Tentang Hati

Tentang Hati
Teman? Menemani?


__ADS_3

Benar apa yang dikatakan Mas Rendra, aku kini sudah duduk dihadapan mas Rud. Menyeruput jus alpukat yang sudah dia pesankan untukku.


"Kamu dari mana?" introgasi mas Rud.


"Ketemu temen." jawabku.


"Apakah temenmu itu Yo ... yang semalem?"


Kenapa nih dia? Batinku


Aku serasa jadi penjahat yang sedang ditanyai polisi tentang aksi kriminal.


"Kenapa malah melamun?" tanyanya sambil menatapku tanpa berkedip.


"Oohh ... iya," jawabku kemudian.


"Dia pacarmu?" selidiknya.


"Haruskah saya menjawab pertanyaan Bapak?" tanyaku formal.


Bagaimanapun dia adalah atasanku. Hanya karena dia sahabatnya Mas Rendra, kami saling akrab, makanya kami, aku dan Maya sepakat tidak menggunakan sapaan "Bapak" kecuali di depan klien.


"Harus, karena kamu pacaran di jam kantor," alasannya.


Akupun tak menjawab pertanyaannya. Ku ambil sebuah undangan dari tasku dan ku sodorkan padanya.


"Pacarmu bertunangan dengan orang lain?


Pantas saja matamu memerah. Kamu baru putus? Baiklah, aku akan memaafkanmu kali ini."

__ADS_1


Aku hanya menggelengkan kepalaku. Gak habis pikir dengan hasil analisa dari orang yang katanya cerdas tersebut.


"Mereka sahabat saya, Pak," jelasku.


"Kalau begitu, kamu harus menghadiri pertunangan mereka," sekejab wajahnya berubah berbalut senyuman.


"Aku akan menemanimu," celetuknya kemudian.


Aku memelototkan mataku. Tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Apa sih ni orang maunya?


"Terimakasih Pak, tapi saya bisa datang sendiri," penjelasanku terhadapnya.


"Kamu tidak usah sungkan, aku gak apa-apa harus menemanimu," ngototnya.


"Ni orang kenapa sih?" hatiku tak henti-hentinya membatin.


*****


"Mbak, carikan kebaya dan kemeja batik yang semotif ya!" perintah mas Rud.


"Couple an Pak?" tanya mbak-mbak berseragam itu.


"Iya," jawab mas Rud membenarkan.


"Apa maksud Bapak ...?" tanyaku terputus.


"Kita akan memakainya untuk acara pertunangan sahabatmu."


"Saya rasa ini berlebihan Pak, saya sudah punya kebaya," tolakku.

__ADS_1


"Tapi aku belum punya kemeja batik yang semotif dengan kebayamu."


Aku benar-benar gak habis pikir dengan mas Rud kali ini. Ada saja alasannya. Kalau begini aku gak meragukan kecerdasannya lagi.


"Berhenti panggil aku Bapak! Apa kamu senang dilihat orang-orang sedang jalan dengan bapak-bapak?"


Bicaranya kali ini cuma aku balas dengan kata "Hmmmm".Aku tak mau meladeninya.Percuma..!


"Jangan pilih warna pink!" ucap mas Rud saat mbak-mbak berseragam tadi datang membawa 2 set kebaya.


"Aku suka pink!" tegasku.


"Apa kamu mau melihatku seperti mereka?" tunjuk Mas Rud kepada seorang mas-mas mbak-mbak 2 kepribadian,tau kan maksudnya?


Aku hanya tersenyum. Membayangkannya saja aku sudah tertawa, apalagi melihatnya benar-benar memakai kemeja pink.


"Kenapa kamu malah senyum-senyum?" Cepat cobain sana!"


Tanpa menunggu 2x perintah darinya, aku sudah memasuki fitting room. Aku memuji seleranya. Kebaya ini memang bagus dan elegan. Aku pun menunjukkan penampilanku dengan kebaya pilihannya.


"Tunggu disini, aku akan mencoba kemejaku dulu!" tukasnya.


Sebentar kemudian, dia keluar dengan balutan kemeja yang membuatnya seolah menjadi lebih tampan dari biasanya.


"Mbak tolong foto kami!" pinta mas Rud lagi pada mbak- mbak berseragam tadi.


"Perlukah?" tanyaku.


"Aku lebih suka menilai lewat foto daripada lewat cermin," kilahnya.

__ADS_1


Dia emang lelaki yang aneh. Baru kali ini, aku temui orang mematut baju lewat foto. Setelah mengamat-amati hasil fotonya, dia memutuskan untuk membayar kebaya set yang telah kami coba tadi.


__ADS_2