Tentang Hati

Tentang Hati
Hati yang Ku pilih


__ADS_3

Ku ketuk pintu ruangan Pak Aryan. Entah ada latar belakang apa, pagi ini aku disuruh menghadapnya. Masalah pekerjaan? Rasanya bukan. Namun entahlah dia mulai bersikap yang sulit ku tebak.


"Masuk!" perintahnya.


Aku pun menuju ke mejanya tanpa ragu. "Bapak, memanggil saya?"


Dia mengalihkan pandangan dari laptopnya. Lantas bersandarlah punggung kekarnya itu di sandaran kursinya. "Bagaimana keadaan lelaki yang kemarin kita antarkan ke rumah sakit?"


Benarkan? Dia mencariku bukan untuk membahas pekerjaan. Namun, pertanyaan ini, ku rasa wajar. Karena memang kemarin dia membantuku untuk membawa Mas Rud ke Rumah Sakit. Dan kini ia bertanya kabarnya, itu sah-sah saja.


"Nanti, waktu makan siang, saya akan menjenguknya, Pak." jelasku.


"Boleh, aku ikut?" tanya Pak Aryan.


"Saya, ke sana sama Dion, Pak." jawabku agar ia mengurungkan niatnya.


"Kalau begitu, aku menunggu kabar darimu, saja." tuturnya.


Yes ... berhasil!


Aku bersorak. Aku lega. Coba saja Pak Aryan ikut, bakalan jadi rumit urusannya. Hatiku yang rumit, harus membagi hati untuk tak membuat mereka bertiga terasa kaku.


"Kalau begitu, sekalian izin, ya, Pak. Mungkin, saya akan terlambat balik ke kantor," ucapku penuh hormat.


"Baik," jawab Pak Aryan.


Aku bangkit dari dudukku. "Saya permisi dulu, ya, Pak."


"Tunggu!" Pak Aryan menghentikan langkahku. Dia juga bangkit dari duduknya dan kemudian duduk bersender di mejanya. "Siapa dia?"


Aku sudah tau, Pak Aryan pasti akan menanyakan ini. "Dia, Mas Rud, mantan atasan saya, Pak."


"Rud? Apa dia yang dulu menempati posisiku?" tanya Pak Aryan.


"Iya, Pak." jawabku membenarkan.


Pak Aryan melihatku. "Mantan kekasihmu, bukan?"


Aku tercekat mendengar kalimat terakhirnya. Dari mana Pak Aryan tahu? Apakah ia mencari tahu seluk belukku. Ku pandang wajah Pak Aryan yang berbalut senyum itu. Dia balas menatapku dan menaikkan tingkat kemanisan senyumnya. "Aku, tahu semua tentangmu. Jadi, kamu gak perlu terkejut begitu."


"Baguslah, Pak. Saya, tidak perlu lagi menjawab pertanyaan Bapak. Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya tidak mau makan gaji buta." jelasku mulai melangkah.


"Apa kamu tidak mempunyai pertanyaan untukku?" tanya Pak Aryan.


Aku menghentikan langkahku. Apa maksud pertanyaannya itu? Aku mengernyitkan dahi. Ku tatap wajah teman sekaligus manajerku yang tersenyum penuh arti tersebut. Ohya ... aku ingat! "Siapa Bapak sebenarnya?"


Pak Aryan mendekatiku dan memasang jarak satu meter saja. "Sarapan, yuk! Nanti aku akan menjawab pertanyaanmu."

__ADS_1


Aku berbalik dan meneruskan langkahku. "Bapak tidak perlu menjawabnya."


"Makan siang mungkin, dinner, sarapan besok ...." tawarnya yang perlahan terdengar samar di telingaku yang semakin menjauh dari ruangannya.


*****


Aku menghela nafas dalam setelah berhasil mendudukkan diri di kursiku. Senam pacu jantung pagi ini, berhasil menaikkan tingkat kesehatanku lebih besar lagi. Kelembutan Dion yang mengantarkanku berangkat kerja, tergusur oleh ulah Pak Aryan. Aarrghh ... ingin rasanya ku berteriak.


Belum kelar urusan dengan Mas Rud, muncul lagi Pak Aryan. Beruntung banget nih aku? Digentayangin para lelaki tampan yang tak bisa menerima penolakan. Namun, aku lebih beruntung memiliki lelaki tampan yang super perhatian.


"Sa, gimana Mas Rud? Aku denger dia tertembak? Kok, bisa, sih?" kekepoan Maya menambah pikiranku.


Aku fokus menatap layar kerjaku. "Tanya Mas Rendra aja, aku mau kerja dulu!"


"Kamu, gak seru!" seloroh Maya dari balik mejanya.


Bodo amatlah! Hari ini, aku mau fokus kerja dan kerja. Sementara kesampingkan dulu urusan hati. Entah itu Mas Rud, Pak Aryan maupun Dionku. Dion juga? Ehmmm ... sepertinya ada pengecualian untuknya.


*****


Seperti janji kami semalam, aku dan Dion kembali ke Rumah Sakit untuk menjenguk Mas Rud. Alhamdulillah dia sudah sadar dan melewati masa kritisnya. Ia pun sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Aku dan Dion sudah berada di depan ruang rawatnya sekarang. Aku menghentikan langkah dan mempersiapkan segala rasaku untuk kembali bertemu dengannya.


Dion menggenggam tanganku dan melangkah mendahuluiku. Dalam senyumnya ia berkata, "Cinta itu tentang hati, yakinlah!" Dion membuka pintu.


Ku lihat Mas Rud sedang terbaring di ranjang pasiennya. Wajahnya lebih segar dari kemarin meskipun masih terlihat pucat.


"Tante," Dion menyapa ibunya Mas Rud terlebih dahulu.


Aku memeluknya. " Ibu, sendirian? Apakah ibu sudah makan siang?"


Ibu membalas pelukanku. "Ayah pulang dulu, nanti sore ke sini lagi. Karena kalian datang, Ibu tinggal salat dan makan siang dulu, ya."


"Baik, Bu." ucapku melepaskan pandang dari ibu yang mulai keluar kamar. Ku alihkan pandanganku pada Dion yang tengah mengobrol dengan Mas Rud. Melihat mereka akur, hatiku bahagia. Mengingat bagaimana mereka saling pukul waktu terakhir kali bertemu, ya ... saat dipertunangan Maya dan Mas Rendra, ini tentunya menjadi pemandangan yang adem buatku.


"Permisi, ini makan siang untuk pasien," ucap suster yang mengantar.


Aku menyiapkan alat makan Mas Rud. "Ayo, makan dulu, Mas."


Kami bertiga saling pandang. Aku memandang Mas Rud, berpikir bagaimana ia makan sendiri dengan keadaannya sekarang. Lantas aku menatap Dion, bagaimana perasaannya kalau aku membantu Mas Rud untuk makan.


"Bisa bantu aku makan?" suara Mas Rud membuatku makin bingung. Tatapanku yang masih berhenti di mata Dion mendapatkan jawaban dari senyumnya. "Suapin, dia."


Dion hendak melangkah pergi. Aku menangkap lengannya. Ku gelengkan kepalaku, isyarat agar dia tidak pergi. Dion berhenti. " Aku tunggu di sofa, suapin dia biar bisa minum obat."


Baiklah, Di. Aku lakukan ini karena kamu mengizinkannya. Aku temani langkahnya sampai di sofa lewat pandangan mataku. Aku lantas beralih ke Mas Rud, bersiap untuk menyuapinya.


"Terimakasih, sudah mau menyuapiku," ucap Mas Rud dengan ulasan senyumnya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu, Mas?" aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


Dia melihatku dengan tatapan yang sama, tatapan yang dulu membuatku jatuh cinta. Rosa ... kuatkan hatimu! Jangan tergoda dengannya lagi. Ingat Dion ... Dion ... Dion! Dia mencintaimu dengan segenap jiwa raganya. Sementara lelaki ini, dia pernah meninggalkanmu dan melukai jiwa dan ragamu.


"Aku semakin sehat apalagi kalau ada kamu di sini."


Apakah dia mencoba untuk merayuku lagi? Ah, biarkan saja dia bicara semaunya. Ku biarkan telingaku mendengar dan kemudian akan aku hempaskan.


"Alhamdulillah kalau begitu, Mas," aku berusaha menormalkan ekspresiku. Aku berusaha untuk tak banyak bicara meskipun sebenarnya aku ingin sekali menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Aku takut jika semakin banyak tahu, maka hatiku semakin galau. Harapanku semoga ia segera menyelesaikan makannya dan tugasku selesai.


"Obatnya di minum dulu, Mas," perintahku setelah Mas Rud menyelesaikan makannya.


"Cerah sekali, ya, hari ini?" tiba-tiba saja seorang lelaki yang berpakaian sama seperti Mas Rud menghampiri kami. Seorang suster mengikuti di belakangnya.


"Lo, jadi pindah kamar juga?" tanya Mas Rud setelah meminum obatnya.


"Iya dong, aku kesepian tanpamu, masa Duo Gagah, Duo bodyguard yang sama sama tertembak dada kanan dan kirinya pisah ranjang, apa kata Bang Ismed coba?" lelaki itu cerewet sekali.


"Pantesan, lo cepet sembuh ya, Rud? Ada bidadari gak bersayap di sini," celoteh lelaki yang mengenalkan dirinya bernama Zeno tersebut.


Mas Rud tak berkomentar tentang kesalahpahaman yang bermain di otak Zeno. Dari senyum smirknya itu, aku tebak jika ia amat menikmati situasi ini. Namun, Dion datang menghampiri kami bertiga.


"Hai, Zeno, kenalin aku Dion, calon suami bidadari tak bersayap ini!" tutur Dion dengan kalimat manisnya yang menusuk.


Zeno nampak blingsatan dengan sikapnya. Dia pasti amat canggung, sikap sok taunya jadi bumerang buat dirinya sendiri.


Sementara Dion menampakkan senyum kemenangannya pada Zeno dan paling utama untuk Mas Rud.


Terimakasih, Sayang. Ini yang memang aku inginkan darimu. Menunjukkan jika aku adalah milikmu yang sangat engkau perjuangkan. Dan aku juga akan memperjuangkanmu. Tak peduli dengan kehadiran Mas Rud lagi atau mungkin lelaki lain yang akan datang kemudian.


Dari sudut mataku, ku dapati Mas Rud melihatku tajam penuh arti. Segera ku alihkan pandanganku dari kedua lelaki ini. Aku fokus pada lelaki yang baru saja salah sangka pada hubunganku dan Mas Rud.


Iya ... dia adalah lelaki yang kemarin berbicara dengan Mas Rud ketika aku balik dari toilet. Pantas saja jika dia salah paham dengan hubunganku dengan Mas Rud. Sepertinya kemarin dia membaca keanehan sikapku dan Mas Rud.


"Rud, sepertinya kami harus balik dulu. Ini sudah lewat jam makan siang." Dion berpamitan. "Semoga lekas pulih," ucap Dion lagi.


Aku mengulum senyum untuknya. Mewakilkan semua ucapan pada Dion. Kami mulai berbalik badan untuk meninggalkannya.


"Jagalah dia baik-baik, jangan sampai dia terluka!" ucap Mas Rud menambah volume suaranya.


Dion menghentikan langkahnya dan berbalik. " Itu tidak perlu kamu ingatkan, aku bahkan sudah menjaganya dari luka yang kamu torehkan." Dion tersenyum dan kembali melangkah, menggenggam jemariku dan terus melangkah.


Panas ....


Aku merasa aura panas yang mereka pancarkan. Ini hanya perasaanku atau mungkin begitulah yang terjadi di antara mereka sebenarnya.


*****

__ADS_1


Hai pembaca setia "Tentang Hati" ditunggu like, komen, vote n rate5 nya ya! Biar author lebih semangat lagi untuk up.


Jika ingin mengetahui kisah Zeno, bodyguard tampan yang gokil, baca novel "Balas Dendam Cowok Kampungan" by Linanda Anggen. Di jamin bakal mengocok perut kalian, author udah buktiin!


__ADS_2