
Tawa canda kami, terjeda, saat teleponku berdering. Dion yang berada tak jauh dari HPku, mengambilkan benda pipih itu dan menyerahkanya padaku.
Pak Aryan?
Melihat siapa yang menelepon, pandanganku langsung mengarah pada Dion. Ku lihat ekspresinya, gak ada yang berubah dengan mimik mukanya. Aku yakin, dia pasti tahu siapa yang meneleponku, tapi kenapa dia tak bereaksi sama sekali.
"Halo!" angkatku tanpa meninggalkan tempat dudukku.
"Untunglah kamu belum tidur, aku mau ngomong soal pekerjaan," Pak Aryan menjelaskan.
Pekerjaan? Pekerjaan penting apa yang harus dibahas malam-malam begini? Mana ini adalah malam minggu lagi. Apakah dia hanya mencari-cari alasan saja untuk meneleponku?
Sambil mendengarkan penjelasan pak Aryan, aku memperhatikan ekspresi mereka bertiga. Mereka terlihat penasaran, berita apa yang aku dengar dari sang penelepon. Sepertinya keresahan di raut wajahku terbaca jelas, sehingga mereka menjadi ikut menebak-nebak pembicaraan yang sedang terjadi.
"Besok jam 1 ada acara pelelangan amal tahunan keluarga Sanjaya, temani aku!" perintah Pak Aryan.
Aku menajamkan pendengaranku. "Bisa diulang, Pak?"
"Besok, kamu harus menemaniku menghadiri acara pelelangan amal tahunan keluarga Sanjaya. Jam 10 aku jemput, kamu gak bisa nolak, ini perintah langsung dari presdir Najendra Group." kata-kata panjangnya sebelum menutup telepon.
Aku tertegun memahami kalimat panjang Pak Aryan. Apakah aku kena prank? Ah mana mungkin. Tapi, menemaninya ke acara lelang amal, apa itu bagian dari tugasku sebagai editor? Mana hari minggu pula. Bukankah acara semacam itu, untuk kalangan jetset? Kenapa Presdir menunjuk Pak Aryan? Kenapa Pak Aryan mengajakku? Siapa Pak Aryan sebenarnya?
"Ada apa, Sayang, kok jadi melamun?" Dion mendekatiku.
"Masa, besok aku disuruh nemenin Pak Aryan ke acara lelang amal." ungkapku penuh tanda tanya.
"Lelang amal?" Mas Rendra mengulang kata-kataku.
Aku mengangguk. "Aneh, gak, sih?" Aku melihat Mas Rendra sedang berpikir, Maya pun sama. Namun, Dion malah terlihat santai dan malah menampakkan senyumnya padaku. Ibarat hujan di gurun yang panas terik, senyum Dion itu sedikit membuyarkan keresahanku.
"Gak usah dipikirin, Sayang. Kita lihat saja, besok, dia beneran jemput kamu atau gak." Dion menenangkan.
"Ini alarm bahaya untuk hubungan kalian," celetuk Mas Rendra.
"Pak Aryan mulai terang-terangan mendekatimu, Sa!" Maya ikut bersuara.
Aku menatap Dion, "Aku hanya mencintai, Sayang. Jangan cemburu, ya."
Dion mengecup keningku lembut di hadapan Mas Rendra dan Maya. "Selalu ingat janjiku padamu, ya!"
__ADS_1
Iya, Di, aku ingat. Otakku bisa menyimpan dengan sempurna segala yang pernah engkau katakan padaku. Pengorbananmu, cintamu, kecemburuanmu dan bahkan segala gombalanmu.
"Bolehkah, aku, datang?" tanyaku ragu.
Dion membelai rambutku. "Jaga hati!"
"Kok, Mas Dion biarin Rosa pergi sama Pak Aryan, sih?" Maya protes.
"Kamu, gak takut Pak Aryan punya rencana jahat sama Rosa?" Mas Rendra menimpali.
"Gak 'pa 'pa, ini hanya lelang amal. Aku yakin, Aryan gak akan sejahat itu, dia tahu harus bagaimana menjaga reputasinya." yakin Dion penuh ketenangan.
Ku peluk pacar sempurnaku itu. "Makasih, Sayang!"
*****
Aku dan Maya sudah membaringkan tubuh lelah kami di ranjang kamarku. Kantuk mulai menyerangku, seharian ini aku menghabiskan waktu bercanda bersama Dion, memasak bareng dan juga mengobrol ngalor ngidul gak jelas.
"Sa, kok Mas Dion bisa, sih, ngizinin kamu pergi sama Pak Aryan?" Maya mengusikku yang mulai memejamkan mata.
"Hmmm ...." jawabku males.
"Tanya aja sama dia, aku mau tidur," ucapku sambil menarik selimut sampai menutupi kepalaku.
Bukan Maya namanya, jika membiarkanku bisa tidur tenang, padahal dia masih dihantui rasa penasaran. Maya berusaha membuka selimutku dan menggoyang-goyangkan badanku. Dia memanggil-manggil namaku agar aku segera memberi jawaban untuk menghilangkan rasa penasaran atas pertanyaan yang ia miliki.
Awalnya, aku pura-pura tidur. Namun, lama-lama aku terganggu juga oleh ulahnya. Ku buka mataku dan aku menatapnya. Dia diam, menunggu kalimat apa yang akan aku utarakan.
"Kamu, gak akan bisa memahami bagaimana cara Dion mencintaiku, jadi jangan tanya lagi mengapa dia bisa begini atau begitu padaku." ucapku santai kemudian menjatuhkan lagi diriku menuju alam mimpi.
Maya tak bertanya lagi. Ia seolah sedang memahami apa yang baru saja aku katakan. Ia mengernyitkan dahinya dan kemudian ikut membaringkan tubuhnya di sebelahku.
*****
Dion PoV
Di sebuah kamar lain di rumah Rosa, aku sedang merebahkan tubuhku di sofa. Rendra duduk di tepi ranjang. Dia mengamatiku dengan mata tajamnya.
"Yakin, ngizinin Rosa pergi sama Aryan?" Rendra mulai menyelidik.
__ADS_1
Aku diam. Pertanyaan itu, sebenarnya hanya basa-basi saja, kan, sepupuku? Kalau kamu saja gak yakin, aku pun lebih gak rela membiarkan dia berdua dengan lelaki itu. Apalagi aku tahu, bagaimana lelaki itu menyimpan rasa pada Rosaku.
Namun, aku harus realistis. Rosa bukan barang yang bisa ku sembunyikan sepanjang hidupnya. Dia manusia yang punya perasaan dan perasaannya itu juga bukan dia yang mampu untuk mengendalikan sepenuhnya. Bagaimananpun aku melarangnya, jika takdir sudah berkata, maka sesuatunya akan tetap terjadi.
Bukan aku pasrah, tapi aku sudah membuktikan bagaimana hati itu akan menemukan rasanya sendiri. Ketika dulu aku menggebu untuk memilikinya, dia justru tak menganggapku ada. Ketika aku mengikhlaskan , dan memilih pergi, dia kemudian menemukan cinta yang lain. Namun rupanya takdir berpihak padaku. Cinta yang dia pilih ternyata meninggalkannya. Dan takdir membawaku kembali ke sisinya. Bukan sebagai pejuang hatinya, melainkan sebagai kekasih yang ia jadikan sebagai sandaran hati.
Jadi, untuk apa aku takut? Takut Rosa akan diambil oleh Aryan. Biarlah cinta menemukan bahagianya. Kita hanya bisa menjaganya bukan mengekangnya.
"Aku tahu, kalau sebenarnya kamu juga cemburu," Rendra kembali berkata.
Aku menoleh ke arahnya. "Cemburu itu ada karena aku mencintainya."
"Jangan nyesel kalau sampai Aryan bisa membuat Rosa berpaling darimu," Rendra mengingatkan.
"Aku diam, bukan berarti aku membiarkan itu terjadi. Yang sudah menjadi milikku, akan ku perjuangkan untuk tetap menjadi milikku!" kataku yakin.
"Ini baru Dion, pejuang cintanya Rosa." Rendra menghadiahiku dengan dua jempolnya.
Aku membalasnya dengan mengangkat kedua alisku. "Kamu gak perlu khawatir, aku bukan lelaki bodoh yang akan melepaskan Rosa begitu saja, setelah perjuangan panjangku."
Aku beranjak dari sofa dan menjatuhkan diriku di ranjang. Ku telentangkan ragaku dan ku tatap langit-langit kamar yang kini ku tempati. Terbayang wajah cantik Rosa dengan senyum manisnya sedang bermain di sana. Aku tersenyum dalam hayal indahku.
"Woy tidur-tidur, jangan gila, malam-malam senyum-senyum sendiri." Dion merebahkan dirinya di sampingku. Dia melihatku yang masih tak bergerak dari posisiku. "Geser!"
"Idih, tidur di sofa sana! Masa kita mau tidur seranjang." usirku.
"Jangan mesum, aku juga masih normal, masih doyan perempuan." Rendra menggerutu.
Aku menggeser posisiku, memberinya setengah porsi ranjang.
"Jijik banget gak, sih, tidur seranjang berdua, gini?" Rendra bertanya.
"Kalau aku, sih, iya. Gak tau kalau, kamu." tukasku.
"Harusnya, aku tukerin kamu sama Maya," Rendra mulai ngelantur.
Ku lempar bantal ke arahnya. "Tidurlah, jangan merenggut kesucian calon adik sepupuku sebelum waktunya tiba."
Rendra tersenyum menyeringai. "Terlambat!"
__ADS_1