
Roda kehidupan akan selalu berputar. Tak ada yang akan selalu di atas dengan kesempurnaan. Begitu pula sebaliknya, pasti pernah berada pada titik terbawah. Hidup tanpa cela itu tidak ada. Ibarat sebuah alur cerita sebuah novel, selalu ada konflik yang akan datang.
Cantik, bukan berarti jika akan selalu mendapatkan lelaki yang dia lirik. Kaya, pasti ada titik mula di saat dia berjuang dari nol. Bahagia pun pasti di rasa saat sakit pernah melukai hatinya.
Masalah yang bertubi datang menyerang, dengan saling bersatu hati kini bisa mengucap syukur karena semua sudah teratasi. Perlahan bahagia menunjukkan dirinya. Saat api meluluhlantakkan harta, yang kebanyakan orang berpikir bahwa itu sumber bahagia, aku justru ditunjukkan bahwa beruntung memiliki suami seperti Dion Wijaya. Lelaki yang pantang menyerah dan tetap menjaga harga dirinya.
Perjuangan sekecil apapun tidak akan pernah sia-sia. Bukti itu sekarang menunjukkan diri di hadapan kami. Perlahan, Dion mendapatkan proyek-proyek yang jauh lebih besar. Aku pun tidak pernah menyangka jika novelku selalu nangkring di rangking vote sepuluh besar. Padahal sangat sulit menembus semua itu, apalagi aku masih baru di dunia tulis-menulis ini.
Banyak keluhan yang dilayangkan para author pemula yang tidak aku alami. Seperti bagaimana menarik para pembaca. Mereka sudah promosi ke mana-mana tetapi yang datang tetap sesama author yang promosi juga. Berbeda denganku, rata-rata yang ada di kolom komentarku adalah pembaca yang membahas isi cerita per babnya. Promosiku hanya lewat media sosial. Dulu, pernah melanglang buana mencari dukungan dari satu novel ke novel lainnya. Sekarang, sudah pasrah. Menunggu pembaca datang dengan sendirinya. Meskipun pernah sesekali berkolaborasi dengan sesama author berharap bisa saling tukar pembaca. Walaupun pada akhirnya, tetaplah keberuntungan yang berbicara.
Misteri kenaikan level yang banyak dipertanyakan oleh para author pun kutanggapi dengan santai saja. Aku hanya ingin menulis dengan feel sebaik mungkin. Masalah level aku serahkan pada pihak Noveltoon. Aku tidak ingin asal up, karena bagiku setiap bab itu harus memiliki daya tarik yang berbeda.
Ada yang bilang crazy up akan cepat menaikkan level, padahal kalau selalu menuntut diri selalu up berbab-bab yang ada authornya yang crazy. Karena menulis itu bukan sekedar mengetik tetapi menyusun kata agar menarik.
Popularitas yang melejit juga bukan jaminan level akan ikut ngibrit. Karena yang terpenting adalah pembaca setia yang mengikuti babmu mulai pertama sampai terakhir, bukan sekedar like.
"Sayang, kapan pengumuman kontes yang kamu ikuti itu? Seingatku hari-hari ini, kan?" cerca Dion sambil memakai kaos hitamnya.
"Dua hari lagi, Mas."
"Hampir bareng sama HPL kamu, ya? Semoga dapat kebahagiaan ganda, Sayang."
Dion duduk di sampingku sambil mencium keningku. Tangannya lalu mengacak puncak rambutku. "Semakin ke sini, kok kamu makin cantik, sih."
"Mungkin calon anak kita adalah cewek, Mas."
"Cantik, gak harus cewek, Sayang. Tuh, anaknya Mimin Rancy. Cowok tapi cantik."
__ADS_1
Dion benar. Sekarang fenomena cowok cantik sedang meraja lela. Saking cantiknya, sampai aku yang wanita saja merasa malu karena kalah pesona dengan paras mereka.
"Jangan capek-capek, Sayang!" ingat Dion karena melihatku terus berkutat dengan laptop dan masih menggeluti dunia tulis menulis.
"Mumpung belum lahiran, Mas. Aku mau nabung bab, dulu. Jadi nanti meskipun lahiran aku masih bisa tetap up" jelasku sambil mengelus punggungku.
Dion yang melihat, langsung menggantikan mengusap punggungku dengan lembut. "Sakit?"
"Mulai semalam agak pegel-pegel gitu, Mas."
"Kok gak bangunin, aku?"
"Gak begitu ganggu kok, Mas. Lagian aku lihat, Mas begitu pulas tidurnya. Aku gak tega banguninnya," jelasku sambil mengusap pipi kanannya.
"Aku pulas karena tidur di samping kalian. Lain kali kalau kamu ngerasain sesuatu, bangunin aku!"
"Kok suami siAga, sih? Suami siRosa, tahu!" timpal Dion dengan gaya bercanda.
Kupukul lagi paha Dion. Aku bicara serius, dia malah ngelawak kaya Uus, si komik absurd. Akhirnya kami malah sibuk menggelitik dan melupakan ketik-mengetik. Bercanda tawa dalam bahagia meskipun sesekali meringis karena punggung terasa sakit.
🌃🌃🌃🌃🌃
Malam kembali menjelang. Ribuan bintang yang berteman bulan sabit sedang menggantung di langit. Dingin yang menjangkit, seharusnya menjadi selimut yang membuat lelap terlarut. Hangatnya berada dalam dekapan seharusnya memberikan malam tenggelam dalam ketidaksadaran. Namun, sesuatu yang menggigit di bagian tengah badanku sebelah belakang, membuat lelap itu menghilang.
"Mas, pegel," ucapku lirih.
Melihatnya lelap, aku sepertinya tak enak hati jika harus membangunkannya. Namun rasa sakit yang semakin bertambah, membuatku tak bisa mengatasinya sendiri. Rasanya ingin diusap-usap, baru terasa enak. Kupikir Dion tak mendengar panggilanku, tapi ternyata dia jelas mengetahuinya.
__ADS_1
"Apakah cukup hanya dengan diusap-usap begini?" tanya Dion sambil menutup mulutnya yang menguap.
"Hm."
"Nanti kita ke dokter aja ya, Sayang?" Sepertinya ini tanda-tanda mau melahirkan."
Menurut berbagai sumber valid, memang punggung yang nyeri adalah salah satu tanda mau melahirkan. Setiap wanita mengalami gejala yang berbeda. Ada yang perutnya mulas, pecah ketuban ataupun flek.
"Masih kuat, kan? Ataukah perlu sekarang?" cerca Dion kemudian.
Aku menggeleng. Perasaanku berbicara bahwa ini belum saatnya. Sekadar kontraksi palsu, karena masih datang dan pergi dalam selang waktu yang terjeda lama. Hanya saja, nyerinya membuatku terganggu. Dan hanya akan menjadi nyaman dengan sebuah sentuhan.
"Ya sudah, tidurlah. Aku akan mengusap sampai kamu bisa terlelap, Sayang," ujar Dion sambil membelai lembut rambutku dengan tangannya yang bebas.
Kembali kucoba untuk menutup mata. Meninggalkan alam yang penuh kesadaran dan menggapai mimpi dengan pasti. Rasa kantuk yang masih menggantung dan usapan lembut di punggung, berhasil membuatku jatuh pada kedalaman alam yang menyajikan buaian.
Namun lelap hanya mendekap sesaat. Rasa nyeri yang kembali menggerogoti, membuatku menggoyang-goyangkan tubuh Dion kembali. Sebenarnya kasihan karena aku tahu dia baru saja tertidur, tetapi rasa ini tak bisa kukubur.
"Mas, usap-usap lagi!" pintaku dengan suara yang kubuat lebih tinggi.
Sambil mengerjapkan mata, Dion kembali bangun dan mulai mengusap punggungku. Sesekali sentuhannya terhenti karena ia dibawa pada alam mimpi. Sedikit kugerakkan badan agar tangannya tersentak dan dia bangun lagi.
"Maaf, Sayang. Ngantuk gak tahu keadaan, nih."
Pernyataannya tak kubalas dengan jawaban. Lagi-lagi hanya gumaman. Dengan telaten Dion mengusap-usap punggungku. Terus menerus hingga kantuk yang tadi menyerangnya tergerus arus.
Kenyamanan yang kembali bersemayan akhirnya kembali membawaku tertidur lagi. Belajar dari pengalaman tadi, Dion tetap mengusap bagian belakang perutku itu agar aku bisa tertidur pulas. Mengabaikan dirinya sendiri yang juga belum cukup waktu mengistirahatkan diri.
__ADS_1