
"Anak-anak, ayo makan!" mama memanggil dari meja makan.
"Iya, Ma," jawabku dari ruang tamu.
Tanpa menjawab, Dion mendahuluiku menuju ruang makan.
"Hai Kris, adek, Mas yang cantik!" sapa Dion lantas duduk di kursi seberang Kristy.
"Halo masku yang keren!" balas Kristy meladeni Dion.
"Ih, kalian berdua, sok manis banget!" ucapku sebel.
"Sudah sudah! ayo makan dulu!" mama memutus tali obrolan kami yang kayaknya bentar lagi rusuh.
"Nak Dion, ayo mau makan apa? pilih aja! Mumpung Mama masak banyak ini!" tawar mama.
"Panggil Dion aja, Ma!" pinta Dion.
"Baiklah! Mama panggil Dion, ya, mulai sekarang!" mama setuju.
"Cobain tumis jantung pisang bikinan mama nih! Gak bakalan ada di restoran!" mama mengambilkan untuk Dion.
"Terimakasih, Ma. Hmmm ... ini benar- benar enak!" puji Dion.
"Cobain tumis pare kesukaan aku deh, Mas!" Kristy ikutan.
"Sekarang, pare rasanya manis, ya?" ucap Dion sambil mengunyah makanannya.
"Mana ada?" sela ku ketus.
"Ada nih! Karena parenya diambilin Kristy yang cantik," gombal Dion.
"Ah, mas Dion, bikin aku melambung!" Kristy berbunga-bunga.
"Dilarang gombal di rumah mama!" tandasku.
"Ada yang sewot tuh, Ma!" Dion laporan.
"Mbak Rosa mah sewot mulu, darah tinggi loh mbak," singgung Kristy.
Suasana makan siang kali ini, Dion jadi idolanya. Semua-muanya Dion dan Dion lagi.
__ADS_1
"Perasaan, yang abis sakit aku, deh! Kenapa yang ditawarin makan, Dion melulu," gerutuku.
"Udah, jangan cemburu gitu! Nih, ak ak!" Dion hendak menyuapiku.
Aku melengos menghindari suapannya.
"Suapin aku aja deh, Mas, kalau mbak Rosa gak mau!" kata Kristy.
Kristy pun mendapatkan suapan dari Dion.
Iihh ... sebel banget gak sih? Baru juga masuk keluarga ini, tapi udah dapet perhatian istimewa dari semuanya. Pinter banget dia ngambil hati Mama dan Kristy.
"Dion, gimana kabar papi mami, kamu?" tanya mama.
"Alhamduillah, baik, Ma!" jawab Dion.
"Kamu pasti kesepian, ya, tinggal jauh dari mereka?" tanya mama lagi.
"Awalnya kesepian, Ma, tapi sekarang udah biasa!" Walaupun tetap kangen!" Tapi kan sekarang ada Mama!" jelas Dion.
"Sering-seringlah main ke sini!" pinta mama.
"Jangan terlalu baik sama dia, Ma, ntar gak pulang- pulang!" kerasku.
"Apa sih, Mbak ini? Kristy seneng kok, Mas Dion disini. Nanti bisa aku pamerin ke temen-temen aku, kalau aku punya Mas ganteng kayak nadeo! Oppa-oppa korea mah lewat-lewat permisi!" Kristy bangga.
"Adik pinter! Nanti Mas kasih uang jajan!" kata Dion.
"Sok kaya!" kataku.
"Aku kan kerja! Kalau cuma ngasih uang jajan Kristy, gak bakal bikin aku bangkrut!" Dion sombong.
Bodo amat ... Bodo amat ... Bodo amat ....
Ni anak satu emang bikin sebel aja lama-lama!
*****
Malem minggu!
Ini malem minggu pertamaku setelah menyandang gelar Mrs. Jomblo again. Sebenernya gak begitu memilukan! Jomblo dan malam minggu kesepian itu gak haram!
__ADS_1
Masalahnya seminggu yang lalu, malam mingguku begitu indah!
Indaaaaaahhhhh banget!
"Malam panjang yaaaaang ...!" aku hendak melayangkan lamunanku pada malam itu.
Malam minggu terakhirku dengan Mas Rud.
Malam yang ku habiskan dengan canda tawanya, belaiannya, pelukannya, kata-kata manisnya daaan ....
Belum sampai ku mengenang semua, tapi air mataku sudah meleleh tak tertahankan. Kenangan itu begitu melekat. Meski berusaha ku hempas, namun aku tak bisa membohongi perasaanku, bahwasanya aku belum mampu menghapus bayang-bayangnya dari pikiranku. Apalagi jika aku sendiri seperti sekarang ini, segala tentangnya akan datang lagi, lagi dan lagi.
Dia begitu indah. Wajahnya indah dan kisah singkatku dengannya juga begitu indah. Tapi kenapa kau buat kisah ini akhirnya tak indah wahai Pemilik Hatiku?
"Hmmmm ...!" aku memandang foto Mas Rud yang masih tersimpan manis di HPku.
Menatapnya begini, rasanya aku masih jatuh cinta padanya. Wajahnya itu benar-benar tak mampu membuatku berpaling meskipun udah tersakiti.
"Percuma ganteng, kalau nyakitin!" Kristy berpendapat.
"Tapi ganteng!" jawabku masih menatap lekat foto Mas Rud.
"Tapi nyakitin!" balas Kristy.
"Ganteng, kalau nyakitin mending tukerin aja!" suara lelaki menyahut.
"Ngapain sih, kamu masih di sini?" tanyaku pada lelaki itu yang tak lain bernama Dion.
"Aku baru nyampek!" jawab Dion.
"Sana ... sana ... sana! Kalian keluar aja deh dari kamarku!" usirku pada Dion dan Kristy.
Mereka akhirnya keluar dari kamarku tanpa acara pengeyelan.
Tumben!
Ah ya sudahlah! Aku gak peduli dengan sikap mereka!
Aku lebih mempedulikan hatiku yang masih porak poranda.
Mas Rud ... Aku masih merindukanmu!
__ADS_1