Tentang Hati

Tentang Hati
Cerita Di Ranjang


__ADS_3

Air mata dan kesenduan yang tadi mewarnai mungkin masih berlanjut diantara kami. Dengan cerita yang bertema sama hanya saja dengan subjek yang berbeda. Jika tadi Mas Rud menjadi fokus dari perasaan yang kami rasakan, sekarang kami saling bertukar cerita tentang subjek yang bernama Dion dan Rosa.


Setting latar yang kami pilih pun berganti. Bukan lagi karpet berbulu di depan televisi namun beralih ke ranjang nan lapang di kamar. Bergumul di balik selimut dalam kehangatan pelukan. Tubuh yang saling berhadapan dengan jarak tak lebih dari sejengkal membuat masing-masing kami bisa merasakan deru napas yang memacu. Tatapan mata kami yang saling beradu, melukiskan cinta bahwa hanya kamulah di manik indahku.


"Apa yang akan kamu lakukan, jika kamu memilih meninggalkanku?" tanyaku sambil memainkan telunjukku di bibirnya.


"Fokus bekerja," jawab Dion dengan menggigit kecil telunjukku di akhir kalimatnya.


"Sakit," pekikku seraya menarik telunjukku tapi buru-buru ditiup Dion sebelum aku meniupnya sendiri.


Kuulaskan senyum melihat perlakuan manisnya. Hal seperti ini kupikir hanya ada di film-film ternyata aku bisa mengalaminya juga. Pantas saja jika ia takut kehilanganku karena baginya aku adalah cinta yang membahagiakan hidupnya. Menjagaku adalah menjaga agar nyawanya tetap bersarang di raganya.


"Aku memilih sakit dan menjadi bujang lapuk daripada harus menggantikanmu dengan wanita lain di hatiku," tuturnya yang membuatku trenyuh.


"Bucinmu akut, Sayang," godaku seraya menatapnya lembut.


"Semua itu karenamu," ucap Dion berganti memainkan telunjuknya di bibirku.


"Memang aku terlalu cantik untuk tak dilirik mata lelaki," kembali aku menggodanya.


"Kalau kamu terus menggodaku, aku gak tanggung jawab ya kalau telunjuk ini akan berganti dengan yang lain," ucapnya dengan senyum smirk dan semakin nakal memainkan telunjuknya di bibirku.


"Sekarang hanya aku yang boleh melirikmu," tatapnya lembut tetapi sangat dalam.


"Dan aku pun hanya akan melihatmu," balasku dengan tatapan yang sama.


Dua manik mata yang saling bertemu itu melahirkan getaran yang membuat darah berdesir. Sebuah rasa yang bernama cinta, membuncah dan meluber memenuhi setiap pori di tubuh. Menjadikan raga sebagai penjara bagi rasa yang dimiliki sang pencinta.


"Kenapa gak dari dulu kamu melihatku?" Dion menelisik alasan dibalik penolakanku atas perjuangannya puluhan tahun ini.


"Mungkin caramu mendekatiku salah," jawabku mengingat-ingat bagaimana dulu dia selalu mengikuti kemana pun aku pergi.


"Kamu orang yang gak bisa dipaksa dan aku adalah pemaksa, begitukah?" tebak Dion dengan senyumnya.

__ADS_1


"Iya, tapi kok kamu tahan puluhan tahun memaksa padahal aku cuekin?" tanyaku penasaran.


Cup!


Dion memberikan kecupan kecil di bibirku. "Karena, ini."


"Apa?" aku bingung dengan penjelasannya.


Cup!


Sekali lagi Dion mengecupku. Sentuhan yang kedua itu membuatku mulai bisa menerka teka-teki jawaban yang ia berikan. "Maksudmu, bibirku yang membuatmu jatuh cinta?"


"Aku gak semesum itu, Sayang. Lagian, anak SMP mana kenal ini?" jelas Dion yang diakhiri dengan sebuah kecupan kecil yang ketiga.


"Lalu, maksudnya bibir?" penasaranku dengan mengerucutkan bibir.


"Ini," Dion memainkan telunjuknya dibibir manyunku.


Aku dilanda penasaran tetapi Dion malah menanggapinya dengan santai. Gerutuku dalam hati makin memanjangkan kemanyunan bibirku. Kugeser tubuhku dan memilih untuk memunggunginya. Berharap Dion akan merayuku untuk kembali menghadapnya. Namun, beberapa detik berganti, tak ada kata manisnya yang memintaku untuk kembali memutar badan.


Kesebalanku akhirnya tak dapat lagi kubendung. Aku kembali membalikkan badan untuk beradu napas dalam jarak dekat dan malah super merapat. Kudapati wajahnya yang mengumbar senyum. "Ah, kamu menyebalkan! Aku sedang marah, kamu diem, aja. Rayu, kek!" omelku tanpa henti.


"Aku kangen omelanmu, Sayang. Karena sebenarnya yang selalu membuatku jatuh cinta padamu adalah keketusanmu itu," akunya kembali menatapku dengan lembut seraya merapikan beberapa helai rambut yang mengganggu penglihatanku.


"Masa?" ejekku seolah tak memercayai semua pengakuannya.


"Iya, Sayang. Kalau kamu sedang marah itu terlihat sangat lucu di mataku. Membuatku gemas dan ingin menghentikan ocehanmu itu dengan bibirku," ucapnya dengan senyum smirk.


"Tuh kan, kamu mesum dari dulu," gerutuku sebal seraya memunggunginya kembali.


Jika tadi ia mengabaikanku, sekarang ia malah memperlakukanku sangat manis. Begitu punggungku terlihat di matanya, ia lantas menyibak rambut yang menutupi bahuku. Ia serahkan dagunya untuk bermain di bagian tubuhku yang terbuka itu. Baju tidurku yang memang hanya dikaitkan dengan tali kecil, memudahkannya untuk memberikan sentuhan pada kulit lembutku. Membuat aku dialiri gairah yang mungkin juga sudah menjangkitinya.


Sementara itu, tubuhnya yang tak menyisakan jarak dengan tubuhku, membuat lingkaran lengan kokohnya di perutku semakin erat. Rasa nyaman berada di pelukan orang yang tersayang. Beberapa waktu bergulir begitu saja. Tak ada kata yang terucap, hanya napas hangat Dion menyapu permukaan belakang bahuku. Mengalirkan segelintir rasa yang ingin disampaikan pada sang pemiliknya.

__ADS_1


"Yang, waktu aku meninggalkanmu itu, apakah pernah ada sesal di hatimu?" tanya Dion masih dengan mempertahankan posisinya.


"Aku tak terbiasa tanpamu," jelasku lirih.


"Berarti tanpa kamu sadari, kamu sudah tergantung dengan kehadiranku, Yang," kudengar ada tawa lirih dari kalimat yang diutarakan Dion.


"Hm, Oh ya ... Ara?" sebutku untuk sebuah nama wanita yang dulu membuatku cemburu karena Dion mengakuinya sebagai pacar saat wisuda.


"Apakah waktu itu kamu percaya jika Ara adalah pacarku?" tanya Dion dengan menciumi bahu belakangku.


"Sepertinya aku percaya, karena aku merasakan cemburu waktu itu," akuku yang belum pernah kuceritakan padanya sebelumnya.


"Aku tahu dan aku bahagia waktu itu bisa membuatmu cemburu," Dion juga mengakui perasaannya.


"Tau begitu, kenapa kamu tetap meninggalkanku?" selidikku.


"Aku hanya ingin membuatmu sadar kalau sebenarnya kehadiranku itu berharga. Tahunya kamu malah kecantol sama manajer gantengmu, itu," cerita Dion yang membuatku mengingat masa itu.


Masa dimana aku tidak tahu bagaimana awalnya hingga akhirnya aku bisa jatuh cinta pada Mas Rud. Memang semuanya terjadi begitu cepat. Tanpa aku sadari jika aku telah melupakan kepergian Dion dan menikmati hari bersamanya.


"Lantas, apa yang kamu lakukan setelah tahu aku berpacaran dengannya, Di?" tiba-tiba panggilan itu lolos begitu saja dari mulutku, padahal beberapa waktu ini aku sudah bisa menggantinya dengan panggilan hormat, Mas.


"Aku memastikan apakah dia lelaki yang pantas untukmu. Waktu tiga bulan aku habiskan untuk selalu memerhatikan kalian. Merasa cukup, karena kulihat kamu bahagia dengan kehadirannya. Aku mau pamit waktu itu, tapi malah menemukanmu pingsan di depan kantor," cerita Dion panjang lebar.


Perlahan aku memutar kembali tubuhku untuk menghadapnya. "Makanya waktu itu, kamu yang kulihat pertama kali ketika aku siuman di rumah sakit?"


Dion merapikan kembali rambutku yang berantakan karena berpindah posisi. "Bukankah aku datang pada saat yang tepat?"


Senyum tulus Dion yang tersungging bersama kalimat terakhirnya benar-benar membuatku tak bisa lagi berkata apa-apa. Lelaki ini sungguh memiliki cinta yang luar biasa. Penolakanku yang tak mengenal rasa belas kasihan sama sekali tak menumbuhkan dendam di hatinya. Ia justru ingin memastikan kebahagiaanku bersama lelaki lain pilihanku.


Dion mengecup keningku. Membuyarkan khayalan yang menerawang, mengusik luka yang membawanya kembali ke sisiku hingga detik ini.


Kutelusupkan kepalaku di dada bidangnya. Sementara indra perabaku, mengusap permukaan kulitnya itu. Sebuah tangan melingkupi tubuh belakangku. Mengusap punggung yang tidak terhalang kain dari pakaian yang kukenakan. Kecupan bertubi-tubi mendarat di puncak kepalaku. Suara yang penuh kelembutan, merdu di telingaku. "Aku, mencintaimu, Sayangku."

__ADS_1


__ADS_2