
Malam ini terasa amat panjang.Detik yang berjalan seolah amat tertatih."Ardi" nama itu berhasil membuatku kalut.Aku masih ingat betul,bagaimana aku dan mama selalu disudutkan oleh keluarga eyang.Bagaimana kami selalu diingatkan siapa kami sehingga berani-beraninya menolak Ardi! Bagaimana kami selalu diiming-imingi kemewahan materi jika mau menerima perjodohan ini! Bagaimana kami juga ditakut-takuti dengan kesengsaraan hidup jika tetap menolak keluarga mereka.sungguh suatu keadaan yang sangat berat.
"Papa! aku kangen papa!" sedihku sambil menatap langit yang suram dari balkon kamarku
Aku mengamati pintu gerbang rumahku. Seolah aku bisa melihat,papa sedang menunggu kepulanganku dari sekolah.Papa akan selalu setia berdiri disana sampai aku berada disampingnya,mencium tangannya dan mengajak beliau masuk untuk mendengarkan ceritaku.Begitulah papa menjagaku! papa yang sibuk bekerja tapi akan tetap meluangkan waktu walaupun untuk sekedar mengajak kami jalan jalan keliling kota sambil kulineran.Papa yang selalu ku bilang galak pada teman lelakiku yang ingin main ke rumah,padahal sejatinya aku yang tidak ingin mereka mendekatiku lebih dari teman.Papa yang selalu menasihatiku bagaimana memilih teman,jangan sampai tertipu penampilan luar bahkan jangan sampai menilai orang dari casing luarnya saja.Papa yang tegas tapi terkadang sangat lucu dengan tingkah konyol beliau.Dan banyak hal tentang papa yang selalu aku rindukan.
"Papa! Semoga engkau mendapatkan kebahagiaan disana!" doaku dalam hati sambil memejamkan mata
Saat aku sedang menikmati waktu untuk mengenang papa, lamunanku buyar saat teleponku berdering.Video call dari mas Rud.
"Kamu menangis?" pertanyaan pertama mas Rud saat melihat mataku sembab
Aku mengangguk.Bibirku masih terasa berat untuk berkata-kata.
"Apa aku menyakitimu?"tanya mas Rud kemudian
Aku menggeleng.
__ADS_1
"Papa!" jawabku singkat
"Sayang,jangan sedih! Bukankah aku sudah berulang kali bilang,aku akan menggantikan papa untuk menjagamu!" hibur mas Rud
"Aku rapuh mas!"ucapku tersedu
"Apa aku harus kesana sekarang untuk menguatkanmu kembali?" tawar mas Rud
Aku justru menumpahkan air mataku mendengar ketulusan hati mas Rud.Aku benar-benar membutuhkannya.Membutuhkan bahunya untuk ku bersandar saat aku terseok.Membutuhkan Tangan lembutnya untuk selalu kugenggam erat sebagai penyemangat.Serta membutuhkan kata-kata manisnya yang membuatku hidup dalam tawa bahagia.
"Mas!" panggilku
"Jangan pernah tinggalin aku sendiri!" pintaku
"Aku gak sanggup jika gak ada kamu mas!" aku ku
"Aku akan memegang janji yang telah aku ucapkan di hadapan papa! kamu jangan nangis lagi!" jelas mas Rud
__ADS_1
Aku kembali mengangguk.
"Mas,aku tidur dulu ya!" kataku
"Tidurlah,tapi jangan matikan video call an kita ya! Aku ingin melihatmu sampai terlelap!" pinta mas Rud
"Iya." jawabku
Aku pun beranjak dari balkon.Segera masuk ke kamar dan merebahkan diri di ranjang.Sayup-sayup suara mas Rud yang menina bobokkanku membuat kenyamanan yang perlahan memudarkan kekalutan batinku.Samar dan perlahan suara itu tak lagi ku dengar.Kiranya aku telah beralih ke dunia mimpi.
*****
Mas Rud PoV
Aku masih menatap HPku tanpa berniat mengalihkan pandangan dari seorang gadis yang tengah memejamkan mata di ujung sana.Wajah gadis itu sendu membiaskan air mata yang baru saja mengering.
"Sayang, maafkan aku karena tak bisa menghapus air matamu saat kamu menangis!" gumamku.
__ADS_1
Sejenak kemudian aku mematikan sambungan video call dan beranjak ke arah balkon.Menemukan langit yang suram tanpa rembulan dan bintang-bintang.Langit inilah yang tadi juga dihamparkan dimata gadis yang baru saja ku telepon.