20?" aku coba membenarkan.
"Bukan! tapi 20 dan 19!" yakin Mas Rud.
"Tanggal lahir kita?" tanyaku ganti.
"Iya!"
__ADS_1
"Aku terlahir lebih dulu sayang! Jadi 20 lebih dulu, 20 itu lambang lelaki lembut hati dan pencinta keluarga, dan itu aku!" jelas Mas Rud.
"19 itu aku! Egois dan suka ngebossy! Iya kan?" tanyaku.
"Iya, sifat kita saling bertentangan, tapi kita akan menjadi saling melengkapi.Seperti angka 20 dan 19. Kita ini dekat dan akan selalu seiring jalan. Jadi jangan sekalipun berpikir kalau aku akan meninggalkanmu! Akan ada yang pincang, jika aku tanpamu ataupun kamu tanpaku!" terangnya sambil terus menatap mataku.
"Kamu ingat hari Selasa dan Rabu untuk kita?" tanya Mas Rud lagi.
"Hari lahir kita kan, Mas!" yakinku.
"Percaya padaku! Kelembutanku adalah penawar dari racun keras kepalamu sayang!" ungkap Mas Rud terus meyakinkanku.
"Aku emang egois, Mas! Aku hanya mau mencintaimu! Aku hanya mau, kamu selalu disampingku! Tapi aku takut, jika kamu tak menginginkanku seperti aku menginginkanmu, Mas!" aku ganti menatap mata Mas Rud.
"Aku juga egois sayang! Hanya aku yang boleh menyeka air matamu, saat kamu menangis, dan hanya aku yang akan menggantikan papa untuk menjagamu! Bukan orang lain termasuk Ardi! Mas Rud mengungkap nama yang menjadi sumber keresahanku sejak semalam.
__ADS_1
"Ardi?" aku mencoba menelisik.
"Iya, Ardi yang dijodohkan denganmu sayang. Aku sudah tau semuanya!" jelas Mas Rud.
"Bagaimana kamu bisa tahu, Mas?" desak ku.
"Tidak penting, aku tahu dari mana, yang penting adalah aku mau kamu tahu bahwa hanya kamu yang terpenting dalam hidup aku!" ungkap Mas Rud.
Air mataku tak mampu lagi ku bendung. Aku serasa menemukan sandaran baru setelah kepergian papa. Ketegaranku yang selama ini sering ku setting maksimal, kali ini benar benar ku tinggalkan di titik minimal. Ku tumpahkan segala keresahan yang menggangguku. Keresahan yang tak bisa ku ceritakan pada siapa pun, terlebih pada mama. Ku sandarkan kepalaku di bahunya. Sejenak ingin ku redam segala kecamuk di batinku.
"Menangislah sekarang, mumpung aku ada di sini!" ucap Mas Rud sambil mengecup keningku.
"Percayalah, jika kita akan segera melewati semua ini!" tenang Mas Rud.
Aku semakin menenggelamkan tubuhku ke dalam pelukannya. Aku benar-benar merasa nyaman di dekapan hangatnya. Belaian lembut tangannya seolah menjadi magnet yang semakin menenangkan jiwaku. Suaranya yang terus memanggilku dengan kata sayang semakin membuatku hanyut dalam kedamaian. Bahkan ketika ku sadari bahwasanya mentari sudah pulang sedari tadi, aku masih belum ingin melepaskan hangat pelukannya.
__ADS_1