
Waktu magrib sudah hampir melewati setengah jalan tapi kamu belum juga pulang. Sudah satu jam lebih kamu pergi, pergi yang kamu bilang hanya sebentar, nyatanya dirimu tak kunjung kembali. WA mu juga gak aktif, membuatku semakin khawatir. Berjalan mondar-mandir di sepanjang lorong menuju pintu masuk sudah lebih dari puluhan kali ku lakukan.
Suara bel yang sedari tadi ku tunggu akhirnya terdengar memenuhi telingaku. "Apa kamu baik-baik, saja?" ku perhatikan setiap inci tubuh Dion begitu ia masuk ke dalam apartemen.
Berjalan dengan santainya, meninggalkanku yang masih mematung. "Memangnya aku kenapa?"
Aku berjalan cepat untuk mensejajarkan diriku dengan dirinya yang sedang berdiri di depan televisi. Tubuhnya ku putar, meneliti kembali jika ada segurat luka yang mungkin tak sempat terjamah oleh mataku. "Coba buka pakaianmu!"
"Jangan sekarang, biarkan aku mandi dulu," ucapnya dengan senyum smirk. Ku abaikan pikiran kotornya menanggapi kalimat perintahku. Tanpa persetujuannya, ku lepaskan kemeja luarannya. Dia menurut tanpa protes. Ku singkap kaosnya dan kembali ku putar tubuhnya.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu begitu agresif?" Dion malah membuka kaosnya yang tadi hanya ku singkap.
"Kenapa kamu lepas kaosmu? Sana, buruan mandi! Dan antarkan aku pulang," kalimatku bertubi-tubi membuatnya mengerutkan kening.
"Kok, pulang? Bukannya kamu minta DP," goda Dion.
"DP apaan? Aldekha Depe? Dia kan penulis novel "Tentang Hati" yang nyeritain lelaki bucin, kayak kamu, tau," jelasku promo novelku sendiri, aneh gak, sih? He-he-he
Dion menghempaskan tubuhnya di sofa. "Sok jual mahal, tadi pagi siapa ya yang mupeng sampai marah-marah?"
"Tau tuh, siapa," timpalku.
Aku memasrahkan tubuhku lesehan di karpet. "Kalian bicarain apa tadi?" Pembicaraan ini akan merusak suasana, tapi memang harus tetap aku tanyakan. Seperti prediksiku, Dion masih diam mendengar pertanyaanku. Ia gunakan kedua tangannya sebagai bantal. "Ini obrolan lelaki dewasa, kamu gak perlu tahu."
"Gak ada untungnya kamu sembunyiin. Kalau kamu gak mau ngasih tahu, aku bakalan tanya sendiri sama lawan bicaramu," ucapku seraya mengambil HP dan bergaya sok mau menelepon.
Tiba-tiba Dion mengambil HPku. "Apa ini?" Dion memperlihatkan foto se*si Mas Rud yang kemarin sempat dikirimkannya. "Kenapa tidak dihapus? Kamu mau berfantasi dengan perut berlekuknya? Kenapa tidak berfantasi saja pakai fotoku? Ah, tak perlu berfantasi, aku kan bisa memberimu kenyataan," cerocos Dion tanpa henti.
Wajah datarku, ku fokuskan untuk menatapnya tanpa berkedip sambil menunggu kapan kalimatnya usai. "Ya udah, hapus aja!" perintahku.
"Ngapain aku yang hapus? Hapus sendirilah!" tolaknya menyerahkan Hp itu kembali kepadaku.
Aku meletakkan HP itu di karpet. "Kalau kamu gak mau hapus, ya sudah, biarkan saja."
Dion bangun dari rebahannya dan mengambil HPku. Mengutak-atik sebentar kemudian mengembalikan kembali pada tempatnya semula. Dalam hati aku tersenyum, sekarang ganti aku yang menikmati kecemburuannya.
Entah kenapa dia ambil lagi HP itu, dan kemudian dia memotret dirinya sendiri. Hanya dengan celana yang membalut tubuh bawahnya, dia begitu narsis memamerkan oto-otot perutnya yang memanjakan mataku.
Ah ... apa yang baru saja dia lakukan? Terkesiap seketika saat tubuhku dihangatkan oleh pelukannya. Bergesekan langsung dengan kulitnya membuatku risih. "Biar ku hapus jejak-jejak pelukan yang Rud berikan padamu."
Apa maksudnya? Jejak pelukan Mas Rud? Ku dongakkan kepalaku. "Jejak pelukan?"
"Sudah diam, kalau kamu lupa pernah dipeluknya, itu lebih baik," ucapnya seraya mengambil HP dan mengarahkan kameranya.
Cekrek!
"Senyum, sadar kamera dong, Sayang," ucapnya lagi.
Cekrek!
Cekrek!
__ADS_1
Cekrek!
"Udah ah, Di, kamu mau bikin album foto? Banyak banget tuh foto yang udah kamu ambil," tukasku.
"satu lagi aja, ya," dia kembali mengambil satu foto.
"Udah mandi, sana! Habis itu anterin aku pulang," pintaku untuk mengakhiri ulahnya.
"Nginep sini, aja, aku masih kangen," rengeknya.
Ku cubit pipinya. "Kenapa jadi kamu yang agresif, sih, Sayangku?"
"Aku menyesal tadi pagi mengabaikanmu," dia tersenyum smirk.
"Maaf, ya, anda terlambat. Aku sudah gak minat," godaku menolaknya. "Udah ah, buruan mandi! Katanya mau ke rumah Rio," ingatku.
"Aku mau nginep di rumah Rio, jadi gak pa pa ke sananya maleman," terangnya.
Ddrrtt-ddrrtt-ddrrtt!
"Mami," ku beritahu setelah ku baca nama peneleponnya, video call tepatnya.
"Iya, Mi, ada apa?" angkatnya.
"Kamu, gak kangen sama Mami? Kenapa itu gak pakai baju? Kamu lagi ngapain? Coba Mami mau lihat ada siapa di situ?" cerca Mami yang membuatku salting, takut ketahuan sedang berdua dengan anaknya yang bucin.
Di luar perkiraan, Dion malah mengarahkan kameranya padaku. "Calon mantu, Mi."
"Rosa, ya? Kamu kok mau sih sama anak Mami?" ejek Mami.
"Mami kok gitu, sih?" gerutu Dion.
"Mi, nikahin Dion dong,Mi, udah gak tahan, nih!" pintanya tanpa rasa malu.
"Sini Mami jewer, kamu jangan nakal. Calon mantunya Mami jangan diapa-apain! Belum sah," bertubi-tubi kalimat Mami itu tertuju tajam pada Dion.
"Makanya, Mi, nikahin!" lagi-lagi Dion membujuk.
"Mami mau ngomong sama calon mantu Mami, kasih HPnya!" perintah Mami.
Dion menyodorkan HPnya padaku. Sementara dia duduk di belakangku dan tanpa ku duga mengecup pipi kananku. Refleks ku pukul pahanya. "Malu tahu ada Mami," omelku.
"Baru dibilang jangan nakal malah cium-cium di depan Mami," Mami hanya geleng-geleng kepala.
"Maaf tante," ucapku.
"Anak Mami yang salah, keganjenan itu, hati-hati ya, Sayang! Kalau dia macam-macam, lapor sama Mami!" pesan Mami.
"Makanya Mi, cepetan nikahin dong!" lagi-lagi Dion membujuk Maminya.
"Orang masih manja begini sama Mami, gimana bisa manjain istri?" tohok Maminya.
__ADS_1
"Wah Mami meragukan anak sendiri." Dion kemudian memelukku dari belakang dan kemudian kembali mencium pipiku di hadapan Maminya.
Ku tutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, malu. Benar-benar, Dion gak ada jaim-jaimnya sama Sang Mami.
"Dasar anak nakal, main peluk-peluk sama cium-cium. Nanti Mami jewer kamu, kalau ketemu di nikahan Rendra.
"Kirain Dion mau dinikahin, taunya mau dijewer," keluh Dion.
"Sudah-sudah, Mami tutup aja. Mami malu melihatmu tak tahu malu begitu. Calon mantu Mami cepet sadar, ya, Sayang. Sepertinya kamu salah telah mencintainya, Nak."
Tut-tut-tut!
Ku buang napas kasarku, sungguh keluarga yang ajaib. Beliaukah yang akan jadi calon ibuku?
"Mamiku, asyik kan?" celetuk Dion.
Asyik ...asyik banget malah. Gak kolot! Bakalan jadi ibu mertua yang bisa diajak seru-seruan bareng kayaknya. Shopping, nyalon, tapi sayangnya itu semua bukan hobiku.
*****
"Sayang, kita mampir bentar ya ke depan, Besok Rendra mau balik ke Yogya," ucap Dion begitu keluar dari pintu apartemennya.
Ku ikuti langkah Dion tanpa kata. Bahkan ketika Mas Rendra membuka pintu, aku hanya tersenyum untuk menyapanya. Ku akui kelemahanku, aku adalah seorang yang sangat cengeng ketika harus berhadapan dengan sebuah kata yang bernama perpisahan. Tak peduli dengan siapapun itu, entah hanya seseorang yang kebetulan tahu, terlebih dengan seseorang yang lebih dekat seperti Mas Rendra. Airmataku begitu tak punya harga diri ketika harus merelakan seseorang pergi dariku. Ia akan jatuh begitu saja tanpa bisa ku kendalikan.
"May," langsung ku peluk sahabatku itu begitu aku melihatnya juga ada di apartemen Mas Rendra.
"Rosa, aku pasti akan merindukanmu," ucapnya sambil memelukku erat.
"Minggu depan juga ketemu lagi," hibur Mas Rendra.
"Setelah itu kami akan sangat jarang ketemu, Mas," Maya menjelaskan.
"Sa, sering-sering main ke Yogya, ya, biar kita bisa seru-seruan bareng lagi," pinta Maya.
"Emang masih bisa seru-seruan kalau udah punya anak?" celetuk Dion.
"Habis nikah kan gak langsung lahiran, Mas," kilah Maya.
"Aku gak yakin, itu," Ejek Dion. "Ya udah aku duluan ya, mau nganterin Rosa pulang habis itu mau nginep di rumah temen aku yang besok nikahan juga," pamit Dion.
Ku lepaskan pelukan Maya dan beralih mendekati Mas Rendra. "Mas, aku pasti akan merindukanmu. Gak bakal ada lagi yang jagain aku di kantor," ucapku sendu.
Mas Rendra membuka kedua tangannya untuk memelukku. Sebelum berhasil meraihku ke dalam pelukannya, Dion lebih dulu menyambut pelukan Mas Rendra. "Meluknya aku wakilin, aja, Bro," ucap Dion dengan senyum smirknya.
"Ogah, aku mau meluk Rosa," tolak Mas Rendra seraya melepaskan pelukan Dion dan memelukku. "Kamu, jaga diri baik-baik, ya, adek manisku yang bakal jadi kakak sepupuku. Hati-hati dengan semua laki-laki yang mendekatimu. Entah itu Pak Aryan ataupun tunangan bucinmu ini," pesan menohok Mas Rendra.
"Udah jangan lama-lama, kami mau pergi!" Dion melepaskan pelukan Mas Rendra dan ganti merangkulku.
"May, masih ada waktu seminggu untuk kamu berpikir ulang menerimanya jadi suamimu. Dia sama calon kakak sepupunya aja ganjen, gimana sama cewek lain," Dion melangkah pergi seraya tetap merangkulku.
Maya bukannya marah malah senyum-senyum melihat tingkah calon kakak sepupunya yang bucin tersebut.
__ADS_1