Tentang Hati

Tentang Hati
Wajib Dan Sunah


__ADS_3

Dunia baru yang kugeluti, seolah melahirkanku kembali sebagai seorang Rosa yang penuh semangat dan selalu positif thinking. Melupakan segala kegalauan karena Tya dan menikmati kehamilan yang tentu saja berteman dengan morning sickness. Hanya saja, sepertinya baby yang ada di rahimku ini mendukung penuh kegiatanku. Sama sekali gak rewel.


"Nanti, kita ke dokter, ya! Periksa kehamilan sekalian konsultasi masalah umrah."


Kuacungkan ibu jari sebagai ganti kalimat OK.


"Hari ini, Mas mewajibkan kamu libur menulis."


Kulukiskan senyum penuh godaan. "Ada wajib, biasanya lebih afdol kalau dibarengin dengan yang sunah."


"Nanti malam," ucap Dion sambil mencuri sebuah kecupan dibibirku dan melangkah ke dapur.


"Pagi juga bisa," godaku sambil setengah berteriak.


"Iya, double up-lah." Dion membalas dari dapur.


Kulangkahkan kaki menyusulnya. Melihatnya sedang berdiri di depan kompor, langsung kumendekat dan melingkarkan lengan. Memeluknya dari belakang seperti yang sering kusaksikan di drama korea.


"Sayang, bikin apa?"


"Penambah tenaga. Biar kuat siang malam."


Kupukul paha Dion dengan kesal. Memang aku yang mulai menggoda, tetapi dia terpancing dan berbalik mengail lagi tanpa henti. Terus-terusan memutar kata hingga membuatku merona.


"Mas, nanti jam berapa kita berangkat?"


"Kita mendapatkan nomor antrean kelima, jadi berangkat jam sepuluh, aja."


Masih ada waktu dua jam lebih untuk bersantai. Hari Sabtu jalanan akan sedikit lebih lengang, apalagi pada waktu pagi sebelum tengah hari. Selain itu, jarak apartemen dan rumah sakit juga tak terlalu jauh, hanya membutuhkan lima belas menit waktu tempuh.


"Mau beribadah sunah, sekarang?" goda Dion sembari memindahkan nasi gorengnya ke piring. Memberikan sedikit garnish untuk mempercantik tampilan.


"Makan ini, dulu!" ucapku sambil mengambil satu piring dan membawanya ke depan televisi.


Tanpa menunggu Dion yang masih menyiapkan dua gelas air putih, kumulai makan lebih dulu. Menikmati hasil masakannya yang selalu lezat di lidahku. Bahkan ini adalah makanan ternikmat kedua setelah hasil racikan tangan Mama. Melewati makanan hasil olahanku yang entah berada pada level keberapa. Yang jelas disalip jauh oleh Abang Aryan. Karena dia berada di urutan ketiga.

__ADS_1


"Mas, masakanmu enak. Harusnya jadi chef bukan arsitek," celetukku setelah makanan di piringku tinggal beberapa sendok lagi.


"Keahlianku memasak hanya untuk memanjakanmu, Sayang," gombal Dion sambil tersenyum menggoda.


Merona lagi pipiku. Selalu saja, suamiku itu berhasil membuatku melayang tinggi. Dibuai bahagia hanya dengan cara sederhana. Mulut manis, tapi tidak berbisa. Hanya sedikit menggigit, tanpa meninggalkan luka tapi rasanya selalu ada.


"Mas, pinter banget bersilat lidah."


Pujian berbalut ejekan itu sengaja kulayangkan. Menggodanya membuatku semakin menemukan makna hidup. Bercanda bersamanya adalah kebahagiaan yang tak terkira. Pantas saja kemarin Dion merindukan waktu senggangku. Pasti ia ingin menghabiskan waktu berdua dalam canda seperti ini.


"Kalau aku gak pinter bersilat lidah, mana mungkin kamu akan ketagihan dengan ciuman yang kuberikan?" ujar Dion dengan senyum smirknya.


"Mana buktinya?" ejekku.


Spontan, Dion meraih tengkukku dan memberikan sentuhan lembut di bibirku. Bermain sedikit dengan kekenyalan yang mengganjal dan menunjukkan permainan silat lidah yang tadi dia sombongkan. Memasang kuda-kuda hingga siap meliar dengan berbagai gaya.


"Sunah pagi,"


🏥🏥🏥🏥🏥


"Sayang, semoga proses melahirkanmu nanti dilancarkan, ya."


"Aamiin."


"Jangan takut! Aku akan selalu berada di sampingmu, Sayang."


"Aku tidak pernah takut, Mas. Apalagi untuk melahirkan buah hati kita. Dia adalah cinta yang berwujud manusia."


Dion menggenggam erat jemariku. "Terimakasih, kamu telah bersusah payah untuk menjadi seorang ibu, Sayang."


"Sepertinya, kalimat itu cocoknya Mas ucapkan nanti setelah aku melahirkan. Sekarang, perjuanganku baru dimulai, Sayang."


"Mas menghargai sekecil apapun perjuangan yang kamu lakukan, Sayang."


Terharu, mendengar kata-kata Dion rasanya hatiku merasa sangat damai. Dicintai dengan begitu dalam adalah keberuntungan yang tak bisa aku sangkal. Memiliki lelaki sepertinya hidupku terasa sempurna. Tiada hari tanpa kasih sayang dan kata pujian.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, suster mulai keluar ruangan dokter dan memanggil nama pemilik antrean pertama. Sayangnya, yang dicari tidak ada. Aku bersyukur, berkurang waktu yang aku gunakan untuk menunggu. Berharap nomor dua pun sama. Namun sayangnya, harapanku meleset. Sepasang suami istri dan anak lelaki yang berusia sekitar tiga tahunan bergegas masuk dalam ruang praktek dokter.


"Mas, lucu banget ya?" ucapku sambil melekatkan pandang pada anak lelaki kecil itu.


"Hm, tapi Dion junior akan lebih lucu pastinya. Bayangkan, Papanya saja selucu ini," timpal Dion sambil menampakkan ekspresi yang dibuat sangat imut.


"Aku bayangin geli, Mas. Kalau dia benar-benar seperti kamu. Di ruang bayi, dia gombalin bayi cantik lainnya. Terus jatuh cinta, nanti pas udah dewasa, dia kejar tuh cewek sampai jodoh jatuh di tangan mereka."


"Bukankah itu bagus? Melebihi rekor Papanya."


Kucubit perut Dion. Merasa gemas dengan kalimatnya yang sembarangan. "Jangan menularkan kebucinan, Sayang."


"Kan dia anakku, juga. Tentu saja akan ada faktor genetik yang menurun, dan itu harus kebucinan," kekeh Dion dengan senyum smirk.


"Dia juga anakku, harus menuruni sifatku juga."


Dion mencubit hidungku gemas. "Turunkan keindahan parasmu, jangan ketusmu, ya?


Kupukul paha Dion kemudian. Kalimatnya semakin bikin kesal. Kami terus saja bercanda hingga terdengar suara namaku disebut perawat. Menunggu itu ternyata tidak terasa lama jika ada seseorang yang kita cinta. Pantaslah Dion bisa bertahan puluhan tahun. Selama di samping wanita yang diinginkan, kurasa waktu akan terasa indah meskipun penolakan itu menyakitkan.


👩‍⚕️👩‍⚕️👩‍⚕️👩‍⚕️👩‍⚕️


Dokter Sitta mengulurkan senyum begitu melihat hasil catatanku bulan lalu dan membandingkan dengan yang sekarang. Membuatku merasa lebih tenang karena sepertinya hasil pemeriksaanku menunjukkan tanda yang baik.


"Alhamdulillah, perkembangannya baik. Semua sesuai dengan umurnya. Apakah ada keluhan yang ibu rasakan?" tanya dokter ramah itu seraya menyiapkan kertas untuk menuliskan resep.


Kehamilan pertamaku ini rasanya sangat dimudahkan. Morning sickness sangat wajar, sekadar mual saat gosok gigi. Terkadang muntah karena aroma masakan yang tak bisa kutolerir. Hanya itu.


"Semakin manja dengan saya, Dok," ujar Dion begitu aku tak segera memberikan jawaban.


Dokter Sitta tersenyum mendengar balasan kalimat yang Dion ucapkan. "Untuk umrah, Insyallah aman. Kondisi bayi dan ibunya sehat semua. Nanti sebelum berangkat, harus kembali konsultasi dan mendapatkan surat izin untuk penerbangan jarak jauh. Mengingat tidak ada riwayat buruk selama kehamilan seperti pendarahan, diabetes, rasa mual dan muntah pada pagi hari yang berlebihan dan juga keguguran, maka Insyaallah akan dimudahkan. Terlebih perjalanan kalian sudah memasuki trimester kedua, sesuai anjuran dokter untuk waktu tepat umrah bagi ibu hamil."


"Alhamdulillah," jawabku dan Dion serentak.


"Semoga, perjalanan Bapak, Ibu dan calon adik bayi menjadi perjalanan yang penuh berkah."

__ADS_1


"Aamiin."


__ADS_2