Tentang Hati

Tentang Hati
Season Dua Cinta Dion dan Rosa


__ADS_3

Hai, reader setia Tentang Hati! Aldekha Depe kembali membawa season dua. Apakah kalian ingin membacanya, hm? Terimakasih jika kalian masih merindukan Dion dan hati malaikatnya. Jangan lupa like, komen dan vote, ya!


Selamat Membaca!


🍥🍥🍥🍥🍥


Ruangan bernuansa warna merah jambu dan putih itu kini menjadi saksi dua insan yang tersapu kelu dalam kedalaman sebuah rasa. Aku dan pencinta berhati malaikatku sedang terpaku dalam lembutnya tatapan penuh cinta. Di sini, kamar pengantin kami. Seolah pasangan suami istri yang akan melewati malam pertama, kami dibelai oleh desiran perasaan yang berteman degupan jantung yang kian membumbung.


"Inikah malam pertama di season kedua perjalanan cinta kita, Sayang?" tanyaku tanpa melepaskan tatapan dari manik hitam pemilik hatiku.


Dion meletakkan jemarinya di dadaku. "Apakah di sini ada getar yang sedang menyasar? Sama seperti rasaku yang terpatri di sini," tunjuknya kemudian pada dada yang masih bersembunyi di balik kemeja putihnya.


"Bukan hanya di dada, tapi seluruh badanku rasanya ikut bersuara, mendamba untuk kamu cumbu dengan begitu menggebu," godaku sangat nakal.


Malam ini, entah kenapa Rosa yang selalu dikejar justru sangat liar dan binal. Tanpa ragu merayu dengan tak tahu malu. Menepikan status sebagai wanita terhormat demi menjerat lelaki yang kini sudah sah menjadi suami. Bukan sekadar pasangan siri tapi juga resmi.


Dion mendekatkan wajahnya pada wajahku yang berdiam manis di pangkuannya. "Apakah ini sudah cukup?" tanyanya seraya mengecup dengan sangat lembut benda kenyalku yang berwarna merah muda.


"Lagi," rengekku seraya melingkarkan kedua lengan di belakang lehernya.


Bukannya memuaskan hasratku, Dion justru membenarkan helaian rambut yang bermain di wajahku. Menghalangi kecupan yang akan kembali ia sentuhkan pada tempat yang sama seperti sebelumnya. Belum jua melepaskan tatapan, ia menarik pinggangku agar semakin merapat ke tubuhnya.


Tanpa aba-aba dia menarik tengkukku seraya menyesap dengan penuh perasaan. Dua lipatan bibirku mulai membuka katub dan membiarkan lidahnya bergerilya mencari pertautan agar tak bertarung seorang diri. Permainan ini sudah diawali dengan begitu panas. Apakah akan semakin ganas?"


Napas kami yang tengah terengah-engah, semakin melecutkan gejolak untuk bermain tanpa henti. Birahi seperti dilukai dan hanya luka yang samalah yang akan mampu mengobatinya. Ya ... permainan ini harus diteruskan kalau tak ingin diserang kekalutan penyelesaian sendirian tanpa teman.


Serbuan hasrat yang datang dengan pasukan keparat terus meronta untuk dimanja. Sapuan demi sapuan kelembutan yang beralih menjadi penuh tuntutan untuk dihangatkan dan dilanjutkan dengan erangan yang mengharuskan dituntaskan.


Setiap inci air muka yang tak henti di belai dengan kecupan-kecupan semakin membuncahkan perasaan. Desiran yang makin memacu membuatku tak bisa menahan untuk menunggu dia yang memanjakan. Inisiatifku untuk memulai serangan kuawali dengan sebuah bisikan menggoda di telinganya.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu gak senakal biasanya? Aku rindu."


Tanganku mulai meraih kancing kemeja paling atasnya. Belum sepenuhnya terbuka, sebuah ketukan di pintu mengganggu misi nakalku. Tak ku acuhkan, tapi gangguan itu semakin memekakkan telinga. Helaan napas kasarku dibalas senyum oleh Dion. Aku pun memilih beringsut dari empuk pahanya.


Sebuah kecupan ia sentuhkan pada bibirku yang mengerucut sempurna. "Nanti kita lanjutkan."


Dalam belenggu rasa kesal, aku mengikuti Dion ke arah pintu. Bajuku yang sempat berantakan sudah aku rapikan. Gerutuku semakin menderu saat melihat sosok di balik pintu.


"Mas Ren, ngapain sih? Manjakan Mayamu tuh, kenapa mengganggu kami yang lagi bermanja?" ucapku tanpa malu.


"Lihat, Sayang! Rosa udah kecanduan permainan Dion," goda Mas Rendra selaras dengan gelak tawanya yang juga keluar dari mulut Maya yang berada di sampingnya.


"Suamiku terlalu sempurna untuk kuabaikan di malam pertama," pamerku sambil memeluk Dion dari belakang. Menyenderkan kepala di punggung bidangnya.


"Ada apa?" tanya Dion dengan tenang tanpa terganggu oleh gerutu sebalku pada sepupunya.


"Gak ada apa-apa, sih. Sengaja aja mengganggu kalian. Dan ternyata berhasil," ujar Mas Rendra yang terdengar sangat menyebalkan di telingaku.


"Kalau ada perlu kirim aja pakai surat, ya. Masukkan lewat bawah pintu," timpal Dion dengan segera menutup pintu.


Masih dengam senyum sempurna, Dion memutar tubuhnya. Badannya yang jangkung mengungkungku dalam pelukan. Hangat dan membuatku tak ingin dilepas.


"Mas," panggilku lembut bersamaan dengan suara ketukan yang kembali terdengar.


"Mas," panggilku kedua bermaksud memintanya mengabaikan si penganggu yang kubaca adalah makhluk yang sama.


"Hm," balasnya sangat santai.


"Gak usah dibuka!" pintaku yang lagi-lagi bersamaan dengan gedoran di pintu.

__ADS_1


Dia cubit hidungku dengan gemas. "Malam masih panjang, Sayang. Tidak malam ini, masih ada ribuan malam berikutnya. Setiap napas yang kuhela ada untuk berada di dekatmu. Membahagiakanmu dengan segala kesempurnaanku."


Dia lepaskan pelukannya dan mengusap pipiku mesra. Kecupan manis pun tak luput dari bibirnya. Sentuhan kecil sebelum dia memilih untuk kembali membuka pintu. Seorang lelaki yang mendaulatkan diri sebagai Abang sulung kami, berdiri dengan senyum tanpa dosa.


"Kalian lagi ikutan challenge ya? Ganggu malam pengantin," sindirku tanpa ba-bi-bu.


"Ini buat kalian!" ucap Pak Aryan sambil menyodorkan segelas minuman yang berbau seperti jamu.


"Ramuan spesial dari Aryan untuk pengantin baru. Biar aku cepet dipanggil uncle," candanya dengan mengerlingkam mata.


Aku dan Dion saling pandang. Seperti sedang menjadi kelinci percobaan, kami disatukan oleh telepati untuk balik mengerjai. Mata kami yang kompak memicing, kemudian tertuju pada satu titik, Abang Aryan yang tersayang.


"Abang," sapaku dengan suara mendayu.


Pak Aryan berganti mengernyitkan kening. Bingung dengan perubahan kelakuanku. Awalnya ketus penuh gerutu menjadi manis tapi menggigit. "Kamu mau apa?" tanyanya saat aku mengambil gelas ramuan dan mulai mendekatkan ke bibirnya.


"Cobain dulu, Bang! Kami gak mau jadi kelinci percobaan," ucapku seraya menempelkan bibir gelas pada bibir tipisnya.


Pak Aryan mengelak. "Kalau kamu mau jadi lawanku, tanpa kamu paksa aku akan meminumnya."


Kalimat Pak Aryan sedikit menyulut abi cemburu Dion. Dia menarikku menjauhi tubuh lelaki yang entah berstatus apa. Abang tapi pernah sayang, mungkin itu bisa menamainya. Atau mungkin malah Abang yang masih menyimpan sayang. Ah ... itu tak penting.


"Bawa minumanmu! Aku terlalu perkasa untuk Rosa. Kurasa minumanmu itu lebih cocok untukmu," perintah Dion sebelum kembali menutup pintunya.


Kutatap manik hitam milik kekasih halalku itu. Seberkas cemburu yang tadi sempat menampakkan biasnya kini telah memudar. Berganti dengan keteduhan yang sangat menenangkan. Kelembutan adalah sihir cinta dari pencinta sejatiku.


Pertautan mata kami, menjerembabkanku pada pesona. Seolah tertarik oleh putaran garis-garis yang membawaku pada satu titik di kejauhan sana, pesonanya. Menuntun kami untuk saling mendekat, terikat pada satu jerat, sebuah sentuhan kelembutan penuh gairah pada sesuatu yang kenyal di atas dagu.


Kemiringan sudut yang tepat, memudahkan kami untuk jatuh bersama dalam kenikmatan yang berawal dari hasrat untuk saling diikat. Benda kenyal kami saling mendekat dan semakin menghapuskan jarak. Mata mulai terpejam dan ...

__ADS_1


Kembali terdengar suara ketukan.


"Shit!"


__ADS_2