
Keseruan kami mengadakan farewell party, tak terasa sudah melewati pukul sepuluh malam. Belum lagi harus membereskan apartemen Mas Rendra, setidaknya pasti akan membutuhkan waktu satu jam. Oleh karenanya, Dion mengusulkan untukku dan Maya untuk menginap. Jangan berpikiran macam-macam dulu, ya, karena kami akan menginap di apartemen Dion. Sementara para lelaki itu akan menghabiskan malam di apartemen Mas Rendra.
"Bagaimana?" tanya Maya begitu aku selesai menelepon Kristy untuk memberitahu kalau aku tidak pulang malam ini.
"Diizininlah," seruku bahagia.
"Percaya banget mama sama Mas Dion?" Maya penasaran.
Aku mengangkat kedua bahuku bersamaan. "Karena Dion emang bisa dipercaya, selama ini dia kan emang gak pernah macem-macem sama aku, makanya mama percaya sama dia."
"Aku gak percaya Mas Dion sealim itu, tadi aja dia peluk kamu di hadapan kita semua," terang Maya.
"Sebatas pelukan," ceritaku.
"Cium kening?" telisik Maya.
"Sering," jawabku enteng.
"Cupika-cupiki?" lagi-lagi Maya menelisik.
"Jarang," ucapku tanpa beban.
Dion itu jarang sekali menyentuh pipiku dengan bibirnya, yang ada justru aku yang lebih sering menggodanya dengan sentuhan di pipinya. Dia lebih memilih untuk menyentuh keningku atau malah mengacak puncak kepalaku. Memang itu lebih ku rasakan sebagai sentuhan penuh rasa sayang dibandingkan sentuhan di pipi yang dipenuhi oleh ga*rah menggebu.
"Kalau ini?" tanya Maya sambil menunjuk bibirnya.
"Sekedar mengecup, itu pun aku dimarahi," ceritaku.
"Siapa yang marah?" kekepoan Maya semakin menjadi.
Ingatanku bergulir pada masa itu. Di mana aku gemas dengan kecemburuannya pada Pak Aryan. Ku curi sebuah kecupan di bibirnya setelah ia lebih dulu terbawa amarah dan mengecupku.
"Dionlah, kan aku mengecupnya tanpa izin," jujurku.
Maya memelototkan matanya seolah tak percaya mendengar pengakuanku. Mungkin dia anggap aku terlalu polos dan anggun untuk melakukan itu. Mana ada cerita seorang Rosa yang manis, nyosor duluan. Aku tak semanis pikiranmu, teman.
"Ah, aku tak percaya Mas Dion bisa marah karena keagresifanmu, bukankah seharusnya ia senang?" Maya menganalisa.
"Kenapa gak percaya banget, sih? Emang, Mas Rendra sudah melebihi batas untuk menyentuhmu," godaku.
"Kita sudah dewasa, Sa," pernyataan Maya yang bisa ku baca sebagai pembenaran untuk pikiranku.
"Malam pertama kalian sudah lewat rupanya," selorohku.
Pletak!
Ku usap jitakan Maya pada kepalaku. Gemar sekali ia melakukannya. Sakit tapi pasti akan ku rindukan momen seperti ini. Tak kan ada lagi yang akan menjitakku ketika aku berbuat salah.
__ADS_1
"Kami tidak melakukan sejauh itu," klarifikasinya.
"Mereka sepupu yang masih tahu batas, rupanya," tuturku.
"Udah cinta beneran, nih, sama Mas Dion?" selidik Maya pada rasaku.
"Kok, kamu nanyanya 'gitu?" pertanyaan Maya itu aneh di telingaku.
"Karena aku tahu hatimu. Emang sih Mas Rud itu ganteng, ganteng banget malah, tapi ingat, dia pernah meninggalkanmu. Dan Mas Dion yang setia menemanimu saat kamu terpuruk. Jangan sia-siakan dia lagi. Nyesel itu adanya di belakang. Kalau dulu Mas Rud bisa meninggalkanmu, tak menutup kemungkinan dia akan melakukannya untuk kali kedua," nasihat Maya yang ku rasakan kebenarannya.
"Mauku juga fokus pada Dion, May, tapi Mas Rud datang lagi, aku gak bisa menguasai alam bawah sadarku," terangku.
"Jangan main api," ingat Maya.
Ku kembangkan senyumku, "Tenang, aku bakalan terus berusaha untuk mencintai Dion, hanya Dion. Bodo amatlah sama Mas Rud," aku meyakinkan Maya sekaligus menguatkan rasa di hatiku.
"Sip! Ini baru Rosa! Tapi aku masih gak percaya deh kalian masih skip ini?" tunjuk Maya pada bibirnya lagi.
"Aku yang ngebet, dia gak," tuturku santai.
"Kasihan sekali kamu dianggurin Mas Dion," ledek Maya lengkap dengan tawanya.
Sebuah WA masuk dari Dion.
Bisa tidur, 'kan? Bobok di kamarku tanpa tunangan gantengmu, ini.
"Kenapa sih, ngedumel?" Maya merebut HPku. "WAnya aja mesum," seru Maya kemudian.
"WA doang," keluhku.
"Ha-ha-ha ... Mas Dion, Rosamu jablay, nih!" teriak Maya.
"Sssstttt ... aku gak semesum itu kali. Udah ah jangan berisik, ayo tidur," ajakku sambil menarik selimut sampai menyisakan leher dan kepalaku.
"Beneran belum pernah dicium di sini?" Maya lagi-lagi menggoda dengan menunjuk bibirnya.
Ku hantamkan guling dan bantal ke arah Maya. "Aku masih polos, jangan terus-terusan racuni aku."
*****
Dion PoV
Bantal dan guling yang berserakan di apartemenku sebanding dengan kulit kacang dan beraneka bungkus camilan yang bertebaran di apartemen Rendra. Malam ini, kami bertiga menghabiskan waktu di sini. Tentu saja yang ku maksud bertiga ini adalah aku, Rendra dan juga Aryan.
"Aryan," panggil Rendra pada mantan atasannya itu.
"Mentang-mentang udah resign, gak panggil aku Pak, lagi," seloroh Aryan menanggapi panggilan Rendra.
__ADS_1
"Sekarang, kita teman, Bro," jelas Rendra.
"Kenapa?" tanya Aryan menanggapi panggilan Rendra padanya.
"Minggu depan jangan lupa datang ke kawinanku, ya!" ingat Rendra.
"Ogah ah, masa jauh-jauh ke Yogya cuma liatin orang kawin," seru Aryan tanpa dosa.
Sebuah lemparan demi lemparan kulit kacang tepat mengarah pada tubuh Aryan. Dengan sigap ia menepisnya. Tendangan balasan pun ia layangkan ke arah Rendra. Tak mau kalah, Rendra balik melayangkan tendangan. Aku seperti sedang menyaksikan sinetron laga secara live.
"Kalian gak malu sama umur?" celetukku.
Tanpa ku sangka, mereka malah balik menyerangku. Tendangan membabi buta dan tonjokan tanpa arah mereka layangkan padaku. Jiwa fighterku terlecut, "Kalian jangan mancing masalah, ya, sabuk item, nih."
Rendra pun menghentikan serangannya. "Aryan, mundur! Jangan sampai aku gagal menikah Minggu depan."
Aku duduk kembali. Ku tarik senyum smirk untuk 2 lawanku yang sudah mundur teratur. "Terima ajalah, Bro, kalau aku paling muda di sini."
"Jangan bahas umur, aku emang paling tua, juga satu-satunya yang jomblo diantara kalian, jadi jangan buat aku makin ngenes," ungkap Aryan.
"Tenang, Bro! Nanti aku kenalin banyak wanita, stokku melimpah. Mau yang kayak gimana, cantik? Salihah? Rambut panjang? Langsing? Gigi gingsul ...?" papar Rendra tiada habisnya.
Aryan tersenyum sempurna. "Aku mau yang itu."
"Itu Rosa, mau?" goda Rendra pada Aryan yang sengaja memancing rasa cemburuku.
"Itu memang gadis yang ku mau," jawab Aryan dengan santainya.
Ish ... terang-terangan sekali dia menginginkan dirimu. Apa dia sudah lupa jika aku adalah pemegang sabuk hitam. Seandainya aku polos dalam ilmu beladiri pun, aku akan tetap pasang badan jika ia ingin merebutmu dariku.
"Aryan, jangan memancing amarahku!" ingatku penuh keseriusan.
"Santai sepupuku, kalau Aryan niat merebut Rosa darimu, sudah ia lakukan dari kemarin-kemarin. Lagian, mana mau Aryan menerima bekasmu," Rendra menengahi.
"Bekas? Seenaknya saja bilang begitu, aku bahkan belum menyentuhnya," jujurku.
"Mana aku percaya?" Rendra mementahkan kejujuranku.
"Tidak salah berarti kalau aku merebutnya? Masih tersegel," ungkap Aryan tanpa beban.
Amarahku mulai berangsur memanas. Namun, pikiranku masih bisa ku ajak untuk mengendalikannya. Inginku beranjak pergi tapi Aryan menahanku. "Tenanglah, aku hanya bercanda!"
Candaanmu tidak lucu! Rosa adalah milikku, sekarang dan akan selamanya berada di sisiku. Jika kamu menginginkannya, lebih baik kamu urungkan saja niatmu. Akan ku pertaruhkan segalanya untuk Rosaku.
"Sudahlah, Bro! Jangan berantem gara-gara Rosa! Jangan merusak malamku bersama kalian," Rendra meredam amarahku.
Aryan mendekat dan tiba-tiba memelukku. "Dia milikmu."
__ADS_1
Baiklah, ku maafkan candaanmu. Ku apresiasi ke-gentle-anmu untuk mengakui perasaan yang kau punya pada wanitaku. Sekaligus kau bisa merangkulku sebagai temanmu. Namun jika kamu berpikir bisa merebutnya, kamu salah. Langkahi dulu mayatku, baru dia bisa menjadi milikmu. Dan ku pastikan itu tak akan ku biarkan terjadi semudah itu.