Tentang Hati

Tentang Hati
Saling Mengetahui


__ADS_3

"Kenapa, sih, ngomel-ngomel?" Maya berdiri dari kursinya dan bersender di pembatas mejaku dan mejanya.


"Susah jadi orang cantik, dikejar-kejar cowok ganteng terus," aku mengusap kepalaku yang baru saja dijitak Maya.


"Jangan ganjen, inget tuh Mas Dion! Mau nyari yang gimana lagi?" inget Maya padaku.


"Nyari yang lebih tampan dan mapan," ucapku enteng.


"Emang ada? Mau dong!"


Aku menjitak kepala Maya. "Inget tuh, Mas Rendra minggu depan jadi suami kamu."


"Tenang, aku inget, kok, tapi bocorin dong siapa yang tampan dan mapan?" Maya belum kapok juga ku jitak.


"Tuh!" aku menunjuk ruangan Pak Aryan tanpa melihat ke arah yang ku maksud.


"Pak Aryan," ucap Maya.


"Iya," jawabku mulai fokus pada laptopku.


Kemudian aku menoleh ke arah Maya. "Kamu, jangan tergoda sama Pak Aryan! Walaupun lebih tampan dan mapan tapi dia udah tua."


Maya memelototiku, bibirnya komat-kamit. Maya mengarahkan matanya ke arah belakangku. Wah ... sepertinya ada sesuatu yang gak bener ini. Ucapanku barusan? Jangan-jangan Pak Aryan, aduh mana aku menyebutnya tua lagi. Perlahan ku balikkan badanku seraya berdoa semoga yang ku pikirkan adalah salah.


"Ehemm ...." Pak Aryan berdehem.


Terpaksa ku pasang senyumku. Aku menangkupkan kedua tanganku tanda permintaan maaf. Parahnya, permintaan maafku dicuekin olehnya. Dia kemudian meletakkan kotak berpita pink yang tadi ku abaikan.


Pak Aryan langsung berjalan meninggalkanku . Bukan menuju ruangannya tapi entah kemana. Aku tak bisa diam tanpa meminta penjelasan. Mengapa ia kekeh memberikan kotak itu padaku?


Ku tinggalkan kotak itu di mejaku dan aku setengah berlari untuk mengikutinya. "Tunggu, Pak!" pintaku setelah berhasil menyusulnya di pintu lift.


Sebelum pintu lift itu tertutup, aku segera memasukinya. Napasku yang masih ngos-ngosan perlahan mulai bisa ku kendalikan. Entah kenapa Pak Aryan cuek dengan segala tingkahku. Apakah ia marah?


Pintu lift terbuka dan Pak Aryan berjalan menuju ke arah rooftop. Selama lima bulan di sini, aku sama sekali belum pernah menjejakkan kaki ke tempat yang akan Pak Aryan tuju. Aku makin penasaran, untuk apa Pak Aryan menuntunku ke sana?


Wow!


Itu adalah kata pertama yang bisa ku ungkapkan setelah melihat hijaunya rooftop ini. Banyak bunga bermekaran, daun-daun menghijau yang masih basah oleh siraman air, sungguh meredam kekacauan pikiran. Sebuah bangku ceper persegi ala-ala Jepang duduk manis di tengah rooftop. Bisa dibilang seperti lesehan kecil di tengah taman, indah sekali. Aku ingin duduk di sana tapi niatku ku urungkan. Pak Aryan memilih berjalan ke pagar pembatas dan berdiri di sana, aku pun mengikutinya.


"Pak," panggilku.


Pak Aryan tak jua melihatku. Ia memilih untuk melabuhkan pandangannya pada hamparan gedung-gedung menjulang yang berdiri di sekitar bangunan ini. "Aku belum pernah jatuh cinta sedalam ini, Sa."

__ADS_1


Membisu, itu yang ku lakukan. Kalimatnya sudah mampu menjelaskan bahwa ia akan berbicara tentang perasaannya padaku. Bukan sesuatu yang sebenarnya ingin ku dengar tapi tetap harus ku dengarkan.


"Kamu tahu aku mencintaimu, bukan? Aku rasa Dion juga tahu bagaimana perasaanku padamu. Kita sama-sama saling mengetahui. Namun perlu kamu ketahui, aku tidak akan memintamu untuk membalas perasaanku, tapi aku hanya meminta tetaplah di sampingku sebagai temanku."


Ku balikkan badanku, ku sandarkan tubuhku pada pembatas dan ku bebaskan mataku untuk menatap wajah Pak Aryan. "Gak ada pertemanan sejati antara laki-laki dan perempuan, Pak, tanpa ada salah seorang yang menyimpan perasaan."


"Jadikan aku temanmu, biarkan aku di sampingmu dan abaikan perasaanku padamu. Biarlah hatiku menjadi urusanku sampai ada hati lain yang bisa menggantikanmu di hatiku," Pak Aryan menyunggingkan senyumnya.


Ku balas senyumannya. Itu sudah lebih dari cukup untuk mengiyakan apa yang ia minta dariku. Membiarkan perasaannya tumbuh dan menunggu untuk layu, ku rasa adalah sesuatu yang sulit untuknya. Jadi mengiyakan pertemanan yang ia tawarkan seharusnya tidak akan memberiku masalah untuk hubunganku dan Dion selanjutnya.


"Kotak yang Bapak berikan tadi, apa isinya?" tanyaku kemudian.


Pak Aryan berpindah duduk di atas bangku lesehan yang tadi ku incar. Dia menepuk bangku kosong di sebelahnya. "Duduklah!"


Menjadi penurut di hadapan Pak Aryan adalah hal langka yang ku lakukan di luar pekerjaan. Nyatanya, kali ini aku menurutinya. Mungkin ini hanya caraku untuk mendapatkan jawaban darinya. Cara licik yang terpaksa menjadi pilihanku.


"Kamu inget gak, barang apa saja yang di lelang pada acara lelang amal kemarin?" tanya Pak Aryan.


Ku ketuk-ketukkan ujung jari telunjukku pada cuping hidungku. Blank, gak ada sedikitpun yang terbayang. Kemarin, aku ke sana hanya karena mengikuti perintah Pak Aryan. Hal lain-lain tidak masuk dalam pikiranku.


"Kamu pasti gak tahu, fokusmu mantan, sih," goda Pak Aryan.


Senyum nyengirkulah yang membenarkan pernyataan Pak Aryan. "Saya, mana ngerti dunia begituan, Pak."


"Bapak, beneran putranya Tuan Najendra Dharma?" aku ingat untuk menanyakan pertanyaan yang sempat terlupakan beberapa waktu lalu.


"Memang kenapa?" tanya balik Pak Aryan.


"Acara lelang amal kemarin itu kan hanya untuk kalangan terbatas, Pak. Mana mungkin Bapak bisa menghadirinya hanya dengan mengandalkan posisi sebagai manajer," beberku.


"Memangnya siapa aku, akan berpengaruh pada hubungan kita?" tanyanya lagi.


"Berpengaruh, sih, gak, Pak. Tapi setidaknya saya harus tahu diri dan bisa menjaga sikap saya jika berbicara dengan Anda," jelasku.


Pak Aryan memilih tertawa kecil. "Jangan berubah! Aku suka kamu yang bersikap begini padaku."


Ditengah-tengah obrolan kami, tiba-tiba saja Pak Aryan mengeluarkan benda pipih dari saku celananya. "Dia, ada bersamaku," ucapnya setelah beberapa waktu mendengar kalimat si penelepon.


Dia, ada bersamaku? Sepertinya kalimat itu merujuk padaku. Siapa yang menghubunginya untuk menanyakan keberadaanku?


Dion?


Hanya Dion, orang terdekatku yang punya nomor Pak Aryan. Wah gawat kalau itu dia. Alasan apa yang harus ku jelaskan padanya?

__ADS_1


Belum sempat menemukan jawaban, Pak Aryan sudah menyodorkan HPnya padaku.


"Dicariin pacarmu," jelas Pak Aryan.


"Hai, sayang!" sapaku.


Mengapa aku memanggil Dion semanis itu? Apakah aku sedang membentengi diriku dari amarah dan kecemburuannya? Bukankah aku seperti seorang penjilat? Ih, menjijikkan!


"Apakah kamu merindukanku berlebihan, sampai harus membutuhkan lelaki lain untuk menggantikanku?" goda kekasihku itu manis.


"Kenapa kamu bicara begitu, Sayang? Bukankah kamu tahu kalau kamu tak tergantikan di hatiku," ciih, kenapa aku jadi pintar membual.


Terdengar tawa kecil dari kalimat Dion. "Kamu manis sekali, Sayang, aku semakin merindukanmu."


"Aku juga merindukanmu, makanya cepetan pulang, dong," rengekku.


Sumpah, aku geli membayangkan diriku sendiri. Bisa-bisanya aku jadi bucin di hadapan Pak Aryan. Ku lirik Pak Aryan yang masih duduk di sebelahku.


Biasa ... Ekspresinya normal. Sikapnya gak terpengaruh sama sekali dengan kecentilanku.


"Sayang, ada urusan apa kamu berduaan dengan Aryan jam segini?" pertanyaan cemburu dari Dion mulai keluar.


Wah ... aku kebingungan untuk menjawabnya. Mana mungkin aku jawab jika aku mengejarnya sampai ke rooftop. Bisa-bisa Dion langsung kembali ke Jakarta untuk memberiku ilmu baru. Ah, harus ku jawab apa?


Tiba-tiba Pak Aryan mengambil HP dari tanganku. "Dia mengambil barang lelang yang kemarin kami dapatkan."


Apa maksudnya? Barang lelang? Isi kotak itu barang lelang? Aku jadi semakin penasaran.


"Kamu tenang saja, Rosamu masih utuh. Aku tak menyentuhnya sama sekali. Jangankan menyentuh hatinya, seujung kukunya pun aku tak menyentuhnya." ungkap Pak Aryan kemudian pada Dion.


"Ya udah, kamu kerja lagi, Sayang. Jangan lama-lama dengannya." Dion memperingatkan.


HP itu memang masih di tangan Pak Aryan tapi aku bisa mendengar jelas karena diloudspeaker.


"Siap, Sayang! Kamu juga cepet selesaiin kerjaanmu ya, aku takut rinduku tak bisa lagi ku bendung," rayuku.


Dan telepon itu pun berakhir setelah Dion mengecupku secara virtual. Pak Aryan yang jadi saksi kebucinanku kali ini, sok tidak peduli. Padahal aku tahu jika hatinya tak secuek itu. Tapi aku tak peduli. Ku balas kecupan Dion itu dengan manja.


"Ayo, turun! Aku takut pacarmu itu menghajarku kalau kita kelamaan berdua di sini," ajak Pak Aryan setelah teleponku berakhir.


Aku mengikuti langkahnya. " Tapi Bapak belum menjawab semua pertanyaanku? Isi kotak itu? Latar belakang Pak Aryan? Jawab dulu, Pak!"


Namun Pak Aryan kembali mengacuhkanku. Terus berjalan dan tak menoleh sedikitpun padaku. seolah merasakan deja vu waktu kami datang tadi. Ah sudahlah!

__ADS_1


__ADS_2