Tentang Hati

Tentang Hati
Apakah?


__ADS_3

Tiga puluh hari telah berlalu sejak acara resepsi itu. Kehidupan sudah berjalan normal. Aku tetap bekerja bertiga dengan Trio Somplak sebagai bawahan Pak Aryan. Tak ada yang berubah. Dion pun masih mengelola perusahaan yang ia bangun semenjak kuliah bersama teman satu jurusannya. Semuanya sama. Namun pagi ini ada sesuatu yang berbeda. Badanku meriang. Bukan merindukan kasih sayang tapi suhu panas yang menyerang. Deman.


Segelas teh manis hangat yang Dion buatkan tak juga membuatku lebih baik. Justru perutku semakin merasa tidak nyaman. Ada dorongan dari dalam yang menyentak untuk dikeluarkan. Mual, ya ... aku ingin muntah tapi tak ada yang dikeluarkan. Keadaan ini membuatku merasa sedikit lemas karena harus bolak-balik kamar mandi. Dion pun menjadi cemas dan memutuskan untuk tidak bekerja.


Pak Aryan yang setiap pagi berkunjung ke apartemen, kali ini pun datang lagi. Mengetahui aku tengah gak enak badan, ia izin untuk menengokku ke kamar. Dan entah bagaimana akhirnya, Dion mengizinkan begitu saja. Atau mungkin ada perjanjian tertulis yang aku gak tahu. Dengan raut penasaran, dia berdiri di samping ranjangku.


"Sakit apa?"


"Panas dan mual. Rasanya pengen muntah tapi gak bisa," jelas Dion menjawab pertanyaan Pak Aryan.


"Apakah tamu bulananmu telat datang?" tanya Pak Aryan lagi seperti sedang menyelidiki sesuatu.


Kuingat-ingat kapan terakhir kali, si merahku membuat Dion harus berpuasa. "Harusnya seminggu yang lalu, tapi sampai sekarang tak kunjung datang."


"Mungkin hamil," vonis Pak Aryan kemudian.


Hamil? Ada segumpal darah yang akan menjelma menjadi bayi yang lucu? Mungkinkah? Dari mana Pak Aryan tahu kalau apa yang aku alami adalah tanda-tanda kehamilan? Bukankah dia belum pernah hamil? Aduh, salah. Bukankah dia belum pernah mempunyai istri? Apalagi mengetahui seluk beluk tentang kehamilan? Dia juga bukan dokter, jadi alasan apa sehingga dia bisa mengatakan kalau aku mungkin hamil?


"Beli test pack, sana! Besok pagi, setelah bangun buang air kecil, tampung urine-mu. Cek! Itu adalah waktu paling akurat," jelas Pak Aryan panjang dan lebar.


Aku sampai bengong mendengar penjelasan detail dari Abang sulung. Sebenarnya dulu ia kuliah jurusan apa? Atau mungkin dia suka mengoleksi buku-buku tentang seluk-beluk wanita? Mengapa dia paham sekali?


"Tetap isi perutmu walaupun terasa mual. Makan yang bisa kamu telan selagi itu aman dan menyehatkan. Jaga istrimu baik-baik! Jangan kaget kalau dia semakin manja. Aku berangkat ke kantor dulu. Nanti malam aku ke sini, lagi? Mau aku bawakan, apa?" cerocos Pak Aryan tanpa terjeda.


"Hati-hati, Pak," pesanku menimpali kalimatnya yang tercetus tanpa henti.


Pak Aryan menyunggingkan senyum ke arahku sebelum keluar kamar. Dion langsung mengusap perut rataku begitu si Abang telah menghilang. Ia begitu antusias mendengar kemungkinan kehamilan yang sedang aku alami. Sebuah kecupan ia berikan, menyapa calon baby yang mungkin ada di sana dari balik bajuku.


"Sayang, semoga yang dibilang Aryan benar, ya?" harap Dion masih terus mengusap lembut perutku.


"Iya, apa kamu sudah sangat menginginkannya?" tanyaku melihatnya begitu antusias menanggapi kemungkinan terbaik yang terjadi padaku.


"Sangat menginginkan, Sayang. Baby kita adalah bukti cinta sejati Dion dan Rosa," terang Dion sambil mencium keningku mesra, hangat dan penuh kedalaman perasaan.

__ADS_1


"Dion ... Rosa ... Disa ... bukankah itu singkatan yang bagus?" ucapku dengan mengetuk-etukkan jari telunjuk di pipi.


"Bukankah itu nama salah satu reader setia Tentang Hati, Aryani Disa?" tanya Dion memastikan.


"Iya, dia aja gak nyadar kalau namanya itu pas sekali dengan singkatan nama kita" perjelasku kemudian.


Dion tersenyum. Tak menyangka ada sebuah kebetulan yang tak sengaja. Kami pun saling menyibukkan diri bermain dengan pikiran yang berlalu-lalang memikirkan, sebuah nama. Hingga tanpa sengaja kamu sama-sama tersenyum dan saling mengacungkan jari telunjuk.


"Bagaimana kalau kita menamai anak kita Alex, saja? Semoga dia bisa seperti Tuan Alexander Kemal Malik, pengusaha kaya raya yang tampan rupawan," ideku sambil menyunggingkan senyum sempurna.


"Aku gak setuju, dia terlalu kaku. Gak bisa diajak bercanda dan mesumnya gak ketulungan. Suka gadis kecil pula."


"Ehm ... bagaimana kalau Keenan? Semoga nanti anak kita bisa menjadi dokter yang handal, seperti dr. Keenan Adelard," usul Dion dengan mantap.


"dr. Ken memang hebat tapi dia juga mesum. Apalagi dinginnya, ngalah-ngalahin kulkas. Apa kamu sengaja biar kita gak perlu beli kulkas, begitu?" tolakku membalas penolakan Dion untuk nama yang dia usulkan.


Alex maupun Ken adalah sosok lelaki sempurna idaman wanita. Tampan dan hartawan. Namun sayang, kemesumannya tingkat akut. Harus cari opsi lain, sosok yang benar-benar sempurna dijadikan sebagai idola.


"Kalau Arga, gimana?" tawar Dion mengambil nama panggilan dari seorang pengusaha muda yang berbibir seksi dan auranya sangat luar biasa, Tuan Arga Hutama.


"Farhan? Biar dia jadi seorang hafidz,"


"Mas Farhan Alfarizi yang meninggal saat istrinya hamil itu? Ah, tidak. Aku trauma ditinggalkan," tolakku berikutnya.


"Kalau begitu, Zainudin ajalah," pasrah Dion sambil tersenyum kecil.


Kupukul pahanya dengan penuh tenaga. Daftar nama yang diajukan Dion semakin lama semakin nyeleneh saja. Pengusaha kaya raya, okelah. Semoga menjadi doa agar kaya dunia. Nama-nama orang saleh, bagus. Biar kaya akhiratnya. Tapi kenapa pilihan terakhir jatuh pada nama Zainudin?


"Mas, jangan bilang karena Mas udah pernah baca novelku yang Balas Dendam Cowok Kampungan, jadi terpapar kelakuan absurd Zeno. Zainudin itu nama ayam, kenapa harus jadi nama anak kita?" gerutuku sangat sebal.


"Aku lapar, jadi bawaannya inget Zainudin, ayamnya Zeno yang bar-bar itu. Enak kali ya, diopor? Ayam kampung yang pasti sangat yummy, ehmmm ...," ucap Dion sambil memperlihatkan ekspresi sedang menikmati lezatnya masakan.


"Huft ... aku sebel sama kamu, Mas. Tadi kan bahas nama anak kita kenapa jadi bahas ayam," gerutuku lagi dan lagi.

__ADS_1


Dion mengusap lembut rambut hitamku. "Sadar gak, Yang? Kita mendebatkan sesuatu yang belum pasti," ujar Dion sambil kemudian mengecup keningku.


Benar, kami sudah sibuk memilih nama, padahal kepastian hamil saja belum ada. Bagaimana kalau aku hanya sakit biasa? Namun aku yakin hamil, gara-gara omongan Abang sulung. Lagian gak ada salahnya mencari ide nama. Kalau tidak sekarang nanti suatu saat pasti akan terpakai. Nama laki-laki sudah, kalau perempuan, siapa ya?


"Itu doa, Sayang."


"Semoga diijabah, Sayang. Aamiin," kata Dion dengan penuh ketulusan.


Kutengadahkan kedua tangkupan tanganku ke atas seraya mengucapkan kata "Aamiin".


"Kalau anak kita baby yang cantik, mau dikasih nama siapa?" Kalau Jessie, 'gimana? Biar ketusnya sama dengan Mamanya yang cantik," goda Dion sambil mencubit gemas kedua pipiku.


"Jessie-nya Zeno? Yang suka diserang sama Zainudin karena dibakar cemburu?" cercaku.


"Hm, bukankah dia sepertimu? Ketus-ketus bikin jatuh cinta," sindir Dion sambil mengerling nakal.


"Si ketus yang bikin jatuh cinta Dion, hanya Rosa. Gak boleh ada saingan, termasuk dari baby cantik. Aku pengen baby tampan seperti Papanya," godaku balik yang membuat Dion tersenyum bangga karena mendapatkan pujian.


"Kamu akan selalu jadi yang tercantik di hatiku, Sayang. Walaupun nanti ada baby cantik yang lahir dari rahimmu," gombal Dion yang berhasil membuat semburat merah pipiku semakin kentara.


"I love you, Mas," ucapku sambil menatap matanya lekat, lembut penuh jerat.


"Aku gak love you," timpal Dion dengan senyum nakalnya.


"Mas!" pekikku.


"Hm,"


"Maaaasss ...!"


"Hm,"


"Sayang!"

__ADS_1


"Love you too," balas Dion sambil mengecup bibirku sekilas.


Ooh ... so sweet!


__ADS_2