
Resepsi yang berkonsep santai dan penuh keakraban itu memang dibuat sebagai ajang temu kangen dengan semua teman dan kerabat yang diundang. Setelah rombongan grup chat Aldekha Depe berlalu, datanglah serombongan lain yang tak kalah heboh. Mereka adalah readers sejati Tentang Hati yang selalu komen tanpa henti.
"Bakalan lebih rusuh, nih," bisik Dion di telinga kananku sambil tersenyum.
Kubalas senyumannya dan mulai berkata. "Siap-siap disemprot netijen julid."
"Itu, kamu. Kalau aku siap dicium-cium macan," ucap Dion dengan senyum smirknya.
"Awas ya kalau ganjen! TP-TP sama emak-emak sama embak- embak, gak 'pa 'pa kalau sama embah-embah," timpalku dengan mengacungkan jari telunjuk disertai mata yang memicing.
"Mereka gemes sama aku, Yang. Kenapa bisa ada pejuang cinta super romantis kaya aku ini?" ujar Dion seraya menatapku penuh cinta.
Memang, semua yang Dion katakan itu benar. Lelaki seperti Dion sangat jarang ditemukan. Apalagi pada zaman sekarang, dimana cinta itu dianggap sesuatu yang bisa dibarter dengan materi. Terlebih dengan segala hal yang Dion miliki, ketampanan paras, kemapanan hidup dan kebaikan hati. Perpaduan sempurna untuk memancing kaum hawa mendekat tanpa syarat.
"Aku tetap cemburu walaupun mereka itu mengidolakanmu," akuku tanpa ragu.
"Aku mau tahu, dengan kecemburuanmu kamu bisa berbuat apa?" goda Dion yang membuatku makin sebal.
"Bisa plin-plan," tegasku yang harus menanggung sakitnya sebuah cubitan hidung.
"Maksudnya kamu mau lari dari pelaminan ini trus mengejar Mas Rudmu itu?" perjelas Dion menerangkan kata yang kupilih.
"Jika itu bisa kulakukan, kenapa gak?" ucapku dengan menaikturunkan alis.
Dion menunjuk antrean mahmud kece yang menuju ke arah kami. "Sebelum kamu melakukan itu, lewati dulu barisan pendukung Dion-Rosa."
Benar saja, sepertinya aku harus menghapuskan candaan konyolku itu. Sebelum barisan para mantan, eh barisan Dion lovers menahan laju langkahku untuk kabur. Melihat nyaliku yang mulai menciut, Dion malah semakin bahagia yang nampak dari rona wajahnya.
Terang saja, jumlah mereka sangat banyak. Yang kukenal ada Imas Mary'sya, Aryani Disa, Dewi Firga, Kris Wanti, Chocollacious, Dwi Yuni Yelesvevanti, Anastasia Indraswari, Robii Rido, Retno Wahyuningsih, Qiptyatul Marrofah, Cahya, Alifanovi Ardiani, Resty julia sari, Yuni, Shoimatul Fitria, Yuli Fauziah, Zaydan Afkarudin Syah, Evi aseh, N_, Norinta Clara, Ifa Zakia Atika Suri, Eza Prasetya, Dewi Wkj, Wiguna84291776, Mashandra Soares, Kanjeng ndoro, S3lly, Sita Azzaky, Syala Yaya, Khardha Love, Dwi Nurjayanti, Maryana Fasyih, Srie Suwarni, Farida Zulfiatu Rohmah, Heera Ya, Tana, Wardah Saiful, Heni Nurr, Chumairoh, Ratmini Siska Umami, Ika Okta Ismawati, Icha_sunflower, Rinny Lestary, Venny22, Dech Ayyu Muchtar, Kertia, Meli aliph, Astin Nasa, Laura V, Yuli Novelis, Dila Ayu, Merry Laibahas, Rancy TH, Karmilawati Lukman, Riana Herlanto, Faa Faa cute, Esw-Gee, Boboiboy Uyee, Otte, Sri Handayani, Narti Suliz, Novita Artianingsih, Muli Yono, Roby robi, Li@_lestari, Nana, Tika Mutiara, Jo Whylant, MC, Haru-kun 🍒 V a.k.a L, Me, Zain Rafa, Norinta Clara, Rahmi Tari, Simi sim, R. a, Ramanda Safitri, Christina, Robot Timus dan Khanza.
"Bagaimana, Sayang? Masih berniat kabur?" tanya Dion dengan senyum ngecenya.
"Aku kabur ke hatimu, aja," godaku yang membuat Dion menampakkan senyum bahagianya.
Dion mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Godalah aku pada saat yang tepat, Sayang. Kamu tahu kan suamimu ini mudah hilang kendali."
__ADS_1
"Pengendalianku selalu los dol sayang setiap di dekatmu. Rasanya ingin kulahap habis dirimu," godaku balik.
"Istriku semakin nakal sekarang, kita udahin aja yuk resepsinya, gak tahan nih," ujar Dion yang kuhadiahi sebuah cubitan di perutnya.
"Pengantin becanda mulu," celetuk sebuah suara yang sangat kami rindukan, Mas Rendra.
Spontan aku mengalihkan pandang dari Dion dan mencari sumber suara. Benar saja, ada sepasang suami istri dengan senyum merekahnya sedang membuka tangan lebar-lebar, menunggu kami menghambur dalam pelukan.
"Maya," seruku seraya memeluknya erat.
"Aku merindukanmu, sepupuku," balas Maya dengan senyum sumringahnya.
"Aku selalu merindukanmu," balasnya.
"Longgarin tuh pelukan, Rendra junior butuh oksigen, tuh!" perintah Mas Rendra yang membuat pikiranku mengetuk palu untuk sebuah hasil karya, calon baby.
"Ces pleng, banget. Langsung jadi?" tanya Dion yang dibalas senyum penuh kebanggan oleh sepupu yang dulu dilabeli tukang gombal tersebut.
"Tentu saja, bibit unggul ini," kesombongan Mas Rendra terus menjadi-jadi.
Merasa diremehkan dengan pertanyaan sepupunya, Dion mengeluarkan semua kosa kata untuk pembelaan. Dua saudara itu pun terlibat dalam perdebatan yang enggan kami turut serta.
"Lihat 'tu Pak Aryan! dikerubutin fansnya," kata Maya yang membuatku mengarahkan pandang pada arah yang ditunjuk Maya.
"Masih jomblo, dia?" selidik Maya.
"Kupaksa nyari istri, tapi belum mau," ujarku.
"Harusnya pilih aja tuh satu diantara Tya Gunawan, Virus SugAr04, Sri Yuniarti, Cuwex Ayuk dan Ayyona," terang Maya tanpa beban.
"Istri itu soal hati, begitu katanya," terangku berikutnya.
"Dalem kalau begitu, susah move on-nya, kayak Mas Rud," Celetuk Maya yang kemudian segera menutup mulutnya karena menyadari baru saja keceplosan kalimat yang tidak seharusnya ia ucapkan.
Apakah semua orang masih berpikir jika aku masih belum bisa melepaskan diri dari mantanku itu?
__ADS_1
"Aku sudah move on darinya, kamu gak usah canggung begitu," jujurku dengan santai.
"Apakah aku tidak salah dengar?" yakin Maya dengan pasti.
Aku mengarahkan pandangan Maya pada beberapa wanita yang duduk di sebuah meja bundar. "Pendengaranmu masih bagus dan kurasa penglihatanmu juga tidak masalah. Mereka itu yang seharusnya kamu khawatirkan, gagal move on dari Mas Rud."
"Zhi Xia Jin Junlie, Krisnawati Nina, Julia Yantie, Mamahna Bilal, Elasukma, Ira R Djuniarta dan Riska Mursini," sebut Maya pada nama-nama fans seorang Rud Dinata.
Aku mengangguk, membenarkan tebakan Maya pada semua nama tersebut. Gelengan kepala pun ia lakukan sebagai wujud tak habis pikir pada fans akut sang bodyguard tampan itu.
"Kalau itu?" tanya Maya pada kerumunan lain yang sedang berdiri sambil berganti-ganti pose.
Aku mencari arah yang ditunjukkan Maya. Dan menemukan Nafasal, Caramelatte, Hainur Fardatin dan asa_bernisle_tih di sana. "Itu fans galau, semua di dukung. Kalau aku plin-plannya cuma antara Mas Dion dan Mas Rud, mereka galau sama nasib Pak Aryan juga.
"Wanita begitu, ya? Lihat yang bening dikit langsung ngibrit," seloroh Maya.
"Karena yang tampan akan memuaskan penglihatan," selorohku yang ditimpali oleh Dion yang baru saja kembali bergabung dengan obrolan kami.
"Apakah ketampananku sudah cukup untuk memuaskan penglihatanmu, Sayang?"
"Ketampananmu tak hanya memuaskan netraku tapi juga hatiku, Sayang. Cintamu terlalu akut hingga aku terlarut oleh rasa yang akhirnya tertaut," rayuku sambil menatapnya dalam namun penuh kelembutan.
"Istri cantikku sekarang pandai merayu, ya?" ucapnya seraya kembali mencubit hidungku.
"Iya, dong. Kan kamu gurunya."
Dion adalah guru dalam segala aspek kehidupanku. Ia mengajarkanku arti sebuah perjuangan, mencintai dengan ketulusan, pengorbanan, tanggung jawab dan banyak hal lagi. Pokoknya memiliki Dion sebagai suami adalah puncak kebahagiaanku. "Aku semakin mencintaimu, suamiku."
******
Tentang Hati tak akan ada artinya tanpa readersku tersayang. Kalian adalah keluarga baru yang aku temukan melalui tulisan tangan. Terimakasih karena telah menjadikan Tentang Hati sebagai cerita yang pernah kalian baca. Mohon maaf jika masih banyak nama yang belum aku sebutkan. Silakan tulis dikomen, nama kalian akan aku masukkan ke dalam tulisan.
Terimakasih yang tak terhingga untuk Imas Mary'sya, karena sudah memposting kecintaannya pada novel TENTANG HATI di grup NOVELTOON INDONESIA (Fansclub). Untuk yang lain boleh loh, mengikuti, he-he-he. Agar TENTANG HATI semakin dikenal oleh semua hati yang mudah baper dan senang dimanja dengan keromantisan tingkat dewa ala Dion Wijaya.
Aldekha Depe melukis cinta dan rindu untuk kalian semua. 🥰😍😘
__ADS_1