
Malam sudah melewati waktu magrib, Dion izin ke apotek sebentar. Test pack, dia akan mencari benda yang paling kami butuhkan kali ini. Sembari menunggunya, aku memilih untuk menonton televisi. Semakin menjauhi waktu pagi, maka keadaanku semakin sehat kembali. Sungguh ketidaknormalan badan yang aneh.
Sebuah bunyi nyaring dari arah pintu mengganggu pendengaranku. Sudah jelas itu bukan Dion karena dia bisa masuk tanpa perlu permisi. Sebuah nama yang paling mungkin bertamu jam segini adalah tetangga apartemen depan. Ya ... Pak Aryan, kakak sulung keluarga Dinata, yang sebenarnya menyandang nama belakang Dharma sebagai silsilah keluarganya.
"Buah ...," ucapnya sambil mengangkat tangannya yang membawa sekantong penuh berisi sesuatu yang baru ia sebutkan.
"Terimakasih," balasku sambil mengambil kantongnya dan meninggalkan orang yang membawanya.
Tanpa mempersilakan masuk, aku tinggalkan dia di depan pintu yang terbuka. Pilihan ada di tangannya, mengikutiku atau putar balik ke pintu rumahnya.
"Di mana suamimu?" tanyanya begitu duduk di sofa.
"Apotek," jawabku dari arah dapur, mencuci buah untuk segera kumakan.
"Hm, masih mual?" tanya Pak Aryan kemudian sambil menggulung lengan kemeja sampai ke siku.
Aku kembali ke sofa dengan beberapa buah dan pisau dalam nampan yang kupegang. "Mualnya waktu pagi n sikat gigi."
"Aku gak sabar dipanggil uncle," celetuknya sambil mengambil apel dan mengupasnya.
"Itu apelku."
"Iya, aku kupasin. Kamu duduk, aja," perintahnya.
__ADS_1
Oke! Manjakan aku, Pak! Dulu aku ingin sekali memiliki kakak lelaki, tapi tak tercapai karena aku dilahirkan pertama. Sekarang, mimpi itu justru menjadi nyata. Jadi, nikmati saja.
"Nih, makan yang banyak! Biar sehat Mama dan calon keponakanku," tandasnya sambil menyerahkan potongan buah siap santap.
Lelaki ini penuh kasih sayang. Wanita yang kelak jadi pilihannya pasti beruntung sekali. Bukan hanya tampan dan mapan, tapi juga sangat perhatian. Semoga dia segera menemukan kebahagiaan sempurna. Bukan sekadar bahagia melihatku bahagia, tapi juga bahagia dengan seseorang yang ingin dia bahagiakan dan ingin membahagiakannya juga.
"Sayang, kamu kok memasukkan lelaki lain saat aku gak ada?" celetuk Dion saat baru memasuki ruang yang sedang kuhuni bersama Pak Aryan.
"Masih juga mencurigaiku?" timpal Pak Aryan dengam senyum tenangnya.
"Makanya buruan nikah," balas Dion double maksud, antara menginginkan dia melepaskan kejomblowan dan menghilangkan saingan yang sebenarnya gak perlu dianggap rival.
"Nanti, sekarang aku pulang dulu. Lekas istirahat. Jangan lupa segera ke dokter kalau hasil tes nya 2 garis merah walaupun yang satu samar," nasihat Pak Aryan sebelum ia memilih untuk menghilangkan jejak dari pembahasan tentang pernikahan.
🌞🌞🌞🌞🌞
Dua garis, satu terlihat dengan warna terang sedangkan satunya nampak samar-samar. Persis seperti yang dikatakan oleh Pak Aryan. Benar-benar amazing. Sama dengan perasaanku saat ini. Merasakan buncahan rasa bahagia yang terdorong dari kertas dengan bentuk garis memanjang. Meskipun belum penuhnya yakin, tapi hatiku tetap menaruh kepercayaan bahwa dalam rahimku sedang berkembang setitik darah yang akan berubah menjadi makhluk kecil bernyawa.
Tanpa sadar kuusap lembut perutku. Senyum terkembang melukiskan perasaan yang begitu senang. Dion yang baru selesai memuji Sang Khaliq, mendekatiku masih dengan pakaian kebesarannya, baju koko, sarung dan kopyah dengan warna putih. Begitu adem dalam penglihatan, apalagi setelah ia ikut mengusap perut rataku.
"Sesuatu yang sedang tumbuh di dalam sana, berkembanglah dengan baik. Rasakan kebahagiaan kami yang terlahir karena hadirmu," ucap lembut Dion dengan senyumnya yang jelas memancarkan riang.
kupasrahkan tubuhku dalam dekapan Dion. Berdua, tertarik dimensi rasa yang membuncahkan puncak rasa senang. Inilah nyawa ketiga yang kami nantikan. Meramaikan sepi karena dua penghuni. Bila berdua itu sudah bahagia maka bertiga, berempat dan bahkan bersebelas adalah titik tertinggi bahagia dari sebuah rumah tangga.
__ADS_1
🏥🏥🏥🏥🏥
Rumah sakit, kami memutuskan berada di sini sekarang. Berdiri di depan loket pendaftaran khusus pasien baru. Seorang wanita sibuk menanyakan beberapa pertanyaan yang langsung dijawab oleh Dion. Itu biasa, yang tidak biasa adalah tatapannya yang nampak terpesona dengan lelakiku yang sedang diajaknya berbicara. Aku cemburu.
Kami diarahkan menunggu dokter yang ingin kami temui di sebuah ruangan dengan tulisan di bagian pintu "dr. Ibam Gunawan, Sp.OG". Telah ada beberapa pasutri yang sudah memenuhi kursi tunggu. Aku dan Dion memilih barisan kursi di ujung ruangan.
"Kok milih dokter laki-laki 'sih, Sayang?" Dion bertanya untuk kali kedua.
"Karena yang praktek hari ini, hanya dia yang aku sreg," jelasku.
Terang saja aku memilih dokter Ibam, wanita ganjen tadi bilang kalau dia adalah dokter muda yang tampan. Bukankah itu alasan yang logis jika dia kujadikan pilihan. Siapa juga yang gak doyan pemanis mata? Segala rasa yang disebabkan oleh faktor kehamilan akan mereda jika yang memeriksa enak dipandang. Bukankah begitu?
"Ada dokter Nafa," sebut Dion pada dokter perempuan yang langsung kutepis dengan jawaban TIDAK.
"Aku gak mau kamu bermanis-manis bicara dengannya. Dokter Nafa itu kan kakak tingkat kita di kampus dulu. Saat kita masuk, dia sedang menempuh spesialisnya. Otakku masih mengingat dengan jelas, bagaimana dia mengejarmu tanpa malu," ingatku pada seorang wanita yang dulu tak kupedulikan keberadaannya di dekatmu dan kini aku menjadi sangat anti-pati.
Dion nampak menghela napas panjang. Kewalahan menghadapi kecemburuanku yang beberapa hari ini semakin menjadi. Entahlah, aku juga menjadi bingung dengan diri sendiri. Hatiku seperti tak rela saat ada wanita lain yang menikmati suamiku, walau sekedar memandang. Aku gak bisa.
"Periksa kedua, kita cari rumah sakit yang lain saja ya? Yang ada dokter perempuannya tapi bukan dokter Nafa, bagaimana?" tawar Dion yang kurasa dia juga memendam rasa cemburu jika aku diperiksa dokter pria, apalagi masih muda dan tampan.
"Apakah kamu juga cemburu seperti aku?" godaku pada Dion yang sedang memasang wajah tanpa senyuman.
"Auratmu gak boleh dilihat mata lelaki lain kalau tidak darurat, Sayang," jelas Dion dengan memandangku lembut.
__ADS_1
Aku tahu itu. Namun kenapa masih juga kuabaikan. Ini hanya perasaanku atau kalian yang baca juga merasakan? Bahwasanya semakin hidup bersamanya, semakin aku mendapati kesalehan seorang Dion Wijaya. Memilihnya, bonus yang kudapatkan ternyata sangat melimpah. Perhatian yang tak berkurang justru makin banyak serta hidup yang semakin dekat dengan pencipta alam.
Jika bersamanya membuatku semakin baik, semoga cintaku dan cintanya akan kekal abadi, bukan hanya sampai menua di dunia tapi juga kembali dijadikan suami istri di surga nanti.