Tentang Hati

Tentang Hati
Nanti Aku Jelaskan


__ADS_3

Mas Rud melangkahkan kaki duluan memasuki toko buku tersebut. Aku mengikutinya dari belakang. Waktu berpapasan dengan security toko buku tersebut, beliau mengacungkan jempolnya padaku. Ku balas senyuman manis atas aksi Bapak tersebut. Dalam hatiku berkata, "aku tahu maksud dari jempolmu Pak!"


Jempol itu mengisyaratkan, bahwasanya aku pandai memilih pacar. Iya Pak saya tahu, pacar saya tampan! Bukannya sombong, tapi mas Rud emang tampan. Dengan tinggi 176 cm, bentuk badan yang proporsional, ditunjang dengan kulitnya yang bersih melengkapi kesempurnaan wajah tampannya.


Tapi sesungguhnya, saya juga minder Pak, dengan jempol Bapak! Isyarat Bapak itu, menunjukkan, jika saya tak terlalu pantas untuk menjadi pacarnya. Saya pintar mencari pacar, tapi mas Rud gak pintar karena telah memilih saya. Nahh ... baperkan!


Bruugg!


"Aduh ...!" ucapku sambil mengusap kepalaku yang membentur badan seseorang.


"Ngapain bengong?" tanya Mas Rud yang sudah berdiri tepat di depanku.


"Tuh," tunjukku pada security yang berdiri di depan pintu masuk toko buku.


Mas Rud mengerutkan keningnya.


"Kamu kenal?" tanyanya kemudian.


Aku menggeleng. Mas Rud nampak semakin penasaran.


"Terus," Mas Rud makin bertanya-tanya.


"Nanti aku ceritain, Mas, kita nyari buku dulu yuk!" ajakku pada Mas Rud.

__ADS_1


Mas Rud hanya diam dan mengikuti langkahku.


"Kok, kamu jadi ikutan nyari buku?" tanya Mas Rud.


"Emang gak boleh?" jawabku sekenanya.


Aku pun berjalan meninggalkan mas Rud. Aku mencari rak demi rak, untuk mencari buku yang ingin aku temukan. Aku sibuk melihat-lihat, membaca sinopsis dari 1 novel ke novel lainnya.


"Nyari novel apa?" sebuah suara mengagetkanku.


"Novel yang cocok untuk anak SMA," jawabku pada suara yang ku yakini milik Mas Rud meski tanpa aku melihatnya terlebih dahulu.


"Buat kamu?" tanya Mas Rud.


"Bukan!" jawabku sambil asyik membaca sinopsis novel yang aku rasa cocok dengan yang aku cari.


"Buat adiknya temenku!" jawabku.


"Akrab?" Mas Rud terus mencecarku.


"Gak sih, Mas, cuma tahu dari cerita temenku aja," jelasku.


"Kenapa ngasih novel?" selidik Mas Rud.

__ADS_1


"Lusa dia ulang tahun mas," terangku.


"Kalau gak kenal, kenapa mesti ngasih kado?" Mas Rud meminta penjelasan.


"Temenku minta tolong untuk beliin kado untuk adiknya!" jelasku bertubi-tubi.


"Kenapa dia gak ngasih sendiri?" Mas Rud terus mengintrogasiku.


"Dia di luar kota, Mas," aku terus menjelaskan pada mas Rud.


Wajah mas Rud nampak semakin penasaran.


"Dia cowok?" tanya Mas Rud.


Ku jawab dengan anggukan. Mas Rud langsung mengambil novel di tanganku dan mengembalikannya ke rak.


"Bilang pada temenmu, kalau kamu gak bisa beliin kado buat adiknya," perintah Mas Rud padaku.


"Emang kenapa, Mas?" aku bingung.


"Kamu polos banget sih, Sa! Temenmu itu suka sama kamu," jelas Mas Rud.


Aku benar-benar terkejut dengan penjelasan mas Rud. Akupun mencerna setiap kalimat yang sudah diutarakannya padaku. Aku mulai merasakan kebenaran dari setiap ucapannya.

__ADS_1


"Kita bayar dulu buku yang aku beli, nanti aku jelasin," putus Mas Rud.


Aku menyetujui keputusannya tanpa banyak bertanya lagi. Senyum yang mulai memudar itu, menunjukkan bahwa ada salah yang harus segara ku perbaiki. Setelah melewati pintu keluar, aku menangkap senyum Mas Rud menyapa security yang tadi ku bicarakan namun belum tuntas ku jelaskan. Dan ini pertanda bahwa Mas Rud akan segera meminta penjelasan dariku.


__ADS_2