Tentang Hati

Tentang Hati
Badai Pasti Berlalu


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat. Dion sudah rapi dengan kemeja panjang dan celana bahan. Bersiap menyelesaikan masalah terbesar yang harus dia hadapi berkaitan dengan masalah pekerjaan, pembayaran pinalti. Demi ini, dia menepikan egonya. Bukan untuk sebuah materi tapi untuk keberadaanku dan buah hati kami di sampingnya.


"Sayang, doakan aku, ya! Semoga semua berjalan lancar," pinta Dion sambil mencium keningku.


"Doa selalu kupanjatkan padaNya atas namamu, Mas. Semoga Allah selalu meridhoi langkahmu. Letihmu menjadi pahala," balasku dengan menyunggingkan senyum penuh.


Bahagia, sungguh tiada kata lain selain kata itu yang bisa kulukiskan mewakili perasaanku kali ini. Melihatnya tersenyum hangat lagi, itu adalah bahagia yang tak bisa ditukar dengan benda termahal di dunia. Bagiku senyumnya adalah harta yang paling berharga.


"Terimakasih, Sayang. Karenamu aku bisa melewati ini semua. Mas berangkat dulu, ya?" tutur Dion seraya membelai rambutku.


Kucium pipi kirinya. "Manis banget sih, Mas. Adik jadi makin gemes," godaku berikutnya.


"Manjanya nanti, ya, Sayang," ucap Dion sambil mengacak puncak kepalaku dan segera beranjak menuju pintu.


Kuikuti Dion sambil bergelayutan manja di lengannya. Rasanya tak ingin ditinggalkan sendiri. Selalu ingin bersamanya dan tak ingin pisah. Entah ini pengaruh kehamilan ataukah aku yang mulai kecanduan dengan pesonanya. Namun satu yang pasti, aku semakin mencintainya. Terlebih setelah Dion menyelesaikan masalah ini, aku jadi semakin terharu dengan caranya mencintaiku.


"Baik-baik di rumah, ya!" pesan Dion sebelum pergi.


Dengan senyum, dia berlalu hingga pintu lift menelannya. Terus kuikuti kepergiannya dengan senyum juga. Hingga seseorang keluar lagi dari lift dengan senyum yang sama . Bukan. Dia bukan Dion yang kembali lagi. Namun Pak Aryan yang entah dari mana. Tanpa menghapus senyum dia berdiri di depan pintu apartemennya.


"Masuk, sana! Sampai kapan mau di situ sambil senyum-senyum?" perintah Pak Aryan yang membuatku menurunkan senyum perlahan.


"Bapak gangguin orang seneng, aja," balasku sambil putar haluan untuk kembali masuk ruangan.

__ADS_1


Pak Aryan hanya mengulas kembali senyumnya saat mendengar gerutuanku. Kami sama-sama masuk ke apartemen dan bubarlah obrolan gak penting itu.


🎡🎡🎡🎡🎡


Dion PoV


Berbekal senyum dari istri tercintaku sebagai penambah semangat, kulangkahkan kaki dengan pasti untuk segera menutup kisah suram. Hidup memang tak ubahnya seperti roller coaster. Beberapa bulan lalu aku menginjakkan kaki di sini untuk menerima sebuah proyek dengan nominal besar, sekarang aku di sini untuk memberikan ganti rugi.


Sungguh ironi.


Perasaan yang sama-sama senang meskipun dengan situasi yang berkebalikan. Tak ada yang perlu disesali karena hidup akan terus berjalan, kita mau ataukah menolak. Jika kita tak ingin tergilas maka harus ikhlas dan kembali melukis mimpi dengan semangat tinggi.


Bangkit adalah kunci utama untuk keluar dari belenggu keadaan sulit. Egois bisa kukikis asalkan berlatar belakang namamu. Karena kamu adalah kekuatan sekaligus kelemahanku. Penyemangat hidup dan sumber bahagiaku.


"Saya minta maaf Pak, karena kerja sama kita harus berakhir seperti ini."


"Kita sudah bekerja sama beberapa kali. Kami selalu puas dengan hasil proyek yang perusahaan Bapak tangani. Dan ini terjadi hanya karena kesalahan seseorang yang berbuat curang. Kami juga minta maaf karena menekan Bapak masalah pinalti."


Aku lega, masalah ini selesai dengan senyum. Bukan hanya dari pihakku tapi juga dari pihak mereka. Kegagalan bukan harus disikapi dengan geram. Bisa tetap dibuat bahagia dan saling berlapang dada. Memang beginilah dunia yang harus kugeluti, penuh dengan niat buruk terselubung.


Berhasil menyelesaikan akibat, kini aku akan menemui seseorang yang sudah menjadi penyebab. Menengok Aulia di kantor polisi. Aku tak bisa diam tanpa mendapatkan penjelasan. Mengapa ia begitu tega, menusukku dari belakang. Kami berjuang bersama dari nol tapi mengapa dia menghancurkan sendiri jerih payahnya.


Setelah melewati setengah jam perjalanan, sebelum jam makan siang, aku sudah duduk di hadapannya. Lelaki yang biasanya semeja bersama, berdiskusi masalah pekerjaan kini sedang terdiam. Menundukkan pandangan dan memperlihatkan raut wajah menyesal.

__ADS_1


"Bisa jelaskan, mengapa kamu tega menghancurkan semua yang telah kita bangun bersama!"


Aulia mengangkat kepala dan menatapku sebentar. Sejenak terdiam dan kemudian berujar dengan suara yang tak lantang seperti biasanya. "Maafkan aku."


Aulia meraup wajahnya dengan kasar. "Aku terlalu serakah. Aku iri melihatmu memiliki semuanya. Pekerjaan mapan dan keluarga yang harmonis."


Kuembuskan napas panjang. Bukan melepaskan amarah yang tertahan tapi aku menyesal sudah membuat Aulia dihinggapi rasa tidak beruntung. Memancing bertindak ilegal. Yang bukan hanya merugikanku tapi juga menghancurkan masa depan yang sudah dibangunnya.


"Pa'Ul, maafkan aku. Jika selama ini bertindak tidak adil padamu. Sehingga memicu kamu berbuat curang."


Entahlah, aku juga bingung mengapa kalimat itu terlontar dari mulutku. Kekacauan yang kurasakan karena kehilangan semuanya seperti sudah sirna. Melihatnya begini aku justru merasa bersalah.


"Aku yang salah, kenapa kamu yang minta maaf. Aku malu, kamu sudah membuatku memiliki yang dulu aku impikan. Namun sifat serakahku menghancurkan diriku sendiri. Aku sungguh menyesal."


"Sebagai manusia normal, aku marah Ul kehilangan semuanya. Namun aku juga menyadari, semua ini hanya titipan. Tidak hari ini karenamu, mungkin lain kali lantaran orang lain. Aku sudah mengikhlaskan."


Aulia menertawakan dirinya sendiri. "Kamu memang manusia berhati malaikat, dan aku adalah iblis yang menyesatkanmu."


Kutatap lelaki di hadapanku dengan nanar. Tawanya itu terdengar menyesakkan telingaku. Ia sudah salah langkah, hancur dan kini hanya bisa menyesali jalan yang telah ia pilih. Kehancuran yang ia ciptakan membawanya kembali pada kegelapan masa depan.


Sesungguhnya bukan hanya dia, aku juga sedang di hadapkan pada kegelapan yang sama. Pengangguran yang harus dituntaskan dengan segera merintis karir kembali. Aku tak boleh berdiam, harus bergerak.


Biarlah kutinggalkan kelam, terpenjara oleh jeruji kesalahan. Mengayunkah langkah untuk menapaki awal hari demi masa depan yang harus kembali cerah. Tak akan ada indah bila aku terus mengunci di balik kehancuran ini. Maju adalah harapan yang kutuju.

__ADS_1


Meloloskan dana untuk semua pembiayaan dan memaafkan kesalahan dari orang yang telah berbuat curang membuatku justru merasa lega. Meskipun aku harus kehilangan tapi aku yakin akan bisa tetap berdiri tegar. Melewati semua ini dan berjaya kembali.


Kupacu kendaraan roda duaku dengan kecepatan sedang. Aku ingin segera pulang. Menceritakan kelegaan yang kurasakan dan kembali menikmati hari denganmu lagi. Membicarakan satu hal yang masih mengganjal, tempat tinggal. Ya ... di mana kita akan berlindung dari sengatan sang raja siang dan menepi dari dinginnya malam hari. Namun itu bukan masalah besar, aku bisa enjoy.


__ADS_2