Tentang Hati

Tentang Hati
Mengalah Bukan Berarti Kalah


__ADS_3

"Sudah laku?" pertanyaan pertama yang lolos dari bibir Pak Aryan.


Dengan tangan yang ia lipat di depan dada dan kaki disilangkan serta punggung yang disandarkan, Pak Aryan coba mengorek buah keteguhan pikiran Dion.


Lelaki yang ia pasrahi pertanyaan hanya menghela napas mendalam. "Belum."


"Lalu?" selidik Pak Aryan berikutnya.


Dion menundukkan pandangan. Kuyakin hatinya sedang berperang. Antara menyerah atau kekeh dengan pendiriannya. Setelah helaan panjang napas yang ia lepaskan, ia menegakkan kepalanya. Melihatku sebentar dan kemudian menautkan pandangan pada lelaki di hadapannya.


"Berapa penawaran yang kamu berikan?" tanya Dion dengan sangat berat. Seolah ada tugu besar atas nama pendirian yang ia robohkan dengan tidak rela.


"Kamu menawarkan berapa?" balas tenang Pak Aryan.


"Hargai sesuai pasaran apartemen ini, kamu lebih tahu."


"Sebutkan dan biar cepat aku bayar! Bukankah kamu membutuhkannya segera?"


Mulai memanas. Kalimat-kalimat yang diucapkan dengan nada datar ini, kutahu sebenarnya penuh bara. Dion dengan pendirian yang dia kesampingkan dan juga Pak Aryan menahan geram karena kekekehan lawan bicaranya. Sementara aku bersiap melerai jika pertikaian itu terjadi.


"Kami membutuhkan 1 Milyar lagi," selaku pada keteguhan yang mereka pertahankan.


"Aku bayar 1,1 Milyar."


"Untuk apa 100 juta-nya?" selidik Dion penuh nada kecemburuan.


"Untuk keponakanku," balas Pak Aryan tetap dengan ketenangan yang tidak berubah.


"Anakku adalah tanggung jawabku, kenapa kamu memberinya 100 juta?" jelas Dion tak mau kalah argumen.


"Itu adalah hadiah karena menjadikanku seorang uncle," Pak Aryan pun tak mau mengalah.


Aku memutar mata jengah. Lelah menghadapi tingkah bocah yang sebenarnya sudah berusia dewasa. Jika melihatnya begini maka kebijaksanaan mereka selama ini rasanya terhapus sudah. Yang ada adalah sikap kekanakan karena sebuah pendirian yang tak sudi dilengserkan.


"Bayar 1 Milyar, Pak! Jika harganya di bawah itu,nanti kami cicil sisanya," ucapku menengahi.


"Bayar sesuai harga pasaran, aku tidak mau punya utang."


Kudekati Dion dan mencoba untuk berdiskusi dengannya. "Mas, hanya tersisa tiga jam lagi. Belum termasuk waktu yang harus kamu habiskan untuk menempuh perjalanan dan proses jual beli ini. Jika kamu tetap kekeh, maka waktunya makin sempit."


Pak Aryan merangsek dengan penawaran. Menyempitkan pilihan agar segerà disambar dan tak lagi dibiarkan hambar. "Bagaimana?"


Dengan isyarat mata, kuminta Dion untuk segera mengiyakan jual beli ini. Merendahkan ego agar semua segera selesai. Dion mengembuskan napas berat. Aku mengerti ini adalah keputusan yang tak ingin dia ambil. Namun terpaksa harus ia ucapkan agar masalah tidak semakin bertambah.


"Aku setuju kamu membeli apartemenku tapi tetap dengan harga pasaran. Jangan melebihkan karena rasa kasihan!" tegas Dion dengan keputusannya.


"Aku tetap akan membelinya 1,1 Milyar."


"Aku menjual apartemen bukan rasa kasihan."

__ADS_1


"Yang kubeli juga apartemen."


"Namun niatmu karena kasihan."


Lagi-lagi perdebatan yang sebenarnya bisa dihindarkan. Penawaran yang dihargai dengan nominal di atasnya, ditolak mentah-mentah. Konyol. Yang menawar konyol karena diberi murah malah meminta mahal. Yang memberi harga juga konyol, karena dihargai lebih mahal malah dia marah. Jual beli aneh yang nyata di hadapanku.


"Huek ...," tiba-tiba mulutku tak terkondisikan. Mual yang tak menyerang aku paksa untuk datang. Sandiwara, ya aku sedang berakting seolah perut sedang tidak nyaman dan ingin muntah. Morning sickness buatan.


"Kamu tidak apa-apa Sayang/Sa?" Dion dan Pak Aryan kompak mengkhawatirkanku. Yes, otak licikku untuk mendamaikan mereka menampakkan hasilnya.


Aku tersenyum miring. Bak tokoh antagonis yang berhasil mengelabuhi tokoh protagonis.


"Anakku marah kalian bertengkar, bisakah kalian akur sebentar?" akuku mengada-ada.


Aku tahu kalian pintar, tapi kalau sudah berurusan denganku, semua salahku jadi benar. Hal yang mustahil pun akan kalian jadikan lumrah. Aku bersorak, melihat perdebatan mereka seketika berhenti.


"Sayang, Papa dan uncle tidak bertengkar. Kami hanya sedikit bercanda. Jangan marah, ya? Kasihan Mama nanti merasa kesakitan," nasihat Dion dengan mengusap perutku yang masih rata seolah calon putranya mendengar semua yang dia sampaikan.


Dalam hati aku ingin tertawa sekencang-kencangnya. Namun kuurungkan karena ingat sedang bersandiwara. Demi menghayati peran, sesekali aku berakting seolah rasa mual menyerang lagi. Dion kembali berbicara dengan penuh kelembutan, membujuk putranya agar tetap tenang.


Saat tak sengaja mataku bertemu pandang dengan Pak Aryan, dia rupanya mengetahui akal bulusku. Dia tersenyum sambil mengacungkan ibu jadinya dan kubalas dengan senyuman pula. Sepertinya kali ini aku lolos casting.


"Papa jangan ngeyel, terima keputusan uncle dengan keikhlasan," ucapku seolah sedang menyuarakan isi hati putranya, menyambut obrolan yang tadi dia awali.


Rasanya aku enek dengan diriku, harus bermanja-manja yang bukan gayaku membuat mual itu datang dengan nyata. Bukan lagi sandiwara tapi benar adanya. Semakin dalam peran yang kuhayati, Dion pun semakin menjadi membujuk putranya.


Pemaksaan keputusan itu membuatku tersenyum, bahwasanya Dion tak hanya mencintaiku semata tapi juga putranya.


Putranya? Bukankah kami belum memastikan ke dokter tentang kehamilanku? Apakah aku benar-benar mengandung seorang calon baby lucu? Akuratkah hasil pengetesanku beberapa waktu lalu?


Semoga saja iya, aku diberi kepercayaan untuk merasakan berbadan dua. Agar kebahagiaan suamiku ini bukan hanya semu. Dalam keterpurukan setidaknya ada yang bisa membuatnya terus semangat untuk berjuang. Maafkan istrimu yang sedang membohongimu, Sayang.


"Tapi, Sayang? Kenapa mualmu tiba-tiba menghilang? Benarkah putra kita secerdas ini? Ataukah ini hanya permaian kecerdasanmu?" tohok Dion kembali memainkan logika.


"Anak kita tentu saja cerdas, Mas. Lihatlah istrimu ini! Apakah kamu lupa sebuah pernyataan yang mengatakan jika ingin memiliki putra yang cerdas maka carilah calon ibu yang cerdas. Pilihanmu tepat, akulah ibu yang cerdas itu, jadi sangat wajar jika putra kita menunjukkan kecerdasannya sedini mungkin."


Dion mencerna kalimat panjangku. Wajahku seketika ia perhatikan dengan seksama. Aku sedikit cemas tapi tetap kucoba bersikap tenang. Kuulas senyum untuk menutupi tegang. Dion sangat mengenalku, dia tahu kapan aku bersandiwara kapan aku nyata.


"Aku menyayangi kalian, kamu dan putra kita. Namun aku menolak kebohonganmu," ujar Dion sambil mencium keningku.


Gagal, aku terciduk. Yang bisa kulakukan hanya pasrah. Tersenyum getir. Ternyata memang aku terlalu suci untuk jadi pembohong sejati meskipun itu untuk tujuan kebaikan.


"Bayar sekarang sesuai harga dan akan kugenapi dengan mengosongkan uangku di tabungan!" tegas Dion yang ditanggapi deheman oleh Pak Aryan.


Ia mengubah posisi kaki yang dijadikan tumpuan. "Kalau kamu menolah nominal yang kuajukan maka aku mengundurkan diri dari jual beli ini."


Dion mendekati Pak Aryan dan menarik kerah kaosnya. Emosi sudah menguasainya penuh. "Kamu jangan mempermainkanku! Kalau tidak terpaksa, aku juga tidak rela apartemen ini jatuh ke tanganmu."


Pak Aryan bergeming. Sama sekali tak terpancing dan hanya menepis. "Jual beli itu harus suka sama suka. Kalau aku tidak suka, maka aku bisa mengurungkannya.

__ADS_1


"Shit!" umpatan yang hampir tak pernah kudengar meluncur dari bibir Dion, kali ini mulus keluar.


Aku semakin khawatir melihat keadaan ini. Kupilih bangkit dari duduk dan mendekati mereka. Kuusap punggung Dion untuk membuatnya sedikit tenang. Berada dalam kondisi terhimpit memang membuat sulit. Pikiran kacau dan emosi mudah memuncak.


Kuarahkan dia untuk duduk dan memberinya segelas air putih. "Mas, kendalikan dirimu. Saat ini yang bisa menolong kita hanya Pak Aryan. Percayalah jika dia tulus, bukan modus."


"Dia membeli lebih dari yang kita tawarkan. Itu aneh. Mana ada hukum ekonomi seperti itu?"


"Sudah kubilang ini hadiah untuk keponakanku, bukan untukmu."


"Aku tahu kamu ingin membantu, tapi bukan begitu caranya," kekeh Dion menolak kebaikan Pak Aryan.


Keputusan Dion gak bisa ditawar. Sama sekali tidak goyah meskipun kami sudah menghabiskan banyak waktu untuk berdebat. Satu-satunya cara adalah dengan membujuk lawan mainnya. Mungkin Pak Aryan akan lebih mudah ditaklukkan.


"Pak," panggilku dengan tatapan penuh permohonan.


Ekspresi yang kudapat justru sebuah gelengan. Aku memejamkan mata. Sepertinya kali ini yang diuji bukan Dion tapi aku. Dua lelaki yang biasanya selalu mengalah itu kali ini kaku sekali. Sama-sama bersikeras dengan keputusannya.


Menyerah. Kupilih untuk duduk di sofa. Menyiapkan diri untuk menonton pertunjukan selanjutanya. Apakah yang akan terjadi? Akankah ada kesepakatan? Ataukah terus berdebat sampai waktu mepet?


"Kuberi waktu lima menit! Kalau tidak sependapat maka aku akan pergi dari sini," ancam Pak Aryan tanpa menampakkan nada tinggi.


Ketenangan lelaki satu ini memang level dewa. Tak pernah kutemui lelaki dengan kematangan emosi sepertinya. Apakah memang jiwa Tuan Muda sudah menempanya hingga menjadi seperti ini?


Waktu berjalan sangat lambat. Hening yang mengisi, berjalan seiring dengan batas waktu yang diberi. Kami bertiga saling terdiam. Aku menunggu keputusan apa yang akan keluar dari seorang Dion yang punya harga diri tinggi.


Tiga menit berlalu tanpa ada tanda-tanda seseorang yang akan berbicara. Pak Aryan mulai berkutat dengan smartphone-nya. Menerima panggilan dari seseorang tanpa berpindah tempat. Sepertinya ia memang sengaja. Bertingkah seolah sedang diburu waktu agar Dion segera setuju.


"Baiklah kalau kamu menolak penawaranku. Sampai jumpa di penjara!" celetuk Pak Aryan dengan kejamnya.


"Aku akan mendapatkan uang dari orang lain."


"Sekali aku pergi, tak akan ada penawaran kembali," ucap Pak Aryan seraya bangkit dari duduknya dan mendekatiku. Menekuk salah satu lututnya dan duduk di hadapanku. "Sayang, uncle akan kembali datang untuk menjagamu dan Mamamu jika Papamu lebih suka bermain dengan jeruji besi. Mengabaikanmu yang lucu dan Mamamu yang cantik ini."


Kupelototi Pak Aryan. Sengaja sekali ia memancing masalah. Semakin mengeruhkan air yang sudah tak jernih lagi. Namun dengan tenang ia menyunggingkan senyum. Aku terkesiap saat dia sedikit terhuyung karena tarikan pada kaos belakangnya. Dion berdiri dan menyeretnya.


"Sini uangmu, jangan berharap bisa mengganggu anak apalagi istriku!"


Pak Aryan bukannya meringis kesakitan, dia malah mengerling manja. Ya ... aku tahu. Dia aktor yang baik. Aktingnya berhasil memancing emosi dan membuat kata sepakat keluar dari mulut suamiku. Big Applause!


"Satu untukmu dan satu untukmu."


Pak Aryan menyerahkan dua cek dengan nominal berbeda. 1 Milyar untuk Dion dan 100 juta untukku.


"Bukankah, aku kakak yang adil?" ucap Pak Aryan sambil menepuk pundak Dion.


Senyum yang melengkung indah itu merupakan siratan dari hati pemiliknya yang juga begitu indah.


"Pak Aryan, terimakasih."

__ADS_1


__ADS_2