Tentang Hati

Tentang Hati
Memilih Jalan Terbaik


__ADS_3

Dion PoV


"Hm" yang dua kali kudengungkan di mobil tadi, sudah diketuk palu oleh otak Aryan sebagai janji yang akan ditagihnya. Benar saja, begitu sampai apartemen aku langsung ditodong untuk membagi cerita. Dengan merebahkan diri di sofa, aku mulai membawa ingatanku pada sepuluh tahun yang lalu. Di mana kita pertama kali bertemu saat Masa Orientasi Siswa Baru di sebuah SMP negeri.


Wajah ceriamu yang tak pernah melepaskan senyum, sanggup membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Rambut panjangmu yang dikepang dua, selaras dengan gaya feminin yang kau miliki. Cantik dalam kesederhanaan. Tanpa polesan make up yang berlebihan.


Semua yang baru saja terlintas di ingatan, aku ceritakan pada Aryan. Bagaimana awalnya hingga aku terjebak dengan love at the first sight denganmu. Tak ada detail yang terlewat sekecil apapun itu.


"Istrimu itu memang punya pesona yang tak terbantahkan. Jika kamu jatuh cinta ketika melihatnya pertama kali, kuakui itu pun juga terjadi padaku," aku Aryan dengan santainya.


Aku tak berminat mendebatnya, karena jatuh cinta itu urusan hati. Tak bisa dipaksa dan ditolak kehadirannya. Toh sekarang dia juga tak lagi berjuang untuk cintanya padamu. Itulah kenapa aku santai dengan pengakuannya.


"Apakah Rud juga seperti kita?" tanya Aryan berikutnya yang kuyakin jawabannya pun adalah iya.


"Sepertinya begitu, karena selama aku mengenal Rosa, aku tak pernah mengenalnya," jelasku.


"Lalu, mulai kapan kalian pacaran?" Aryan meneruskan introgasinya.


"Tiga bulan yang lalu," jawabku enteng yang justru membuat Aryan mengubah posisinya dari melihat televisi menjadi fokus menatapku.


"Tiga bulan? Lalu semenjak SMP kelas satu itu apa yang kamu lakukan?" Aryan semakin penasaran.


Aku bangun dari rebahanku dan mengambil sebotol air mineral yang selalu ada di meja ruang tamu apartemen Aryan. Meneguknya dan kemudian bersiap menjawab pertanyaannya. "Aku sibuk mengejar cintanya, menembak, ditolak, bangkit lagi, menembak lagi, ditolak lagi, bangkit lagi dan begitu hingga puluhan kali."

__ADS_1


Aryan melongo mendengar penjelasanku. Rasa tidak percaya tergambar nyata dari raut wajahnya. Ekspresi seperti itu bertahan hingga beberapa detik sampai aku menepuk pundaknya.


"Kamu pencinta luar biasa! Rosa harus jadi milikmu, Bro. Lalu kenapa ada Rud yang bisa hadir diantara kalian?" lagi, Aryan mencari jawaban dari rasa penasarannya.


"Sebelum sidang skripsi, aku nembak dia untuk terakhir kalinya dan ditolak. Aku memutuskan untuk pergi. Walaupun sebenarnya aku tak bisa sepenuhnya melepaskan dia dari pengawasanku. Diam-diam aku selalu mencari tahu kabarnya. Terlebih saat wisuda, aku tahu dia cemburu saat aku bilang kalau aku punya pacar. Sayangnya dia terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya. Melihat kenyataan itu rasanya aku ingin kembali. Namun kenyataan berkata lain, dia datang ke pertunangan sahabat kami dengan Rud. Tak lama kemudian aku tahu mereka pacaran. Aku ikhlas jika itu memang kebahagiaannya. Selama tiga bulanan aku menyelidiki Rud. Seluk-beluk Rud baik, hari itu aku datang ke kantornya untuk bicara pada Rud. Namun, aku menemukan Rosa pingsan di halte depan kantornya," ku jeda cerita panjangku.


"Lalu?" Aryan tak sabar menunggu kelanjutan ceritaku.


"Aku bawa dia ke rumah sakit. Lambungnya bermasalah karena telat makan empat hari. Kristy bilang beberapa hari terakhir memang Rosa gak mau makan. Rud tiba-tiba menghilang. Disaat yang sama, Mama juga sakit. Akhirnya Kristy yang menjaga Mama di rumah, sementara aku menjaga Rosa di rumah sakit, tiga hari dua malam. Dari situlah kami dekat kembali dan jadian," terangku menyingkat cerita.


"Kenapa Rud tiba-tiba menghilang?" tanya Aryan belum puas.


Aku menggeleng. "Gak ada yang tahu apa alasan Rud pergi begitu saja."


"Secepat itukah Rosa melupakan Rud dan berpindah hati padamu?" terus Aryan kejar ceritaku.


"Kurasa kamu hanya jadi pelariannya," timpal Aryan yang kemudian segera kutimpali juga.


"Aku bahkan rela hanya sekadar menjadi pelampiasan," balasku segera meneguk air mineral lagi.


"Cintamu sejati, Bro. Kamu harus bahagia, jangan biarkan Rosa pergi lagi dari sisimu!" tegas Aryan seraya menepuk pundakku.


"Kalau Rosa yang memilih pergi, aku bisa apa?" ucapku yang rasanya terdengar menyedihkan.

__ADS_1


"Kamu harus berusaha lebih keras lagi, buat dia tak bisa meninggalkanmu," nasihat Aryan dengan serius.


"Anak, pastikan Rosa hamil. Aku yakin dia akan berpikir ribuan kali untuk meninggalkanmu jika dia mengandung buah cinta kalian," ujar Aryan yang mulai kupikirkan kebenarannya.


Membayangkanmu mengandung buah cinta kita membuatku tersenyum sendiri. Bahagia sekaligus aku menerka-nerka, ngidam seperti apa yang akan kamu alami. Apakah ketusmu akan semakin menjadi ataukah cintamu padaku semakin tidak akan terkendali? Aku seperti tidak sabar menunggu masa itu? Ya ... aku harus menghamilimu! Kenapa aku geli mendengar kalimatku sendiri. Seperti seseorang yang akan mengambil paksa padahal aku adalah suami sahmu.


"Malah senyum-senyum sendiri, malam-malam dalam keromantisannya udah berapa season? Udah ganas belum? Atau dikacangin? Atau dianggurin? Atau masih perjaka teng tong, nih?" cerca Aryan sambil terus menggoda.


"Kamu menaikkan hormonku, Bro! Rasanya ingin kudobrak pintu depan, kuusir pacar-pacarmu itu dan kucum*u istriku dengan beringas," ujarku memanas-manasi Aryan.


"Kalau begitu kamu bukan mau bikin anak tapi mau bunuh anaknya orang, dasar. Klarifikasi tuh kalimat! Mereka bukan pacar-pacarku tapi pengagumku," jelas Aryan dengan wajah songongnya.


"Aku panas, kamu seolah menertawakan kalau aku suami yang gagal," celetukku.


"Memang," timpal Aryan tanpa rasa sungkan.


"Abang macam apa, kamu? Adiknya kesusahan malah senang," ujarku seraya merebahkan tubuh kembali.


Aryan juga ikut merebahkan diri. "Aku menertawakan nasib cinta kita. Kenapa bisa jatuh cinta pada wanita yang sama dengan cara yang sama pula. Bedanya kamu jadi suaminya sementara aku berstatus Abangnya. Namun kita sama, mengakui jika Rud adalah yang pertama di hatinya, ha-ha-ha ...."


Aku tak menanggapi, tidak menyangkal tapi juga tak membenarkan. Tentang aku dan Aryan adalah kebenaran. Begitupun tentang Rud. Yang terpenting sekarang bukan itu tapi langkah apa yang harus kuputuskan sebagai jalan terbaik untuk kita.


"Sekarang bukan saatnya menertawakan. Menurutmu apa yang harus kulakukan?" tanyaku sebagai klien dari penasihat hati pengganti.

__ADS_1


"Jadilah Dion yang Egois! Yang sudah sah jangan mengalah pada sebuah kisah. Masa lalu untuk dikenang bukan untuk menghancurkan hubungan yang sudah dihalalkan. Rosa mencintaimu, jangan biarkan dia menyesal untuk kedua kalinya karena kamu tinggalkan!" tutur Aryan dengan serius, jika begini kedewasaannya terpancar.


Kuangguki semua yang dia bilang. Benar, aku adalah suamimu. Tugasku adalah membawamu bahagia, selalu sepanjang nyawa masih bertahan di ragamu. Bahagia bersamaku bukan bersamanya. Kamu yang memilih untuk ada di sampingku jadi aku tak akan melepaskanmu. Ya ... aku harus egois! Aku harus kembali menjadi Dion sang pejuang.


__ADS_2