
"Sayang, kamu pipis, ya? Cup-cup ... jangan menangis. Papa akan menggantikan popokmu. Kasihan Mama, biarkan ia terlelap untuk melepas lelah."
Dion begitu sabar dan penuh perhatian. Terbangun untuk kali kedua pada jam 2 dini hari, tidak membuatnya emosi. Tak terlihat wajah lelah atau kepenatan sehabis bekerja seharian dan terganggu tidur malamnya yang seharusnya tenang.
"Anak hebat," puji Dion ketika Di-junior menampakkan senyum manis. Bayi berusia satu bulan itu tampak sangat menggemaskan.
Dengan cekatan, Dion telah selesai mengganti celana Di-junior. Ia kemudian memeluk dengan lembut. "Sayang, bobok lagi, yuk! Besok pagi, Papa akan mengajakmu bermain lagi."
Usapan penuh kasih dan lantunan salawat yang diperdengarkan oleh Dion, membuat Di-junior tertidur kembali.
"Tumbuhlah dengan sehat dan bahagia, ya, Nak. Papa akan terus melimpahimu cinta dan doa." Dion mencium kening Di-junior dan kemudian bersiap untuk kembali terlelap.
🍁🍁🍁
"Mas, bolehkah aku memelukmu seperti ini terus?" izin Rosa pada Dion yang sedang memotong bakso dan ia melingkarkan kedua lengannya dari belakang.
"Apa kamu tidak lapar, Sayang?"
"Lapar, tapi aku bisa kenyang dengan melakukan ini." Rosa menyandarkan kepala pada punggung tegap itu. "Memilikimu adalah keberuntungan dalam hidupku, Mas. Rasanya aku tidak ingin melepasmu sekejap saja."
Dion meletakkan bakso dan pisau. Perlahan tubuhnya memutar. Ia melayangkan senyum manis seraya mencubit hidung sang istri. "Sejak kapan kamu pandai merayu, Sayang? Apakah ada hal yang kamu inginkan dariku, hm?"
Rosa kembali mengeratkan pelukan yang sempat mengendur karena Dion memutar tubuh. Ia memamerkan bening mata yang sangat menggemaskan.
"Aku ingin mengeksploitasimu, Mas."
__ADS_1
Lagi, Dion mencubit hidung Rosa untuk kali kedua. "Jangan nakal, Sayang! Biar aku yang melakukan."
"Aku saja, Mas." Rosa sengaja menggoda Dion. "Ganti suasana."
Dion mencubit hidung Rosa lagi. "Aku tidak ingin ada yang berubah. Bagiku, kamu tetap indah walaupun waktu tak lagi diam. Cinta ini bukan tentang aktivitas yang menjemukan walaupun berulang dalam persamaan, Sayang."
Rosa menatap Dion dengan segenap rasa. Keharuan itu meletup dalam penyatuan tatapan lembut.
"Aku akan tetap mengucap i love you walaupun kamu membuatku kesal, marah, bahkan ingin meninggalkanku pergi. Jangan pernah bilang ingin ganti suasana, karena inilah yang aku impikan untuk kulalui bersamamu, sepanjang hidupku."
Dion mengecup kening Rosa dengan sangat lembut. "I love you, Sayang."
"Seberapa pun aku mengucap sayang balik untuk Mas, aku rasa tidak akan pernah bisa melampaui besarnya rasa yang Mas miliki untukku." Rosa menjeda kata, karena matanya mulai berkaca-kaca. Ia dilimpahi cinta dan perhatian yang tidak akan bisa diungkapkan. Tak ada kalimat yang setara untuk melukiskannya.
Jemari Dion menyeka air mata yang mulai berlari di pipi Rosa. "Mengapa kamu suka sekali membanding-bandingkan rasaku dan rasamu, Sayang? Aku tidak ingin mendengarnya lagi."
"Mas."
"Aku percaya, jika putra kita akan memiliki banyak cinta dari orang di sekelilingnya. Sepertimu, Sayang."
"Aku juga yakin bahwasanya putra kita akan memiliki hati selembut dan setulus hatimu, Mas. Tak akan kubiarkan seorang wanita pun yang akan menyakitinya. Cukup aku saja yang menyesal karena mengabaikanmu begitu lama," tutur Rosa seraya memandang Dion tanpa jeda.
Lelaki berhati malaikat itu membawa sang istri ke pelukan hangat. Sebuah ciuman penuh kasih sayang, melembut di puncak kepala Rosa. Begitulah Dion memanjakan cintanya.
"Semoga putra kita nanti akan mendapatkan jodoh terbaik. Wanita yang akan selalu membuatnya jatuh cinta tanpa memandang wajah, harta, dan masa."
__ADS_1
"Aamiin. Doa'kan aku juga, ya, Mas. Semoga istrimu yang banyak kekurangan ini, bisa selalu membuatmu tersenyum setiap waktu," pinta Rosa dengan sepenuh hati.
Dion kembali mencium surai sang istri. "Selama napasku masih ada, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kita, Sayang. Bahkan jika nanti aku mendahuluimu, titipan doaku akan selalu kucurahkan untukmu."
Rosa menggeleng. "Aku tidak mau mendengar Mas berbicara seperti itu. Kita akan menua bersama, bahkan jika kematian itu datang, kita akan menjemputnya bersamaan. Aku tidak akan sanggup sendirian."
Tiada kata yang Dion balaskan cepat pada kalimat Rosa. Ia mendekap erat. Dalam beberapa saat, ia membiarkan keheningan menjatuhkan mereka dalam buaian rasa mendalam.
Kedamaian itu terpecahkan ketika tangis manja Di -junior terdengar. Keduanya segera untuk melangkahkan kaki.
Bayi mungil itu dibawa ke gendongan Dion. Dengan kesabaran, sebentar saja ia sudah membuat Di-junior terdiam. Tangis berubah menjadi senyum kecil yang manis.
"Di-junior saja protes kamu bilang jika pergi duluan, Mas." Rosa membelai gemas pipi sang putra kecil.
"Aku tahu kalian sangat mencintaiku ... sama sepertiku yang begitu mencintai kalian." Dion menenangkan keadaan. "Jangan menangis, Sayang. Papa akan selalu ada, mendengar dan menemanimu dalam suka dan duka."
Di-junior yang diberikan pemahaman, tetapi Rosa ikut terbawa perasaan. Ia memeluk sang suami. "Mas, aku mencintaimu. Sangat dan sepertinya akan semakin terjerat dalam perasaan itu."
Dion tersenyum. "Kita akan terus saling mencintai, Sayang. Aku, kamu, dan putra kecil kita."
🍁🍁🍁
Hai, semua! Masih ada yang favoritin tulisan ini? Terima kasih untuk yang setia sampai detik ini.
Aku kangen Dion, dan menulis part ini. Semoga kalian juga merasakan hal yang sama.🥰🥰
__ADS_1
Aku sekalian mau promo, nih. Siapa tahu ada yang mau mampir di novel baruku.