
Melenggang di jalanan pagi yang dipadati oleh hiruk-pikuk kendaraan berlalu-lalung, aku dan Dion berboncengan membelah keramaian. Lenganku yang melingkar erat di perutnya adalah keromantisan yang tak akan didapatkan saat bermanja dengan nyamannya kendaraan beroda empat. Inilah hikmah, dibalik kehilangan ada satu penambahan kemesraan.
Benar nyatanya, saat hidup menuntut berjuang lebih keras, disitulah cinta didekatkan untuk saling bersatu. Maka jika bahagia datang dan orang yang menemani berjuang kau buang, maka kau sungguh kejam. Dia yang ada saat kau tak ada apa-apanya, dialah cinta yang pekat tanpa syarat.
Namun, kadang ada hati yang berkhianat. Menepikan cinta yang setia mendampingi dengan pesona yang sedap di pandang mata. Tak adil, tapi itulah godaan. Ketika harta dan tahta berkuasa, maka wanita adalah tipu muslihat yang mengantarkan pada jerat kata khianat.
"Mas, seru juga ya motoran begini? Jadi inget dulu kamu selalu buntutin aku naik motor waktu masih sekolah," kataku mengawali berkisah dalam memori.
"Bukan aku, kali. Masa seorang Dion mengejar? Dikejar dong," elak Dion sambil tersenyum menggoda.
"Cuma kamu yang ngejar-ngejar aku, segila itu. Cowok lain, aku bilangin Papa galak aja udah menciut, lah kamu makin aku ketusin malah makin deketin," jelasku sambil melayangkan ingatan pada masa yang telah jauh berlalu.
"Masa, sih? Kok aku gak inget, ya?" elak Dion kali kedua.
Kulayangkan cubitan kecil pada pahanya yang terlindung celana bahan berwarna abu-abu gelap itu. Merasa gemas karena dari tadi Dion selalu menolak ingatan masa lalunya. Menang karena sudah mendapatkan hatiku lalu dia menghempas kekalahan yang dulu ia terima karena penolakan tanpa jeda.
"Sakit tau, Yang. Kamu kalau gemas cubitnya jangan sekarang. Gak tepat waktu," timpal Dion yang justru memancing terdamparnya cubitan untuk kali kedua.
"Biar aja! Asal kamu tahu, dulu ada teman SDku yang sampai berdarah gara-gara aku cubit. Kamu mau begitu?" ucapku sebal.
"Ngapain kamu cubit, dia?" selidik Dion penasaran dengan cerita bar-bar masa kecilku.
"Dia godain mulu, sih. Ya, aku cubit. Sama, kayak kamu 'gini," jawabku sambil menampilkan seringai senyum.
Dion menolehkan kepalanya sebentar. Penasaran dengan ekspresi wajah yang kini sedang kuperlihatkan. Tersenyum sejenak dan mengusap lenganku yang melingkar indah di perutnya. "Pasti cowok itu naksir, kamu."
"Mungkin, dia cowok paling cakep di kelasku," jawabku enteng.
"Siapa dia? Apa aku mengenalnya? Kamu gak pernah cerita masalah ini," kulik Dion dengan rasa penasaran.
__ADS_1
"Doni," sebutku pada sebuah nama yang pasti akan membuatnya kaget.
"Doni se-gengku zaman SMP?" tebak Dion dengan tepat karena memang dia tahu kalau aku dan lelaki yang baru disebutkan adalah temen satu sekolah dari TK.
Pertanyaan Dion aku balas dengan gumaman. Aku pikir Dion akan merasa kaget dengan kenyataan yang baru saja ia dengar. Namun nyatanya aku salah. Dia tetap tenang, jauh dari serangan rasa cemburu yang biasanya menggebu.
"Aku tahu dia naksir kamu."
Sekarang aku yang ganti menyimpan pertanyaan. Seperti aku yang tak pernah bercerita tentang Doni, Dion pun tak pernah membahas cerita berlabel nama lelaki tersebut. Apalagi yang berkaitan dengan perasaan.
"Tahu dari mana?"
Dion kembali menengok sebentar kepadaku. Mengulaskan senyum yang sungguh makin membuat jatuh cinta. Manisnya mengalahkan madu. Sehatnya pun jaminan.
"Aku lelaki, Sayang. Tentu saja aku tahu bagaimana gelagat sesamaku ketika jatuh cinta. Tanpa bercerita, aku bisa menangkap rahasia hati Doni yang selalu membahas kebaikanmu."
Kubalas dengan mengeratkan lingkaran lenganku. Menyenderkan kepala pada punggungnya. Merasakan kenyamanan yang membuat rasa syukur terucap. Bahagia karena bisa selalu di sisinya. Menemani saat suka dan dukanya. Bersama, menyatukan hati dan mengobarkan semangat untuk berjuang tanpa mengenal kata lelah.
"Maksudnya kamu mengabaikan mereka karena merasa menang bisa tetap disampingku meskipun tak pernah aku pandang?"
"Aku menang selangkah dari mereka. Dan sekarang aku adalah pemenangnya."
"Baiklah, Pak Pemenang. Selamat, ya!"
Bercanda sepanjang perjalanan, tak terasa kami sudah sampai di depan kantor. Aku turun dari jok dan berdiri di sebelah motornya. Melepaskan pengait helm dan menyerahkan padanya.
"Aku pikir kamu gak bisa buka, terus aku bantu. Mata kita saling memandang seperti pada adegan sebuah ftv terus kamu jatuh cinta sama aku," goda Dion setelah menerima helm yang kuberikan.
"Cintaku gak sereceh itu, Sayang," akuku sambil mencium tangannya.
__ADS_1
"Kerja baik-baik, Sayang. Maafkan suamimu ini. Harusnya saat hamil, kamu istirahat di rumah tidak bekerja," ucap Dion sambil menggenggam jemari kananku.
"Aku tidak sedang bekerja, tapi menyalurkan hobi, Sayang," balasku ringan agar Dion tak semakin tenggelam dalam kesedihan.
Kupahami kalimatnya dengan gampang. Dion sedang mengalami pergolakan batin. Dunia sedang terbalik, berlawanan dengan hati nuraninya. Baginya, lelaki itu bekerja dan wanita di rumah menjaga keluarganya. Namun kondisi yang kini sedang berkebalikan aku tahu sangat mengganggu pikirannya. Oleh karena itu, Dion harus diajak bercanda. Agar fokusnya beralih, bukan pada kata pengangguran tapi meniti karier kembali, menciptakan peluang.
"Dion mengusap puncak kepalaku seraya menyunggingkan senyuman. "Masuklah!"
Kulepaskan genggaman jemarinya. Mengingatkan untuk berhati-hati dalam berkendara dan segera berbalik badan memasuki area lobi.
👩💻👩💻👩💻👩💻👩💻
"Anggen, pagi-pagi udah bau keringat aja, nih," sindir Tya sambil menutup hidungnya.
Anggota Trio Somplak yang sedang membuat jarak denganku itu sedang berdiri di belakang kursi Anggen saat aku datang. Coba kusapa biasa, tapi dia malah membalas dengan kalimat ejekan yang sangat tidak enak didengar. Kubuang napas kasar agar tak terpancing untuk membalas.
Kututup telingaku dari sindiran Tya. Meladeninya hanya akan membuang energiku percuma. Lebih baik kufokuskan pada pekerjaan yang sudah terbengkalai akhir-akhir ini. Sayangnya, kediamanku tak juga membungkam Tya untuk tak lagi meneruskan kalimat-kalimat pedasnya.
"Tau gak, Nona muda sekarang turun tahta."
Anggen yang sedang diajak berbicara sama sekali tak menanggapi. Aku mengerti jika dia berada pada posisi sulit. Tak mau berat sebelah, jadi ia memilih untuk berdiam diri. Sementara itu Tya terus saja mengoceh. Semakin lama, ucapannya semakin memekakkan telinga. Amarah yang sudah kuletakkan jauh dari hati, semakin mendekat dan kini membuat batinku membuncah.
Aku tak bisa lagi menahan diri. Kutinggalkan mejaku sambil membawa laptop. Berpindah tempat, mungkin itulah jalan terbaik untuk menghindari pertikaian. Kuayunkan langkah menuju pantry. Menyapa Bang Kotan, teman yang mungkin saja bisa membuat semangat kerjaku kembali berkobar.
"Bang, bikinin teh manis hangat, ya!" pintaku sesaat setelah mendudukkan diri.
"Mbak Rosa, lama loh gak ke sini. Kangen aku, ya?" canda Bang Kotan seraya mulai meracik teh pesananku.
"Kangen cerita dari seorang playboy," celetukku memerhatikan setiap gerakan yang ia lakukan.
__ADS_1
"Mbak Rosa bikin aku malu, aja."
Pintu pantry perlahan terbuka, seseorang masuk dengan senyum di bibirnya. Berjalan ke arahku dan duduk di kursi seberang. Memerhatikanku dan kubalas dengan hal yang sama. Kami saling terdiam. Menunggu siapa yang akan bicara duluan.