Tentang Hati

Tentang Hati
Secerca Sisa


__ADS_3

"Aku yakin bukan itu, hayo dong, apa?" Aku terus-terusan merengek manja.


"Apa?" Dion berusaha menggodaku seraya berjalan mundur menghindari gelitikanku pada pinggangnya. Tiba-tiba ...


Bruk!


Bak adegan dalam FTV, seorang wanita cantik dengan rambut panjangnya yang melambai- lambai menabrak Dion. Dengan cekatan Dion menarik lengannya sehingga wanita itu tak sempat terpental karena menghantam tubuh kekar Dion. Persis banget lebaynya.


Ish ...!


"Dion, kan?" seru wanita itu.


Tuh, lagi-lagi sama. Si wanita mengenali lelaki yang baru saja ditabraknya. Untung aja tuh, wanita itu gak membawa setumpuk buku yang ikut jatuh berserakan. Kemudian tangan mereka tak sengaja bersentuhan karena sama-sama ingin memungutnya. Aarrgghh ... auto aku timpukin 'tuh buku ke kepalanya.


"Indah?" Dion menerka nama wanita yang baru saja ditabraknya.


Indah? Kompak banget 'tuh nama sama orangnya.


"Masih aja, ya, kamu ngejar-ngejar Rosa! Belum move on, juga?" serunya melirik sinis ke arahku.


Eiitss ... kenapa nama aku diseret-seret? Aku gak kenal tuh? Berani-beraninya dia sebut-sebut nama ku dengan tatapan sinisnya itu. Pengen tak culek mripatmu, Mbak!


Merasa tak berguna di hadapan mereka, aku berniat pergi. "Kalian lanjutin aja ngobrolnya, aku ke sana dulu, Di." Aku lebih baik menyingkir daripada di kacangin. Kalah saing, secara packaging aja beda, dia pasaran ekspor sedangkan aku hanya sebatas penghuni rak-rak swalayan kecil. Ah ... kenapa aku malah begini? Harusnya kan ku damprat tuh si Mbak-mbak. Sok-sokan keganjenan ama laki orang. Huft ... Gerutuku menelusuri lorong pojok toko tersebut.


Bruk!


Apalagi ini? Kenapa aku jadi ikutan nabrak, sih? Mending kalau yang ku tabrak cakep kayak Ji Chang Wook, kan lumayan buat nyegerin mata. Ah ... lama-lama pikiranku ini makin somplak, didera kehaluan yang berlebihan.


"Akhirnya kita ketemu lagi!" suaranya memaksaku untuk mendongakkan kepala.


Ji Chang Wook?


Ah salah ... Mas Rud!


Kenapa harus bertemu sama dia, di sini? Bukan ... bukan karena hatiku kembali berdebar. Namun, aku bosan dengan situasi ini. Ku akui setelah lamaran Dion padaku, sudah ku putuskan untuk membuang segala kisah bersama orang yang ada di hadapanku ini. Tak peduli seganteng apapun dia, Seistimewa apapun kisah yang pernah ku jalani dengannya, tapi keputusannya untuk meninggalkanku itu dosa terbesar untuknya. Tak ku maafkan!

__ADS_1


"Permisi!" aku hendak meninggalkannya.


Namun, tangannya lebih dulu menahan lenganku sebelum aku sempat melangkah lebih jauh. "Ada yang ingin ku bicarakan denganmu."


"Aku tak ingin mendengar apapun darimu, sekarang," ku tepis tangannya tapi aku tak bisa.


Secepat kilat dia sudah menarik tengkukku dan hanya menyisakan sedikit jarak antaraku dengannya. Kaget, tapi aku tak sempat untuk mengelak. Ku pejamkan mataku, tak mau melihat sesuatu yang akan terjadi setelah ini. Pikiranku sudah melayang kemana-mana, membayangkan hal terburuk jika sampai ia merenggutnya begitu saja.


Plak!


Mataku sontak terbelalak, mendapati Mas Rud yang mengusap pipi putihnya yang memerah. Ku rasa dia adalah korban tamparan yang suaranya baru saja ku dengar. Masih bingung dengan apa yang terjadi, tiba-tiba pinggangku digamit oleh tangan seseorang yang kemudian menarikku agar menjauh dari jangkauan Mas Rud.


Ku lihat Dion sudah berada disampingku. Wajahnya menunjukkan amarah yang sedang menjalarinya. Namun berusaha tetap ia tahan. "Bukankah kemarin sudah ku peringatkan, jangan pernah berpikir untuk mengambil kembali Rosa dariku!"


Dion menggandeng tanganku dan menuntunku untuk menjauh dari Mas Rud. Tak ada sepatah kata pun yang keluar darinya. Aku pun diam, tak ingin memperkeruh suasana. Sekali ku tengok ke belakang dan menemukan Mas Rud yang juga tengah mengikuti kepergian kami.


Kata "kemarin" yang diucapkan Dion terus terngiang di telingaku. Apa yang sebenarnya terjadi kemarin diantara mereka berdua? Apakah mereka bertemu? Apakah mereka berantem lagi? Sepertinya tidak. Tak ada tanda-tanda bekas pukulan di tubuh mereka. Jika mereka berantem pasti ada bekasnya karena aku tahu mereka sama-sama pemegang sabuk hitam.


Langkah Dion berhenti di parkiran motor. "Kita pulang, aja, ya. Urusan kado, nanti aku minta tolong sama temenku, aja."


Tak ku jawab perkataan Dion, hanya anggukan kecil ku alamatkan ke dia. Sepanjang perjalanan kami saling terdiam. Ku eratkan pelukanku pada tubuhnya berharap semoga itu bisa sedikit meredam gejolak amarah yang sedang menderanya. Senderan kepalaku pada punggung atasnya, ku isyaratkan bahwa aku juga menyerahkan diri dan hatiku padanya.


Begitu membuka pintu apartemen, Dion langsung menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Sementara aku memilih untuk duduk di sofa ruang tamu. Ku ambil HP yang bergetar di tasku.


Mas Rud, mau apalagi dia?


Tak ku sentuh benda yang terus bergetar itu. Ku biarkan tergeletak di meja, sementara ku nyalakan televisi untuk mengalihkan fokus. Dion yang baru saja keluar dari dapur sekilas memperhatikan HPku yang tergeletak.


"Kenapa gak diangkat?" ucapnya setelah melihat si penelepon.


"Biarkan saja," balasku.


"Angkat saja, aku pengen tahu apa maunya?" pinta Dion seraya duduk di sampingku.


Tak jua ku angkat telepon itu. Aku sudah tidak berminat untuk berurusan dengannya. Ada Dion di sampingku, untuk apa aku masih menyibukkan diri untuk berurusan dengannya.

__ADS_1


"Ini sudah jam lima, aku anterin pulang sekarang, ya. Aku ada urusan mendadak," ujar Dion setelah menerima sebuah pesan di HPnya.


"Kamu mau ke mana kok tumben nyuruh aku cepet pulang? Aku boleh ikut?" firasatku mengatakan jika ini ada hubungannya dengan Mas Rud.


"Kalau gitu, kamu tunggu aja di sini. Aku gak akan lama," tukasnya sambil mengacak puncak rambutku dan pergi.


*****


Dion PoV


Benakku masih terus dipenuhi oleh kejadian di Mall tadi. Bagaimana bisa, Rud berencana untuk mencuri sebuah sentuhan di bibirmu. Kurang a*ar! Bahkan aku saja tidak akan menyentuhmu tapi berani-beraninya dia melakukan itu, di depan mataku.


Aarrgghh!


Air yang membasahi kerongkonganku ini, ku harap bisa meredam kemarahanku padanya. Lelaki tak berperasaan yang seenaknya mempermainkan hati seorang Rosaku. Sudah ku biarkan, kamu memilih cinta yang kamu inginkan, namun cinta itu sedikit memberimu bahagia dan malah banyak meninggalkan luka. Saat lukamu berhasil ku obati, beraninya dia datang lagi. Membuka luka lama atau mungkin juga membuka cinta lama yang belum usai.


Ku lihat HPmu bergetar berulangkali tapi kau acuhkan. Keyakinanku tinggi jika telepon itu berasal darinya. Keputusan untuk tidak mengangkatnya meskipun aku telah memintamu dan kamu menolaknya membuatku sedikit bangga. Bangga, setidaknya posisinya di hatimu sudah turun kasta.


Tak ku pungkiri jika aku sebenarnya tahu, bagaimana perasaan yang selama ini kamu simpan untuknya. Rasa yang kamu miliki untuknya masih bersisa. Paham, aku bisa memahami itu. Memang tidak mudah melepas rasa yang sudah terlanjur bersemayam. Seperti dulu, saat aku tak bisa membencimu meski berulangkali kamu lukai hatiku.


Tak ada yang bisa ku salahkan karena cinta selalu datang pada hati yang tepat meskipun di waktu yang salah. Aku tak menyalahkanmu karena belum seutuhnya bisa mencintaiku, memenuhi ruang hatimu dengan namaku. Namun ku amat menghargai usahamu untuk terus berusaha mempertahankan semua yang telah kamu pilih, bersamaku. Memang lelàki itu saja yang tidak konsisten dengan hatinya. Mempermainkan perasaan, bukan hanya perasaanmu tapi juga perasaannya sendiri.


Ketidakbecusannya untuk menjaga hati, kini berimbas padamu dan juga rasaku tentunya. Aku? Iya, aku. Karena aku adalah pemilikmu sekarang dan akan begitu selamanya. Bukan dia! Yang dulu sempat memiliki dan memilih pergi.


"Apa maumu, apakah masih kurang jelas apa yang ku katakan kemarin? Lupakan, dia!" tegasku padanya, mantanmu yang tak tahu diri itu, Rud.


"Mengapa aku harus melupakan jika dia masih terus mengingatku, menginginkanku!" jawabnya yang menyulut api amarahku.


"Dari mana asal keyakinanmu, itu? Kamu tidak tahu? Waktu sudah mengubah segalanya, terutama perasaannya padamu," ungkapku untuk menyadarkan posisinya sekarang di hatimu.


"Kamu boleh percaya omongannya, tapi hatinya berkata lain. Akuilah jika dia masih mencintaiku. Sadarlah jika kamu hanya jadi pelariannya, saja!" senyum seringainya itu membuatku semakin terganggu dengan kehadirannya.


"Mungkin perasaannya padamu itu masih ada, tapi itu hanya sisa. Kamu tahu apa itu sisa? Secerca yang tak berguna dan akan dibuang," ku tekankan tiap kata pada kalimatku.


Rud silangkan tangan di dadanya sementara punggungnya ia sandarkan pada kursi. "Apakah kamu tidak tahu? Dia menangis di pelukanku beberapa waktu yang lalu, dia memelukku, dan ...,"

__ADS_1


Kalimat yang kamu jeda, aku manfaatkan untuk menyadarkanmu bahwa semua tak lagi sama sekarang. "Kalau aku mau, sudah ku nikmati kehormatan yang sudah suka rela ia tawarkan padaku, apa itu juga kamu tahu? Ah kurasa kamu tak tahu, jadi jangan sok tahu! Lupakan, dia milikku!


Ku tinggalkan dirinya yang ku rasa sedang menikmati semua penyesalannya. Akan ada bahagia dari setiap perjuangan, dan akan ada penyesalan dari setiap kepergian tanpa pesan.


__ADS_2