
Dimanakah aku berada kali ini? Dunia nyata atau alam mimpi? Aku merasa badanku sangat lemah, mataku terpejam, namun kulitku merasakan ada sentuhan dan genggaman. Rasanya begitu nyata, namun aku tak kuasa untuk melihatnya.
"Aku merindukan ceriamu dan ketusmu padaku,"
Suara seorang lelaki yang menggema di ruang dalam tubuhku. Namun tak mampu ku jelaskan seperti apa ruang itu. Apakah itu ruang pikirku atau ruang hatiku.
Aku juga bisa merasakan rambutku dibelainya. Pelan dan penuh kasih sayang. Sentuhan yang hangat dan membuatku nyaman. Seolah menuntun mataku untuk perlahan ku membukanya.
Mataku menemukan sosok itu.
"D-I-O-N," aku mengeja namanya.
Dia tersenyum begitu manis. Hingga aku terfokus pada wajahnya dan sejenak aku lupa mengapa dia ada disini bersamaku.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga," ucapnya sambil membenarkan rambutku yang jahil membelai wajahku.
Aku mengangkat tanganku ingin menepis tangannya. Aku merasa ini tak benar. Dia tidak boleh berlebihan perhatian padaku. Aku ingat bahwasanya aku bukan miliknya, aku milik orang lain.
"Jangan diangkat! Nanti darahnya naik!" ingatnya sambil menurunkan tanganku.
Dan sekelebat, ku melihat ada sebuah jarum infus berdiam di tanganku.
"Ini untuk mengembalikan cairan dalam tubuhmu," jelasnya.
__ADS_1
"Dimana pacarmu itu, hingga dia bisa membiarkanmu lemah seperti ini?" tanyanya, yang mengingatkanku jika sampai detik ini pacarku, Mas Rud belum menghubungiku.
Benar kata Dion, di mana pacarku sekarang ini?
"Mana HPku, Di?" pintaku pada Dion.
Dion mengambil sebuah HP dari tasku, yang terletak di meja dan menyerahkannya padaku.
Ku menyalakan data. WA ku sepi.
"Fokus dulu sama kesehatanmu," ucap Dion karena melihatku sedih setelah melihat HP.
"Makan yang banyak dan jangan kelebihan pikiran!" nasihat Dion.
Haist ... Pikiran apa ini?
Aku menolehkan pandanganku. Ada suatu ketakutan di hati terjauhku. Jika aku terus melihatnya, aku takut akan mengalami deja vu rasa.
"Kamu istirahat, ya! Aku mau ke mushola dulu," pamit Dion sambil mengusap rambut di puncak kepalaku.
Aku mengangguk. Ku pandangi punggung Dion yang segera menghilang di balik pintu.
"Mengapa saat aku begini, justru dia yang disini?" gumamku.
__ADS_1
*****
Kristy PoV
"Kris, WA mbakmu! Bilang kalau mama gak bisa nunggu di rumah sakit karena kurang sehat," suruh Mama padaku.
"Baik, Ma," jawabku.
Mama terlihat lemah. Wajahnya sedikit pucat dan matanya nampak lesu.
"Mama, jangan telat makan lagi! Kalau jadi sakit kan mama sendiri yang merasakan," kataku.
"Gimana mau enak makan, Kris? Mama kasihan melihat mbakmu," curhat Mama.
Aku hanya diam membenarkan perkataan mama. Aku juga tahu, bukan hanya Mbak Rosa yang tersiksa namun mama sebenarnya yang lebih sakit. Mama dihadapkan pada situasi yang sama-sama memberatkannya. Memilih kebahagiaan Mbak Rosa atau menuruti keputusan keluarga besar kami.
Kambuhnya infeksi lambung mama kali ini pun, pasti karena pikirannya yang terlalu terbebani.
"Untung ada Mas Dion, ya, Ma!" aku mencoba mengalihkan pikiran Mama.
"Iya Kris, anak itu memang selalu hadir di saat yang tepat," ucap Mama.
Suasana kembali sunyi. Aku dan Mama tenggelam dengan pikiran kami masing-masing. Aku masih bingung mengapa justru Mas Dion yang menjaga Mbak Rosa dan bukan Mas Rud yang notabene adalah pacar Mbak Rosa. Sementara mama sepertinya mengerti situasi yang terjadi. Kemana menghilangnya Mas Rud, dan misteri hadirnya Dion.
__ADS_1