
Pagi masih belum sempurna menampakkan terangnya. Mentari masih malu-malu untuk menyapa. Embun yang menggantung di tepi dedaunan, menemaniku yang tengah menghirup segarnya udara.
"Tumben sendirian, mana calon suamimu?" Pak Aryan tiba-tiba sudah berada di hadapanku dengan butiran-butiran keringat yang bermain di keningnya.
Aku menggeleng. "Abis olahraga, Pak?" tanyaku karena melihatnya berpeluh keringat pagi-pagi buta.
"Iya, udaranya seger banget. Rasanya aku jatuh cinta sama Jogja," aku Pak Aryan.
"Cie ... ada yang jatuh cinta, bentar lagi jadian, nih," godaku.
"Sama kamu?" tanyanya seraya cengengesan.
Ku abaikan! Mau ngomong apapun, aku gak pernah memasukkan ke dalam hati jika itu keluar dari mulut Pak Aryan. Beda halnya jika yang bilang adalah Mas Rud. Kenekatannya membuatku berpikir ulang untuk berbicara hal sensitif dengannya.
"Kamu, balik Jakarta kapan?" tanyanya kemudian.
"Belum tahu, Pak. Saya ngikut jadwalnya Dion. Jangan pecat saya, ya, kalau cutinya kelamaan," ucapku bernada memohon.
"Tanpamu, aku bisa apa?" dia melirikku dengan senyum termanisnya.
Jleb gitu gak, sih?
"Bapak, kapan balik?" tanyaku ingin tahu.
"Nanti malam, pesawatku take off jam sembilan. Sekalian aku pamit sekarang, ya. Takutnya nanti kita gak sempet ketemu," seriusnya.
Aku tersenyum tulus. "Sampai ketemu lagi di kantor, Pak!"
"Aku akan selalu menunggumu!"
Ddrrtt-ddrrtt-ddrrtt!
Getaran HP di saku celana Pak Aryan mbuat kami berhenti mengobrol. Segera diangkatnya telepon tersebut. Raut wajahnya nampak serius, mungkin ada kabar penting yang baru saja diterimanya. "Aku tinggal dulu, ya, Sa!" Dia buru-buru pergi setelah selesai menerima telepon tersebut. Terlihat sedikit serius namun senyumnya tak pernah ketinggalan menyapaku.
*****
Suara celotehan Arrki dari ruang keluarga membuatku tak jadi masuk ke kamar dan memilih untuk menyapanya. Rupanya bayi cantik itu, baru saja selesai mandi. Semerbak wangi khas bayi menyeruak, bermain di indra penciumanku.
"Arrki lucu banget, sih, Mbak. Nanti, tante pasti kangen," ucapku sambil memperhatikannya yang sedang tersenyum.
"Main ke rumah, dong, Tante!" suruh Mbak Sharika mendalami peran sebagai bayi imutnya.
Sebuah kebaya berwarna pink dengan potongan lengan pendek dan kain batik model rok pendek di pilih Mbak Sharika untuk dikenakan sang putri. Arrki yang lucu itu menjadi semakin menggemaskan. Ku cubit pipinya yang temben itu. "Nanti aku paksa Dion, deh, Mbak! Biar mau nganterin ke rumah, Mbak."
"Sa, Mbak boleh tanya, gak?" Mbak Sharika nampak ragu untuk bertanya.
Perasaanku sedikit gak enak, sepertinya akan ada pertanyaan yang jawabannya sedikit susah untuk diungkapkan. "Mau tanya apa, Mbak?"
__ADS_1
"Rud ...? Kalian ...?" pertanyaan Mbak Sharika berkali-kali terjeda.
Benar, kan? Hmmm ... semua mulai bisa membaca susunan puzzle ganjil dari sikap kami. Itu terjadi, mungkin karena aku tak bisa untuk bersandiwara, sekedar menipu raut wajahku ketika berhadapan dengannya. Sudah ku bilang kalau aku bukan aktris yang pandai berpura-pura. Ah ... ya sudahlah, toh gak ada kesalahan yang ku lakukan. Aku tidak menghianati Dion.
"Dia mantannya Rosa, Mbak. Mantan yang gak bisa move on," terang Dion yang entah dari kapan menyimak perbincangan kami.
Mbak Sharika menghela napas. Seolah ingin menghilangkan suatu perasaan yang ingin dia lepaskan. "Aku sudah menduga, matanya Rud gak bisa bohong. Dia menyimpan rasa yang lebih dari sekadar mantan atasan. Aku bisa merasakan kalau dia masih mencintaimu. Apakah dia ngajak balikan?"
Tepat Sasaran. Semua pikiran Mbak Sharika tak ada satu pun yang meleset. Entah bagaimana dia bisa membaca seakurat itu. Kalau dia bisa membaca pikiran Mas Rud, ku rasa dia juga bisa membaca dengan jelas apa yang ada di pikiranku. Bukankah itu alarm agar aku jujur? Kebohongan tidak akan mungkin membuatnya percaya, lagian aku juga bukan pembohong yang handal.
"Iya, Mbak," jujurku.
"Perasaanmu, gimana?" Mbak Sharika meneruskan sesi tanya jawabnya.
Suasana berubah menjadi tegang bagiku. Bukan hal yang mudah mengutarakan perasaanku tentang Mas Rud, terlebih pada Mbak Sharika, kakaknya tunanganku. Salah pilih kalimat akan sangat berakibat fatal.
"Arrki, ikut Om, yuk!" Dion mengambil keponakannya dari gendongan Sang Ibu dan menjauhi kami berdua.
"Kamu, masih cinta sama dia, Sa?" Cerita, aja! Anggap saja Mbak ini sebagai temanmu, abaikan jika Dion adalah adikku," ucap Mbak Sharika seraya menggenggam tanganku.
"Dion udah bantu aku ngelupain sakitnya ditinggalin Mas Rud, Mbak. Entah kenapa, akhir-akhir ini dia datang lagi. Memang dulu dia pergi saat aku sedang begitu mencintainya tapi aku yakin itu hanya sekedar jadi kenangan untuk saat ini," ceritaku.
"Aku mengenal Rud dengan baik, Sa. Kami berteman sejak kuliah, bertiga, aku, dia dan Rendra. Rud itu ketika sudah mencintai seseorang, tak akan dia lepas tanpa alasan yang kuat. Persis sekali dengan Dion, pejuang cinta yang pantang menyerah. Makanya aku khawatir dia akan menggoyahkan rencana pernikahan kalian," terdengar nada was-was dari cerita panjang yang Mbak Sharika ungkapkan.
"Aku gak tahu lagi, bagaimana caranya untuk membuatnya mundur, Mbak. Sudah ku bilang kalau aku udah mau menikah sama Dion tapi tetep saja, gak mengubah apapun," terangku seraya menghela napas mendalam.
"Mbak Sharika tersenyum. "Semoga perasaanmu gak goyah karena Rud, aku berdoa kamu berjodoh dengan adikku. Aku tahu bagaimana besarnya cinta dan kasih sayang yang ia miliki untukmu. Kamu adalah hidupnya."
"Ya sudah, kita mandi dulu, yuk! Mumpung Arrki ada yang jagain," ajak Mbak Sharika.
"Siap, calon kakak ipar, he-he-he ...," gurauku.
*****
Tubuhku sudah berbalut kebaya dengan kain batik khas Jogja. Make up flawless aku pilih untuk melengkapi penampilanku kali ini. Sebenarnya aku tidak suka berdandan jika bukan ke kantor atau ada acara seperti sekarang ini.
Waktu masih belum genap menginjak pukul sembilan pagi tapi aku sudah selesai bersiap-siap untuk menyaksikan acara ijab qabul Maya dan Mas Rendra yang akan dilaksanakan pukul sepuluh nanti.
"Sudah cantik aja, nih, Sayangku?" goda Dion dari balik pintu kamarku yang sedikit dibuka olehnya.
"Stop! Aku mau keluar, kamu gak usah masuk," pintaku.
Mencegah lebih baik daripada menjadi korban. Itulah peribahasa hasil amandemenku sendiri. Ngasal banget! Terang saja aku bicara begitu, aku bisa menebak apa yang bakal terjadi jika membiarkannya masuk ke kamar. Apalagi dia sudah mulai menggodaku, pasti kelanjutannya adalah .... Tebak sendiri, ajalah!"
Aku buru-buru keluar sebelum dia nekat melangkah ke dalam. "Kok, kamu belum siap-siap, Di?"
"Cowok tuh gampang, tinggal ganti baju aja, kok. Kan, aku udah mandi. Kalau udah ganteng begini, gak perlu banyak polesan," PDnya makin gak ketulungan.
__ADS_1
"Baguslah kalau gak perlu polesan, jadi gak bakal ada yang ngelirik," celetukku.
"Apa kamu mulai posesif, Sayang?" Dion kembali menggodaku.
Aku berselfi dengan kameraku. Mengindahkan pertanyaannya yang menurutku gak perlu aku jawab. Posesif? Huft! Gadis mana yang bisa menggodanya? Wajah gantengnya memang tak bisa ku tampik akan menjadi daya tarik bagi setiap wanita yang melihatnya. Namun, dia yang hanya tertarik untuk menggodaku, setidaknya itu adalah kata kunci yang membuat kata posesif dan cemburu tak perlu ada dalam kamus percintaanku dengannya.
Apakah aku terlalu percaya diri? Bagaimana kalau ternyata Dion bermain di belakangku dengan banyak wanita? Bagaimana kalau ...?"
"Jangan selfi! Fotonya berdua, aja," Dion mengambil HPku dan malah ikut bergaya.
"Ih ... aku mau selfi, aja!" tukasku.
"Buat apa? Mau nyari perhatian cowok lain? Biar dikira jomblo, ya?" seloroh Dion penuh tuduhan.
"Apaan? Aku pasang foto berdua juga masih dilirik cowok, kok," paparku enteng.
"Kalau gitu, fotoin aku, dong! Aku juga mau dilirik cewek," celetuk Dion.
Ku tarik tubuhnya untuk lebih dekat denganku. "Enak, aja! Kita, foto berdua!"
Cup!
Sebuah kecupan di pipiku bertepatan dengan suara kamera mengambil foto.
"Kirim ke aku," pintanya kemudian setelah melihat hasil foto barusan.
"Kamu, ya," gerutuku menanggapi kecupannya yang tiba-tiba.
"Aku, kenapa?" tanyanya sok gak bersalah.
"Membuatku semakin mencintaimu," aku ku sembari mengecup pipi kirinya.
Namun sepertinya ia malah sengaja memalingkan wajahnya sehingga kecupanku bergeser tepat di bibirnya.
Aku terkesiap menyadari telah salah sasaran. Berdiri mematung dan sedikit membelalakkan mata.
"Mau dilanjut atau skip dulu?" tanya Dion dengan senyum nakalnya.
Jarak yang terpangkas benar-benar membuatku bisa merasakan deru napasnya. Hangat dan mengga*rahkan. Sejenak aku terhipnotis.
"Belum sah, jangan nakal!" suara Mami yang menjewer telinga Dion dan menyeretnya menjauhiku.
*****
Kalian bingung gak sih milih satu diantara 3 cogan yang mencintai Rosa? Kalau bingung, santai aja! Jangan terlalu dipikirin, ya!
Mending baca novel temen author nih, dijamin seru, lebih seru dan sangat seru dibanding kisah Rosa dan 3 bucinnya.
__ADS_1