
Setelah kepergian Dion, aku masih terpaku pada posisiku. Ingin memanggilnya kembali, tapi aku belum bisa mengubah suasana hati. Akhirnya kuputuskan untuk merebahkan diri di ranjang. Mengambil benda pipih yang penuh dengan kenangan itu. Menyentuh layarnya untuk membuka dengan rangkaian sandi yang aku pilih dari tanggal Dion mengikrarkan ijab qobul untuk menghalalkanku sebagai istrinya.
Entah dapat bisikan darimana, aku membuka akun media sosial yang sudah beberapa hari ini tak kutengok. Tanpa sadar mengetikkan sebuah nama seorang lelaki yang membuatku tak bisa bahagia di atas lukanya saat ini, Mas Rud. Akun bernama Rud dinata itu langsung menyapa mataku, menampakkan sang pemilik yang tengah tersenyum manis.
Seketika hatiku merasa trenyuh. Menyusun potongan puzzle yang tercecer tentang kisah perjalanan hidupnya yang berantakan. Senyum itu? Masihkah ada sekarang ini? Ah ... jangankan untuk melihat senyumnya, kurasa bisa mengetahui dia masih bernapas saja itu adalah berita baik yang ingin kudengar saat ini.
Tak terasa air mataku kembali mengalir begitu saja. Salah apa hingga dia harus mengalami nasib yang begitu menyedihkan. Semua ini berawal karena dia memilih menjadi bodyguard. Mengapa dia memilih pekerjaan yang kuyakin bertentangan dengan hati nuraninya tersebut. Ia lelaki yang berhati lembut dan anti dengan kekerasan.
Kuletakkan benda yang memutarkan memoriku itu begitu saja. Kulanjutkan kakiku untuk melangkah menuju kamar mandi. Menghapus sisa kesedihan yang bersaksi di pipiku. Memperhatikan dengan mendalam wajahku yang terpantul di cermin. Senyum ... aku harus tersenyum. Kemalangan nasibnya harus kuhilangkan dengan doa. Doa suci untuk sebuah kebebasannya, bebas dari penculikan dan dari penderitaan hati.
Setelah berusaha melepaskan beban hati dari lelaki bernama Mas Rud, aku beranjak ke dapur untuk mengambil minum. Rasanya bingung juga mau ngapain. Dion benar- benar meninggalkanku sendirian. Entah dia benerĂ n ke apartemen Pak Aryan atau tidak, yang jelas dia sedang tidak ingin mengganggu pikiranku. Dan mungkin juga, dia sedang tidak ingin diganggu pikirannya. Biarkan sajalah.
*****
Dion PoV
"Lagi berantem? Tumben banget malam-malam ke sini," seloroh Aryan begitu aku mendudukkan diri di ruang tamu apartemennya.
"Gak," jawabku singkat.
"Jawabnya aja singkat-singkat, pasti iya," kejar Aryan untuk mendapatkan pengakuanku.
"Rud diculik," tiba-tiba saja rangkaian kata itu lolos begitu saja dari mulutku.
__ADS_1
Aku tak tahu mengapa memilih menceritakan kabar buruk ini pada Aryan. Lelaki yang pernah kucemburui ini, nyatanya membuktikan jika ia bisa menguasai perasaannya. Meskipun mungkin perasaannya belum sirna tapi aku bisa percaya jika ia tidak akan memaksakan perasaannya pada istriku dan merusak ikatan yang sudah pasti.
Aryan yang tengah asyik melihat siaran televisi dengan segera mengalihkan pandangan matanya padaku. "Lalu?"
"Tuan Alex dan anak buahnya dalam perjalanan ke puncak untuk membebaskan mereka," jelasku tanpa ekspresi.
"Bukankah itu berita baik, kenapa mukamu kusut begitu?" tanya Aryan lagi yang melihatku tak bisa menyembunyikan kekalutan.
Diam. Tak ingin bercerita selanjutnya tentang keresahan hatimu. Itu adalah rahasia, sesuatu yang tak layak untuk menjadi konsumsi orang lain selain kami berdua sebagai sepasang suami istri. Apalagi diketahui oleh seorang Aryan yang notabene ada hati untuk hati yang sedang merasakan keresahan, Rosaku.
"Rosa mengkhawatirkannya?" tebakan Aryan itu tepat sasaran.
Tak ingin kujawab, tetapi pikiranku menuntun untuk berbagi cerita dengannya. Dulu, aku selalu menjadikan Rendra sebagai penasihat hatiku. Semenjak dia pindah ke Jogja, tak ada lagi tempat untuk berkonsultasi. Palingan dengan Mbak Sharika, tetapi itu tidak seasyik ketika bercerita dengan sesama lelaki. Wanita cenderung memakai perasaannya sedangkan kaum kami akan memilih logika untuk menyelesaikan segala permasalahan. Walaupun untuk masalah hati, logikaku tak bermain sama sekali.
"Pantesan mukamu kusut, gak dapet jatah?" ejek Aryan saat sesi curhat membahas kesedihan, sungguh tak tahu keadaan.
"Bukan itu," selaku menolak kalimatnya.
"Lalu apa?" selidik Aryan dengan senyum tak percaya.
"Ah ... ya begitulah," keluhku seraya membaringkan tubuh di sofa. Menjadikan satu lenganku sebagai bantal dan lengan lainnya menumpu manis di atas keningku.
"Pulang sana! Peluk istrimu! Hatinya butuh kehangatan," perintah Aryan sok menggurui.
__ADS_1
"Sok tahu, kayak udah pernah menikah, aja," ejekku mencibir nasihatnya.
"Pengalaman itu tidak harus dari pengamalan, bisa juga dari pendalaman keilmuwan," terang Aryan sok sebagai pakar percintaan.
"Diamlah sebentar! Aku ingin menenangkan pikiran dulu di sini," ujarku seraya memejamkan mata.
"Mau kugantikan memeluk istrimu? Baiklah, aku ke apartemenmu, sekarang," Aryan dengan santainya berdiri dan hendak melangkah.
Secepat kilat aku bangun dan meninjunya pelan. "Melangkah satu kali lagi, jangan salahkan aku jika besok jasadmu masuk berita!"
Mendengar ancamanku bukannya gentar ia malah tersenyum lebar. Mengantarku keluar apartemennya dan memastikan aku masuk kembali ke apartemenku. Tersenyum puas saat aku menjadi penurut di hadapannya.
"Rayu adikku, biar dapat jatah! Masa pesona suami kalah sama mantan," ledeknya yang membuatku berdecih untuknya.
Mengabaikan semua perkataannya, aku segera menutup pintu dan menguncinya. Nasihatnya meskipun dibalut dengan candaan dan ejekan menyebalkan, tetapi kurasakan sebuah kebenaran. Bisa kuyakini jika ia bisa sebagai pengganti Rendra sebagai penasihat pribadiku. Mereka memiliki karakteristik yang sama. Tidak menggurui tapi meresap di hati. Bisa diterima logika walaupun penuh canda. Dan gaya itu aku suka.
Begitu memasuki ruangan, kudapati televisi yang sedang menyala. Kamu yang berada di sofa, tengah memejamkan mata dengan posisi setengah merebah. Kulihat ada sisa airmata yang telah coba kau hapus. Aku menekuk kedua kakiku, bersimpuh di hadapanmu. Mengusap pipi lembutmu dan mengecup kening yang dihiasi helaian rambut liarmu.
"Cinta pertama itu memang tak akan pernah terlupa. Sepertiku yang tak bisa meninggalkanmu karena kamu adalah rasa yang kukenal sebagai cinta, kurasa begitu jugalah rasa yang kamu punya untuk Rud, cinta pertama yang melukaimu dan sekarang ia tengah terluka," kucurahkah isi hatiku dengan membelai lembut rambut hitam panjangmu.
Sejenak kuterpaku menatap wajahmu. Wajah yang selalu ingin kulihat di sepanjang hidupku. Dipagi buta saat kumembuka mata hingga saat mataku terlelap dalam buaian malam yang menjadi penguasa. Perlahan kuberdiri dan mencari posisi yang tepat untuk dapat memindahkanmu ke kamar. Saat tubuhmu sudah berhasil dalam gendonganku, segera kulangkahkan kaki menuju tempat yang akan bisa menyamankan tidurmu, ranjang.
Merebahkan dengan sangat hati-hati agar kamu tidak terbangun. Menarik selimut hingga menutupi sepertiga tubuhmu dan meninggalkan kecupan sayang di keningmu. "Tidurlah dengan mimpi yang bahagia sayang ."
__ADS_1
Kurebahkan diriku di sebelahhmu. Menatap wajahmu dari samping, gurat kekhawatiran masih bertahta di sana. Kucoba untuk memaklumi semuanya. Akan kutunggu sampai kapanpun hatimu siap untuk seutuhnya melupakan lelaki bernama Rud itu. Percayalah jika seorang Dion akan sanggup menunggu sampai waktu itu datang.