Tentang Hati

Tentang Hati
Jakarta, Aku Kembali


__ADS_3

Jogja yang memberi kenangan penuh warna akhirnya aku tinggalkan. Pesawat yang kutumpangi telah membawaku kembali ke Jakarta. Tempat dimana cintaku akan diuji kembali. Hati yang sudah memilih semoga akan selalu bisa menjaga rasa. Bersamanya adalah takdir terbaik yang Tuhan gariskan untukku.


"Kalau kamu memang belum siap dihujat dengan pernikahan kita, aku ikhlas jika kamu memintaku merahasiakan ini sampai kita mencatatkan secara resmi," ujar Dion saat kami sudah sampai di apartemen dan beristirahat sejenak.


"Tidak, Di. Kamu tidak perlu melakukan itu. Tidak ada yang salah dengan pernikahan kita," balasku dengan menggenggam jemarinya.


"Orang-orang pasti akan menggunjingkanmu karena mau aku nikahin secara siri," terangnya.


"Biarkan saja, orang kan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi," terangku kembali.


"Kamu tidak khawatir kalau aku meninggalkanmu begitu saja?" kuliknya lagi dan lagi.


"Aku sudah pernah ditinggalkan dengan menyakitkan, jika kamu pun pada akhirnya meninggalkanku, mungkin aku memang pantas untuk ditinggalkan," jelasku meluncur begitu saja.


Dion membelai rambutku. "Selama aku bernyawa, aku akan selalu ada di sampingmu." Dia kecup keningku dengan penuh rasa. Melepaskan bibirnya dan beralih menatapku dengan lembut. Dia singkirkan helaian rambut yang bermain liar di wajahku. "Kecuali kamu yang meninggalkanku," sambung Dion.


Kuhamburkan diri ke dalam pelukannya. "Kecuali kamu yang meninggalkanku, maka aku akan berusaha sekuat jiwa ragaku untuk membuatmu kembali padaku."


"Kenapa?"


"Karena kamu suamiku," paparku.


"Suami yang belum menunaikan kewajibannya," ingatnya dengan senyum menggoda.


"Tunaikan, Sayang. Aku bisa menerima dalam bentuk apapun kok, cash atau transferan," terangku dengan menaikturunkan kedua belah alisku.


"Aku belum gajian, Sayang. Sementara makan seadanya aja, ya? Kayaknya di dapur ada kecap sama krupuk, deh," gurau Dion dengan mendatarkan ekspresinya.


"Kucing aja sekarang lauknya ikan, masa aku makan pakai kecap sama krupuk," gerutuku.


Dion mengacak puncak kepalaku. "Suamimu ini bukan anak sultan, Sayang. Mau nikah di KUA aja belum mampu, kita harus berhemat."


"Apakah aku salah pilih suami? Seharusnya aku matrealistis," godaku sambil mengerlingkan mata ke arahnya.


"Kita masih nikah siri dan aku belum juga menyentuhmu, kamu masih bisa mundur," terang Dion santai.


Kugenggam jemarinya. "Pernikahan itu suci, Sayang. Aku tidak akan main-main. Takdir yang telah dituliskan untukku adalah jalan bahagia terbaikku, dan kamulah bahagiaku."


"Kamu juga bahagiaku, kita akan bahagia berdua, bertiga, berempat, berlima, beren ...," ucapan Dion yang kupotong sebelum sampai pada ujungnya.


"Berempat," tandasku


"Berlima," tambahnya satu lagi.


"Berempat," kekehku sambil melotot.

__ADS_1


"Berenam," tambahnya dua lagi.


"Berempat dariku, kalau mau berenam, yang dua hamil aja sendiri," saranku yang dihadiahi tawa ngakaknya.


"Cie ... yang siap hamil. Kapan mau aku hamilin?" godanya keterusan.


Mukaku memerah menahan malu. Mendengar kata hamil dan dihamili membuatku merinding. Rasanya begitu asing kata itu di telingaku. Hingga mengalirkan hawa dingin yang menyeruak saat terdengar di indra pendengaranku.


"Malu-malu, lagi," goda Dion kesekian kalinya yang makin membuatku merona.


"Mana keagresifanmu yang dulu itu, aku kangen," godanya lagi mengungkit masa lalu.


"Jangan memutar balikkan fakta, dong! Namanya fitnah, itu," paparku seraya beranjak berdiri.


"Sesama penganut agresifisme harus bersatu," ucapnya dengan senyum menggoda.


"Kamu punya mi instan, gak?" tanyaku setelah bisa melepaskan diri darinya dan segera menuju dapur untuk menghindari kalimat godaan berikutnya.


"Cari dong, Sayang! Biar menguasai seluk beluk rumah barumu," jawab Dion yang tengah santai menikmati acara televisi.


Benar, aku harus menguasai dan memperdalam banyak ilmu sekarang. Mulai ilmu tata letak sampai melakukan riset untuk menemukan barang yang biasanya dilupakan, kunci misalnya.


*****


"Loh, kok belok sini? Rumah Mama lurus di depan' tuh," tanyaku setelah Dion membelokkan mobilnya ke kiri sebelum sampai di rumah Mama.


"Mau sowan ke Papa dulu," jujur Dion.


Spontan memutar tubuhku ke arahnya. "Kok, gak bilang dari tadi?"


"Aku mau izin Papa buat menyentuh putri kesayangannya," terang Dion dengan senyum nakalnya.


Tepat setelah Dion mengucapkan kalimatnya kami sampai di TPU dimana Almarhum Papa dimakamkan. Membeli bunga pada tukang kembang yang menjajakan dagangannya di sepanjang jalan area pemakaman tersebut.


"Kok, kamu duluan, emang tahu makam Papa yang mana?" aku penasaran dengan Dion yang berjalan mendahuluiku.


"Tahulah, aku sering kesini sama Mama, kok," jelasnya yang sama sekali tak mengetahui fakta itu.


Main belakang yang sungguh manis. Tanpa kutahu, ternyata Dion sering mengunjungi Papa di peristirahatan terakhirnya. Mengapa semakin aku mengenalnya, dia semakin membuatku jatuh cinta? Dan rasanya aku semakin menyesal karena telah begitu lama mengabaikannya.


Dion menggandeng tanganku, dan membimbingku duduk bersandingan. Mulai memenuhi pusaranya dengan taburan bunga. Memanjatkan doa untuk Papa dan mulai berbicara seolah Papa bisa mendengarnya. "Pa, Dion sudah menepati janji untuk membawa Rosa ke hadapan Papa sebagai istri Dion. Sekarang, Dion yang akan mengambil alih tanggung jawab untuk menjaga putri kesayangan, Papa."


Mendengar yang Dion ucapkan, airmataku meleleh begitu saja. Aku benar-benar tak menyangka jika lelakiku ini sudah melakukan banyak hal yang tidak kuketahui. Bukan hanya mendekatiku namun juga berusaha mendekatkan diri dengan seluruh keluargaku termasuk almarhum Papa yang sudah tiada.


"Pa, Papa bisa lega sekarang. Papa mempunyai pengganti yang mencintai Rosa tanpa Rosa tahu ternyata cintanya jauh dari yang Rosa bayangkan. Suami Rosa ini pencinta yang sempurna, Pa."

__ADS_1


Dion mengeratkan tautan jemarinya. Mengusap airmata yang mengalir deras di pipiku. "Jangan menangis di hadapan Papa! Kamu mau Papa mikir kalau kamu tidak bahagia?" ucapnya seraya mengelus rambut di puncak kepalaku.


Kupegang nisan Papa dan kembali berbicara dengannya. "Ini airmata bahagia, Pa. Rosa beruntung dipertemukan dan sekarang disatukan dengan Mas Dion. Dia mencintai Rosa dengan segenap jiwa dan raganya. Sebagamana Papa ingin selalu menjaga Rosa, begitulah yang Mas Dion lakukan selama ini untuk Rosa. Dia benar-benar seperti Papa, Rosa mencintainya Pa."


Kupandang wajah Dion yang sedang tersenyum padaku. Kubalas senyumannya, menampakkan bahagia diatas pusara Papa. Bahagia yang terpancar dari dasar hati dan bukan sekadar sandiwara. Memilikinya ternyata kebahagiaan yang tak pernah kuanggarkan sebelumnya.


*****


"Bawa yang bener-bener kamu butuhin, aja, Yang," tutur Dion agar kami tidak menghabiskan waktu.


"Iya," jawabku seraya memilih barang-barang yang akan aku bawa.


Dion memintaku untuk membawa baju secukupnya. Biar saja yang lain tetap di sini agar kalau sewaktu-waktu main kesini tidak perlu repot membawa baju ganti lagi. Bahkan baju Dion yang disana sebagian dibawa kesini untuk baju ganti.


"Akhirnya, selesai" ucapku lega sambil menjatuhkan diri di ranjang empukku.


Dion duduk di ranjang, menatapku dengan senyumnya yang tak pernah berhenti membuatku terkagum. "Capek?"


"Kangen malas-malasan di sini," balasku dengan menerawangkan pikiranku.


Menghadirkan kisah-kisah yang pernah kulewati di kamar ini. Tempat ternyamanku untuk menghabiskan waktu. Saat bahagia, kala tangis menjadi cerita atau pun waktu kemalasan datang menyapa. Ya ... kamar inilah tempatku berbagi segala rasa. Dan mulai kini, aku akan meninggalkannya.


"Ya sudah, nikmati nyantai dulu di sini. Sehabis magrib kita baru pulang. Lumayan, masih ada tiga jam lagi," saran Dion seraya ikut membaringkan tubuhnya di sampingku.


Tempat ini selalu bisa membuatku seperti candu. Kangen dengan kenyamanan yang tak kutemukan di tempat lain. Kumiringkan badanku, menghadap ke arah Dion yang sedang terlent*ng dengan mata mulai terpejam.


"Kecapekan, ya? Baru rebahan udah tidur, aja," gumam kecilku dengan memainkan jemariku di pipinya.


Kupandang wajah Dion, ada segurat rasa bersalah yang bergelayut di hatiku. Mengetahui segala hal yang dia lakukan dibelakangku untuk keluargaku, membuatku merasa bersalah. Terlalu banyak waktu yang kuhabiskan untuk menyakitinya padahal dia selalu berjuang untuk membahagiakanku. "Di, maafkan aku."


"Maaf, untuk apa?" tanyanya yang tiba-tiba membuka mata.


Aku menjadi kikuk. Ketahuan sedang memainkan pipinya dan berbicara sendiri. Meminta maaf untuk sesuatu yang enggan aku ceritakan. Perlahan ku turunkan sentuhan tanganku tetapi di tahannya.


"Aku akan tertidur lagi dan bermainlah sesukamu di tubuhku. Kurasa kamu malu kalau aku sedang terjaga," tutur Dion dengan menyunggingkan senyum penuh godaan.


Tetap kuturunkan tanganku namun malah digenggamnya dan dia letakkan di dadanya. Bisa kurasakan detak jantungnya yang awalnya normal namun kemudian semakin berdetak lebih cepat, cepat dan semakin cepat. Kupandang wajahnya, ingin melihat ekspresi dari seseorang yg jantungnya terpacu. Normal! Tak ada ekspresi mencurigakan yang bisa kutemukan di wajahnya.


Sampai tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah kelembutan yang bermain di bibir mungilku. Kudapati wajahnya yang tak berjarak sedang berada di atas wajahku. Memandang mataku dengan lembut, selembut ciuman yang ia mainkan di dalam mulutku. Meliuk dengan begitu indah, menyapu semua ruang dan seisinya. Sesapan dan sedikit gigitan manja serta gerakan-gerakan gemulai membuatku terhipnotis dan mulai membalas semua yang dilakukannya. Bertarung kelembutan dan kadang sedikit nakal dengan sebuah gigitan kecil.


Terbuai dengan sensasi rasa yang begitu lama ingin terpuaskan hingga tidak memperdulikan sisa oksigen yang semakin menipis. Napas yang semakin tersengal akhirnya memaksa untuk saling melepaskan.


Geliat rasa yang masih menggelora, kembali menarik hasrat yang belum sepenuhnya tersalurkan untuk bergelut menikmatinya. Sebuah kecupan kecil merangsek mendekati bibir yang basah oleh pergulatan manis yang mendebarkan.


"Ini baru DP, Sayang. To be Continue," ucapnya lirih dengan senyuman nakal dan kerlingan manja.

__ADS_1


__ADS_2