
Aku mulai mengurangi kecepatan langkahku, saat aku yakin sudah menjaga jarak yang cukup jauh dari Pak Aryan. Aku menghentikan langkahku di sebuah halte. Aku mengistirahatkan nafasku yang tersengal. Ku tarik nafas dalam untuk menormalkan kembali debaran jantungku.
Ku pandangi lalu lalang mobil yang terhampar di hadapanku. Jauh di seberang jalan, aku seperti mengenali seberkas wajah. Lelaki berpostur tinggi dengan jas rapi membalut tubuh gagahnya. Ada seorang wanita yang wajahnya begitu familiar di ingatanku.
"Rianti ...." aku menyebut sebuah nama dari wanita tersebut.
Iya ... itu Rianti. Meskipun jarak kami lumayan jauh dan penampilannya sedikit banyak telah berubah, tapi tak bisa menghapuskan ingatanku tentang wajah cantiknya yang polos. Itu adalah Rianti yang sama dengan Riantiku, Rianti yang dulu selalu menghabiskan waktunya dirumahku untuk berlomba makan mie instan ekstra pedas.
Hmmmm ... kenapa Rianti bersamanya?
Tin-tin-tin!
Sebuah suara klakson mobil menghentikan analisa-analisa yang bermain di otakku. Ku cari siapa pemilik mobil yang mengusikku itu. Seorang lelaki, turun dari bagian kemudi.
"Dia, lagi," gumamku.
Aku memutar pandanganku ke arah sebelumnya, sudah berganti aktor. "Aku kehilangan target."
"Lihat apa, sih?" suara Pak Aryan mengembalikanku ke alam nyata.
"Gak ada," jawabku enteng.
Aku kaget saat tiba-tiba Pak Aryan mengambil tangan kananku dan membaliknya. Selembar uang berwarna biru, ia letakkan di telapak tanganku yang baru saja dia balik.
Pak Aryan duduk di sebelahku, "Terimalah aku menjadi temanmu, aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Dion."
Ini kali pertama, Par Aryan menyebut nama Dion. Biasanya ia hanya menyebutnya "pacarku".
"Kita, kan sudah berteman, Pak," jelasku.
"Dalam pertemanan, tidak ada itung-itungan uang. Traktir-mentraktir itu hal biasa." ucap Pak Aryan seraya menunjuk uang di tanganku.
Aku memiringkan sedikit badanku ke arahnya, "Bapak bilang gak ada yang gratis!"
Senyum nampak tersungging di wajah Pak Aryan. Dia berdehem, "Makanya kalau ada orang ngomong itu, jangan main pergi-pergi aja."
Aku pergi karena gak mau punya urusan panjang dengan Bapak.
"Memangnya, Bapak tadi mau ngomong apa?" tanyaku kemudian.
"Aku ingin mengantarmu pulang," jawab Pak Aryan kalem.
"Driver online," Par Aryan mengangkat HPnya sambil tersenyum nyengir.
"Hari ini saya mau naik bus, Pak. Duluan, ya!" ucapku seraya segera naik ke bus yang baru saja datang.
Ku perhatikan sebentar, Pak Aryan masih duduk di halte sambil melambaikan tangan ke arahku. Aku menghela nafas, " selamat."
*****
__ADS_1
Aku menghempaskan tubuhku kasar di sofa ruang keluarga. Badanku sungguh terasa lelah hari ini. Seharian bekerja tanpa ada yang bisa ku ajak bercanda, itu hal yang membosankan.
"Kayaknya, capek banget, Mbak?" tanya Kristy yang lagi nonton TV.
"Hu uh," jawabku lemah.
"Lembur lagi?" Kristy lagi-lagi bertanya.
"Aku nyasar," ceritaku singkat.
"Kok, bisa?" terlontar sebuah pertanyaan untuk mencari sebuah jawaban.
"Bisalah," jawabku males.
Eitttsss ... tunggu! Kenapa suara Kristy berubah? Ku buka mataku yang sedari tadi ku pejamkan. Aku kaget saat mendapati Dion di pelupuk mataku, " Kamu!"
Dion tersenyum sambil menyodorkan segelas teh anget padaku, "Minumlah!"
Aku pun segera duduk dan meneguk kehangatan yang Dion tawarkan. Teh ini perlahan memulihkan tenagaku yang telah terkuras.
"Kenapa bisa nyasar?" tanya Dion sambil duduk di karpet tepat di depanku.
"Aku salah naik bus," jawabku setelah meneguk teh angetku tanpa sisa.
Ku lihat Dion menggulung lengan kemejanya, "Sini, aku pijitin!"
Dion hendak memijit kaki kananku. Spontan, aku menarik kaki yang hendak ia sentuh itu.
"Gak usah, Di," aku berusaha menolak pijitannya.
"Kalau Mbak Rosa gak mau, pijitin aku aja, Mas!" celetuk Kristy.
Sebuah bantal sofa ku layangkan ke arah adikku itu. Dia mengusap-usap kepalanya yang menerima hadiahku. Sementara Dion, terus saja memijitku sambil tersenyum melihat ulahku dan Kristy.
"Makanya jangan nolak, Mbak, di luaran sana pasti banyak yang mau dipijitin sama Mas Dion, sama, kayak aku di sini. Mas Dion itu juga baru dateng loh, Mbak, tapi dia masih mau pijitin, kurang baik apa coba?" cerocos Kristy tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
Ku pandangi wajah Dion, "Iyakah, Di?"
Dion hanya tersenyum. Wah ... benar apa yang dikatakan Kristy. Dion ... Dion ... kamu memang kurang baik apa coba? Lebih memikirkanku daripada dirimu sendiri. Makasih, Sayang, pijitanmu yang lembut ini berhasil membuatku nyaman. Nyaman di kaki tapi tak nyaman di perasaan.
"Udah, Di, aku udah enakan kok, kan kamu juga capek." ucapku agar ia bisa beristirahat.
"Memijit itu ibarat orang jatuh cinta, Kalau cuma dirasa tapi gak diungkapin tuntas, rasanya sakit. Sama, kalau mijit cuma sebelah kaki, maka kaki yang sebelahnya akan sakit juga." Dion mulai ketempelan Dion, menggombal.
"Baiklah, mumpung gratis," kataku kemudian.
"Tadi kenapa bisa nyasar?" Dion kembali mengulang pertanyaannya.
"Salah naik bus," aku mulai bercerita.
__ADS_1
"Dion melihatku, "Tanpaku, hal remeh gini aja kamu salah, Sayang. Bagaimana bisa aku tak khawatir jika aku jauh darimu?"
"Itu karena Pak Aryan, kenapa kamu mengizinkannya makan cilok denganku?" aku cemberut.
"Kalian gak makan semangkuk berdua kan? Atau malah dia menyuapimu?" Dion justru menggodaku.
"Di!" aku menekankankan panggilanku.
"Kenapa, Sayang?" Dion semakin menggodaku dengan panggilannya dan ekspresinya itu.
"Kalau kamu goda terus, aku beneran minta suapin Pak Aryan, loh!" ancamku.
Sebel ... sebel ... sebel ...!
Aku mati-matian menjaga jarak dari Pak Aryan, tapi Dion malah bereaksi santai begini. Dia gak takut apa, kalau aku lama-lama punya perasaan pada Pak Aryan?
Dion menyudahi pijitannya, ia kemudian beranjak dari duduknya dan berpindah duduk di sampingku. Tiba-tiba saja ia mencium keningku, " Aryan mana mau kalau kamu lusuh begini, cepetan mandi sana!"
Melayang lagi deh, aku. Punya pacar, kok, semanis ini, sih. Mana bisa aku menggantikanmu dengan lelaki lain di hatiku. Entah itu Pak Aryan, Ji Chang Wook idolaku atau bahkan si Reynand yang bikin aku geregetan.
"Mandilah dulu, aku juga mau mandi!" pinta Dion seraya beranjak berdiri.
Aku mengernyitkan dahiku, " M ... A ... N ... D ... I ...?"
"Aku mandi di kamar mandi belakang," jelas Dion yang sudah hampir menghilang di ujung ruang keluarga.
Ish ... Ish ... pikiranku!
Bisa-bisanya aku berpikir dia akan melakukan perbuatan terlarang itu. Rosa, sepertinya kamu harus segera di ruqyah! Agar jin-jin yang nongkrong di otakmu itu segera enyah.
"Mbak Rosa, jangan racuni Mas Dion dengan pikiran kotor!" celetuk Kristy yang harus kembali menerima hadiah bantal sofa dariku di kepalanya.
*****
"Mbak, ada telepon," Kristy memanggilku dari luar kamar.
Aku menyisir rambut yang baru saja ku keringkan, "iya, tunggu sebentar." Segera ku meninggalkan kamar ternyamanku. Segera ku tuju ruang keluarga di mana HPku berada. Ku lihat Dion sudah nampak segar sedang duduk lesehan dengan Kristy di karpet.
"Halo!" sapaku pada orang di ujung telepon yang bernama Pak Aryan.
"Aku lega kamu sudah sampai rumah, tadi aku melihatmu salah naik bus," ucapan Pak Aryan yang berhasil membuatku malu.
"Tenang aja, kekasihku ini cukup cerdas untuk mengatasi hal itu. Kamu tidak usah khawatir." tukas Dion yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
Ku lihat wajah Pak Aryan sedikit berubah air mukanya. Mungkin dia terkejut dengan kehadiran Dion di panggilannya. Sebenarnya aku juga bingung dengan kekasihku ini. Panggilan Pak Aryan berulang kali tak jua diangkatnya. Namun, malah ikutan nimbrung saat aku mengangkatnya. Kecemburuan yang lucu, Sayang!
Dion mengambil HP dari tanganku, dan menggeser tubuhnya. "Selamat malam, Selamat beristirahat!"
Ku pandang, kekasih yang membuatku gemes itu. Ku sadari dia mencintaiku dengan caranya, cara yang dulu amat ku benci, tapi sekarang aku suka.
__ADS_1
"Aku mencemburuimu, tapi ... rasa sayangku lebih besar daripada keegoisanku. Aku mencintaimu, Sayang." ucapnya sambil mengelus rambutku manja. Ia mengerlingkan matanya padaku. Tampan ... tampan sekali. Aahh untung saja kamu kekasihku, kalau tidak, ku rasa aku bisa gila mengagumi ciptaan yang begitu indah ini.