Tentang Hati

Tentang Hati
Menemuimu


__ADS_3

Pagi ini, langit cerah sekali. Cuaca sesegar ini, merefreshkan suasana hatiku. Minggu, waktunya menikmati hidupku. Menjauhkan segala beban pekerjaan, yang sebenarnya tak ku sebut itu beban, karena aku mencintai pekerjaanku. Waktu ini lebih bisa ku sebut sebagai "ajang malas-malasan". Hari tanpa harus bangun pagi-pagi, segera mandi dan hanya ku isi dengan menikmati siaran televisi. Betapa beruntungnya aku menemukan hari minggu.


"Kok belum mandi, Sa! Bukankah acara lamarannya jam 10 pagi," Mama mengingatkan.


"Rosa lupa ma! Ingetnya masih nanti malem," aku langsung bangun dari duduk santaiku.


Mama menggelengkan kepalanya. Ini sudah jam 08.00, tapi aku masih asyik menonton televisi sambil ngemil. Mendengar omongan mama, aku langsung berdiri, puter balik dan ....


Bruuughh!


Badanku menghantam sesuatu yang padat, tinggi dan besar.


"Kamu, lagi! Ngapain, sih, pagi-pagi udah ke sini," omelku sambil melangkahkan kaki pergi meninggalkannya.


"Maklumin, ya! Rosa memang kalau perasaannya lagi jelek, semua kena batunya," pinta Mama pada Dion yang baru saja ku tabrak.


"Iya, Ma, Dion udah kebal diomelin Rosa," jawab Dion sambil tersenyum.


"Kalian, jadi berangkat bareng?" Mama mencari tau.


"Pengennya gitu, Ma, tapi Dion belum bilang Rosa," jawab Dion.


"Kamu, udah makan belum? Itu dimeja ada sarapan," Mama perhatian.


"Makasih, Ma! Tapi Dion tadi udah sarapan," jelas Dion.


"Ya sudah, Mama tinggal ke belakang dulu ya," pamit Mama.


Dion pun, mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu, sambil menikmati acara kulineran di TV yang tadi ku tonton. Sesekali ia memainkan HPnya dan kemudian kembali fokus ke TV lagi. Seperti ada sesuatu yang ia tunggu dengan keragu-raguan.


*****


Aku berdiri mematung di depan almariku. Mencari jawaban pakaian mana yang akan aku kenakan. Ada beberapa kebaya yang berjejer manis di gantungan bajuku. Kebaya gold wisudaku, kebaya pembawa luka dari Mas Rud, dan juga ada kebaya dari Dion yang masih berada di paper bag dari semalem.


"Yang mana?" batinku bingung.


Ku ambil kebaya wisudaku!


Masih muat!


Tapi ...! gak ... gak ... gak ...! aku menolak memakainya tanpa alasan yang jelas.


Ku coba lagi kebaya dari Mas Rud.


Cantik!


Aku jadi mengingat lagi hari itu, saat menghadiri lamaran Tria dan Rio dengan kebaya couple-an ini.


"Ganti ... Ganti ... Ganti ...!" kataku keras.

__ADS_1


Apa kata dunia, kalau aku pakai ini dan Mas Rud melihatnya? Bukankah aku akan terlihat sangat konyol! Terlihat begitu tergila-gila dengannya dan gak bisa move on!


Oh No!


Tapi emang kenyataannya aku masih mengharapkannya.


"Pakai ini saja!" pikirku mulai goyah.


"Jangan!" sudut hati putihku bicara.


"Iya!" aku menguatkan keyakinanku.


"Iya, aku akan memakai kebaya ini!" aku memutuskan.


Akhirnya kebaya itu membalut indah di tubuhku. Aku tersenyum bangga. Ku patut lagi di cermin! Lama ku saksikan diriku sendiri di pantulan cermin.


"Hmmmm ...," aku kemudian melepas lagi kebaya yang sudah indah ku pakai itu


Aku terduduk di sudut ranjangku.


Tak sengaja, mataku menemukan paper bag yang tergeletak di sofa. Segera ku ambil dan ku pakai tanpa beban pikiran. Ku patut make up flawless ku di cermin. Tanganku refleks mengambil anting dan menghias manis di telingaku.


Aku tersenyum melihat penampilanku sendiri.


*****


Pintu kamarku terbuka.


"Ma, Rosa mau berangkat," aku mencari mama ke dapur melewati ruang keluarga.


"Udah siap?" tiba-tiba Dion mengagetkanku.


Aku mengabaikan pertanyaannya dan langsung menuju dapur.


*****


"Ayo berangkat!" ajak Dion saat aku sudah keluar dari pintu utama rumahku.


Aku melihatnya.


Sepertinya ada sesuatu yang janggal dari hasil penglihatanku.


Apa ya?


Rambutnya?


Masih cepak rapi ber-gel.


Lengannya?

__ADS_1


Masih ada jam tangan hitam yang setia di pergelangan tangannya.


Apa ya?


Aku berpikir lama.


Oh Apa ini?


Aku melihatnya dan kembali menatap diriku!


SAMA!


kebaya couple again?


"Alamat buruk ini!" batinku.


"Ayo masuk!" panggil Dion yang sudah standbye di mobilnya.


Aku pun seolah terhipnotis, dengan penurutnya aku masuk ke mobil Dion.


Canggung


Kalian tau? Aku merasa canggung dengan keadaan ini.


Tapi anehnya, Dion hanya senyum-senyum tanpa jeda.


"Apa, sih, ngeliatin mulu!" ketusku pada Dion.


"Aku suka! Terimakasih," jawab Dion.


"Suka? Suka apa? Terus ucapan terimakasih untuk apa lagi?" tanyaku beruntut.


"Semua yang kamu kenakan, aku suka! Dan aku berterimakasih untuk itu," ungkap Dion.


Semua yang ku kenakan?


Oh My God!


Kebaya ini?


Anting ini?


Aku baru sadar, jika ini semua darinya.


"Please Di, jangan salah paham tentang ini!" batinku.


Aku tak mau berpikir tentang ini? Apa yang kau pikir?


Dan apa yang akan Mas Rud pikir!

__ADS_1


__ADS_2