
"Hai, Sayang!" panggilku dengan lembut seraya mencium pipinya yang gembul menggemaskan.
Dion yang melihatku, tersenyum. Kebahagiaan yang kupancarkan setelah bertemu dengan makhluk kecil nan lucu ini, membuatnya ikut bahagia. Waktu yang memisahkan hingga kami lama tak bersua, membuncahkan rindu hingga tumbuh dan menggebu.
"Tante, bau acem!" celetuk Dion menyindirku setelah menyadari aku belum mandi.
"Acemnya tante cantik, sih, om Dion juga nagih," godaku sambil terus mengajak Arrki bicara sambil mengerling manja pada Dion yang berdiri tak jauh dariku.
"Mbak Sharika, mau nginep sini, kan?" tanyaku setelah mengingat bahwa ini sudah terlalu malam jika mereka akan pulang dengan membawa bayi mungil.
"Kami hanya mampir, Sa. Aku hanya ingin melihat adik yang bergengsi tinggi ini," terang Mbak Sharika sambil merangkul saudara mudanya itu.
"Apa 'an, sih, Mbak?" elak Dion sambil melepaskan rangkulan di bahunya.
"Jadi, setelah ini kalian mau tinggal di mana?" selidik Mbak Sharika.
Aku memilih bermain bersama Arrki, membiarkan Dion yang bicara. Sekaligus ingin tahu apa jawabannya. Tetap kekeh dengan pendirian ataukah goyah dan menuruti inginku. Tanpa kusangka, Dion mendekat dan memeluk pinggangku.
"Istriku tercinta maunya di sini, Mbak."
Kumenoleh pada Dion. Jawabannya dengan menggunakan namaku mempunyai makna ganda. Antara memang ikhlas untuk menuruti inginku karena rasa cinta yang berlebih atau takut aku marahi.
"Apa itu maksudnya kamu ingin kita tetap pindah, Mas?" tembakku langsung tepat sasaran.
"Kalau mau berantem jangan di depan Arrki, ya!" ingat Mbak Sharika dengan tegas.
"Tinggal sama kami, aja," tawar Mas Dito yang disetujui Mbak Sharika.
"Nginep semalam bolehlah, tapi kalau menetap aku gak mau."
Sudah bisa kutebak. Dion gak akan pernah mau untuk merepotkan orang lain. Jangankan sekarang saat kami sudah berkeluarga, dulu saja saat dia masih kuliah, lebih memilih tinggal sendiri. Kemandirian itulah yang membuatnya memiliki ketangguhan dalam menghadapi segala masalah.
"Kalau begitu turuti kemauan Rosa, aja! Aku rasa memang di sini adalah tempat terbaik untuk kalian."
"Tuh, Sayang. Mbak Sharika aja mendukungku," ucapku merasa menang karena mendapatkan satu dukungan.
"Aku gak bisa," jujur Dion dengan perasaannya.
"Kita sewa, Mas. Bukan tinggal secara cuma-cuma," bujukku berharap besar Dion segera meluluhkan pikiran.
"Meskipun menyewa, hatiku tetap tak nyaman."
__ADS_1
Mbak Sharika mengambil alih Arrki dari tanganku saat mençium aroma beda pendapat antara aku dan Dion akan berbuntut panjang. Dia kemudian menyerahkan bayi lucunya pada sang suami dan kembali berbicara kepada kami. Akan bertindak sebagai wasit, yang belum bisa aku prediksi akan adil ataukah berat sebelah. Walaupun tadi dia membelaku, tapi mengingat dia tahu betul sifat adiknya, maka keputusannya juga masih teka-teki.
"Suamimu kenapa gak mau tinggal di sini, Sa? Gengsi?" selidik Mbak Sharika bertanya padaku bukan langsung pada Dion.
"Mungkin dia takut aku semakin ketergantungan sama Pak Aryan, Mbak," tohokku tepat sasaran.
"Masih cemburu juga dia sama Abang kalian itu. Memang sih Mas Aryan punya segalanya, tampan, baik hati dan tulus mencintai."
Rupanya Mbak Sharika sengaja menggoda adik kesayangannya itu. Dion akan berang kalau dia dianggap tak mampu, apalagi jika dibandingkan dengan orang lain termasuk Pak Aryan dalam hal perasaan padaku. Kita lihat saja apakah kali ini siasat kakak kandungnya itu berhasil.
"Boleh dia tampan, tapi toh aku si pemenang. Jika baik hati, aku mengakui. Namun kalau masalah tulus mencintai, itu hanya aku yang memiliki."
"Kalau merasa sudah jadi pemenang, gak usah khawatir akan kalah saing. Rosamu sudah memantapkan hati kini saatnya tunjukkan ketulusanmu itu dengan tetap tinggal di sini. Bukankah kalau nanti tabunganmu cukup, apartemen ini bakal kamu beli lagi? Emang kamu rela selama kamu tinggal pindah, apartemen ini kosong atau dihuni orang lain? Pikirkan itu!"
"Bukan gitu, Mbak? Aku hanya ...," jeda Dion untuk kalimatnya.
"Gengsi? Buang itu!" cerocos Mbak Sharika tanpa menyaring kalimatnya, tajam dan menghujam.
Aku memasrahkan diri menjadi pendengar dari perdebatan mereka. Hatiku bersorak karena merasa di atas awan dengan dukungan kakak iparku itu. Namun terbersit juga rasa tidak enak hati melihat Dion diserang bertubi-tubi oleh kakak kandungnya sendiri. Kuyakin dia akan menyerah sebentar lagi. Bukan karena sadar tapi dia malas harus terus-terusan berdebat.
Dion menghela napas panjang. Sebentar kemudian, dia meraup wajahnya kasar. Dia bukan lelaki yang suka beradu argumen dengan seorang wanita. Jangankan kakak yang dihormatinya, denganku saja dia pasti akan mengalah pada akhirnya. Tinggal menunggu waktu saat itu terjadi.
"Ya udah, kita tetap tinggal di sini. Nanti aku akan negosiasi sama Aryan masalah pembayaran. Sudah puas, kan, kalian?" ucap Dion sambil bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.
Keputusan menetap di sini, akan menurunkan beberapa level ketangguhannya, itu menurut dia. Namun bagiku, tetap di sini level kebijaksanaannya akan semakin tinggi. Seperti kemarin saat dia memutuskan untuk menjual apartemen pada Pak Aryan, berat tapi itu adalah yang terbaik.
Kuikuti ke mana Dion pergi. Kamar adalah tempatnya berada kali ini. Dengan tubuh yang terhempas di ranjang, dia memejamkan matanya secara sempurna. Bahkan kehadiranku sama sekali tak mengusiknya. Kudekati dia dan memilih mendudukkan diri di sisi ranjang terdekat darinya. Perlahan kuusap lengannya. "Mas, kalau kamu memang gak ikhlas, kita pindah saja!"
Kalimat itu lolos begitu saja dari mulutku. Melihatnya lesu membuatku tak tega untuk bahagia di atas lukanya. Sakit karena merasa gagal mempertahankan sebuah gengsi sepertinya menjadi kegagalannya sebagai lelaki.
"Mas, maafkan aku memaksamu. Bangunlah! Buat apa kamu setuju kalau hatimu ragu. Daripada melihatmu begini, lebih baik kita pergi. Aku memilih di sini juga bukan karena ingin selalu dekat dengan Pak Aryan. Apartemen ini menyimpan banyak cerita. Tentang perjuanganmu dan semua kisah kita. Aku ingin menjaga itu."
"Apakah Mas merasa cemburu pada Pak Aryan? Aku pikir suamiku paling tampan, sehingga padanyalah kujatuhkan pilihan. Tak ada lelaki yang memperjuangkanku segila lelaki yang kupilih ini sampai- sampai saat ini aku menjadi tergila-gila padanya. Jadi, masih pantaskah suami tampan yang membuatku makin jatuh cinta ini merasa kalah posisi? Takut tersaingi?"
"Sayang, kamu adalah pilihanku. Akan kuhabiskan waktuku untuk melewati hari bersamamu. Bukan hanya untuk tertawa berdua, tapi juga siap mengeratkan tangan untuk sama-sama berjuang. Kita bangkit untuk melewati masa sulit. Tak perlu membuang waktu untuk cemburu. Buang gengsi dan kita bahagiakan hati. Aku dan kamu! Serta calon buah hati," ujarku sambil menggenggam tangannya.
Kurasakan tangan Dion mulai membalas genggamanku. Menyalurkan kehangatan sebagai balasan pada untaian kata yang kuutarakan. Perlahan tubuhku ditariknya dan jatuh dalam pelukan. Masih dengan mata yang terpejam, ia mengusap punggungku. Rambut di puncak kepalaku pun berkali- kali diciumnya.
"Sayang, aku tahu hatimu. Aku hanya ingin menjadi yang terbaik, tapi aku lupa jika yang kamu butuhkan bukan lelaki sempurna. Namun lelaki yang selalu ada saat kamu butuhkan keberadaannya. Dan sekarang, aku merasa jika lelaki itu bukan aku. Saat yang kumiliki menghilang dan Aryan datang membawa pertolongan, aku takut kamu akan ...," Dion menjeda kalimatnya. Menghela napas berat dan semakin mengeratkan pelukan.
"Aku akan berpaling?" tanyaku meneruskan kalimatnya yang belum sempurna.
__ADS_1
Tanpa menunggu Dion mengiyakan, aku kembali berucap panjang. "Berapa kali aku harus bilang, Mas. Pak Aryan adalah Abang, bukan Sayang. Aku menyayanginya sebagai saudara, hingga aku berusaha untuk menjodohkannya dengan banyak wanita. Lantaran penolakan yang dia lakukan, Tya sekarang ini membenciku. Di kantor dia selalu mengatakan hal yang membuatku tertekan. Aku bingung, kenapa semua orang menyalahartikan kedekatanku dengan Pak Aryan? Aku hanya ingin kalian percaya dengan hatiku, hanya itu."
Tiba-tiba saja air mata lolos dari sudut mataku. Dua masalah yang berbeda ini akhirnya terikat dan membuat perasaanku tersudut dan kemudian terjepit. Sakit. Kurasakan uluran tangan lembut menghapus kristal bening yang mengalir di pipiku.
"Aku percaya hatimu, Sayang. Jangan menangis lagi," hibur Dion sambil terus mengusap punggungku memberikan hiburan.
"Mengapa Tya bisa berbuat begitu? Apakah ia cemburu dengan kedekatanmu sama Aryan?" selidik Dion.
Kulepaskan diri dari pelukannya. Membenarkan posisi dudukku dan menatapnya lekat. Kepalaku mengangguk. "Apakah kedekatanku dengan Pak Aryan berlebihan?"
"Tidak, hanya dia terlalu baik padamu. Itu mungkin yang membuat Tya cemburu."
"Kalau Tya saja cemburu, bagaimana dengan perasaanmu, Mas?" tanyaku memastikan.
Tak kupungkiri jika aku memang dekat dan akrab dengan Pak Aryan. Kedekatan yang mungkin orang lihat lebih dari sekadar teman. Padahal, dalam hatiku benar-benar menganggapnya abang. Pertemuan kami tanpa sengaja dan langsung akrab, membuat kami merasa nyaman sebagai teman. Hanya itu rasa yang kupunya untuknya meskipun semua orang tahu jika rasanya lebih dari teman biasa.
Namun, Pak Aryan tahu posisinya. Cintanya yang datang terlambat tak lantas membuatnya mundur dari pertemanan. Dia malah menawarkan tali persaudaraan. Entah berapa banyak ketidaktulusan, yang jelasnya ketulusannya jauh lebih besar. Dia bahagia melihat kami bahagia, itu yang selalu diyakinkannya.
"Aku tahu bagaimana perasaannya padamu. Selalu kucoba memahami itu, meskipun terkadang aku merasa tak mampu. Aku bukan apa-apa dibanding dia."
"Aku tak mau mendengar itu, Mas. Dion adalah pejuangku. Tak akan terganti hanya karena seseorang yang lebih baik. Karena kamu adalah yang terbaik," ucapku sambil memeluknya.
Tak ada lagi kata yang ia sangkalkan atas kalimat-kalimatku. Saat seperti ini, aku tahu hatinya mulai luluh. Dan ini adalah waktu yang tepat untuk kembali memuluskan siasat. "Keputusannya, kita tetap di sini kan, Mas?" tanyaku dengan tatapan penuh harap.
Dion mengacak puncak kepalaku. "Hm."
"Apa artinya itu?" godaku bergaya tak memahami.
"Iya," ujarnya mulai membuka kata.
Kudongakkan kepala dan menatapnya. "Iya, apa?"
"Aku mencintaimu."
"Mas ...," panggilku manja.
"Hm."
"Sayang," godaku sambil mengumbar senyuman.
"Iya, kita akan tinggal di sini."
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu," ucapku sambil mengucap pipi kirinya.
Mata kami pun saling memandang. Kedalaman perasaan itu tergambar nyata. Dari tatapan yang saling berbicara, cinta itu memang ada. Semakin melebur menjadi satu, mengikat dan tak terpisahkan.