Tentang Hati

Tentang Hati
Mak Comblang Meradang


__ADS_3

Hari telah mengintip di ujung Minggu. Jumat, waktu yang dibilang lebih pendek ini kurasakan semakin panjang, bahkan lebih panjang dari hari biasanya. Itu terjadi karena tekanan perasaan yang semakin dalam kurasakan. Peringatan Pak Aryan tak membuat Tya jera tapi malah semakin menjadi. Kata-katanya semakin menusuk perasaan. Dalam dan berdarah.


Kantor yang dulu kuanggap sebagai surga kedua, kini panas bak neraka. Trio somplak benar-benar berakhir. Tya meradang dan Anggen hanya bisa diam. Bahkan dia sudah memutuskan untuk resign. Tuan Eric tak mengizinkannya untuk bekerja. oleh karenanya, lengkap sudah ketidaknyamanan ini.


Hanya Pak Aryan yang bisa membuatku menarik senyuman. Meyakinkan jika kantor ini masih layak untuk kusinggahi. Menjadi tempat melabuhkan hobi sekaligus digaji. Sampai kapan aku sanggup bertahan? Entahlah.


Ada sebuah skenario penjebakan dari Pak Aryan, agar aku bisa menyelesaikan permasalahan dengan Tya. Jika secara terang-terangan aku yang meminta, maka sudah pasti gagal sebelum sempat terungkap maksud dan tujuan. Aku akan datang menjadi orang ketiga dalam kencan settingan mereka. Demi aku, Abang apartemen depan merelakan dirinya untuk berduaan dengan wanita yang tak disukainya.


Hatiku berdegup lebih kencang saat kulihat di depan sana, Pak Aryan sudah duduk berhadapan dengan seorang Tya Gunawan. Bahagia yang terpancar dari raut wajah wanita yang sedang membenciku itu, kuyakin akan segera sirna jika aku datang menghampiri mereka.


Ini memang cara yang tidak benar. Namun apalah daya, jalan lurus tak menjangkau maafnya. Maka cara satu-satunya adalah dengan sebuah kelicikan. Meskipun resikonya lebih tinggi, tapi mau bagaimana lagi. Semua langkah harus dijelajah agar penjajah segera enyah.


"Selamat siang, maafkan saya datang mengganggu makan siang kalian!" ucapku sambil menarik kedua sudut bibir membentuk lengkungan sempurna. Menepiskan degupan jantung yang melingkupi raga.


Tya spontan menoleh ke arahku. Sesuai prediksi, ekspresinya langsung berubah. Dari bahagia menjadi garang bak macan betina. Kupaksa tetap memulas senyum, mengabaikan cercaan yang pasti akan ia lontarkan.


"Tya, biarkan Rosa bicara!" pinta Pak Aryan menahan kepergian wanita yang masih menyimpan perasaan padanya itu seraya memegang lengannya.


Sentuhan itu rupanya sangat ampuh. Tya kembali duduk meskipun wajahnya masih menampakkan kekesalan. Aku bingung bagaimana mengawali. Untungnya ada Pak Aryan yang menengahi.


"Kita makan, dulu!" perintah Pak Aryan, tetap lembut meskipun dengan nada tegas.


Kulihat di meja sudah terhidang beraneka makanan untuk porsi tiga orang. Rupanya Pak Aryan sudah mempersiapkan semua dengan matang. Sampai masalah makanan pun tak dia lewatkan. Kami makan dengan tenang. Tak ada yang mengeluarkan suara.


"Mengapa aku menjadi sebab perselisihan, kalian?" selidik Pak Aryan setelah acara makan siang kami selesai.

__ADS_1


Aku dan Tya sama-sama mengunci mulut, menolak untuk berbicara. Merasa tak memulai perselisihan jadi kupikir pertanyaan ini adalah kewajiban Tya untuk memberikan jawaban. Namun sepertinya dia juga enggan untuk mengungkapkan.


"Rosa, coba ceritakan!"


Mengganggukkan kepala, aku siap memulai untuk menyelesaikan masalah. "Aku dikambinghitamkan."


"Kamu memang kambing," celetuk Tya yang langsung membuatku menahan napas. Mulut gadis satu ini tak kusangka begitu pedas.


"Tya, jaga bicaramu!" ingat Pak Aryan sambil memintaku bersabar.


"Kalian sebenarnya mau apa?" geram Tya dengan congkaknya.


Pak Aryan memposisikan sebagai juru bicara mewakili kami. "Aku yang seharusnya bertanya. Apa maumu? Mengapa kamu menyudutkan Rosa? Perasaan kita yang tak sejalan, tidak ada hubungan dengannya. Aku tak menerima perasaanmu bukan karena Rosa tapi karena memang rasaku padamu hanya sebatas nyaman sebagai teman. Jadi aku minta, kalian kembali seperti dulu. Menjadi sahabat yang selalu bercanda."


"Aku di sini untuk mendamaikan kalian. Jadi, jangan mengalihkan topik pembicaraan. Perasaanku pada siapapun, entah Rosa atau wanita yang lainnya tak akan mengubah apapun di antara kita."


Tya bangkit dari duduknya. "Kalau begitu, Bapak juga tidak berhak mencampuri urusanku dengannya," ucap Tya seraya menatap tajam ke arahku.


"Lalu, mengapa aku kamu bawa dalam urusan cintamu yang ditolak Pak Aryan?" tohokku saat Tya hendak melangkah pergi.


"Seharusnya kalau kamu cinta, kejar dia! Bukan membenciku. Karena itu hanya akan semakin membuat yang kamu cinta jadi benci," lagi-lagi kuceramahi Tya dengan sangat berani.


Mendengar rangkaian kalimatku, Tya membalik tubuhnya dan berjalan mendekat. Dengan tatapan tajam menghujam penuh dendam, dia kembali mendudukkan diri. Bukan menatapku tapi malah fokus dengan manik mata lelaki yang dicintainya.


Pak Aryan bergeming. Ia tetap santai dengan kedua tangan yang dilipat di dada. Balik menatap Tya dengan tatapan lembutnya. Sama sekali tak terpengaruh oleh ancaman yang gadis itu tujukan. "Maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu. Kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari aku, Tya."

__ADS_1


"Kalau mauku, kamu. Hanya kamu! Cuma kamu satu! Bagaimana, hm?" tegas Tya dengan senyum seringainya. Dia mengitarkan pandangan padaku dan Pak Aryan bergantian. Dia kembali beringsut dari posisinya. "Kalau aku gak bisa mendapatkan cintanya, kamu juga gak berhak dapat perhatian darinya."


Kalimat terakhir Tya sebelum dia benar-benar pergi membuatku mematung. Ini bukan sekedar bullyan tapi sudah mengarah pada ancaman. Sungguh di luar nalar, gadis itu begitu menakutkan. Cintanya sudah menjadi obsesi yang mengerikan.


"Jangan dipikirin! Aku yakin itu hanya sekedar omongan," nasihat Pak Aryan sambil menepuk pundakku.


Tatapanku masih mengarah di mana Tya menghilang dari pandangan. "Bagaimana aku bisa menyingkirkannya dari pikiranku?"


"Anggap Tya tak pernah bilang apa-apa."


"Haruskah aku pura-pura lupa?" tanyaku sambil menyesap minuman yang masih banyak tersisa.


"Itu lagu," timpal Pak Aryan dengan gaya bercanda.


Sesuatu yang terlanjur didengar tentu saja akan selalu terbayang di ingatan. Tak ada istilah pura-pura lupa, apalagi untukku yang memiliki daya ingat tinggi dan juga kepekatan di atas rata-rata. Susahnya, aku akan gampang kepikiran dan berakhir dengan penyakit pusing yang menyerang.


"Balik kantor bareng aku aja, ya?" tawar Pak Aryan sambil mengecek benda pintarnya.


"Maaf, Pak. Aku mau disamperin suami tampanku tersayang," ujarku seraya melambaikan tangan pada Dion yang kebetulan baru datang dari kejauhan.


"Wah, alamat dibikin baper sama kalian ini," timpal Pak Aryan dengan senyumnya. Dia beranjak berdiri. Kupikir bakalan nyambut Dion, ternyata dia malah memilih balik kantor duluan.


"Estafet jaga Rosa," celetuk Pak Aryan yang membuatku geleng kepala.


Dion hanya membalas senyum pada celetukan Pak Aryan. Mengabaikan lelaki yang baru saja ditemuinya dan memilih untuk duduk di sampingku. Menikmati makan siang berdua. Saling menyuapi dalam canda. Romantis, Rosa sama Dion makan Gratis. Iya ... karena semua makanan sudah dibayar Pak Aryan. Ah ... betapa beruntungnya.

__ADS_1


__ADS_2