
Jam pulang kantor sudah terlewat lima belas menit. Aku masih berkutat dengan monitor yang menyala. Dion menjemput sedikit lebih telat, alhasil aku harus menunggunya sebentar lebih lama. Kuhabiskan waktu menantinya dengan meneruskan pekerjaan. Toh, masih banyak juga teman kantor yang belum pulang. Tak seperti Anggen yang pulang tepat pukul lima, Tya baru saja keluar dari ruangan Pak Aryan.
Entah membicarakan pekerjaan atau bukan, tapi raut mukanya semakin memperlihatkan ketidaksukaannya padaku. Sengaja tak kulihat hanya sedikit melirik saja. Aku lelah harus menguras hati untuk mendengar perkataan Tya yang semakin menjadi. Sayangnya, saat aku menghindar tapi dia malah berhenti di samping mejaku.
"Caper banget, sih! Di rumah dilindungi suami, di kantor minta perlindungan boss. Istri macam aa, itu?" ucap Tya sengit.
Tak kubalas perkataannya. Jangankan bicara, menoleh ke arahnya pun tidak. Bukan tidak berani tapi aku hanya ingin menahan diri agar tidak terjadi pertikaian. Meskipun hatiku memanas dan tidak tau kapan akan mendidih, sekarang yang kuingin hanya bersabar. Aku tidak suka bertengkar.
Selepas kepergian Tya, kubuang napas kasar. Memilih mengalihkan tatapan dari layar menyala, kupilih untuk menyenderkan punggung. Tak habis pikir mengapa masalah ini semakin pelik. Sesalah itukah aku?
Pikiran melayang pada masa awal aku mengetahui perasaan Tya pada Pak Aryan. Meski aku mengenal Tya setelah dia menaruh rasa, tapi aku ingat jika selalu berusaha untuk mendekatkan mereka. Itukah yang Tya benci? Aku jadi mak comblang, tapi ujung-ujungnya aku yang meraih perhatian. Bukankah begitu kutukan dalam kamus percomblangan? Menjadi perantara tapi pada akhirnya justru menjadi orang diantara, cinta tumbuh pada hati yang salah.
Namun, aku tak mencintai Pak Aryan. Kami memang dekat tapi hanya sebatas hubungan persaudaraan. Itu pun sudah terjalin sejak dulu, jauh sebelum Tya, aku dan Pak Aryan saling mengenal. Jadi, di mana letak kesalahanku?
"Belum dijemput?" suara Pak Aryan membuatku menolehkan pandangan.
"Iya, Mas Dion lagi ketemu sama temennya tadi. Katanya telat jemput."
"Perlu aku telepon dia bilang kalau kamu pulang sama aku?" tanyanya langsung kujawab dengan gelengan.
Pak Aryan lantas beranjak ke meja Anggen dan menarik kursinya. Menggeser ke belakangku dan berdiam di sana. Untuk menjaga kesopanan yang biasanya kuabaikan, aku pun memutar kursiku menghadapnya.
"Kerja, aja! Aku tungguin sampai suamimu datang," jelas Pak Aryan dengan mengulaskan senyuman.
Kuputar kembali kursiku seperti perintahnya. Meneruskan pekerjaan yang memang dari tadi ingin kuselesaikan. Terfokus hingga lupa jika ada dia yang sedang berjaga. "Pak, gak pulang lagi ke rumah?" tanyaku untuk memecah sunyi.
"Kenapa? Mau ikut?" celetuk Pak Aryan sambil memasukkan benda pintar yang dari tadi ia mainkan, ke saku kemejanya.
"Gak ah, ntar dikira calon mantu," timpalku sembarangan.
"Kepedean banget, sih. Orang Papa juga 'udah kenal," balas Pak Aryan hendak mengulur tangan untuk mengacak puncak kepalaku tapi segera kutepis.
Kugerakkan jari telunjukku kekanan dan kekiri tepat di depan matanya. Tak mengizinkan sesuatu yang akan dia lakukan. Mata kugerakkan pada beberapa orang yang masih standby di meja mereka. "Mau bikin Tya semakin salah paham?"
"Tadi aku udah bicara sama dia."
__ADS_1
Benar tebakanku, Pak Aryan baru saja mengingatkan Tya. Makanya tadi dia melampiaskan kekesalannya kembali. "Sepertinya percuma. Keluar dari ruangan Bapak, dia masih mengeluarkan kata- kata pedas, malah lebih pedas."
Pak Aryan mengernyitkan dahi. Sejenak berpikir dan mengajakku untuk beranjak dari meja. "Kita tunggu suamimu di lobi, aja!"
Arahan Pak Aryan untuk segera meninggalkan ruangan kusetujui. Tak mungkin kami membahas seseorang di mana orang itu berada dalam satu ruangan. Ya ... Tya belum juga pulang saat kami sedang mengobrol. Pasti dia semakin sebal. Diperingatkan berulang aku tetap kebal dan tak juga sadar.
Aku menyusul Pak Aryan saat semua peralatam kerja selesai kubereskan. Menoleh kearahnya sebentar sebelum meninggalkan ruangan, tatapan mata kami saling mengikat. Mengapa pas sekali dia sedang melihatku juga? Tatapan ini akhirnya seperti kilatan tajam permusuhan.
Segera kutarik penglihatanku dan berjalan meninggalkannya. Menyusuri sepinya lantai dengan perasaan yang sangat sulit untuk kutepiskan. Aku merasakan sakit, dipandang seperti ini hatiku perih. Sahabat yang biasanya bercanda bersama, kini bercerai-berai karena masalah hati.
"Iya, Mas. Baiklah kalau begitu, semangat ya!" jawabku saat tiba-tiba Dion menelepon dan meminta maaf karena tidak bisa menjemput.
"Ayo, pulang bareng aku!" ajak Pak Aryan seolah tahu apa yang baru saja Dion katakan.
Kukernyitkan dahi, menatapnya dengan tajam. Menelisik kalimat yang keluar dari mulutnya. Bingung karena ia tahu aku akan ikut pulang bersamanya. Dia ini cenayang, punya mata-mata ataukah menyadap teleponku?
"Suamimu sudah meneleponku tadi. Menanyakan keberadaanku, apakah masih di kantor ataukah sudah balik," jelas Pak Aryan gamblang.
"Baiklah, ayo pulang!" ajakku mendahuluinya meninggalkan kantor menuju parkiran di mana mobilnya berada.
"Bagaimana kehamilanmu?" tanya Pak Aryan saat kami mulai terjebak kemacetan.
"Bawaannya cemburuan sama Mas Dion, Pak."
"Bagus dong. Sepertinya kamu ketularan bucinnya suamimu," ujar Pak Aryan sambil mengukir senyum manisnya.
"Hm, aku makin cinta sama dia," akuku sedikit malu-malu.
"Harusnya memang begitu, jangan goyah lagi. Dion adalah lelaki terbaik untukmu."
Benar, tak ada yang mengerti aku seperti Dion. Aku yang plin-plan, tak pernah membuatnya berubah dan memutuskan menyerah. Kekhilafanku dalam kenikmatan gejolak tak sekalipun membuatnya galak. Dia selalu bijak dan melunak menghadapiku yang masih belum sepenuhnya jinak.
"Aku bahagia dikelilingi orang-orang baik dan mendapatkan suami yang terbaik," syukurku atas nikmat Tuhan yang begitu banyak.
"Karena kamu juga wanita yang baik," tutur Pak Aryan menilai.
__ADS_1
"Dan Bapak juga orang baik, terimakasih sudah menjadi Abang terbaik buat kami, Pak."
Pak Aryan mengusap puncak kepalaku. "Kamu dan Dion adalah adikku, walaupun keberadaanku sama sekali gak penting buat kehidupan kalian, tapi kebahagiaan kalian adalah hal terpenting dalam seorang Aryan. Aku minta maaf karena Tya mengusik ketenangan hidupmu. Apalagi kamu sedang hamil, seharusnya masalah seperti ini tak boleh mengganggu pikiranmu. Dia sepertinya belum jera, nanti aku akan bertindak kalau dia memang sudah sangat keterlaluan."
"Siapa bilang kehadiran seorang Pak Aryan sama sekali gak penting buat Rosa, hm? Bapak adalah kakak lelakiku yang terbaik. Kasih tahu siapa namanya? Belum tahu apa kalau Rosa ngamuk, hulk aja bertekuk lutut," gerutuku dengan memasang wajah bengis.
Telapak tangan kiri pak Aryan mengusap wajahku pelan. "Serem tahu kalau kayak gitu."
"Habis, meremehkan kehadiranmu, Abang."
"Coba galaknya sama Tya, aja!" perintah Pak Aryan sambil mengerling nakal.
Kutepis tangan Pak Aryan yang masih dia letakkan di depan wajahku. "Tya urusanmu, aku takut disantet online."
"Berarti rela kalau aku yang kena santet?"
"Kurasa kalau Bapak bukan disantet tapi dipelet," celetukku disertai tawa ngakak.
Lagi-lagi Pak Aryan mengusap lembut wajahku. Kesal aku goda terus. Sementara aku, semakin dia sebal maka aku semakin senang. Bisa melupakan dongkol yang tadi bercokol dengan kolot. Tangannya yang tak juga beralih dari hadapanku, akhirnya membuatku diserang rasa kantuk. Berkali menguap dan itu justru membuat tangannya dia dekatkan ke wajahku. Entah untuk menutup mulutku yang menganga atau menghindari bau yang akan menyebar.
🚘🚘🚘🚘🚘
"Sudah sampai?" tanyaku saat membuka mata dan mengenali tempat kami berada, basemen apartemen.
"Hm."
Segera kurapikan baju dan rambutku yang berantakan karena ketiduran. Melepaskan seatbelt dan meraih tas kerjaku. "Makasih, Pak."
Mendahuluinya berjalan, kutinggalkan dia yang masih berada di mobil. Setelah menempuh sekian waktu perjalanan akhirnya sampailah aku depan pintu apartemene. Lekas masuk dan merebahkan diri di ranjang. Rasanya tidurku belum cukup. Kantuk masih menyerang dan ingin aku puaskan.
Tanpa terasa aku kembali menyelami alam mimpi.
Entah berapa lama waktu yang sudah kuhabiskan untuk mengistirahatkan raga, yang jelas, saat aku terbangun, kudengar samar-samar suara orang yang sedang berbicara. Dari suaranya kukenali jika itu adalah milik Dion dan yang lainnya belum kupastikan milik siapa. Kurapatkan pendengaran, mengingat-ingat siapa pemiliknya.
Daripada menduga-duga, aku memilih untuk menyapa mereka. Masih belum mengganti pakaian kerja, aku keluar setelah cuci muka dan menggosok gigi. Kulihat jarum jam, untuk memastikan siapa yang bertamu malam-malam begini.
__ADS_1
Mataku berbinar, saat melihat siapa yang tengah berada di dekat Dion. Segera kudekati sambil membuka kedua tangan dan memanggil sayang.